
Setelah meninggalkan keluarga Rakin, Amira langsung berangkat ke kantor grup Rakin untuk menemui suaminya, tak lupa pula perempuan itu singgah di sebuah restoran mendapatkan dua paket makan siang untuk dirinya dan suaminya.
Ketika dia turun dari taxi, perempuan itu terkejut melihat Brama dan Mahesa pun turun dari sebuah mobil mewah milik grup Barata.
Tetapan Ketiga orang itu langsung bertemu, tetapi hanya 3 detik Amira menatap mereka lalu perempuan itu berbalik dengan penuh percaya diri memasuki kantor grup Rakin.
Dua pria yang ada di sana langsung mengerutkan kening mereka menatap kepergian Amira.
"Bukankah dia istri sepupu terakhir? Apa yang dia lakukan di sini?" Mahesa bertanya pada Brama sembari memandangi Amira yang kini mendorong pintu untuk memasuki lobby perusahaan.
Brama mengangkat bahunya dengan wajah acuh, "entahlah, mungkin dia datang untuk mendukung suaminya yang sedang membicarakan proyek hari ini." Ucap Brama sembari melangkah kakinya untuk memasuki perusahaan.
Mahesa mengikuti belakang pria itu sembari berkata, "cuma membuang-buang waktu saja, lagipula suaminya tidak akan menenangkan proyek itu. Tapi kalau dipikir-pikir beberapa waktu terakhir ini, sepupu ipar tampak mengalami perbedaan. Sekarang dia tampak lebih kurus dan lebih cantik dari sebelumnya." Mahesa berkata jujur.
Brama yang mendengarnya hanya bisa tertawa miring karena mata sepupu keduanya yang sudah rusak.
Bisa-bisanya melihat seorang menantu sampah malah dilihat seperti perempuan yang memiliki sedikit kecantikan.
Bodoh!!!!
Brama dan Mahesa terus memasuki lobby perusahaan dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Halo, selamat datang," kedua resepsinos dengan profesional menyambut dua tamu mereka yang dikenali sebagai orang yang hendak mendengarkan kabar proyek yang sedang di perebutkan.
Brama mengangguk dengan pelan lalu melihat ke arah Amira yang sedang berdiri di depan lift.
"Kalian mengijinkan perempuan itu masuk?" Tanya Brama pada dua resepsionis.
Dua resepsionis yang bertugas langsung menatap Amira, "Ah, dia adalah Nyonya Barata, hendak membawakan bekal untuk suaminya." Sala satu resepsionis berbicara.
"Oh," ucap Brama dengan singkat sembabari melangkah emndekati Amira.
Ting!
Ketiga orang itu berdiri dalam lift, dengan lantai tujuan yang sama.
"Kau sepetinya sangat memperdulikan suamimu, sampai datang membawa makanan." Tiba-tiba ucap Mahesa dengan tatapan tertuju pada bekal di tangan Amira.
Amira tersenyum, "ah,, ya, harus begitu agar suamiku semangat memenangkan proyek dari Grup Rakin," ucap Amira langsung membuat dua orang di dekatnya tersenyum miring.
"Kepercayaan diri yang terlalu tinggi kadang membunuh seseorang," cibir Brama.
Mahesa mengangguk, "Hm,, benar, hanya seorang karyawan biasa, tidak mungkin mengalahkan atasannya!" Ucap Mahesa dengan tegas.
__ADS_1
Amira mencibir dalam hati, 'Dasar bodoh, kita lihat saja nanti, siapa yang akan mati karena terlalu percaya diri!!!'
"Bagaimana kalau suamiku akhirnya menang, apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Amira memancing dua orang itu.
Dan benar saja, Mahesa dan Brama langsung tertawa keras.
"Astaga, sepupu ipar,, kau harusnya sadar akan posisi suamimu. Bahkan jika dia adalah manager, maka mungkin masih bisa di banggakan, apa lagi hanya karyawan biasa,, mustahil untuk menang.
"Tapi karena kau terlalu percaya diri, maka aku kan membuatmu senang. Pokoknya, kalau suamimu berhasil memenangkan proyek ini, maka aku sebagai sepupu keduanya akan bersujud menjilat sepatunya!!!" Ucap Mahesa penuh keyakinan.
Sementara Brama juga mengangguk, "kalau sepupu terakhir menang, aku bukan hanya akan bersujud mencium sepatunya, tapi juga akan berteriak keras mengakui kalau dia pantas menjadi direktur perusahaan." Ucap Brama dengan nada suara mencibir.
Hal itu membuat Amira tersenyum, "bagus sekali, kalau begitu aku pegang kata-kata kalian!!!" Ucap Amira.
"Tapi kalau suamimu kalah,, kau dan dia juga harus melakukan hal yang sama." Ucap Mahesa kini menantang Amira.
"Tentu!!" Jawab Amira dengan percaya diri.
Kepercayaan diri Amira yang terlalu tinggi membuat Brama semakin mencibir perempuan itu, lalu berkata, "Kalau begitu, sebelum pengumuman pemenang proyek di ucapkan, kita harus mengumumkan taruhan ini. Supaya tidak ada seorang pun yang mengingkarinya nanti." Ucap Abra.
"Tentu saja!!!" Jawab Amira kini semakin senang dengan rencana dua orang di sampingnya.
__ADS_1