Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
168.


__ADS_3

"Akan ku periksa dulu ini," ucap Amira mengambil bahan obat yang dibawa oleh Arifin.


Perempuan itu sengaja berlambat-lambat melakukan gerakannya untuk menikmati rasa tersiksa Arifin karena penyakitnya yang sudah mulai menyiksanya.


"Aku mendapatkan bahan obat terbaik sesuai dengan yang kau tulis di catatan itu." Ucap Arifin sambil mengepal erat tangannya dengan keringat sudah mulai memenuhi kening pria itu sebagai pertanda bahwa dia harus melakukan terapi lagi atau jika tidak, maka dia akan pingsan.


"Ah,, ini memang sudah benar, tapi ternyata aku melupakan satu bahan." Ucap Amira langsung membuat Arifin sangat terkejut.


Pria itu dengan seluruh keringat di keningnya langsung berkata, "kalau begitu aku akan menyuruh anak buahku untuk mendapatkannya segera!"


Amira menganggukan kepalanya lalu dia menuliskan bahan yang masih kurang dari antara bahan itu.

__ADS_1


Setelah selesai menulisnya, ia memberikannya pada Arifin, "katakan pada bawahanmu untuk membawa bahan obat ini ke rumahku. Ah,, dan jangan lupa, aku hanya akan menerima tamu dalam 1 jam lagi. Jadi katakan padanya untuk datang satu jam lagi." Ucap Amira segera berdiri lalu perempuan itu meninggalkan Arifin yang sudah semakin kesakitan karena penyakitnya.


Amira yang naik ke lantai 2 berbalik menatap pria yang kini gemetar memegang ponselnya untuk menghubungi bawahannya, 'mari kita lihat kau tersiksa beberapa waktu dulu sebelum aku menyembuhkanmu.


'Ini akan menjadi pelajaran padamu bahwa kau sama sekali tidak bisa lolos dariku, hidup dan matimu ada di tanganku!!!' ucap Amira dalam hati lalu perempuan itu kembali ke kamarnya untuk mandi.


Sambil berendam dalam baht up, Amira menyalakan tv di kamar mandi dan menonton serial drama.


"Tuan,," bawahan Arifin yang datang membawakan tambahan obat menatap Arifin yang semakin lemas di kursinya.


"Diam,,," ucapkan Arifin dengan lemah sembari pria itu bersandar memejamkan matanya menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


Meski Arifin tidak mengeluh, tetapi bawahan Arifin yang melihat keringat Arifin yang terus bercucuran dan wajah pria itu terus menjadi pucat bahkan bibirnya menjadi kering bisa mengetahui bahwa pria itu sedang menahan kesakitan yang luar biasa.


Hal itu membuat sang bawahan yang bernama Sidom merasa sangat marah pada Amira yang sudah membuat bosnya menunggu sampai menahan rasa sakit yang begitu kuat.


"Sialan!! Memangnya perempuan itu pikir dia siapa? Beraninya membuat Bos menunggu selama ini hingga menahan sakit yang luar biasa seperti ini!!!" Geram Sidom sembari menatap ke lantai 2 di mana dia tahu bahwa Amira sedang berada di lantai 2.


Tetapi, Arifin yang mendengar ucapan bawahannya langsung memaksakan dirinya membuka mata lalu menatap pria itu dengan sayu, "jangan mengumpatinya atau kupotong lidahmu!!!" Ucap pria itu dengan suara yang lemah, tetapi Sidom yang mendengarnya bisa mengetahui bahwa pria itu sedang membentaknya.


"Tapi Tuan, Tuan sedang kesakitan begini, tapi perempuan itu malah membuat Tuan menunggu selama ini. Kalau begini caranya Tuan akan mati sebelum dia menyembuhkan Tuan, apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" Tanya Sidom yang begitu cemas akan keadaan Arifin.


Arifin yang mendengar ucapan bawahannya menjadi sangat marah, ia hendak membentak pria itu ketika Amira yang sudah muncul dari lantai 2 mendahuluinya berbicara.

__ADS_1


"Kalau kau tidak senang denganku, maka bawa saja bosmu itu pergi ke rumah sakit." Ucap Amira dengan wajah yang acuh menatap ke arah dua orang yang duduk di ruang tamu.


__ADS_2