
Setelah menunggu cukup lama di depan kediaman keluarga Rakin, Daren yang sudah berpisah dengan Ardan merasa sangat kesal karena Amira yang ia tunggu-tunggu ternyata tak kunjung keluar.
'Sebenarnya apa yang dilakukan Amira di kediaman keluarga Rakin hingga sampai sekarang perempuan itu belum keluar juga?' kesal Daren mengambil ponselnya lalu dia kemudian menelpon Amira.
Drrrttt..... Drrrttt..... Drrrttt.....
Amira yang sudah berada di rumahnya menoleh ke arah ponselnya yang bergetar lalu perempuan itu menggertakan giginya melihat penelpon adalah Daren.
Drrrttt..... Drrrttt..... Drrrttt.....
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Bayu yang sedang merapikan tanaman di taman dengan Amira yang duduk di bangku taman sembari menikmati buah yang dibawakan oleh pelayan.
Pria itu merasa aneh melihat menantunya yang saya dari tadi makan buah sambil melamun, padahal, sebelumnya dia tidak pernah melihat perempuan itu melamun.
"Hah,, ayah,, orang yang menelpon itu orang yang menyebalkan, dia hampir saja membu,,, dia hampir saja membuatku terjatuh di mall." Kata Amira yang tidak mau memberitahukan masalah penculikan pada ayahnya karena takut jika pria tua itu menjadi cemas.
__ADS_1
Lagi pula, masalahnya sudah teratasi jadi tidak perlu lagi membiarkan lebih banyak orang mengetahuinya.
"Apa?!! Memangnya Apa yang dia lakukan hingga membuatmu hampir jatuh?" Tanya Bayu kini meletakkan gunting rumputnya lalu dia berjalan menghampiri menantunya.
"Dia tak sengaja menabrakku. Tapi ayah,, lihat tukang kebunku, dia sedang duduk santai-santai di sana karena kau yang mengerjakan pekerjaannya. Kalau begini ceritanya, lebih baik Aku menyerahkan urusan kebunku pada ayah saja, tidak perlu menyewa seorang tukang kebun untuk mengurus taman-taman ini." Ucap Amira sambil menghela nafas karena agak kesal pada ayah mertuanya.
Bayu yang mendengar ucapan menantunya merasa senang sekaligus lucu sehingga pria itu tak tahan diri untuk tertawa, "Ha ha ha... Jadi ceritanya kau sangat puas dengan pekerjaan ayah bukan?
"Seandainya Ayah tinggal di sini maka Ayah yang akan mengurus kebun-kebun ini, tapi sayang sekali Ayah harus kembali lagi ke kediaman keluarga Barata karena ibumu pasti mengomel kalau aku tidak kembali.
"Tapi sayang sekali, ibumu tidak percaya pada ayah kalau Ayah mengatakan bahwa perlakuan mereka itu hanyalah sebuah kemunafikan." Ucap Bayu yang mulai merasa kesal pada istrinya yang terus saja berpikir bahwa dirinya selalu disayangi oleh seluruh keluarga Barata.
"Bagaimana kalau kalian berdua pindah saja ke sini setelah acara pengangkatan direktur?" Ucap Amira yang kini merasa tak tega bila ayahnya harus tinggal di keluarga Barata setelah acara tersebut karena dia tahu bahwa di sana dia mungkin akan diinjak-injak.
"Hahhhh,, Kalau kami pindah ke sini ibumu akan merepotkanmu. Setiap hari dia pasti akan mengundang teman-temannya kemari dan membuat keributan di rumah ini, semua pajangan dalam rumahmu akan diberikan pada teman-temannya, nanti rumahmu seperti rumah yang habis kecurian." Kata Bayu yang jelas tahu bagaimana sifat istrinya.
__ADS_1
Selalu berlaga kaya di depan semua teman-temannya padahal keluarga mereka sama sekali tidak memiliki apapun.
"Ayah tidak perlu khawatir, nanti aku akan mengurus hal itu." Ucap Amira yang kini merasa bahwa dia tidak tega membuat Ayah mertuanya menderita di keluarga Barata.
Sementara untuk Aulia, dia punya sebuah rencana lain untuk perempuan itu, rencana yang akan membuat perempuan itu berubah.
Drrrttt..... Drrrttt..... Drrrttt.....
Tiba-tiba ponsel Amira kembali berdering memperlihatkan nama pemanggil ialah Daren.
'Hah,,, orang ini benar-benar tidak mau menyerah.' pikir Amira dalam hati lalu dia kemudian menatap Ayah mertuanya.
"Aku akan mengangkat telepon ini, tapi ayah jangan terlalu ber panas-panasan di taman. Kalau Ayah sampai sakit, aku akan merasa bersalah dan para pelayan akan mengatakan bahwa aku menyuruh Ayah untuk mengerjakan semua taman-taman ini sampai ayah jatuh sakit!." Ucap Amira langsung diangguki oleh ayah mertuanya.
Jadi Amira langsung masuk ke dalam rumah untuk mengangkat telepon dari Daren agar Ayah mertuanya tidak perlu mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1