Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
216. Mencari cara lain untuk meluluhkah Amira


__ADS_3

Amira yang melihat ponsel jadul di tangan ayahnya langsung mengeryit, lalu perempuan itu berkata, "itu ponsel ayah? Kemana ponsel yang terakhir kali kubelikan?"


"Ah,," Bayu langsung menyimpan ponselnya ke dalam sakunya karena dia benar-benar tidak sadar hingga tak sengaja mengeluarkan ponsel miliknya yang telah ditukar oleh Aulia.


"Ada apa ayah? Apakah ini ulah Ibu lagi?" Tanya Amira langsung membuat Bayu menghela nafas panjang lalu pria itu menatap Amira dengan lesu.


"Ayah ini tidak bisa berdebat dengan ibumu yang sangat cerewet itu. Ayah cuma bicara satu kalimat dan dia mengembalikan 10 kalimat. Jadi biar saja dia menggunakan ponsel itu, lagi pula ponsel Ini juga masih cukup bagus kok." Kata Bayu membuat Amira merasa kesal akan Ayah mertuanya.


Pria itu adalah seorang kepala keluarga, tetapi malah diperintah-perintah oleh istrinya.


Tidak masalah jika istrinya memberikan pemikiran yang bagus, tetapi perempuan itu selalu melakukan sesuatu yang membuat masalah bagi keluarga mereka.


Bahkan selalu merugikan suaminya dan anaknya sendiri. Benar-benar tidak bisa menjadi panutan seorang ibu.


Jadi Amira kemudian berkata, "kalau Ayah begini terus, maka Ayah tidak pantas dipanggil Ayah olehku. Aku tidak bisa memanggil Ayah pada orang yang tidak mencerminkan sosok seorang ayah.


"Seharusnya sebagai kepala keluarga, Ayah bisa memiliki posisi yang sama dengan Ibu, bukannya selalu diperintah oleh ibu.

__ADS_1


"Kalau orang-orang tahu aku memiliki Ayah seperti ini Apa yang akan mereka pikirkan?" Kata Amira, lalu perempuan itu segera berdiri meninggalkan Bayu membuat Bayu terdiam di tempatnya.


Pria itu dengan lesu melihat barang-barang yang diberikan oleh Amira lalu pergi ke kamarnya memikirkan ucapan Amira.


Sementara Amira yang pergi ke dapur, perempuan itu menghabiskan sebotol air putih lalu melemparkan bekasnya ke tempat sampah.


"Hah,,, ibu mertuaku benar-benar keterlaluan. Tapi ayah mertuaku dan suamiku pasti tidak akan setuju Kalau aku memberinya pelajaran. Padahal kemarin aku memberinya sedikit pelajaran, tapi sepertinya wajahnya yang rusak itu tidak bisa membuatnya sadar." Ucap Amira yang merasa sangat kesal pada kelakuan Ibu mertuanya yang terus saja membuat masalah.


Tapi perempuan itu juga kebingungan Bagaimana cara menghadapi Ibu mertuanya, sementara Ayah mertuanya dan juga suaminya sangat menyayangi Aulia.


Kalau terjadi sesuatu pada perempuan itu, maka suaminya jugalah dan mertuanya jugalah yang akan kerepotan.


Sementara di gudang penyimpanan yang telah ditinggalkan oleh Amira dan Arifin, sedang terjadi kekacauan karena kemarahan Gerson pada orang-orang suruhannya.


"Sialan!!! Bagaimana bisa hanya menjaga dua orang pecundang kalian tidak bisa?!!! Dan apa ini?!!" Teriak pria itu menunjuk sebuah mobil yang sudah digunakan untuk menabrak gudang.


Salah satu anggota pembunuh bayaran yang berada di tempat itu dengan gemetar berkata "Maaf Tuan, kami sungguh tidak menyangka bahwa akan ada orang yang mengikuti kita dan menerobos masuk kemari. Mereka mematikan lampu dan--"

__ADS_1


"Sial!!!" Teriak Daren mengambil sebuah mangkok yang diletakkan di meja lalu melemparkannya pada pria yang berbicara.


Mangkok itu melesat mengenai bahu pria itu, tetapi sang pria tidak mengatakan apapun dan hanya berdiri di tempatnya untuk menghadapi kemarahan tuannya.


"Kalian pasti sedang makan-makan dan mengabaikan mereka berdua hingga keduanya bisa kabur!!! Lalu sekarang, kalian coba membuat alasan?!! Apakah kalian pikir aku akan mempercayainya?!!!" Bentak Daren yang merasa sangat kesal.


Nafas pria itu tersengal marah karena saat ini keadaan kakeknya semakin memburuk dan perlu waktu yang cepat untuk menangani masalah kesehatan pria itu.


Tetapi karena kecerobohan anak buahnya, maka nyawa kakeknya benar-benar telah terancam!!!


"Tuan," tiba-tiba suara seorang pria yang dari tadi berdiri di belakang Daren.


"Ada apa?!" Tanya Darren masih dengan nada suara yang kesal.


"Sekarang ini keadaan Tuan besar tidak baik, bagaimana kalau kita segera memikirkan cara lain untuk memaksa Amira menyembuhkannya? Masalah orang-orang ini biar saya yang mengatur seseorang untuk mengurus mereka." Ucap pria yang merupakan asisten Daren.


Daren yang mendengarkan ucapan asistennya jelas bisa mengerti dan terbujuk oleh ucapan pria itu, jadi dia menggertakan giginya dan berbalik meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


'Aku harus mencari cara lain,' ucap pria itu dengan langkah yang panjang berjalan ke arah mobil.


__ADS_2