Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
190.


__ADS_3

Keributan yang terjadi membuat Yura langsung menghela nafas lalu perempuan itu menatap semua orang sambil berkata, "kalian ini kalau sedang menggosipkan orang bisakah mulut kalian dibuka lebih lebar lagi, supaya semua orang tahu kalau kalian adalah tukang gosip dengan mulut bebek!!!"


Karena Yura berasal dari keluarga besar dan dulunya juga merupakan salah satu primadona sekolah mereka, maka semua orang yang berbisik-bisik langsung menutup mulut mereka dan berpura-pura seperti tidak pernah mengatakan apapun.


Namun Fani dan Noah yang berada di depan Yura dan Amira kini menatap perempuan di depan mereka.


"Kau,," Fani menatap dalam Amira, "kau benar-benar Amira dari IX.5? Perempuan gendut yang jelek dan bodoh itu???" Tanya Fani dengan raut wajah tak percayanya.


Namun Amira sama sekali tidak tersinggung, dia hanya tersenyum dan berkata, "tentu saja, oya, tapi kalian berdua benar-benar tidak berubah ya. Dari dulu sampai sekarang masih tetap saja sama."


Ucapan Amira membuat dua orang di depannya sangat terkejut karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Amira.


Namun mereka berdua belum sempat berbicara ketika Amira menatap Yura sambil berkata, "Ayo kita duduk, Kau pasti lelah karena tergesa-gesa memasuki gedung."


Yura mengangguk, "baiklah," ucap perempuan itu lalu berjalan sejajar dengan Amira untuk mencari tempat duduk.

__ADS_1


Segenap pasang mata di tempat itu langsung mengikuti dua perempuan cantik yang begitu menyilaukan mata.


Tetapi demikian, mereka masih belum percaya bahwa perempuan yang bersama dengan Yura benar-benar Amira Barata.


"Aku tidak percaya kalau dia Amira, sebaiknya kita tunggu Raina untuk memastikannya.


"Ah,,, benar sekali, Raina juga akan datang hari ini, dan dia pasti jauh lebih mengenal Amira dibandingkan siapapun!!"


Makanya begitu, semua orang sesekali memandang ke pintu masuk menunggu Raina Barata datang di tempat itu agar mereka bisa mengkonfirmasi identitas Amira yang sesungguhnya.


"Ah, terakhir kali kau menanyakan tentang Norman dan juga Leona? Apakah kau ingin bertemu dengan mereka?" Tanya Yura yang merasa bahwa Amira mungkin ingin membalaskan tentang masalah yang terjadi di butik.


Tetapi Amira menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tentu saja tidak, tidak perlu menemui mereka yang tidak berguna."


Yura hanya bisa mengangguk-angguk melihat Amira yang tampak acuh di depannya.

__ADS_1


'Aku merasa Amira ini benar-benar berbeda, dia selalu saja tampak santai, dan dia memiliki kemampuan medis yang sangat luar biasa. Hah... Seandainya semua dunia mengetahui tentangnya, maka aku yakin tidak, ada satupun orang di antara manusia yang hidup di bumi yang akan merendahkannya.' pikir Yura dalam hati sembari menatap ke arah pintu masuk di mana keributan sedang terjadi.


Keributan kecil itu dipicu oleh munculnya Norman dan Leona yang mengagetkan semua orang.


"Astaga,, akhirnya kau datang juga. Kami sudah menunggumu dari tadi."


"Ya ampun Leona,, betapa irinya Aku padamu bisa mendapatkan suami yang tampan sekaligus kaya raya!!!"


Semua orang blak-blakan memuji Leona seperti Leona adalah seorang putri yang sedang berada di kerumunan rakyat biasa.


Iri dan kekaguman, rasa tak percaya dan keterkejutan bercampur menjadi satu mewarnai kemunculan Leona yang berasal dari keluarga biasa saja, tapi kini bertunangan dengan seorang pria yang berasal dari keluarga luar biasa.


Yura yang melihat itu melirik Amira sambil berkata, "Akhirnya mereka datang, pasangan yang akan mengambil alih perhatian pada malam hari ini. Aku rasa kepala Leona akan menjadi besar hingga ketika dia pulang ke rumahnya, kepalanya akan meledak karena terlalu penuh akan rasa senang!!!"


Amira yang mendengar ucapan Yura hanya bisa tersenyum kikuk, 'Apakah dari awal dia memang membenci perempuan itu ataukah dia membencinya karena yang terakhir kali terjadi di butik? Tapi apapun itu, sama sekali tidak ada hubungannya denganku, yang harus kulakukan malam ini adalah membalaskan dendam pada perempuan laknat itu!!!!!!' ucap Amira dalam hati dengan mata hidung penuh dendam menatap Leona dan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2