
"Ahh!!!" Yura langsung menjerit ketika dia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kakinya.
"Ada apa?" Tanya Amira menatap ke arah Yura diikuti oleh semua orang di meja itu, dengan Raina yang langsung melototkan matanya.
"Kau kenapa?" Tanya Fanco yang kini berdiri menghampiri sepupunya untuk memeriksa keadaan perempuan itu.
Maka dengan segera, Yura mengeluarkan kakinya dari kolong meja dan memperlihatkan kakinya yang kini berdarah karena tergores oleh hiasan pada sepatu milik Raina.
"Ah,,," Yura merintih kesakitan saat dia berusaha menggerakkan kakinya, tetapi ternyata, pergerakannya membuat luka di kakinya semakin sakit.
"Kebetulan aku membawa obat, biar diobati dulu," ucap Amira segera membuka tas kecil miliknya dan mengeluarkan plester serta beberapa obat yang sudah disiapkan dalam wadah-wadah minimalis.
"Ah,, ya, tolong," ucap Yura sembari melihat Amira yang kini dengan hati-hati mengobati kakinya.
__ADS_1
Raina yang melihat itu merasakan tangannya yang sedang menutup mulutnya kini gemetaran, karena dia sangat takut.
'Fanco akan memutuskan hubungannya denganku Kalau dia sampai tahu bahwa akulah penyebab kaki sepupunya jadi terluka seperti itu. Apalagi keluarga mereka sangat menghormati keluarga Rakin yang menjadi keluarga paling hebat di antara seluruh keluarga mereka,' ucap perempuan itu dalam hati sembari melihat sekeliling mereka, di mana perhatian semua orang juga tertuju pada mereka.
Maka dengan segera perempuan itu menggertakan giginya dan melihat Amira dengan marah, 'Ini semua karena Amira yang sudah melepaskan kakinya dari tempatnya!! Tapi apakah dia pikir dia bisa lewat semudah itu? Tidak akan!!!' geram perempuan itu dalam hati.
Jadi Raina menatap Amira sambil berkata, "Astaga Amira! Bagaimana bisa kau membuat kaki Yura jadi seperti itu? Dendam apa yang kau punya padanya hingga bersembunyi bunyi melukainya di bawah meja?!!"
Ucapan Raina tidak pelan dan sangat keras. Jadi hampir semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya dengan jelas dan mereka semua langsung memenuhi tempat itu dan menatap Amira dengan tatapan sinis.
Dia dan Amira tidak memiliki dendam satu sama lain, jadi mana mungkin Amira yang membuatnya terluka seperti itu.
Tetapi Raina menghela nafas menatap Yura, "Yura kamu harus tahu kalau perempuan ini hanya berpura-pura baik padamu!!! Dia sudah merencanakan semua ini untuk mendapatkan perhatianmu.
__ADS_1
"Dia sudah menyiapkan semua obat di dalam tasnya, lalu melukaimu di bawah meja ketika kita semua duduk bersama dan tidak ada yang melihat apa yang terjadi di bawah meja.
"Setelah itu, dia berpura-pura menjadi malaikat penolongmu agar kau merasa bahwa dia sebenarnya sedang bersikap baik padamu. Tapi sayangnya dia melakukan semua itu sebenarnya hanya untuk menarik perhatianmu saja!!
"Dia benar-benar perempuan yang pandai memanfaatkan orang lain!!!" Tegas Raina sembari menatap sinis ke arah Amira yang sudah menyimpan kembali obat-obatnya ke dalam tasnya.
Sontak saja ucapan Raina langsung membuat semua orang berspekulasi.
"Ah benar, dia juga memanfaatkan keluarga Barata dengan merampas uang mereka agar dia bisa merubah bentuk tubuh dan wajahnya. Sekarang Dia mendekati Yura yang berasal dari keluarga kaya, agar nanti bisa melakukan hal yang sama!!!"
"Asataga,, Aku tidak menyangka caranya bermain benar-benar keren. Gadis bodoh yang dulu dijauhi semua orang karena membawa sial, kini pintar sekali bermain licik! Sengaja membawa obat-obatan dan sengaja berpura-pura bersikap baik pada orang yang telah ia lukai!! Ck,, ck,,!!!"
Semua orang berbisik-bisik menghina Amira.
__ADS_1
Hal itu membuat Raina merasa sangat puas.
'Hah,, bahkan Dewa penjaga pintu surga pun tidak akan tahu bahwa akulah yang menendang Yura di bawah meja. Apalagi sekarang, semua bukti dan orang-orang sudah berpikir bahwa Amira lah yang telah melakukan semua itu demi mendapatkan nama di depan Yura.' ucap Raina dalam hati merasa begitu senang akan kecerdikannya di hari itu.