
'Hah,, di kehidupan pertama dan kedua semuanya seperti sama saja. Selalu ada orang yang merengek padaku padahal aku bukanlah orang yang sebaik itu untuk mengabulkan permintaan mereka.' ucap Amira dalam hati sembari menghela nafas dengan panjang.
"Aku tidak punya keuntungan jika aku menyelamatkan putramu jadi Mengapa aku harus melakukannya?" Tanya Amira pada perempuan di depannya langsung membuat Wiwin terpaku karena tak menyangka bahwa perempuan itu akan berkata seperti itu padanya.
πΎπΎπΎ
"Itu,,, bukankah kau seorang tabib? Bukankah seorang tabib harus melakukan apapun untuk menyembuhkan saat dia menemukan seseorang yang sedang sakit?" Ucap Wiwin sembari meneteskan air matanya karena dia sedang memikirkan putranya yang sedang sekarat.
"Ha ha ha..." Amira tertawa keras mengagetkan semua orang, "aku bukanlah seorang tabib, dan aku tidak pernah memiliki sumpah untuk menyembuhkan siapapun yang ku temui. Tapi karena kau terlihat begitu menyedihkan, maka aku akan memberitahumu identitasku yang sebenarnya.
"Dari dulu sampai sekarang, aku hanyalah seorang perempuan rendahan yang dijuluki sebagai seorang pelakor, aku sudah banyak mematahkan hati perempuan, aku sudah banyak membunuh orang dan sudah banyak merampas harta orang.
"Jadi Apakah kau pikir orang sepertiku akan memiliki hati untuk menyembuhkan putramu hanya karena kalian keluarga zahirka menculik cucu keluarga Rakin?! Apalagi setelah hinaan yang kalian lontarkan terhadapku, kalian pikir kalian layak untuk dibantu olehku?
__ADS_1
"Ck,,, kalian pikir aku semudah itu? Kalian pikir karena kalian berasal dari keluarga besar maka kalian bisa seenaknya mengatakan sesuatu dan mengingkari ucapan kalian?
"Kalian pikirkan kalian bisa seenaknya merendahkan orang yang tidak memiliki kedudukan apapun lalu kembali memaksa orang itu untuk menolong kalian?
"Dasar keluarga kaya,, inilah yang tidak ku sukai dari orang-orang seperti kalian!! Hanya karena sedikit memiliki jabatan dan kekuasaan kalian jadi seenaknya pada semua orang!!
"Menganggap nyawa orang lain adalah sebuah permainan, jadi sekarang apakah aku juga tidak bisa berpikir bahwa nyawa cucu kalian juga adalah sebuah permainan???" Tanya Amira pada keluarga Zahirka langsung membuat semua orang tercengang.
Ardan pun mengepal erat tangannya dan dia baru menyadari apa yang telah ia lakukan.
Lalu beberapa hari yang lalu ketika dia bertemu dengan Amira dia masih saja merendahkan perempuan itu dan bahkan dari mulutnya sendiri dia mengatakan sebuah ucapan yang membuat cucunya sendiri harus dipertaruhkan demi mempertanggungjawabkan ucapan yang keluar dari mulutnya.
Dan sekarang, dia bahkan mempermainkan cucu keluarga Rakin hanya untuk menyelamatkan cucunya,,, jadi,, apa yang dikatakan Amira itu benar jika dia bisa mempermainkan nyawa cucu keluarga Rakin, maka orang lain pun bisa mempermainkan nyawa cucunya sendiri.
__ADS_1
Maka dengan cepat Ardan tumbang di lantai dan pria itu berlutut di depan Amira.
"Aku sudah benar-benar menyesal atas apa yang terjadi, aku sudah mengetahui apa kesalahanku, jadi Untuk sekali Ini saja, tolong selamatkanlah cucuku. Ke depannya aku akan lebih menjaga ucapanku dan tindakanku, aku akan berpikir tujuh puluh kali tujuh kali sebelum mengeluarkan kata-kata dari mulutku dan sebelum melakukan sebuah tindakan." Ucap Ardan dengan wajah yang pucat dan tubuh yang gemetar.
Melihat ayah mertuanya, maka Wiwin pun juga ikut berlutut, "itu, aku sebagai seorang ibu dan sebagai seorang menantu, aku,,,, juga,, memohon--"
"Hah, sudahlah," sela Amira, "aku sangat muak melihat sikap orang kaya yang seperti ini. Setelah melakukan sesuatu yang buruk mereka akan bersujud seperti ini jadi aku hanya akan menerima permintaan maaf kalian saat kalian memberikan setengah harta kalian untuk pengobatan orang kurang mampu di rumah sakit." Ucap Amira langsung membuat Rahmat mengangkat wajahnya menatap perempuan di depannya.
Setengah harta???
Itu,, terlalu banyak!!!
@interaksi
__ADS_1
Ini yang salah otor apa Amira ya? kok subuh2 gini otor pengen ngancurin permen di mulut otor??? btw ini jam 01.26π΄π΄π΄