
Setelah keluarga Rakin meninggalkan kediamannya, Amira langsung bersiap-siap untuk keluar, lalu perempuan itu segera berangkat ke rumah sakit tempat tuan besar Maherson dirawat.
Beberapa pengawal yang berjaga di sekitar rumah sakit itu langsung menyadari kehadiran Amira dan mereka langsung menghubungi atasan mereka tentang kedatangan Amira di tempat itu.
Maka dengan segera, Daren turun ke lobi dan melihat Amira yang sedang berdiri dengan santai sembari memperhatikan sebuah akuarium yang diletakkan di lobby rumah sakit.
"Amira," ucap pria itu langsung membuat Amira berbalik ke arah suara yang memanggil namanya.
'Heh,, dia benar-benar cepat.' ucap perempuan dalam hati sembari melemparkan senyum kekesalannya pada pria yang berjalan ke arahnya.
Dia tidak menyangka belum cukup 3 menit dia berada di lobby itu, maka orang yang ia cari sudah datang juga menemuinya.
Dan lebih parahnya lagi, di wajah pria itu tidak ada sedikitpun rasa bersalah setelah apa yang terjadi kemarin malam di mana dia dan suaminya hampir saja terbunuh karena ulah pria tersebut.
"Kau tiba-tiba datang ke rumah sakit, Apakah kau sudah berubah pikiran untuk menolong keluarga kami?" Tanya pria itu berpura-pura tidak tahu mengenai penculikan Amira yang terjadi kemarin malam.
Tetapi Amira sama sekali tidak terkejut Karena dia sudah menduga bahwa hal seperti itu akan terjadi.
Jadi Amira berkata, "Iya, aku sedikit memikirkannya dan berpikir untuk melihat keadaan Tuan besar herson lebih dulu."
__ADS_1
Ucapan Amira langsung membuat Daren merasa sangat senang, jadi dia menganggukkan kepalanya dan berkata, "tentu saja, silakan ikuti saya."
Amira menganggukkan kepalanya lalu dia mengikuti pria itu ke dalam lift sambil memperhatikan pria yang berjalan lebih dulu di depannya.
Pria yang berpura-pura bersikap seolah tak terjadi apapun, padahal pria itu hampir saja membuat nyawanya dan nyawa suaminya melayang di sebuah tempat yang begitu asing baginya.
'Dasar, dia pikir aku tidak tahu apapun??? Lucu sekali!!!' ucap Amira dalam hati sembari menahan kekesalannya pada pria itu.
Ting!
Akhirnya lift berhenti, lalu keduanya keluar dari lift dengan Daren yang terus menuntun Amira hingga mereka tiba di ruangan milik tuan besar Maherson.
Amira langsung menggulung lengan jubah hijau yang ia kenakan lalu perempuan itu mengulurkan tangannya memegang lengan tuan besar Maherson.
"Apakah dia benar-benar bisa menyembuhkan kakek?" Ucap Norman yang berada di balik kaca bersama beberapa kerabatnya yang sedang menunggui tuan besar maherson.
Sepupu maherson yang berada di samping pria itu langsung berkata, "jangan berkata seperti itu, kakakmu sudah sangat mempercayainya jadi kita lihat saja dulu."
Meski tidak menjawab, tetapi Norman lebih fokus melihat perempuan yang tampak konsentrasi memeriksa kakeknya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Daren yang berada di sisi lain ranjang sembari memperhatikan perempuan yang sudah menarik tangannya dan beralih menatap wajah tuan besar Maherson.
"Tidak baik, aku perkirakan umurnya tidak akan sampai 1 minggu. Tapi aku tahu obat yang bisa menyembuhkannya." Ucap Amira langsung membuat Daren bersemangat menatap perempuan itu.
"Apa itu?" Tanya Daren.
Amira tidak langsung menjawab tetapi perempuan itu langsung berjalan keluar dari ruangan sembari melepaskan masker dan jubah hijau yang ia kenakan.
Setelah selesai, Dia melihat semua orang yang sedang memperhatikannya Karena penasaran dengan apa yang akan ia katakan.
"Ini tidak mudah, hanya guruku yang memiliki obat itu. Dan untuk membelinya kalian perlu mengeluarkan uang senilai 100 trilliun!!" Tegas Amira langsung membuat semua orang terkejut.
100 trilliun?!!!!
"Apa?!! Obat macam apa yang nilainya sebanyak itu?!" Tanya semua orang yang tak percaya dengan jumlah yang baru saja dikatakan oleh Amira.
Bahkan dengan uang senilai 100 triliun, mereka bisa membeli beberapa pulau besar di negara mereka!!
Atau uang senilai itu bisa digunakan untuk memberi makan semua orang yang ada di negara mereka!!!!
__ADS_1