Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
221. Menghadapi Amira dengan negosiasi


__ADS_3

"Kakak! Apakah kau tahu apa yang baru saja dikatakan perempuan itu pada keluarga kita? Dia bilang Kalau kita tidak akan mampu membeli obat milik gurunya, bahkan mengatakan bahwa kita tidak akan mampu menyediakan uang 100 triliun dalam satu minggu!!! Dia itu perempuan sombong yang arogan!!! Tidak layak untuk berada di dunia in--"


Prankkk!!!!


Sebuah piala yang diletakkan di meja Daren langsung melayang ke adiknya dengan pria itu tampak sangat marah.


"Kau kembali lagi membuat masalah?!! Aku sudah bilang padamu untuk menahan diri di depan Amira, karena dia satu-satunya harapan kita untuk menyelamatkan nyawa kakek!!!


"Aku sudah bilang padamu kan kalau aku sudah menyelidiki tentang Amira dan dia benar-benar bisa menyembuhkan orang yang sudah sekarat!!! Dia sudah bilang kalau kakek hanya akan bertahan dalam satu minggu lagi, dan sekarang kalau kita tidak bisa mendapatkan obat dari guru perempuan itu, maka kakek akan meninggal!!!!!


"Setelah Kakek meninggal, apakah kau pikir keluarga kita masih bisa bertahan?!! Ayah dan ibu kita telah meninggal, sekarang kakek akan pergi juga, kita hanya tinggal berdua!! Kau pikir kita akan dihargai oleh orang-orang Kalau tidak ada tetua?!!! Tidak akan!!!!

__ADS_1


"Kau lihat para orang tua gila harta yang ada di perusahaan itu?? Saat ini mereka semua sedang berpesta pora karena hidup kakek yang berada di ujung tanduk!!


"Mereka semua mengirim keponakan mereka ke rumah sakit untuk melihat keadaan dan memata-matai kita!!! Tapi sepertinya kau sama sekali tidak mengerti apapun!!!!" Teriak Daren pada adiknya lalu pria itu segera keluar untuk menyusul Amira demi meminta maaf pada perempuan itu.


Tetapi belum saja keluar dari ruangannya, Norman kembali berkata, "kalau begitu culik saja semua keluarga Barata dan paksa dia untuk meminta obat itu pada gurunya!! Kalau dia tidak bisa melakukannya, maka kita akan membunuh seluruh keluarga Barata!!!!"


Daren yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap adiknya, "Jangan melakukan hal konyol dan tetap berdiri di ruangan ini sampai aku menyuruhmu untuk keluar!!!" Bentak pria itu kembali membuka pintu ruangannya dan menutup pintu itu serta menguncinya.


'Entah kesialan apa yang dialami oleh keluarga Maherson hingga memiliki satu anggota keluarga yang begitu bodoh!! Menculik apanya??? Yang terjadi kemarin saja sudah membuatku merasa sangat marah dan berpikir bahwa Amira benar-benar bukan orang biasa.


'Entah Siapa yang kemarin menyelamatkan mereka dan bagaimana mereka mengetahui informasi itu, tapi aku rasa satu-satunya cara untuk berhubungan dengan Amira adalah melalui negosiasi!!!' ucap Daren dalam hatinya sembari terus melangkahkan kakinya diikuti oleh asistennya yang kemudian menyetirkan mobil pria itu.

__ADS_1


Sembari menyetir mobil, asisten kebingungan harus membawa mobil itu ke mana. Jadi dia hanya memelankan laju mobilnya sampai akhirnya dia memberanikan dirinya untuk melihat Daren melalui kaca spion.


"Ke mana tujuan kita?" Tanya asisten itu.


"Perintahkan seseorang untuk mencari tahu keberadaan Amira, lalu kita akan pergi menemui perempuan itu." Kata daren dengan sorot mata yang dalam menatap keluar jendela mobil.


Sang asisten langsung mengambil ponselnya, lalu pria itu segera menekan-nekan layar ponselnya sebelum panggilannya terhubung pada seseorang.


Setelah beberapa saat menelpon, asisten itu kemudian membelokkan mobilnya, lalu menatap melalui kaca spion dalam mobil.


"Nona Amira sedang berada di kediaman keluarga Rakin." Langsung membuat Maherson mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Meski keluarganya dan keluarga Rakin sama-sama keluarga besar, tetapi kedua keluarga itu bukan keluarga yang akrab, jadi akan sulit baginya untuk pergi ke kediaman keluarga Rakin.


"Kita pergi saja ke sana dan menunggu Amira keluar dari kediaman itu." Ucap Daren sembari mengambil ponselnya untuk membuat beberapa panggilan demi menyiapkan uang 100 triliun yang diinginkan oleh guru Amira.


__ADS_2