
"Aku pergi ke kamar mendapatkan ini," ucap Halina meletakkan sebuah kotak di atas meja.
Hal itu membuat Amira merasa bingung dan juga penasaran dengan isi kotak yang dibawa oleh perempuan itu.
"Apa ini?" Tanya Amira sembari memperhatikan kotak itu dengan buku yang ia baca kembali diletakkan di atas meja.
"Bukalah," ucap Halina langsung membuat Amira mengambil kotak itu dan membukanya.
Sembari Amira membuka kotaknya, Halina memperhatikan perempuan itu, 'itu adalah kotak terakhir yang ditinggalkan oleh Halina, dan di buku hariannya dia bilang yang mengetahui isinya hanyalah dia dan Amira. Dan karena aku yakin perempuan di depan ini juga bukan Amira yang asli, maka dia pasti tidak akan mengerti dengan isi kotak itu.' ucap Halina dalam hati yang merasa kesal karena tadi Amira sudah berusaha membicarakan sesuatu di masa lalu yang sama sekali tidak diketahui olehnya.
Namun, begitu kotaknya terbuka, Amira langsung memperlihatkan wajah terkejutnya.
"Ah,, kau masih menyimpan barang ini? Bukankah hari itu aku bilang padamu supaya membuangnya saja?" Ucap Amira mengeluarkan sebuah tongkat sulap dari dalam kotak itu.
__ADS_1
Dalam ingatannya, Amira mengetahui bahwa alat sulap itu diberikan pada Halina sebagai hadiah karena perempuan itu memilih mementaskan sulap di atas panggung, sebab hanya dengan menjadi seorang pesulap Dia hanya bisa diam di sana dan Amira lah yang akan bergerak sesuai dengan petunjuk dan arahan Halina.
Tetapi kemudian dia mencari sebuah tulisan di dalam kotak itu, "di mana surat yang kita letakkan bersama di dalam kotak ini?" Tanya Amira langsung mengejutkan Halina karena perempuan itu tidak percaya bahwa Amira bisa mengetahui keberadaan surat di dalam kotak itu.
Dia sengaja melepaskannya untuk menguji apakah Amira benar-benar Amira yang asli ataukah perempuan yang hanya mengaku-ngaku sebagai Amira.
"Ahh, itu, sepertinya aku menghilangkannya." Ucap Halina yang kini tidak puas dengan apa yang ia lihat.
"Ahh,, Ya sudah, lagi pula itu tidak terlalu penting." Ucap Amira kembali penutup kotak itu dan meletakkannya di atas meja.
"Ah,, itu, Aku tidak tahu harus memulai mencarinya dari mana. Jadi sampai sekarang belum mengetahuinya." Ucap Amira yang merasa aneh tentang pertanyaan perempuan itu.
"Saya sekali, padahal Dulu kau pernah bilang kalau kau sangat ingin menemukan orang tuamu." Ucap Halina.
__ADS_1
"Itu, kapan aku mengatakannya?" Tanya Amira yang sama sekali tidak memiliki ingatan seperti itu.
Tetapi Halina tersenyum dan berkata, "hm, mungkin kau sudah tidak ingat karena waktu itu kau hanya berhubungan kecil dan aku tanpa sengaja mendengarnya."
"Ah,, begitu ya." Jawab Amira sembari tersenyum, lalu dia mengambil tehnya dan meneguknya.
'Aku merasa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan oleh perempuan ini, tapi aku harus mencari tahunya secara perlahan-lahan.' ucap Amira dalam hati lalu mereka berbincang-bincang kecil sebelum Halina mengantar Amira untuk meninggalkan kediaman itu.
Sembari keluar dari perpustakaan dan melewati banyak ruangan Amira menyempatkan kesempatan itu memperhatikan seluruh ruangan dan melihat foto-foto keluarga yang ada di sana.
Tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk, jadi Amira meninggalkan kediaman Halina dengan tangan kosong, tetapi perempuan itu tidak menyerah dan ketika dia berada dalam mobilnya ia kembali mengeluarkan fotonya yang ia dapatkan.
"Foto ini sangat mencurigakan, Bagaimana bisa perempuan di foto ini sangat mirip denganku? Dan aku juga baru ingat, kalau Amira ini dibuang di panti asuhan dan setiap bulan selalu mendapat,,, ah,, sepertinya aku harus ke panti asuhan." Ucap Amira akhirnya melajukan mobilnya dan kembali ke kediamannya.
__ADS_1
Dia berencana untuk mencari tahu tentang orang tuanya besok siang.