
Setelah Dani tidur, Amira lalu memasuki kamar itu dan memeriksa mandinya beserta mengamati wajah dan beberapa tanda vital lainnya.
"Sebaiknya kalian memanggil dokter pribadi kalian kemari," ucap Amira ketika dia selesai memeriksa Dani lalu memeriksa Hesa dan istrinya.
Pengurus kediaman keluarga Rakin langsung melakukan perintah Amira setelah mendapat persetujuan dari Rahmat, lalu pria itu bergegas memanggil dokter pribadi mereka.
"Bagaimana pemeriksaan mu?" Rahmat langsung bertanya ketika Amira menarik tangannya dari menantunya lalu menghela nafas.
"Sesuai dugaan saya, kalian semua telah diberikan racun dalam dosis yang berbeda, dan lebih parahnya lagi saya pun tidak bisa mendeteksi racun apa yang telah diberikan pada kalian." Ucap Amira membuat semua orang kembali berada dalam ketercengangan mereka.
"Lalu, apa yang harus dilakukan?" Tanya Rahmat.
"Kalian semua harus melakukan analisa darah dan dokter pribadi kalian bisa membantu kalian untuk melakukannya." Ucap Amira kembali membuat Rahmat terkejut.
__ADS_1
"Aku melakukan analisa darah setiap sebulan sekali, bahkan seluruh keluarga kami juga melakukannya, jadi bagaimana bisa,,," Rahmat menghentikan ucapannya lalu pria itu teringat akan dokter pribadinya.
"Sepertinya Tuan Rahmat sudah mengetahui jalan keluarnya, dan ini juga sudah larut malam, sepertinya kami harus kembali." Ucap Amira segera berdiri diikuti suaminya.
"Baiklah, tapi jika keluarga kami membutuhkan bantuan--"
"Tuan Rakin bisa menghubungi saya jika membutuhkan bantuan lainnya." Ucap Amira melemparkan senyumnya pada Rahmat.
"Baiklah, terima kasih," ucap Rahmat pada Amira sembari menoleh pada putranya, "pergi antar mereka," perintahnya.
Ketika mereka sudah berada dalam mobil, Fernando menatap ke arah istrinya, "Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Fernando yang kini sudah sangat mencurigai istrinya.
Ada banyak hal yang begitu mengejutkan dari Amira sejak beberapa waktu terakhir, dan dia masih menahan-nahan pertanyaannya karena takut membuat perempuan itu tersinggung.
__ADS_1
Tetapi sekarang, pria itu tidak bisa menahan diri untuk bertanya secara langsung pada istrinya.
Amira ikut menangkap suaminya lalu perempuan itu tersenyum, "kau ingat beberapa waktu ini aku tidak banyak di rumah? Itu semua karena aku pergi berguru pada seseorang yang sangat pandai.
"Lihat kulitku yang kemarin penuh bekas luka, guruku membantu mengobatinya dan juga mengajarkanku berbagai pengobatan." Ucap Amira penuh percaya diri.
Fernando menatap tangan istrinya yang sudah mulus, lalu berkata, "kalau begitu, Siapa guru yang kau maksud itu? Bisakah aku bertemu dengannya?"
Amira langsung menarik lengannya lalu perempuan itu menghela nafas, "guruku tidak suka bertemu dengan banyak orang, sebenarnya dia juga menyuruhku merahasiakan semua ini darimu, tapi karena kau adalah suamiku maka aku harus memberitahumu." Ucap Amira lalu menatap suaminya dengan wajah manja menggemaskan.
"Suami, bisakah kau merahasiakan ini dari ayah dan ibu, dan dari semua orang? Guruku mungkin akan memecatku sebagai muridnya kalau aku sampai mengatakan pada semua orang tentang dirinya. Ya...?" Kata Amira penuh dengan akting untuk memikat suaminya.
Tentu saja karena Fernando tidak tahan melihat wajah manja yang baru pertama kali ia lihat di wajah istrinya, jadi pria itu dengan pasrah menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah," ucapnya yang mengerti bahwa jika ayah dan ibunya mengetahui tentang guru Amira maka mereka pasti akan memaksa Amira mengatakannya.
'Daripada dia terus di rumah bertengkar dengan ibu, lebih baik istriku memiliki seorang guru yang mengajarinya banyak hal. Lagi pula, apa yang ia pelajari itu bukanlah hal yang membawa malapetaka baginya.' pikir Fernando dalam hati.