
"Ahh,, aku datang untuk menjemputmu karena kebetulan aku akan pergi ke rumahmuz tetapi ibumu sedang ada kesibukan, jadi dia menyuruhku untuk singgah menjemputmu." Ucap Ardan langsung membuat Dani agak tertunduk dan memikirkan ucapan pria.
Melihat Dani yang tampak ragu, maka Ardan kembali berkata, "ibumu sedang sibuk memasak makan siang di rumah karena hari ini keluarga kami datang bertamu."
🐾🐾🐾
Mendengar itu, maka Dani mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya, "kalau begitu, bolehkah Tuan menelpon ke rumahku dan biarkan aku memastikan sendiri bahwa Tuan benar-benar disuruh untuk menjemput ku?" Tanya pria itu langsung membuat Ardan mengepal erat tangannya.
'Kenapa pria ini begitu sulit dihadapi? Kenapa juga dia sangat berhati-hati?' pikir Ardan dalam hati sembari menggertakan giginya karena merasa bahwa pria kecil di depannya memang tidak mudah untuk di atasi.
Padahal, sebentar lagi Ibu dari anak kecil itu mungkin akan segera kembali setelah selesai memompa ban mobil mereka.
Jadi Ardan langsung berkata, "kalau begitu ikutlah ke dalam mobil, karena aku menyimpan ponselku di dalam mobil. Kau bisa berbicara dengannya di dalam mobil Lalu setelah itu kau bisa turun Kalau kau memang tidak mau ikut bersama kami. Apalagi di sini sangat panas, tidak baik untukmu."
Dani berpikir sesaat, tetapi kemudian dia menganggukkan kepalanya dan menyusul pria itu ke mobilnya.
__ADS_1
Ardan membuka pintu mobil dan membiarkan Dani untuk masuk ke mobil tetapi Dani menggelengkan kepalanya, "Tuan bisa masuk ke dalam mobil dan saya akan menunggu di sini." Ucap Dani yang tidak mau bila nanti dia sudah berada dalam mobil dan tak bisa lagi keluar.
"Ahh, baiklah," ucap Ardan segera masuk ke mobil dan dia duduk di kursi penumpang paling pinggir dengan Ardan yang berdiri di sampingnya beserta pintu mobil yang terbuka.
Lalu Ardan kemudian berusaha mencari ponselnya di sebuah tas kecil yang ia bawa.
Sementara sang asisten, pria itu pelan-pelan membuka pintu mobil dan berjalan perlahan ke belakang mobil lalu melihat Dani yang berdiri di ambang pintu.
'Pria kecil ini sangat hati-hati, Aku sangat kagum dengannya, tetapi sayang sekali dia hanyalah pria kecil yang belum bisa menghadapi kami.' ucap asisten itu dalam hati segera berlari ke arah Dani dan dengan cepat menangkap anak kecil itu lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Pintu mobil ditutup lalu sama asisten berjalan mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Apa yang kalian lakuakn?!!" Dani berusaha merontah sembari berusaha membuka pintu mobil, tetapi sayang sekali pintu mobil telah dikunci secara otomatis jadi tidak bisa lagi terbuka.
Oleh sebab itu Dani dengan wajah marahnya langsung menatap Ardan, "apa yang Tuan lakukan?!!" Teriak pria kecil itu merasa sangat marah.
__ADS_1
"Kita hanya pergi berjalan-jalan ke rumahku saja tidak ada yang lainnya." Ucap Ardan sembari melihat ke arah mobil yang berjalan untuk parkir di depan mereka.
Dani mengikuti pandangan pria itu dan terkejut ketika dia melihat itu adalah mobil keluarga mereka yang kemungkinan besar datang untuk menjemputnya.
"Ibu!!! Ibu!!!" Dani berteriak-teriak sembari menggedor jendela mobil yang sementara berjalan agar ibunya mendengarnya, tetapi karena mobil milik keluarga Zahirka adalah mobil yang kedap suara maka tidak ada yang mendengar pria kecil itu berteriak-teriak.
Sementara Ardan, pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Amira.
Drrrttt......!!!! Drrrttt......!!!! Drrrttt......!!!!
Ponsel Amira yang diletakkan di atas meja bergetar sementara Amira yang duduk menikmati jus menatap ponsel itu dan memutar bola matanya setelah membaca nama pemanggil.
Dia tidak berniat untuk mengangkatnya, tetapi ketika dia mengingat kembali ucapan Ardan maka dia langsung mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Ada apa?" Langsung tanya Amira dan perempuan itu terkejut ketika dia mendengar suara anak kecil dari seberang telepon yang terdengar sedang menggedor-gedor jendela mobil.
__ADS_1
"Apa kau mendengarnya? Nyawa yang berharga itu telah kudapatkan, pewaris satu-satunya keluarga Rakin ada di sini, jadi cepatlah datang ke kediamanku dan akan kutukar nyawanya dengan jasa pengobatan mu!!!" Ucap pria dari seberang telepon lalu panggilan itu langsung diakhiri secara sepihak.