
"Tapi sebaliknya, kau adalah orang yang berusaha mencari perhatianku dengan cara memfitnah iparmu sendiri. Iya 'kan?!!" Ucap Yura menatap tajam ke arah Raina membuat perempuan itu sangat terkejut dengan dua orang perempuan yang kini menatapnya dengan tatapan yang sama!!!
"Ka, kau,," ucap Raina dalam posisi serba salah.
Amira yang melihat perempuan itu kini tergagap, ia langsung tersenyum menghina dan berkata, "seharusnya kau sadar akan kelakuanmu yang sangat buruk itu. Sepatumu yang ada noda darah itu... Bukankah sama saja membuktikan bahwa kau baru saja melukai seseorang dengan sepatumu?"
Ucapan Amira langsung membuat mata semua orang tertuju pada sepatu Raina yang memang di ujungnya terdapat sedikit noda berwarna merah yang terlihat seperti darah.
"I,, ini,,, i,,,," Raina merasa gelagapan, tidak tahu harus berkata apa.
Amira tertawa geli melihat tingkah Raina, "Mungkin kalau kau masih mau menyangkal, kita bisa membawa sepatu itu dan mengecek noda darah di sepatumu.
"Dan aku yakin, hasil pemeriksaannya akan membuktikan bahwa darah itu, 100% sama dengan darah milik Yura." Ucap Amira langsung membuat Raina semakin ketakutan dan menatap semua orang yang kini melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Apakah benar kau yang melakukannya?" Tiba-tiba Fanko bertanya langsung membuat Raina merasakan separuh jiwanya telah menghilang, karena tidak ingin kehilangan pria yang telah menjadi kekasihnya beberapa waktu yang lalu.
Jadi Raina dengan cepat berkata, "Ini,, i,,, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!! Tadi itu, aku hanya,,, Aku hanya tidak sengaja menggerakkan kakiku dan tak menyangka kalau akan mengenai kaki--"
"Ah,," sela Amira, "Jadi kau tak sengaja menyentuh kakinya di bawah meja sampai kakinya berdarah? Setelah itu kau bilang akulah yang melukai kakinya dan berpura-pura mengobati kakinya untuk menarik perhatian Yura?
"Ha ha ha.... Kau sangat konyol!! Pantas saja aku kebingungan, sebenarnya Kau itu bodoh apa dungu?! Ternyata tidak salah satunya, tapi kau adalah keduanya!!!" Ucap Amira sembari tersenyum dan sedikit tertawa merendahkan Raina yang kini semakin gemetar dan matanya berkaca-kaca.
Dia menggertakan giginya, mengepal erat tangannya dan nafasnya tersengal seolah oksigen di tempat itu benar-benar menipis.
"Aku tidak ingin mempunyai kekasih sepertimu, bisa-bisanya kau melukai sepupuku, lalu menuduh orang lain melakukannya?!! Mulai sekarang kita putus!!!" Tegas Fanko lalu pria itu menghempaskan genggamannya pada tangan Raina dan pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang memberi jalan pada Fanko untuk meninggalkan tempat itu, tetapi mereka tidak berhenti menata Raina sembari tertawa kecil merendahkan.
__ADS_1
Hal itu membuat Raina tidak bisa lagi menahan air matanya, hingga untuk kedua kalinya dia menangis di tempat itu.
Setelah beberapa saat, dengan langkah yang gemetar Raina berusaha meninggalkan tempat itu.
"Astaga, padahal dialah yang menjelekkan Amira, sekarang ternyata dialah yang begitu memalukan!!!"
"Ah,, aku ingat omongannya sebelumnya, jangan-jangan semua yang dia katakan itu adalah sebuah omong kosong?"
"Ah iya,,," semua orang menatap ke Amira, dan dalam hati, mereka sedang bertanya-tanya, apakah Amira benar-benar melakukan operasi plastik atau tidak.
Meski mereka melihat Raina yang ternyata suka berbohong dan memfitnah, tetapi tentu saja hal itu tidak dapat menghapus semua pikiran mereka terhadap Amira.
Perubahan Amira terlalu mengejutkan!!!!
__ADS_1