
Dor dor dor.....!!!
Dor dor dor.....!!!
Dor dor dor.....!!!
Amira terdiam memegang erat pistolnya mendengar suara tembakan yang diluncurkan ke arah mobil yang menabrak masuk.
"Buat perlindungan!!!" Teriak salah seorang pria sembari terus menerus menembak ke arah mobil yang terus digerakkan semakin masuk ke dalam gudang.
Amira yang melihat keadaan itu akhirnya memanfaatkan kesempatan dan dia berlari ke arah pintu belakang dan keluar lewat pintu itu.
Bang!
Amira menggunakan sebuah lemari yang dijatuhkan ke arah pintu agar orang-orang jahat yang ada di dalam gudang tidak bisa keluar.
"Nyonya," ucap Arifin yang bersama anak buahnya yang berjalan ke arah belakang gudang.
"Aku baik-baik saja, kita cepat pergi dari sini!!!" Kata Amira langsung menghilangkan pistol di tangannya dengan Arifin yang melihat hal itu begitu terkejut.
'Sebenarnya apakah itu sulap atau,,,, sebuah kekuatan sihir?' ucap Arifin dalam hati, tetapi dia tetap mengikuti Amira yang sudah berjalan pergi.
__ADS_1
Begitu tiba di mobil, Amira berkata, "aku akan menyetir sendiri.
"Baik Nyonya," jawab Arifin lalu membiarkan Amira menaiki mobilnya.
Brak!
Begitu pintar tertutup dan Amira sudah mengendarai mobil untuk pergi dari situ, maka Arifin langsung menatap seluruh anak buahnya.
Kita tinggalkan tempat ini sebelum keluarga Maherson datang..
"Baik Tuan," jawab semua orang lalu memberi kode pada orang yang membawa mobil agar menghalangi pintu keluar gudang menggunakan badan mobil.
Maka begitu, semua orang yang terperangkap di dalam gudang tak bisa keluar karena kedua jalan masuk ke gudang itu telah ditutup rapat.
Mobil-mobil meninggalkan tempat itu mengawal Amira yang berkendara di depan.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan dua mobil yang dikenali Arifin sebagai mobil milik tuan muda Maherson.
Tapi tentu saja, dia tidak memperdulikannya.
Pria itu baru terkejut ketika salah seorang bawahannya yang duduk di kemudi depan tiba-tiba saja berkata, "Bukankah Nyonya diculik bersama suaminya?"
__ADS_1
Pengawal yang menyupir mobil menganggukkan kepalanya "Iya, Kenapa hanya nyonya yang keluar?" Ucap pria itu kini menatap ke arah Arifin melalui spion dalam mobil.
Arifin juga bingung, tetapi pria itu tidak mengatakan apapun dan hanya diam memikirkan Amira.
'Tidak mungkin perempuan itu meninggalkan suaminya di dalam gudang dan dia keluar sendirian,' pikir Arifin dalam hati sembari menunggu sampai mobil mereka akhirnya berhenti di depan sebuah lorong.
Amira turun dari mobilnya lalu perempuan itu langsung dihampiri oleh Arifin.
"Aku akan mengingat pertolongan kalian hari ini. Jadi kalian boleh pergi. Ahh,, satu lagi, Apa kalian tahu siapa yang telah melakukan penculikan itu?" Tanya Amira langsung membuat Arifin menegang.
"Itu,, keluarga Maherson--"
"Ha ha ha...!!" Amira tertawa keras, "Baiklah, aku mengerti. Kalian bisa pergi." Ucap Amira sembari berjalan ke arah lorong, di mana mobilnya telah diparkir di depan sebuah restoran.
Arifin memandangi kepergian perempuan itu dan dia merasa sedikit bingung.
'Dia memang bukan orang biasa. Kalau tidak, mana mungkin dia akan tertawa seperti itu setelah mengetahui bahwa dia sudah berurusan dengan keluarga Maherson. Setidaknya dia harus tahu bahwa ini adalah yang pertama, bukan berarti tidak ada yang kedua dan ketiga.' ucap Arifin sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu pria itu kembali memasuki mobil.
Semua pengawal yang melihat Arifin hanya bisa menyimpan pertanyaan mereka dalam hati, karena masih begitu penasaran dengan hilangnya suami Amira.
Tetapi tak ada yang bisa bertanya, dan mereka hanya menyimpan perkara itu dalam hati, berharap beberapa hari ke depan akan ada informasi mengenai hal tersebut.
__ADS_1