Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
61


__ADS_3

"Ini,, siapa yang tega melakukanya?!!" Wajar Yura langsung memucat melihat bahwa dirinya pun tak luput dari racun yang ditebar oleh seseorang dalam keluarga mereka.


"Pelakunya sudah dibawa ke kantor polisi, tapi sekarang kau sudah mengerti kan bahwa kau tidak boleh memperlakukan Amira dengan begitu buruk!! Kalau harus menghormati nya karena berkat dialah kita terlepas dari maut!!" Ucap Rahmat.


Maka dengan berat hati Yura menatap kearah Amira dan melihat perempuan itu masih tampak tersenyum ke arahnya, 'aku tidak bisa percaya bahwa perempuan itu benar-benar membawa berkat bagi keluarga kami. Tapi di depan kakek aku tidak mungkin membantah nya, jadi sebaiknya aku iya kan saja.' pikir Yura dalam hati.


"Maafkan aku," kata Yura menatap amira.


Amira jelas tahu bahwa perempuan itu hanya bersandiwara di depannya, tapi Amira mengikuti permainan Yura dengan menganggukan kepalanya.


"Nona Rakin tidak perlu sungkan seperti itu." Ucap Amira.


Yura menganggukan kepalanya, "Lalu,, bagaimana kita akan menghilangkan seluruh racun ini?" Tanya Yura yang sangat cemas.


Dia masih muda, umurnya masih begitu panjang, belum menikah juga, bagaimana mungkin harus cacat karena racun?

__ADS_1


"Inilah yang kakek bicarakan dengan Amira," ucap Rahmat menatap cucunya lalu berpindah menatap Amira.


"Keluarga kami sangat berterima kasih atas bantuan yang kau berikan pada kami. Dan juga sebelumnya aku ingin bertanya tentang keputusan gurumu, apakah kau sudah berbicara dengannya tentang pil heksa yang terakhir kali kita bicarakan?" Tanya Rahmat penuh harap.


Sekarang harapan terakhirnya ada pada pihak yang kemungkinan besar bisa dibuat oleh guru Amira.


Apalagi, ini menyangkut masa depan keluarga Rakin, di mana pewaris mereka yang satu-satunya sedang terancam.


Amira bisa mengerti kekhawatiran pria tua di depannya, jadi perempuan itu menganggukkan kepalanya, "ya aku sudah memberitahukan yang kemarin malam. Jawab Amira.


Ucapan Amira langsung membuat Rahmat bersemangat bertanya, "lalu apa yang dikatakan oleh gurumu?"


Yura dengan cepat berkata, "Kalau begitu, tunggu apalagi, cepat katakan pada gurumu agar dia segera membuat obat itu!! Keluarga Rakin akan membayar berapapun biaya yang dinginkan oleh gurumu!!!"


Ucapan cucunya yang begitu menyombongkan kekayaan keluarga Rakin langsung membuat Rahmat merasa kesal.

__ADS_1


Pria tua itu lalu menatap cucunya "jangan sembarangan berbicara!! Guru Amira bukanlah guru yang bisa diperintah seenaknya, apalagi hanya dengan uang!! Dia adalah guru yang hebat, jadi uang tidak akan bisa berlaku kalau dia memang tidak mau melakukannya." Tegas Rahmat pada cucunya agar perempuan itu berhenti menyinggung Amira maupun gurunya.


Yura langsung mengerutkan keningnya "kalau bukan uang, lalu apa yang mereka inginkan?!" Tanya Yura yang merasa aneh bahwa ada orang miskin yang tidak menginginkan uang.


Pertanyaan cucunya langsung membuat Rahmat menghela nafas lalu berkata, "jangan selalu membawa penilaian seperti itu pada setiap orang. Sekarang juga diamlah dan kakek yang akan berbicara dengan Amira!" Perintah Rahmat yang sudah mulai kesal dengan cucunya yang sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya.


"Jika gurumu bersedia membantu keluarga kami, maka itu sangat bagus. Katakan saja apa yang harus kami lakukan." Kata Rahmat dengan sungguh-sungguh.


Amira menganggukkan kepalanya lalu berkata, "guruku tidak bisa mendapatkan bahan untuk membuatnya, jadi dia menulis daftar bahan yang harus kalian sediakan jika ingin mendapatkan pil Heksa."


"Benarkah? Hanya itu saja?" Tanya Rahmat tak percaya.


Tidak ada syarat lain kecuali menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil heksa.


"Ya," jawab Amira sembari mengambil sebuah kertas dari tasnya lalu menyerahkannya pada pada Rahmat, "hanya ini syarat yang diinginkan oleh guruku, harus mendapatkan semua bahan ini." Ucap Amira.

__ADS_1


"Hanya itu saja?" Yura kini bertanya tak percaya.


Amira mengangguk, "ya," jawabnya.


__ADS_2