
"Ada apa?" Langsung tanya Amira dan perempuan itu terkejut ketika dia mendengar suara anak kecil dari seberang telepon yang terdengar sedang menggedor-gedor jendela mobil.
"Apa kau mendengarnya? Nyawa yang berharga itu telah kudapatkan, pewaris satu-satunya keluarga Rakin ada di sini, jadi cepatlah datang ke kediamanku dan akan kutukar nyawanya dengan jasa pengobatan mu!!!" Ucap pria dari seberang telepon lalu panggilan itu langsung diakhiri secara sepihak.
๐พ๐พ๐พ
Tut tut tut.....
Amira yang mendengar nada sambungan telepon diputuskan langsung tersenyum dan duduk bersandar.
'Aku sudah menduga bahwa keluarga Zahirka pasti akan melakukan sesuatu, tapi tidak menyangka dia ternyata sangat berani dan menculik cucu keluarga Rakin.' ucap Amira dalam hati sembari berpikir-pikir apakah akan pergi ke kediaman keluarga Shaheer kah atau tidak perlu pergi ke sana.
Bagaimanapun, keluarga Zahirka tidak akan berani berbuat macam-macam pada cucu keluarga Rakin, apalagi mereka mengetahui bahwa itu adalah satu-satunya cucu keluarga Rakin, dan jika terjadi sesuatu padanya maka keluarga Zahirka harus bersiap-siap menghadapi keluarga Rakin.
Namun, setelah beberapa saat Amira memutuskan untuk keluar dari kediamannya sembari menyalakan ponselnya untuk memberitahu kabar itu pada keluarga Rakin.
Sementara itu, Wasti yang tiba bersama dengan sopirnya begitu terkejut ketika mereka tidak mendapati lagi dani menunggu mereka di depan sekolah.
__ADS_1
Maka perempuan itu langsung menghampiri seorang penjaga sekolah.
"Permisi," ucap perempuan itu dengan wajah yang cemas.
"Ada apa Bu?" Tanya sang penjaga sekolah.
"Itu, anak saya yang bernama Dani,,, Apakah bapak melihatnya? Saya sudah menunggu di sini selama 15 menit, tapi dia belum muncul-muncul juga, padahal biasanya dia tidak seperti ini." Ucap wasti dengan cemas.
"Ahh, Dani, Iya, dia sudah keluar tadi dia pergi bersama seorang pria yang sepertinya adalah kakeknya." Ucap penjaga sekolah langsung diangguki oleh Wasti, karena perempuan itu berpikir bahwa Ayah mertuanya yang kembali dari kantor mungkin saja lewat untuk menjemput Dani ketika dia sudah tidak ada.
Tetapi, ketika dia menelpon Rahmat, panggilannya tidak dapat terhubung karena Rahmat sedang berada dalam panggilan lain.
Maka begitu, Wasti menatap sang supir dan berkata, "kita kembali ke rumah."
"Baik Nyonya," jawab sang supir lalu melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu.
Sementara di tempat lain, Rahmat yang baru saja tiba di rumah langsung mendapatkan telepon dari Amira.
__ADS_1
"Ya Amira," jawab pria itu pada perempuan di seberang telepon.
"Itu, Aku baru saja mendapat telepon dari keluarga Zahirka kalau Dani ada di sana dan akan ditukar dengan kesembuhan cucunya." Ucap Amira langsung membuat Rahmat menghentikan langkah kakinya dan wajah pria itu menjadi sangat pucat.
"Apa?! Keluarga Zahirka dan membawa cucuku untuk mengancammu menyembuhkan cucu mereka?" Tanya Rahmat ingin memastikan pikirannya.
"Benar, Saat ini saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk pergi ke keluarga Zahirka." jawab Amira.
Rahmat yang mendengar ucapan Amira langsung teringat akan pembicaraan terakhir kali dengan Ardan, saat pria itu membicarakan sebuah nyawa untuk menebus sebuah kebohongan dan ketidakpercayaan.
Maka Rahmat segera menggertakkan giginya, "Dasar!!! Orang itu gila!!! Berani-beraninya dia menjual cucuku demi menyelamatkan cucunya!!! Aku akan segera menyusul ke sana!!" Tegas Rahmat lalu pria itu berbalik menaiki mobilnya untuk pergi ke kediaman keluarga Zahirka.
@interaksi
otor juga bingung kenapa benda tak bernyawa kadang lebih berharga dari pada yang merupakan ciptaan paling mulia di dunia ini๐ด tapi semoga para reder gak pernah ngalamin hal kek gitu ya...๐
__ADS_1