Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah

Pelakor Masuk Ke Tubuh Menantu Sampah
55


__ADS_3

"Begitu ya,, lalu mungkinkah gurumu tahu dimana pil itu? Aku akan membelinya dengan harga berapa pun, asal cucuku bisa sembuh." Ucap Rahmat menatap cucunya yang tampak tak berdaya di kursi rodanya.


Amira ikut melihat Dani, "Ini sulit, bagaimana pun, pil heksa tidak berasal dari negara kita, juga bukan obat yang di jual belikan secara bebas, tapi mungkin saja guruku bisa membuatnya, yang penting bahannya tersedia." Ucap Amira.


"Benarkah?!" Tanya Rahmat bersemangat.


"Aku akan tanyakan terlebih dahulu padanya," ucap Amira.


"Tentu!! Kalau begitu aku akan menunggu kabar darimu," ucap Rahmat merasa sangat senang.


"Baik," jawab Amira.


"Semoga saja gurumu bisa, supaya putraku bisa lebih cepat sembuh," ucap Hesa Menatap putranya.


"Akan kuusahakan membujuk guruku," ucap Amira.


Fernando memperhatikan istrinya dan merasa bingung dengan siapa yang dimaksud oleh Amira sebagai gurunya, tetapi dia tidak mengatakan pa pun dan hanya diam saja di tempatnya.

__ADS_1


Makan malam pun berlangsung cepat lalu Dani kembali dibawa ke kamarnya.


Begitu Dani pergi, Amira langsung menatap Rahmat, "Maaf jika saya lancang, tapi sepertinya Dani sedang keracunan, apa kah--"


"Apa?!! Racun?!!" Rahmat sangat terkejut, dua cucu juga meninggal karena keracunan, tapi semuanya tak disadari sampai mereka meninggal secara perlahan.


Jadi begitu mendengar kata keracunan, Rahmat sangat terkejut.


"Ini hanya dugaan saya, tapi dari wajahnya dia terlihat sedang menderita gejala keracunan. Namun untuk memastikannya, saya perlu memeriksanya lebih dahulu." Ucap Amira.


"Tentu!! Sebentar lagi dia akan tidur, kau bisa memeriksanya," ucap Rahmat.


"Kau sungguh pintar!! Kau menebaknya dengan benar!!" Ucap Rahmat menghela nafas lalu berkata, "dua cucu lelakiku sebelumnya meninggal karena keracunan. Tapi tak ada yang mengetahui kalau mereka sudah diracuni sejak masih sangat muda, barulah ketika meninggal lalu menunjukkan gejala keracunan. Bahkan dokter pribadi keluarga kami juga tak bisa mengetahuinya." Cerita Rahmat mengejutkan Amira.


"Ya,, ini racun itu memang terlihat sangat aneh, bahkan saya melihat di seluruh anggota keluarga ini memiliki ciri yang sama." Ucap Amira kembali membuat Rahmat amat terkejut.


"Maksudmu, kami semua sebenarnya keracunan, tapi,, tidak bergejala?" Tanya Rahmat.

__ADS_1


Dengan berat hati Amira menganggukkan kepalnya, "Benar, dan bukannya tidak bergejala, tapi karena dosis yang kalian konsumsi masih begitu kecil, maka gejalanya masih bisa ditangani dengan obat-obatan biasa. Namun jika racunnya terus bertambah maka tak akan bisa lagi di tangani dengan obat. Kalau bisa biarkan saya memeriksa nadi Tuan Rakin," ucap Amira.


"Tentu!!" Ucap Rahmat langsung mengulurkan tangannya pada Amira.


Amira lalu memeriksa nadi Rahmat dan juga memperhatikan wajah pria itu.


Setelah beberapa saat, Amira menarik tangannya sambil menghela nafas.


"Bagaimana?" Tanya Rahmat menatap Amira.


"Seperti dugaan saya, nadi keracunan serta gejala keracunan ringan yang menyebabkan penglihatan Tuan biasanya menjadi kabur, bahkan seharusnya beberapa waktu ini Tuan kesulitan untuk tidur." Ucap Amira.


"Benar,, apa yang aku katakan itu benar!! Penglihatan ku sering kabur, dan selama seminggu terakhir juga kesulitan tidur. Jadi ini,, karena racun?" Tanya Rahmat tak percaya.


Amira mengangguk, "Ya,, tapi dari yang saya amati, semua anggota keluarga harusnya terdampak dosis racun yang berbeda-beda, karena semuanya memiliki warna wajah yang berbeda.


"Tapi yang paling parah pada Tuan muda Dani, terutama karena baru saja mengalami kecelakaan, penyebaran racunnya jadi lebih cepat. Harus segera ditangani," ucao Amira menjelaskan hingga membuat Rahmat tak mampu berkata apa pun..

__ADS_1


Siapa yang begitu tega meracuni seluruh anggota keluarga nya???


__ADS_2