Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH. 103. Ayah..


__ADS_3

"tapi kenapa pria tadi menginginkanku"Tanya ling yue sambil memainkan tangannya sendiri


"Aku tidak tau pasti namun kau bisa menanyakan hal itu pada Chu Tian nanti" ucap Cang He dan ling yue hanya mengangguk pelan.


ling yue sebenarnya ingin bertanya banyak hal pada Chu Tian namun selalu saja ada masalah saat dia mencoba berbicara pada Chu Tian.


Hari semakin malam dan Chu Tian belum menunjukkan tanda tanda bahwa dia akan selesai.


"Ling Yue sebaiknya kau tidur biarkan aku yang menjaganya" ucap Shi Long .


"Tidak aku akan berjaga disini saja , aku belum mengantuk" ucap Ling Yue sambil duduk didekat api unggun dan juga didekat Chu Tian tentunya.


"Jika kau merasa lelah beristirahatlah aku telah memasang" formasi disekitar sini" ucap Shi Long.


"Baiklah aku mengerti" ucap Ling yue tanpa beranjak dari tempat duduknya.


"hah sepertinya tuan akan segera mendapat menantu dari pangeran"Bating Shi long dengan tersenyum.


"Sungguh aku ingin bertanya banyak hal padamu ,astaga Ling Yue apa yang kau pikirkan" batin Ling Yue berdepbat dengan pikirannya sendiri.


Malam itu suasana sunyi dan dinginnya angin malam membuat Ling Yue merasa mengantuk tapi dia menahannya karena melihat Shi Long Yang berada diatas pohon dengan menutup mata yang sebenarnya dia tidak tidur dan Cang He yang tidur dengan posisi lotus menurut Ling Yue yang aslinya adalah Cang He sedang membantu Chu tian dialam bawah sadarnya.


"Tidurlah aku akan berjaga" ucap Shi Long yang masih menutup matanya


"Tapi.."


"Huh" Shi Long Menghela nafas lalu berdiri dan dengan cepat muncul dibelakang Ling Yue dan Menotoknya.


Ling Yue pingsan karena totokan Shi Long dan tak lama setelah itu Cang He membuka matanya bersamaan dengan Chu Tian yang juga membuka matanya.


"Ini benar benar berhasil " ucap Chu Tian tapi dia menyadari tubuhnya yabg sangat lengket.


"Sebaiknya kau membersihkan diri sebelum wanita ini bangun" ucap Shi Long .


"Baiklah" ucap Chu Tian lalumelangkah pergi dari sana.


"Apa yang terjadi sebenarnya bagaimana bisa dia sepulih itu kukira hanya akan 60% saja" ucap Shi Long.


"Tadinya aku berfikir begitu, tapi sesuatu yang luar biasa telah menyertainya " ucap Cang he dengan tersenyum.


"maksud dewa apa" tanya Shi Long dengan heran.


"Aku akan menceritakan kejadian setelah aku memasuki alam bawah sadarnya" ucap Cang he dan Shi Long tersenyum dan mengangguk.


*Flash Back.*


Cang He memasuki Alam Bawah Sadar Chu Tian setelah merasakan aliran energinya yang sangat kacau, Cang he berfikir terjadi hal yang tidak diinginkan pada diri Chu Tian.


Mula nya memang Cang He sangat khawatir karena dialam bawah sadar Chu Tian terlihat sedang terlentang tak berdaya.


Chu Tian berteriak keras lalu Cang He menghampirinya ternyata itu adalah proses regenerasi luka yang sudah lama menghilang , ini pertama kalinya aku melihat seorang dewa bisa sembuh secara total dari permata Bintang yang konon dikatakan bahwa seorang dewa yang terkene permata bintang akan kehilangan seluruh energinya dan menjadi manusia biasa.

__ADS_1


Cang He terkagum melihatnya namun aku masih merasakan aliran energinya yang Semakin tak beraturan. saat proses itu selesai dan semua luka pada Chu tian menghilang bahkan kini kulitnya semakin putih dan halus bagai kulit perempuan, Chu Tian bangkit dan berkata pada Cang.


"Aku mengorbankan inti kehidupan yang aku serap waktu itu untuk memulihkan diriku dari permata bintang."ucap Chu Tian.


aku sangat terkejut mengetahui fakta bahwa permata bintang bisa di patahkan dengan energi kehidupan, aku sungguh merasa bahwa aku tidak pantas menjadi dewa penguasa.


"Tapi bagaimana dengan energimu yang masih kacau" tanya Cang he pada Chu Tian.


"Aku akan mencoba menstabilkan nya karena ini sungguh menyakitkan" ucap Chu Tian.


"Aku akan membantumu" ucap Seseorang dan tentu itu bukan Cang he.


"Siapa kau kenapa kau bisa disini" ucap Chu Tian dengan Waspada


Cang He tersenyum melihat orang yang baru datang itu, dia memang sangat merindukan pria yang baru saja datang bahkan kini matanya mulai berkaca kaca.


"Emm sambutan seperti apa ini, " ucap lelaki itu sambil mendekati Chu Tian.


"Apa maksudmu" ucap Chu Tian sebenarnya dia merasa familiar dengan wajah pria itu


"Apa kau melupakanku , putraku" ucap pria itu dengan senyum lembutnya.


Chu Tian terkejut dengan perasaan marah ,sedih senang dan kecewa menjadi satu.


"Jangan jangan ka kau"


"Ya Aku Jhin Suo ayahmu" ucap Pria itu dengan tersenyum.


Chu Tian tidak menampilkan ekspresi bahagia namun dia menampilkan ekspresi marah dan kecewa.


"Maafkan ayah, ayah sungguh tidak berniat untuk berpisah denganmu, ayah sungguh sangat merindukanmu dan aku sangat ingin keluarga kecil kita bersatu kembali" ucap Jhin Suo.


"Hampir dua puluh tahun aku hidup dalam penderitaan apa kau mengerti bahkan berkali kali aku hampir mati apa kau perduli" ucap Chu Tian air mata nya tumpah begitu saja tanpa aba aba


krepp..


Jhin Suo memeluk Chu tian dengan erat.


"Saat ini aku belum bisa membawamu kembali tapi suatu saat pasti kita akan kembali bersama," ucap Jhin Suo.


"Pertemukan aku dengan ibu" ucap Chu Tian dengan nada dingin dia bahkan tidak membalas pelukan Jhin Suo.


"Jhin Tian maafkan ayah, untuk saat ini ayah tidak bisa memenuhi permintaanmu yang itu ,ibumu kini berada ditrmpat yang sangat jauh bahkan ayah tidak tau dimana dia" ucap Jhin Sue dengan menundukkan kepala dia merasa gagal menjadi ayah setelah sekian tahun dia baru bisa menemui anaknya dan kini dia tidak bisa memenuhi permintaan kecil putranya.


"Arrgghh.." teriak Chu Tian dia melepas pelukan ayahnya dan memegang perutnya.


"Gawat kita harus bergegas menstabilkan energimu" ucap Jhin Suo dan meminta Chu Tian duduk didepannya.


Jhin Suo membantu Chu Tian menstabilkan energi sambil terus bercerita tentang kehidupan Masalalunya bersama Ling Zhu dan hal itu membuat Chu tian semakin tenang dan perlahan energinya mulai stabil dan lautan energinya mulai membesar dan energi Chu Tian semakin meningkat.


Setelah beberapa saat energi Chu Tian pun stabil sepenuhnya dan Jhin Suo segera melepas tangannya dari punggung Chu Tian

__ADS_1


"Jhin Tian apa kau sudah merasa lebih baik" tanya Jhin Suo.


"Sangat baik" jawab Chu Tian dan Jhin Suo tersenyum pada Chu Tian.


"Ayah, maafkan sikapku sebelumnya" ucap Chu Tian sambil menundukkan kepalanya


mata Jhin Suo berkaca kaca kata yang selama ini dia ingin dengar dari putra semata wayangnya ini kini dia dengar langsung.


"Tidak, ayah yang minta maaf padamu, dan terimakasih mau memangilku ayah" ucap Jhin Suo


Pria berjubah putih kebiruan itu benar benar tidak bisa menahan air mata kebahagiaannya.


"kau adalah ayahku dan aku pasti akan memanggilmu ayah kan" ucap Chu Tian


"Kau tau ayah sangat ingin mendengarmu mengatakan ayah, tapi saat itu perang lebih dulu terdengar dan ayah hanya mendengar tangisanmu saja" ucap Jhin Suo.


"Kau tau Jhin Tian ayah dahulu juga adalah seorang pangeran tanpa bakat namun karena kegigihan ayah bisa menjadi seperti sekarang" lanjutnya.


"Jangan bercanda, aku tidak akan percaya dengan cerita itu" ucap Chu tian.


"Sungguh kau bisa menanyakan pada dewa pengetahuan jika kau tidak percaya" ucap Jhin suo.


"Tunggu bukankah ayah sudahh..."


"Apa kau mendoakan aku mati cepat sebelum memandang putraku yabg tampan dan istriku yang cantik hah" ucap Jhin Suo dengan nada marah namun ekspresinya jelas terlihat dia begitu bahagia.


"Tidak ,aku hanya bertanya saja" ucap Chu Tian dengan wajah cemberut, entah mengapa perasaan hangat menyelimuti hati Chu Tian dia merasa lubang yang dahulu kosong kini mulai terisi.


" aku katakan padamu satu hal" ucap Jhin Suo.


"Apa itu" tanya Chu Tian.


Jhin Suo membisikan sesuatu yang membuat wajah Chu Tian berubah agak aneh dan kadang juga terlihat ada senyuman.


"Sungguh, aku bisa melakukan itu" ucap Chu tian dengan bahagia.


"Tentu saja ,aku akan menunggumu hingga kau bisa melakukannya" ucap Jhin Suo dengan tersenyum.


"Berjanjilah padaku untuk tidak membuat aku menjadi raja tiga alam" ucap Chu Tian.


"Tapi, kau adalah putraku dan keturunan murni suku es dan diriku" ucap Jhin Suo dengan sedikit khawarir.


"aku mohon padamu, aku sungguh tidak ingin menjadi raja, aku hanya ingin menjadi orang biasa yang menjalani hidupku dengan normal" ucap Chu Tian.


"Huh, mau bagimana lagi jika kau berubah fikiran katakan padaku" ucap Jhin Suo sambil menghela nafas padahal dia sudah menyiapkan tahta tiga dunia pada anaknya dan kini malah ditolak oleh anaknya.


"Terimakasih, ayah" ucap Chu Tian dengan tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2