
pada akhirnya Chu Tian pulang dan tentu menemui istrinya.
"Apa sudah selesai " tanya Ling Yue
"iya sudah selesai" jawab Chu Tian dengan tersenyum.
ling Yue tampak ingin mengatakan sesuatu namun sepertinya ragu.
"Kau ingin mengatakan sesuatu" tanya Chu Tian.
"Emm aku ingin jalan jalan" ucap Ling Yue.
"Bukankah kau sudah biasa berjalan jalan disekitar istana bersama pelayan" ucap Chu Tian.
"Emm aku bosan berada diistana aku ingin berjalan jalan diluar istana bersamamu, berjalan" ucap Ling Yue membuat Chu Tian memandang Ling Yue dengan penuh tanya.
"Berjalan..?" tanya Chu Tian dan diangguki oleh Ling Yue
"Tidak naik kereta" tanya Chu Tiqan lagi dan ling Yue mengelengkan kepalanya.
Chu tian tersenyum lembut.
"Lalu bagaimana jika kau kelelahan nanti, aku tidak ingin mengambil resiko" ucap Chu Tian.
"Aku tidak akan kenapa kenapa kau selalu memberiku ramuan daun dewa kan, jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Ling Yue dengan wajah penuh harap.
"Baiklah tapi hanya sebentar saja" ucap Chu Tian.
Dengan wajah bahagia Ling Yue mengangguk antusias.
mereka berdua berjalan keluar istana dan menuju hutan yang tak jauh dari istana, hutan itu disebut hutan pancawarna karena hutan itu memiliki keunikan yaitu warna hutan itu bisa berubah ubah hampir setiap setengah tahun sekali, namun sayang hutan itu hanya boleh dimasuki oleh keluarga istana .
mereka sampai dihutan yang dijaga oleh beberapa prajurit, Prajurit yang melihat Chu Tian dan Ling Yue langsung membungkuk hormat.
Chu Tian dan Ling yue langsung memasuki Hutan itu Ling yue begitu terpesona dengan keindahan hutan itu.
"Wahh aku baru pertama kali melihat hutan seindah ini" ucap Ling Yue.
"Hutan ini tempat aku dan kak lizheng bermain dulu sebelum ibu permaisuri meninggal, ini juga tempat kesukaan ibu permaisuri jadi setelah itu aku dan kak Lizheng tidak pernah kemari lagi karena kami takut akan teringat dan menjadi kesedihan" jelas Chu Tian.
"Kalau begitu kenapa kau membawaku kemari" tanya Ling yue.
"Kau juga harus tau kan bagaimana bahagianya masa kecilku sebelum ibuku tiada" ucap Chu Tian dengan Tersenyum.
"Tapi..."
"Sudahlah ayo aku akan tunjukkan tempat yang indah" ucap Chu Tian dan membawa Ling Yue masuk lebih dalam kedalam hutan.
Chu Tian mrnunjukkan sebuah tempat dimana bunga sakura bermekaran disana, hanya ditempat ini bunga sakura tumbuh dengan subur dan indah, dan hari ini entah kebetulan atau apa bunga sakura sedang mekar dengan indah ditempat itu memang dibangun sebuah gubuk kecil yang memang biasa dipakai permaisuri dahulu untuk mengawasi anak anaknya.
"Ini sangat indah, aku baru kali ini melihat bung sakura seindah ini, biasanya aku hanya melihatnya ditelevisi" ucap Ling Yue.
__ADS_1
"Kau tidak perlu lagi menonton televisi sekarang kau bisa melihat sepuasmu" ucap Chu Tian.
"Kau tau aku sangat bahagia bisa seperti ini bersamamu" ucap Ling Yue.
"Maafkan aku karena terlalu sibuk sehingga harus meninggalkanmu" ucap Chu Tian.
"Aku istrimu dan sudah seharusnya aku mendukungmu, aku memahamimu kau melakukan ini juga untuk semua orang dan bukan hanya untuk dirimu sendiri" ucap ling yue sambil tersenyum manis.
"Yue'er kau adalah istri terbaik" ucap Chu Tian lalu menarik pinggang ramping Ling Yue
Mereka lalu meneruskan jalan jalan dihutan itu dan Chu Tian duduk di sebuah batang pohon lalu memainkan serulingnya sementara Ling yue menikmati alunan musik Chu Tian sambil melihat pemandangan indah disekitarnya dengan bersandar dipundak Chu Tian.
"Aku berharap bisa selalu seperti ini" ucap Ling yue.
Chu Tian berhenti memainkan seruling.
"Aku berharap hal yang sama sepertimu yue'er" ucap Chu Tian.
Mereka berbincang banyak menikmati saat saat bersama karena setelah ini Chu Tian akan banyak mengurus pekerjaan istana, Chu Tian juga mengerjakan pekerjaan Yang lumayan Sulit.
Dia membuat baju perisai yang kuat untuk pasukannya dan itu membutuhkan banyak waktu dan tenaga bahkan dia harus mengerjakan diruang dimensi untuk mempersingkat waktu pembuatan.
Tak Berselang lama Chu Tian merasakan hawa keberadaan seseorang dan Dia langsung berdiri dan mengawasi sekitar.
"Ada apa suamiku" tanya Ling yue.
"Tapi bukankah Kau mengatakan tempat ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga istana, mungkin seorang prajurit yang datang" ucap Ling Yue.
"Aku mengatakan Hanya Boleh bukan berarti tidak bisa kan, Jika dari auranya ini bukan prajurit tapi entahlah aku tidak mengenali siapa pemilik aura ini" ucap Chu Tian.
"Mungkin hanya perasaanmu saja, kau terlalu lelah " ucap Ling yue .
Chu tian kembali duduk namun tak lama.
Syuuuttt..... tapp.
Sebuah anak panah melesat kearah Ling Yue, Chu Tian dengan sigap langsung menangkapnya sebelum menyentuh Ling Yue nya.
"Keluar kauu... jangan menjadi pengecut" teriak marah Chu Tian.
ling Yue memegang dadanya karena dia terkejut.
Seorang Pria dengan penutup wajah dan sebuah busur ditanganya muncul dari semak .
" siapa kau" tanya Chu Tian dengan wajah marah dia bahkan siap menghabisi orang itu karena berani ingin mencelakai ling yue.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu siapa kau, tempat ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga istana" ucap Orang itu dengan serius.
" kau sendiri apa kau keluarga istana" ucap Chu Tian.
__ADS_1
" tentu saja aku adalah keponakan dari Raja Chu Lizheng dan pangeran Chu Tian yang hebat" ucap Orang itu.
Chu tian mengkerutkan keningnya.
"jangan berbicara sembarangan" ucap Chu Tian yabg langsung melesat kearah Pria itu dan mencengkram lehernya.
"Aku tidak pernah memiliki keponakan searogan dirimu" ucap Chu Tian dengan marah.
"Ka kau... jangan jangan kau.."
"Ya aku Chu Tian dan kau baru saja akan melukai istriku apa kau bosan hidup hah" teriak Chu Tian.
" suamiku sudahlah aku juga tudak terluka lepaskan saja dia" ucap Ling Yue.
" dia hampir melukaimu, aku tidak akan memaafkanny" ucap Chu Tian sambil semakin kuat mencengkram leher Pria itu.
"Ka kakak Tian ini aku" ucap Pria itu dengan terbata bata karena kesulitan bernafas.
Dengan Bujukan Ling yue Chu Tian melepaskan Pria itu.
" uhuk uhuk uhuk... kakak kau hampir membunuhku" ucap Pria itu lalu membuka penutup wajahnya.
" aku tidak mengenalmu dan jangan panggil aku kakak" ucap Chu Tian lalu berbalik menghampiri Ling yue dan berencana akan pergi meski kesal namun Ling Yue berusaha untuk menenangkannya.
"kakak ini aku Chu Hwangji" ucap pria itu.
Chu Tian berbalik dengan terkejut.
"Hwangji, adikku hwangji tidak mungkin searogan dirimu" ucap Chu Tian .
"kakak ini sungguh aku, lihatlah ini" ucap Chu Hwangji sambil memperlihatkan Sebuah benda pemberian Chu Tian waktu kecil yah itu adalah gelang yang Chu Tian dapatkan dari Chu Lizheng.
" hwangji sungguh, kau tidak paati kau bukan dia" ucap Chu Tian.
"Siapa Chu Hwangji kenapa marga kalian sama" tanya Ling Yue.
"Dia adalah anak dari paman chu Huaji adik ayahku, dia juga selalu datang kemari dahulu namun sama seperti kakak lizheng setelah kematian ibu permaisuri aku tidak pernah bertemu dengan Chu Hwangji.
"Jika kau hwangji buktikan padaku jika hanya barang kau bisa mendapatkannya dimanapun kan" ucap Chu Tian dengab serius.
Chu Hwangji
.
.
.
.
__ADS_1
.