
"Xuan dan Xian berjanji akan tumbuh kuat seperti yang diharapkan oleh ayah" ucap Xian sambil mengusap air matanya yang belum sempat menetes.
"Tapi aku tentu tidak telima ayah dipeylakukan sepelti itu, ayahku adalah pahlawan bukan seorang pecundang" batin Xian dengan wajah geram.
Tak lama setelah itu seorang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka.
"Selamat menikmati yang mulia, jika ada sesuatu yang anda inginkan mohon memanggil kami, dan ini adalah hidangan spesial yang diberikan langsung oleh manajer restoran kami" ucap Sang pelayan dengan ramah, namun entah mengapa lirikannya selalu tertuju pada Tubuh mungil Xuan, Jhin Tian terus memperhatikan orang itu.
"Ah benarkan, sampaikan rasa terimakasihku kepada manajermu" ucap Chu Lizheng dengan senyum ramah.
"Baik yang mulia, Kalau begitu hamba mohon undur diri" ucap sang pelayan dan diangguki oleh Chu Lizheng dan Han Ying.
"Aku merasa ada sesuatu dengan pelayan itu" Ucap Han Ying.
"Apa yang kau pikirkan bukankah dia sangat ramah" tanya Chu Lizheng.
"Bukan tentang itu, dia bukan pelayan yang menerima pesanan kita tadi, dan kedua adalah dia sama sekali tidak gugup dihadapan seorang raja, itu agak sulit bagi seorang pelayan biasa" ucap Jhin Tian dengan wajah dinginnya
"Hei kalian jangan terlalu berlebihan, bisa saja pelayan yang tadi itu adalah penganti, kau tentu tau pelayan sebelumnya sangat gugup, mungkin dia takut melakukan kesalahan" Ucap Chu Lizheng dengan Santainya.
"Tap.."
"Sudahlah istriku ayo nikmati makanan ini" ucap Chu Lizheng.
Sementara Xian Dan Xuan serta Liyan sudah berhadapan dengan kue yang mereka pesan.
"Sepertinya ini enak.. aaaa.."
"Xuann...!! apa kau lupa yang ayah perintahkan" ucap Jhin Tian yang seketika menghentikan Xian, Xuan dan Liyan yang hampir memasukkan sepotong kue kemulut mungil mereka.
"Ups.. maaf ayah" ucap Xian yang langsung mengeluarkan garpu kecil ditangannya.
"Kau sudah mengajarinya teknik racun..?" tanya Chu Lizheng dengan terkejut saat melihat garpu yang dipegang Liyang yang merupakan pendeteksi racun .
"hmm" jawaban Singkat Jhin Tian sungguh membuat Chu Lizheng semakin penasaran, dia memang mendengar kehebatan dua keponakan kecilnya itu namun dia tidak pernah tau seberapa besar kekuatan mereka.
Jhin Tian terus memperhatikan anaknya yang sedang menusuk kue menggunakan Garpu kecil kesetiap Kue yang ada.
"Astaga" ucap Xian setelah melihat Garpunya berubah menjadi hitam saat menusukkan kue milik Xuan.
Sementara Xuan langsung termundur kebelkang karena terkejut.
Aura dingin yang lumayan besar muncul, Xian benar benar marah saat ini.
"Cih siapa yang belani ingin menyakiti adikku" kemarahan jelas Terlihat diwajah Xian mata coklatnya langsung berubah menjadi berwarna biru terang.
__ADS_1
"A apakah ini kekuatan sesungguhnya" ucap Chu Lizheng dengan gemetar, dia baru tau anak sekecil ini memiliki energi yang besar.
"Sialan" jhin Tian langsung pergi kebelakang Xian dan langsung menotok aliran energinya, yang seketika membuat Xian Pingsan dan langsung ditangkap oleh Jhin Tian
"Kakak... kakak, ayah hiks apa kakak tidak apa apa" tanya Xuan dengan khawatir.
"Tidak apa apa, ayah minta lain kali kalian harus berhati hati, ayah sudah peringatkan daratan tengah lebih berbahaya Dari pada daratan Suci" ucap Jhin Tian.
"Maafkan aku ayah, xuan berjanji akan lebih berhati hati lagi" ucap Xuan dengan wajah sendu.
"Sudahlah tidak apa apa" ucap Jhin Tian lalu membaringkan Tubuh Mungil Xian dan mengalirkan energinya untuk memulihkan keadaan Xian, Meski energi Xian begitu besar namun Xian belum bisa mengendalikan kekuatannya.
"Huft untuk auranya belum sempat menyebar" ucap pelan Jhin Tian sambil memandang wajah polos putranya.
"Kita tidak bisa diam disini saja..!!" teriak orang dari ruang sebelah.
"Pssstt pelankan suaramu" ucap Yang lainnya.
jhin tian menatap dinding dengan tajam, dia mengibaskan tangannya kearah dinding seketika beberapa lubang kecil terbentuk.
Ruangan ini sebenarnya adalah kedap suara namun jika terlalu keras maka akan tetap terdengar, jadi jhin tian membuat beberapa lubang agar ruangannya bisa mendengar pembicaraan orang di ruang sebelah itu, dan dia juga memasang sebuah formasi agar suara jhin tian dan yang lainnya tidak terdengar.
"Apa kau mencurigai mereka adik" tanya chu lizheng dengan menatap serius jhin tian.
Sementara diruang sebelah.
"Tapi bagaimanapun kita tidak bisa terus berada dikerajaan ini, apalagi Sing Weisi lemah itu telah mati" ucap orang dengan suara besar, terdengar dia seperti sedang geram.
"Kita harus mencari informasi lebih tentang anak dewa itu dulu, jika bisa kita harus menangkapnya, kau tidak ingin tuan marahkan" ucap orang dengan suara yang lebih halus dan tenang.
"tapi lihatlah kita tidak mendapatkan apapun... haarrggh jika boleh kulakukan aku akan menghancurkan kerajaan ini sendirian" orang itu terlihat semakin geram
"Kau boleh melakukannya nanti setelah mendapat perintah dari Tuan" ucap Pria satunya.
"Cih... kuharap itu tidak lama" ucap pria kasar.
"Asal kita mendapatkan anak dewa yang turun ke benua ini, pasti kau boleh mengamuk sesukamu" ucaporang itu dengan santai.
Jhin tian mengkerutkan keningnya, dia berfikir tentang anak anaknya
Jhin yian lalu mengarahkan tangannya kesatu lubang kecil dan
Swiishhhh...
Dua orang itu pingsan begitu saja.
__ADS_1
"Apa yang baru saja kau lakukan" tanya chu lizheng.
"Tidak ada, akan kujelaskan nanti sebaiknya kita kembali" ucap jhin tian dengan dingin.
"Huh kita tidak jadi makan" keluh liyan
"tentang makanannya" jhin tian mengibaskan tangannya dan beberapa makanan menghilang dan beberapa lagi ada bekas gigitan.
"Ayo pergi, liyan bisa makan diistana nanti" ucap Han Ying.
"Baiklah" jawab Liyan.
mereka akhirnya pergi setelah Chu lizheng membayar semua makanannya.
Jhin Tian mengendong Xian yang madih pingsan dan Mengandeng tangan munhil milik Xuan.
pelayan yang mengantarkan makanan terlihat menikmati itu, tapi yang membuatnya merasa aneh adalah wajah dingin jhin tian, dia tidak terlihat khawatir sedikitpun padahal anaknya seperti itu.
Jhin Tian melirik tajam kearah sang pelayan, dan tiba tiba tubuh pelayan itu menjadi bergidik ngeri dan dengan susah payah ia menelan ludahnya.
saat mereka menuju kereta kembali terlihat beberapa orang terus memandang Sinis Jhin Tian dan terus mengumpatinya, dan satu orang juga mengatakan kata kata yang cukup menyakitkan bagi jhin Tian.
"Kau manusia tak berguna, pangeran sampah kenapa kau kembali, kau adalah seorang pengecut yang pergi disaat pertarungan, kami berharap lindungan darimu tapi kau malah pergi meninggalkan kami bersama istri bodohmu itu, jika saat itu kau tidak pergi maka aku yakin aku tidak akan kehilangan Keluargaku" kata kata pemuda itu seperti sebuah petir disiang bolong bagi Jhin Tian, tangannya terkepal, wajahnya terlihat sangat dingin.
"Ayah" suara lembut Xuan berhasil membuat jhin tian tersadar kembali, dia lalu tersenyum lembut kearah Xuan.
meski Xuan Tau itu hanya senyum palsu namun dia membalas senyum ayahnya itu.
"Kalian semua diammmm...!!! jika bukan karena dia kaian tidak akan mendapatkan berkah dewa seperti sekarang ini , dan juga karena menyelamatkan kalian dia juga harus kehilangan istrinya, kalian perlu ta....."
"Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka yang tak mungkin mengerti" ucap Jhin Tian yang perlahan masuk kedalam kereta serta membantu Liyan dan Xuan memasuki kereta.
"cih... kau terlalu naif, kau sudah berkorban banyak demi mereka dan mereka memperlakukanmu seperti ini, aku tidak akan tingal diam, satu kesalahanmu bahkan lebih terlihat daripada ribuan kebaikanmu" ucap chu lizheng.
"Terserah kau saja" ucap Dingin jhin tian sambil menutup tirai kereta.
Jika di rasakan sangat sakit rasanya, sudah berkorban begitu banyak, dan telah melakukan segalanya tapi sama sekali tidak di lihat, dan yang dilihat hanya kepergiannya saja, yang dengan tujuan menyelamatkan mereka juga.
.
.
.
.
__ADS_1