Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH.90 Racun Ular berkepala Merah


__ADS_3

"Awas saja kau, sungguh sangat sombong dasar pria menyebalkan" gerutu Wanita itu dalam hati.


"jangan mengumpatiku lagi" ucap Chu Tian lalu melangkah pergi.


"Aku Tidak... Hei kau mau kemana, jangan tingalin aku di hutan serem ini" ucap wanita itu berteriak.


"Namaku Chu Tian bukan Hei" ucap Chu Tian tanpa menoleh.


"Aku..."


Brukkk....


Wanita itu tiba tiba jatuh tak sadarkan diri, Chu Tian segera menoleh kebelakang dan mendapati wanita itu sudah terbaring ditanah.


"Hai bangun lah,"Chu Tian sambil memeriksa denyut nadi wanita itu.


"Racun itu, oh tidak kapan dia terkena racun Ular berkepala merah kenapa aku tidak merasakannya dari tadi" ucap Chu Tian


"Racunnya sudah menyebar keseluruh tubuh aku tidak akan sempat membuat ramuan, mau tidak mau aku harus gunakan darahku lagi" Lanjutnya lalu mengigit jarinya dan meneteskan darahnya kemulut wanita itu.


Chu Tian lalu memakaikan jubahnya pada wanita itu dan mengendongnya sambil mencari tempat Yang aman.


Keesokan harinya Wanita itu sadar dari pingsan dia menyadari dirinya berada digua dan dia sekarang memakai jubah laki laki, dia terkejut dan memeriksa tubuhnya.


"Huh syukurlah ,kukira pria itu melakukan hal yang buruk padaku" ucap Wanita itu.


Samar samar dia mendengan dentingan pedang. dia berjalan keluar gua dengan jubah yang terlalu besar membuatnya kesulitan melangkah.


Wanita itu melihat Chu tian yang sedang berlatih dengan pedangnya, Chu Tian mengayunkan pedangnya dengan lembut namun sangat tajam dan seranganya dapat mengunci pergerakan lawan.


Wanita itu terpesona dengan permainan pedang Chu Tian hingga tak sengaja mengijak sebuah ranting.


Chu Tian dengan reflek melempar pedang nya dan menancap tepat disamping kepala wanita itu.


"Apa kau ingin membunuhku hah" teriak marah wanita itu, jantungnya seakan mau loncat dari tempatnya.


"siapa suruh kau disitu, lagi pula jika aku mau membunuhmu sudah kulakukan tadi malam" ucap Chu Tian sambil mengambil pedangnya hingga tatapan mereka bertemu.


"Aku.."


"Sudahlah minum ramuan disana itu, aku akan mencari sarapan"Ucap chu Tian lalu melesat tanpa menunggu jawaban wanita itu.


"kenapa dia selalu saja menyebalkan"Gerutu wanita itu lalu mengambil Ramuan yang ada dimangkuk dan meminumnya.

__ADS_1


"Huekk ini sangat pahitt, apa pria itu sungguh ingin meracuniku, Eh" Wanita itu melihat ada mangkuk kecil disamping mangkuk ramuan dia melihat dan memperhatikan isi mangkuk kecil itu.


"Ini adalah madu, apa ini untuk menghilangkan rasa pahit ini"Tanya nya pada dirinya sendiri.


Dia mencoba madu itu sedikit.


"Emm madu ini sangat manis dan enak, mungkin benar ini untuk menghilangkan pahit ,rasa pahit itu hilang seketika padalah aku hanya mencoba sedikit" Ucap wanita itu dengan senyuman


Tak berselang lama Chu Tian datang dengan membawa Dua ekor Ayam hutan yang cukup besar, Chu Tian telah membersihkan ayah itu disungai yang ia temukan saat perjalanan kembali.


Chu Tian membumbui dan membakar ayam itu sendiri, dan wanita itu hanya melihat dan masih terlihat kesal pada Chu Tian. Satu jam lebih Chu Tian membakar ayam itu, hingga akhirnya Ayam itu matang


"Makan ini selagi masih hangat" ucap Chu Tian sambil menyodorkan Ayam bakar .


"Harum sekali, pasti sangat lezat aku ingin memakannya, ah tidak aku tidak ingin apapun dari lelaki ini, tapi aku lapar" Wanita itu terus berdebat dalam pikirannya.


"Kau mau Atau tidak jika tidak aku akan memakan semuanya" ucap Chu Tian.


"Tidak aku tidak lapar" ucap wanita itu sambil menyilangkan tangannya didada


Kruuuuukk...


"Oh astaga perutku kenapa kau malah berteriak" batin wanita itu dengan wajah memerah karena malu.


"Makanlah, setelah ini kita akan mencari jalan keluar"ucap Chu tian datar.


"Aku ingin bertanya padamu"ucap Chu tian setelah selesai makan.


"Apa"jawab wanita itu dengan ketus.


"Apakah kemarin saat kau dikejar beruang kau juga bertemu ular berkepala merah" tanya chu tian sambil menyipitkan matanya.


"Ular..? oh iya aku bertemu dengan ular kecil sebelum bertemu beruang besar yang mengerikan itu, ular kecil itu memiliki kepala merah dan badan coklat, dia mengigit jari tanganku tapi aku tidak merasakan apapun kukira dia hanya ingin berteman"ucap wanita itu dengan santai.


Chu tian mendengar jawaban wanita itu mengelengkan kepalanya, dan hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.


"Bodoh..!" ucap Chu Tian.


"Apa kau baru saja mengatakan aku ini bodoh, hei jaga ucapanmu ya jangan karena kau telah menyelamatkanku kau bisa seenaknya mengatakan hal seperti itu" ucap Marah wanita itu.


"Lalu aku harus mengatakan apa, ular itu sangat berbahaya jika saja kemarin aku tidak menyelamatkanmu mungkin sekarang kau sudah menjadi mayat" ucap Chu Tian lalu bangun dari duduknya.


"eee.. tetap saja kau jangan mengataiku sembarangan" ucap Wanita itu masih tak ingin kalah.

__ADS_1


"Terserah saja, aku akan mencari jalan keluar" ucap Chu Tian


"Aku ikut, Tapi jubah ini terlalu besar untukku" ucap Wanita itu dengan kesulitan jalan karena jubahnya mencapai tanah membuatnya tersangkut ranting ranting.


Chu Tian mengeluarkna pedangnya dan membuat wanita itu ketakutan.


"Hei apa yang kau lakukan" ucap Wanita itu lalu menutup matanya saat Chu Tian mengayunkan pedangnya.


Slashhhs...


Beberapa saat kemudia wanita itu membuka matanya dan mendapati Chu tian telah memotong jubahnya dan menjadi lebih pendek.


"Sekarang kau bisa berjalan bukan" ucap Chu Tian sambil menyimpan kembali pedangnya.


"Tapi ini adalah jubahmu" ucap Wanita itu.


"Jubahku jadi terserah diriku, sudahlah ayo cepat " ucap Chu tian lalu melangkah.


"Terimakasih" ucap wanita itu dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu berterimakasih, siapa namamu" tanya Chu tian


wanita itu berjalan cepat menyusul langkah kaki Chu Tian.


"Nama, entahlah aku tidak tau" ucap wanita itu.


Chu Tian menghentikan langkah kakinya.


"Bagaimana bisa kau tidak tau namamu sendiri" ucap Chu Tian sambil memandang wanita itu dengan serius.


"Sungguh aku tidak berbohong, aku hanya mengingat aku masuk kehitan ini dan bertemu ular kecil, beruang besar serta kau, dan yang lainnya aku tidak tau bahkan bagaimana aku sampai dihutan ini aku tidak tau" ucap wanita itu dengan agak sedih.


"Ah sudahlah ayo lanjutkan jalannya" ucap Chu Tian kembali melangkah dan diikuti oleh wanita itu.


"Wanita ini tidak sesederhana yang terlihat, aku tidak bisa merasakan kekuatan spiritualnya namun aku merasakan ada energi yang besar terkunci dalam dirinya, bahkan aku merasa sangat familiar dengan energi dalam tubuhnya meski hanya samar samar tapi aku yakin tentang energi yang ada pada dirinya" batin Chu Tian sambil melirik Wanita cantik itu.


"Kenapa laki laki ini melirikku , ini sangat menakutkan apakah dia marah padaku karena aku tidak mengingat namaku" batin wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


"Wanita ini aku seperti pernah melihatnya tapi dimana, ah terserah saja tapi aku pasti akan membuka misteri dalam dirinya" batin Chu tian.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2