Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH 140. Tamak


__ADS_3

pria itu mengambil uang yang dilemparkan Chu Tian dan berlari dengan kencang meninggalkan rumah nenek Bing Pai.


"Kau tidak apa nek" tanya Chu Tian.


"Aku tidak apa apa, tapi maaf karena aku kau harus mengeluarkan uang" ucap Nenek Bing Dengan wajah sedih


"Tidak perlu dipermasalahkan, anggap saja ini uang sewa kami " ucap Chu Tian.


"Seminggu lagi kemarilah, aku akan menganti uang itu, " ucap Nenek Bing.


"Aku tidak bisa melakukan itu, lebih baik uangnya anda simpan" ucap Chu Tian dengan tersenyum.


"Aku merasa tidak enak padamu," jawab Nenek Bing.


"sudahlah nek tidak perlu di pikirkan " ucap Chu Tian lalu membawa nenek Bing ke teras dan duduk disana.


"Kau belum sehari disini dan aku sudah banyak merepotkanmu" ucap Nenek Bing.


"Sudahlah minum ini nek" ucap Chu Tian sambil menyodorkan secangkir teh.


mereka kembali melanjutkan obrolan sambil meminum teh, suasane segar disana benar benar membuat Chu Tian merasa nyaman, dan pantas saja Ling Yue bisa langsung terlelap.


Tak lama mereka melihat dari kejauhan beberapa orang dengan senjata lengkap yang mereka pegang.


"Kurasa mereka semua tidak membirkanku lepas" ucap Chu Tian.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, mereka itu sangat berbahaya" ucap Nenek Bing sambil menarik Chu Tian kedalam rumah untuk membangunkan ling Yue dan Shi Long.


"Tunggu dulu nek, apakah di daerah ini ada larangan membunuh orang" tanya Chu Tian.


"Tentu saja ada, namun sanksi tidak berlaku jika yang terbunuh adalah orang jahat dan yang membunuh memiliki alasan untuk membela diri" jawab nenek Bing.


"Kalau begitu nenek masuklah aku akan mengatasi mereka" ucap Chu Tian dengab tersenyum, andai orang lain yang melihatnya mungkin mereka akan melihat senyum mengerikan dari Chu Tian.


"Tapi nak mereka itu sangat berbahaya," ucap Nenek Bing.


"Nenek tenang saja " ucap Chu Tian.

__ADS_1


akhirnya nennek bing masuk dan Chu Tian melihat sekitar 45 orang datang.


"Wah wah kau membawa banyak sekali teman" ucap Chu Tian kepada orqng yang baru saja dia tendang.


"Kau melukai adikku jadi kau harus menerima akibatnya" ucap seorang pria dengan kapak besar dipunggungnya.


"Tenang lah paman, lihat aku punya lima koin platinum" ucap Chu Tian sambil menunjukan lima koin platinum .


mereka semua seketika terpesona dengan kilauan uang yang ada ditangan Chu Tian.


"Bukankah ini sangat sedikit,ahh aku akan menambahnya namun hanya satu dari kalian yang mendapatkannya dan tidak boleh dibagi bagaimana" ucap Chu Tian.


seketika mereka semua lupa dengan tujuan utama mereka.


"Uang itu adalah milikku karena aku adalah pemimpin kalian" ucap orang dengan kapak besar tadi.


"Itu tidak adil, kami bekerja siang malam padamu dan habya mendapat sedikit bayaran."


"Dia benar tapi aku yang lebih layak mendapatkannya karena aku telah membunuh ribuan orang atas namamu"


mereka semua terus berdebat hingga orang orang datang melihat keramaian di halaman rumah Nenek Bing bahkan Shi Long dan Ling Yue terbangun dari tidurnya.


"Duduk dan nikmati saja pertandingannya" ucap Chu Tian.


Dari perdebatan mereka semua kemudian berubah menjadi pertarungan.


mereka saling memukul bahkan membunuh satu sama lain, chu tian tersenyum tipis.


"Satu satunya kelemahan manusia adalah mereka terlalu tamak" ucap Chu Tian dan didengar oleh Shi Long dan Ling Yue lalu mereka melihat ada lima koin platinum di tangan Chu Tian dan seketika itu pula mereka tau apa yang terjadi dan mulai menikmati pertarungan itu.


pertarungan terus berlanjut darah berceceran kemana mana, semua orang yang ada disana merasa ngeri dengan keadaan itu,


satu persatu dari mereka mulai tumbang, kini hanya tersisa satu orang yaitu orang yang menggunakan kapak besar dia baru saja membunuh adiknya sendiri. kondisinya juga tidak baik sebilah pedang masih tertancap diperutnya tubuh penuh luka dan darah.


"A aku menang aku mendapatkan uang itu" ucap orang itu dengan lemah dia kini terbaring ditanah tak berdaya.


Chu Tian menghampiri orang itu dengan 10 koin platinum di tangannya.

__ADS_1


"ckckck, bukankah tadi kau datang kemari untuk membalas perlakuanku pada adikmu, tapi lihat apa sekarang kau membunuh adikmu sendiri, " ucap Chu Tian dengan berjongkok didepan pria itu dia masih memegang sepuluh koin platinumnya.


pria itu melihat kearah tubuh adiknya yang sudah bersimbah darah tak bernyawa.


"Ini semua salahmuu.. arrrgghh" orang itu berteriak namun akibar teriakannya sendiri dia kesakitan.


"Aku tidak melakukan apapun, salahkan pada dirimu sendiri karena kau terlalu tamak" ucap Chu tian.


pria itu mulai susah bernafas dia benar benar menyesal atas tindakannya.


"A aku mo hon bantu aku, aku benar benar menyesal" ucap pria itu.


"Untuk pria ini aku serahkan pada kalian, terserah pada keputusan kalian saja aku sudah selesai" ucqp Chu Tian dan membakar semua mayat yang ada disana denagn api birunya hingga habis tak tersisa dan abunya sudah terbang tertiup angin. kemudian seseorang mendekati Chu Tian


"Tuan muda kami semua sungguh sangat berterimakasih, mereka semua adalah orang orang desa kami namun mereka selalu melakukan hal sesuka hati merek, untuk pria ini biarkan dia tetap hidup dan menjalani hukuman penjara" ucqp Seorang pria paruh baya yang diduga adalah kepala desa didesa itu.


"Baiklah paman aku tidak akan melarangmu, jika mengikuti keinginanku aku ingin membunuhnya" ucap Chu Tian dan itu membuat pria yang kini sedang diambang nyawanya semakin ketakutan.


"terimakasih tuan muda, bagaimana pun dia termasuk warga desa ini" ucap Kepala desa itu.


"Berikan dia pil ini, tapi aku meminta sesuatu darimu paman" ucap Chu Tian.


"Apa yang abda inginkan dari kami" tanya Kepala desa itu dengan agak khawatir.


"Tenanglah aku hanya akan meminta kalian menjaga nenek Bing dan jangan biarkan dia kesepian" ucap Chu Tian.


Semua warga setuju dengan syarat Chu Tian dan mereka membawa pria yang kini kondisinya sudah lebih baik berkat bantuan pil kualitas rendah miik Chu Tian.


Sementara nenek bing yang baru saja keluar merasa terharu dengan Chu Tian karena selama ini tidak ada yang perduli padanya bahkan anak dan cucunya pun tidak pernah perduli padanya.


Chu Tian menatap kepergian semua warga dan dia kemudian berbalik dan mendapati nenek Bing yang sudah berlinanng air mata,dengan khawatir Chu tian mendekat kearah nenek Bing.


"Nenek apa kau baik baik saja, mengapa nenek menangis" ucap Chu Tian, bahkan Ling yue dan Shi Long juga terkejut saat melihat Nenek Bing Berlinang air mata.


"Aku sangat senang melihat kalian semua begitu perduli padaku, bahkan lebih dari anakku sendiri" ucap Nenek Bing.


"Nenek , kau adalah orang yang baik dan pantas mendapatkan kebaikan, suatu saat pasti anakmu akan kembali padamu" ucap Ling yue sambil memeluk Nenek Bing.

__ADS_1


Chu Tian tersenyum dan mengangguk tanda ia membenarkan perkataan Ling yue.


__ADS_2