
Di Aula istana es yang megah itu semua orang berkumpul Jhin Suo dan Ling Zhu terlihat begitu tegang ada banyak kebimbangan difikiran mereka.
''Akhirnya pangeran Ze akan dinobatkan sebagai putra mahkota''
'' benar sekali kita tidak mungkin memiliki pangeran mahkota seperti sebelumnya yang meninggalkan rakyatnya disaat bencana ''
'' ucapanmu itu memang benar aku masih tidak percaya kita dulu memujinya begitu hebat ternyata memang tak lain adalah seorang sampah'' ucapan ucapan buruk terus saja terlontar dari mulut para rakyat.
Ini Adalah saat yang dinantikan semua orang dimana Raja Tiga Dunia Jhin Suo memberikan mahkota kepada pangeran Mahkota Jhin Ze.
Semua orang nampak begitu antusias menantikan mahkota itu terpasang di kepala Pangeran Jhin Ze.
Perlahan Jhin Suo memasangkan mahkota dan Pangeran Jhin Ze telah menundukkan sedikit kepalanya untuk menerima mahkota.
Belum sempat mahkota itu terpasang suara keras pintu aula yang terbuka membuat semua orang terkejut sekaligus kesal.
Bayangan Dua orang masuk ke dalam aula
''Maaf aku terlambat'' ucap sebuah suara yang membuat semua orang kembali terkejut bahkan sampai mulut mereka terbuka lebar.
prank......
Jhin Suo menjatuhkan mahkota yang ia pegang hingga terpental ke arah kaki orang yang baru datang itu.
orang itu mengambil mahkota dan membersihkannya lalu meniup debunya dengan senyum lembutnya ia menyodorkan mahkota itu kembali pada Raja Jhin Suo.
''Anda tidak mungkin lupa denganku kan yang mulia. ak....''
plakkkk..
Sebuah tamparan keras dari Jhin Suo mendarat dipipi mulus orang itu ya orang itu tak lain adalah Jhin Tian.
Melihat Jhin Tian ditampar Fu Cang ingin maju dan membalas namun ditahan oleh tangan Jhin Tian.
Jhin Tian tersenyum memandang ayah nya.
''aku datang kesini bukan untuk merusak acara aku hanya datang untuk memberikan hadiah pada kakak ze dan aku akan melepas gelarku sendiri sebagai pangeran mahkota tiga dunia'' ucap Jhin Tian lantang
Jhin Tian lalu menuju hadapan Jhin ze dan membawakannya sebuah kotak lalu memberikannya.
''jhin tian aku sungguh sangat berterimakasih dan maaf aku...''
'' aku mengerti'' jawab jhin tian dengan tenang.
__ADS_1
jhin tian memutar tubuhnya dan hendak pergi.
'' pergilahh... tanpa kau datang sekalipun jhin ze akan tetap menjadi pangeran mahkota karena kau.. kau bukan lagi putraku'' ucapan Jhin Suo membuat Jhin Tian terdiam.
''Paman Jhin Tian...''
'' Yan sha jangan menjelaskan apapun biarkan acara ini selesai,aku akan pergi'' ucap jhin Tian sambil.meneruskan langkah kakinya
semua orang kembali mencemooh jhin Tian.
Jhin Tian berhenti sejenak dan menoleh ke arah ibunya, ling zhu hanya berpaling dengan air mata yang berurai.
Jhin Tian kini berada di hutan salju dia belum pergi dari sana dia berbaring disebuah batang pohon yang tidak terlalu tinggi dan memejamkan matanya dengan begitu banyak pertanyaan dipikirannya.
Sementara Fu Cang dia telah pergi ke daratan tengah menjalankan perintah Jhin Tian.
''jangan terlalu kau pikirkan apa yang ayahmu katakan'' ucap seseorang sambil menepuk pundak jhin Tian .
''paman Qing Yu'' ucap Jhin Tian dengan senyum.
'' aku tidak memikirkannya hanya saja...''
''aku tau apa yang kau rasakan pangeran kau sudah ku anggap seperti putraku sendiri'' ucap Qing Yu dengan senyum khasnya.
'' lalu mengapa kau tidak menemui putrimu bukankah kau datang kemari hanya untuk itu'' tanya Dewa Qing Yu dengan Heran.
''Setelah ayah mengatakan itu aku hanya takut setelah sekian lama putriku juga berfikir hal yang sama aku bahkan takut jika kedatanganku merusak kebahagiannya'' ucap Jhin Tian dengan senyum kecut.
'' saat semua hal hebat yang sudah kau lakukan kau malah takut dengan hal sekecil ini, astaga Pangeran sifat putrimu sendiri apa kau tidak tau'' kesal Qing Yu.
'' aku tau dewa hanya saja aku belum siap aku akan menemuinya nanti '' ucap Jhin Tian dengan senyum.
'' lalu kau disini apakah untuk menunggu Qing Se dan yang lainnya'' tanya Qing Yu.
''karena aku sudah disini maka sekalian menyapa mereka, diaula aku belum sempat menyapa mereka'' Jhin Tian sedikit menundukkan kepalanya mengingat kejadian diaula.
''jangan terlalu kau pikirkan perkataan yang mulia,dia adalah orang yang sangat baik saat ini mungkin dia hanya terlalu emosi hingga mengatakan hal itu padamu pangeran'' kata dewa Qing Yu
''aku tau hanya saja aku...''
'' kau jangan ragu begitu atau lebih baik kau katakan segalanya agar ini semua jelas'' ucap Dewa Qing Yu.
''tidak aku sangat tau sifat ayah,aku tidak ingin dia merasa berhutang padaku sekalipun aku adalah putranya'' ucap Jhin Tian dengan senyum kecut yang tak luput darinya dia memang cukup kecewa dengan dirinya sendiri yang gagal menyelamatkan xian bahkan hingga saat ini.
__ADS_1
''Lagipun ini sudah terjadi sekalipun aku mengatakan yang sebenarnya Xian juga tak akan kembali dengan mudah'' ucap Jhin Tian.
Dewa Qing Yu memegang pundak Jhin Tian.
''Percayalah sang dewata agung tau mana yang terbaik untukmu, aku yakin dibalik ini semua pasti ada hal luar biasa yang tersembunyi kau hanya perlu bersabar, aku yakin takdirmu adalah yang terbaik'' nasehat Dewa Qing Yu.
'' Terimakasih dewa aku tidak tau lagi bagaimana aku jika tidak ada kau yang mengingatkanku selalu pada jalanku'' ucap Jhin Tian dengan senyum hangatnya.
''aku hanya menjalankan tugasku pangeran selebihnya aku menyerahkannya pada takdir'' ucap Dewa Qing Yu.
''Baiklah pangeran Kalau begitu aku permisi ada beberapa hal yang harus kulakukan '' ucap dewa Qing Yu.
'' Baiklah dewa terimakasih atas segala nasehatmu'' jawab jHin Tian
Dewa Qing Yu mengangguk dan tersenyum lalu menghilang menyatu dengan salju yang turun.
Jhin Tian menghembuskan nafas kasar dia memejamkan matanya
'' keluarlah'' ucap Jhin Tian.
Seorang anak kecil perempuan keluar dari belakang pohon besar dia terlihat begitu cantik dan manis.
Jhin Tian memandang anak itu dengan lembut.
''Bagaimana bisa kau sampai disini dimana orang tua mu'' tanya Jhin Tian.
''Aku aku... m maaf sudah mendengarkan pembicaraan yang seharusnya tidak kudengar'' anak itu menundukkan kepalanya tanda menyesal.
'' Tidak apa apa, tapi kau hanya boleh melakukannya sekali ini saja mengerti'' ucap Jhin Tian sambil berjongkok dan mengelus surai panjang milik anak itu.
'' kau mengingatkanku pada seseorang jika aku boleh tau siapa namamu'' tanya Jhin Tian dengan senyum.
''emm namaku Qing Jhin Liyin panggil aku yin'er'' ucap anak itu dengan bangga.
''wah nama yang sangat cantik sama seperti orangnya, eh tunggu kenapa namanya.....''
'' Yin'er...... Yin'er'' suara seseorang memanggil Liyin dari kejauhan.
'' itu pasti ayah habislah aku ayah pasti akan memarahiku karena meninggalkan aula'' ucap anak perempuan itu.
Anak itu memandang Jhin Tian
'' ayah aku permisi dulu'' ucap anak itu dengan tergesa gesa lalu menghilang dari sana.
__ADS_1
'' hah...? eh tunggu dulu... ck dasar bocah ini tapi kenapa dia memanggilku ayah'' jhin tian masih tidak mengerti dengan ini semua setaunya dia hanya memiliki Xian dan Xuan sebagai putra dan putrinya.