
pada akhirnya Han Ying membawa Chu Tian keistana kerajaan untuk mengambil peta benua.
"Jadi kau ingin pergi kebenua barat" tanya Han Yang
"benar yang mulia, sebab itulah aku membutuhkan peta itu" ucap Chu Tian sambil.menikmati segelas anggur yang disajikan oleh Raja Han Yang.
"kau tidknperlu sesopan itu pangeran, lagipula kita ini adalah teman" ucap Raja Han dengan tersenyum.
"Hahaha baiklah kalau begitu, ah ya kau tau Raja Chu sungguh menantikan kedatangan kalian" ucap Chu Tian sambil berbisik.
"Raja Chu, ah iya aku baru ingat aku turut berduka cita atas kematian ayahmu" ucap Raja Han.
"Itu sudah berlalu terimakasih, sekarang kakak Lizheng sudah menjadi raja kerajaan Chu Yang baru" ucap Chu Tian.
"Benarkah, ini adalah hal baik jika kerajaan Chu Dan kerajaan Han Ku ini bisa menjalin kerjasama melalui pernikahan" ucqp Raja Han lalu tertawa bersama Chu Tian.
"kakak apa yang kau katakan , ini sungguh memalukan" ucap Han Ying yang baru saja datang membawa peta yang diminta Chu Tian.
"Apa salahnyabukankah kau bilang kau menyukai pangeran ah tidak masudku Raja Chu Lizheng" ucap Raja Han sambil menggoda Adiknya.
"Kakak" ucap Han Ying dengan malu malu.
"Ah Tian ini peta yang kau minta" ucap Han Ying memberikan peta yang berukuran lumayan besar kepada Chu Tian.
"Terimakasih, aku akan menyalin nya dengan cepat" ucap Chu Tian kemudian Fokus memperhatikan Peta benua itu.
Chu Tian menyiapkan kertas dan juga kuas, dia mengambar peta itu dengan versi yang lebih kecil sehingga tidak banyak memakan tempat, Raja Han Dan Han Ying melihat Chu Tian hingga tak berkedip mereka benar benar dibuat terkesima.
Chu Tian tidak hanya membuat peta yang sangat mirip tapi membuatnya lebih jelas dan mudah dipahami.
"Woah pangeran aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal seperti ini" ucap Raja Han.
"aku belajar melukis dan menulis dari kakak lizheng dia adalah penulis terbaik dikerajaan Chu" ucap Chu Tian.
"Lihatlah Ying'er calon suamimu sangat luar biasa bukan" ucap Han Yang
"Kakak Berhentilah mengodaku" ucap Han Ying dengan wajah memerah.
"Ini aku kembalikan petanya, terimakasih atas bantuan kalian" ucap Chu Tian.
"Tidak masalah pangeran, kau bisa meminta bantuan kami kapan pun" ucap Han Yang dengan senyuman.
"A yah" ucap Seorang anak kecil dengan wanita cantik dibelakangnya.
"Woah putra ayah, apa yang kau lakukan disini" ucap Raja Han sambil mengendong anak kecil itu yang tak lain adalah putranya.
__ADS_1
"Salam permaisuri cao yi" ucap Chu Tian dan dianguki oleh cao yi.
"Pangeran perkenalkan putraku Han Tao ,putra mahkota kerajaan han" ucap Raja Han dengan bangga.
"pa man" ucap Han Tao memanggil Chu Tian.
"Woah kau sangat pandai Tao'er " ucap Chu Tian sambil mengelus pucuk rambut Han Tao.
Han Tao Mengulurkan tangannya.
"Emm Tao'er apa kau ingin bersama paman" ucap Chu Tian lalu mengambil Han Tao dari gendongan Han Yang.
"Tel bang" ucap han Tao.
"Apa Tao'er ingin terbang kalau begitu paman akan mengajak mu terbang bagaimana" ucap Chu Tian pada pangeran kecil itu.
"Emm aku ingin tel bang." ucap Han Tao.
Chu tian kemudian mengunakan energi anginnya untuk membuat mereka terbang, Chu Tian dan Han Tao terbang menyusuri langit kota han.
"Yeah Tel bang" Han Tao berteriak kegirangan.
"apa kau senang sekarang" tanya Chu Tian dan Han Tao mengangguk.
Setelah sampai Diistana Chu Tian menyerahkan Han Tao pada raja Han tapi Han Tao malah menangis.
"Huaaa pamann, aku ingin paman huaaaa" tangis Han Tao membuat Chu Tian kebinggungan.
"Em Tao'er jangan menangis, paman akan memberikan hadiah untuk Tao'er tapi kau harus berjanji kepada paman untuk tidak menangis, laki laki tidak boleh menangis apa kau mengerti" ucap Chu Tian.
"Emm aku mengelti" ucap Han Tao sambil mengusap air matanya.
Raja Han dan Permaisuri Cao Yi tersenyum meliht betapa mudahnya Han Tao Dibujuk biasanya Han Tao akan terus menangis apabila yang dia inginkan tidak terpenuhi.
Han Tao masih berumur dua setengan tahun tapi dia sudah pandai berbicara dan dia memiliki kebiasaan menyelinap dari pengawasan dan pergi ke arena latihan prajurit.
"Lihat paman punya sesuatu untukmu" ucap Chu Tian sambil menyerahkan sebuah pedang kecil dan Tumpul.
"Woah ini sepelti milik paman penjaga" ucap Han Tao dengan girang.
"Pangeran apa itu tidak masalah bagaimana pun itu sebuah pedang" tanya permaisuri Cao Yi dengan khawatir.
"Tenang lah yang mulia, pedang ini adalah buatanku sendiri dan pedang ini bisa beradaptasi dengan pemiliknya semakin lihai memakainya maka pedang ini akan semakin tajam serta kuat, dan saat ini Han Tao belum memiliki kemampuan berpedang jadi pedang ini tidak ada bedanya dengan pedang kayu, dan saat ini pedang ini juga masih seringan ranting kecil" ucap Chu Tian sambil tersenyum pada Han Tao.
"Telimakasih paman" ucap Han Tao.
__ADS_1
"Sama sama, nah kau harus banyak berlatih agar kau bisa menjaga keluargamu kelak apa kau paham" ucap Chu Tian dan diangguki oleh Han Tao.
"Baiklah semuanya aku harus pergi sekarang ,terimakasih untuk bantuan kalian semua" ucqp Chu Tian
"Paman Jangan lupa untuk datang dan melihatku yang hebat" ucap Han Tao.
"Itu pasti, apapun untuk keponakan kecilku" ucap Chu Tian.
"Pangeran berhati hatilah diperjalanan, dan aku pasti akan melakukan apa yang kau sarankan" ucap Raja Han dengan senyum lebar.
"Aku tau itu, dan semoga berhasil" ucap Chu Tian lalu melesat pergi
"Suamiku memang apa saran yang dia berikan padamu" tanya Permaisuri Cao yi.
"Itu adalah saran untuk segera menikahkan Han Ying Dengan Raja Chu Lizheng" ucap Raja han sambil tertawa
"Kakak jangan bercanda yaa" ucap Kesal Han Ying.
"Aku tidak bercanda ,memang itu yang dikatakan Chu Tian" ucap raja han.
"benarkah" ucap Han Ying dengan wajah memerah dan langsung berlari kekamarnya.
Disisi Chu Tian masih terus melesat hingga dia sampai diperbatasan kerajaan Han dan kerajaan Chen namun saat itu hari sudah sangat larut Chu tian memutuskan untuk beristirahat dan bermalam disana.
Chu tian membuat api unggun disana setelah selesai dia memakan roti yang diberikan oleh nenek Fu.
Chu tian merasa sepi tanpa teman temannya namun mau bagaimana pun pedang Roh dewa tidak bisa didekati siapapun dan Chu Tian tidak ingin teman temannya jadi korban.
Chu tian memandang langit malam yang dihiasi ribuan bintang sambi bersandar dipohon besar, kemudia dia mengeluarkan serulingnya dan memainkannya.
Alunan musik yang menenangkan membuat semua yang mendengarnya menjadi senang namun ada satu orang yang terlihat penasaran dengan Suara itu.
"Siapa Disana" ucap Chu Tian saat mendengar ada suara dibalik semak semak.
"Kau" ucap Chu Tian dan orang itu bersamaan saat orang itu keluar dari semak.
.
.
.
.
.
__ADS_1