
Chu Tian telah mengalirkan energinya sangat lama xiao Feng sudah melarangnya namun Chu Tian tidak peduli dia tetap mengalirkan energinya untuk Li Chao bahkan sekarang Tubuh Chu Tian sudah mulai melemah dia benar benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk Li Chao rambutnya kembali kewarna aslinya namun dia tidak berhenti mengalirkan energinya
"Chu Tian kumohon berhentilah dia sudah tiada ,semua yang kau lakukan akan sia sia ,jangan menyiksanya lagi biarkan dia tenang dialam sana" ucap Yan Sha Yang baru saja sampai bersama Xin Lan karena kalung Xin Lan bersinar disitulah Yan Sha Tau Chu Tian sedang dalam bahaya.
"Kalian diam lah aku tidak akan kehilangan orang yang menyelamatkanku" ucap Chu Tian dengan lemah.
"Aku mohon hentikan saudara Tian ,lihatlah kondisimu yang sudah sangat lemah itu sangat berbahaya untukmu" ucap Li Huan.
"Maaf, maafkan aku ,jika saja aku tidak datang terlambat mungkin paman masih bisa diselamatkan" ucap Chu Tian sambil menunduk.
"Aku tidak menyalahkanmu begitupun dengan ayah kau jangan menyalahkan dirimu sendiri" ucap Li Huan lalu mendekati Chu Tian dan menyandarkan Chu Tian dibahunya dan Xiao Feng dengan sigap menotok Chu Tian agar dia tertidur, dan seketika Chu Tian tertidur dengan wajah pucat di pelukan Li Huan.
"Kenapa ,kenapa kau begitu peduli padanya" batin Yan Sha.
"Apa kau sangat menyayanginya hingga kau mengorbankn dirimu untuknya" Batin Xin Lan.
"Bawa pangeran dan Paman ini ke istana " ucap Xin Jun.
Dikerajaan Xin ,Chu Tian telah sadar dan sekarang adalah waktu pemakaman untuk Li Chao,tubuh Chu Tian masih sangat lemah namun sudah tidak terlalu pucat lagi energinya benar benar kering tak tersisa jika saja dia tidak menyerap inti kehidupan waktu itu sudah dipastikan Chu Tian juga akan mati saat ini juga.
"Kau sungguh ceroboh, apa kau ingin mati muda " ucap Yan Sha yang berdiri disamping Chu Tian untuk memberi penghormatan terakhir untuk Li Chao.
"Maaf" ucap Chu Tian dengan menundukkan kepalanya
"Sudahlah Yan Sha aku tau pangeran Chu Tian sangat peduli dengan paman Li Chao karena paman Li Chao Sudah menyelamatkan hidupnya" ucap Xin Lan.
"Paman Li Chao Bukan hanya penyelamatku dia juga sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, aku benar benar merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya dan juga Li Huan pasti akan sangat kesepian karena paman Li Chao adalah keluarga satu satunya" ucap Chu Tian sambil memandang Li Huan yang masih menangis tersedu sedu dan sedang ditenangkan oleh Xin Jun.
"Jadi karena itulah kau sampai mempertaruhkan hidupmu untuknya" Tanya Xin Lan
Chu Tian Tidak menjawab dia hanya mengangguk .
"Li huan aku pasti akan menjagamu mengantikan ayahmu ,aku akan berusaha agar kau tidak kesepian " batin Chu Tian.
Selesai acara pemakaman Li Chao semua orang kembali kerumahnya masing masing tapi tidak dengan Li Huan dia masih terduduk didekat batu nisan ayahnya .
"Ayah kau bilang akan menemaniku selalu, kau bilang kau akan menjagaku tapi kenapa sekarang kau malah meninggalkanku" ucap Li Huan dengan tersedu sedu
__ADS_1
"Apa kau yakin kau menyayangiku lalu kenapa kau malah ikut bersama ibu tanpa mengajakku lihatlah sekarang aku sendirian " ucapnya lagi.
"Siapa bilang kau sendirian masih ada aku kakak Chu Tian dan yang lainnya" ucap Xin Lan dari belakang.
Mendengar Suara Xin Lan ,Li Huan Mengusap air matanya.
"Tu tuan putri mengapa kau ada disini bukankah kau sudah kembali" ucap Li Huan mencoba tersenyum.
"Yah tadinya aku ingin kembali untuk mengantar kakak Tian beristirahat tapi siapa sangka yang aku antar kepala batu, dia ingin disini dan mengajakmu kembali keistana" ucap Xin Lan sambil melirik Chu Tian yang sedang bersandar di pohon.
"Kenapa kalian melihatku" ucap Chu Tian saat menyadari tatapan dua wanita itu diarahkan padanya.
"Kenapa kau tidak beristirahat saja Saudara tian" Ucap Li Huan.
"hei sejak kapan kau peduli padaku" ucap Chu Tian dan mendapat cubitan dari Xin Lan.
"Ah Li huan jangan difikirkan perkataan nya mari kembali keistana kau juga butuh istirahat" ucap Xin Lan
"Tap tapi.." Li Huan sambil memandang makam ayahnya.
"Ini" ucap Li Huan dengan mata terbuka lebat
"Tidak usah berterimakasih ayo lekas kembali kau juga perlu istirahat" ucap Chu Tian lalu berjalan pergi
"Hei tunggu aku, ayo Li Huan kita kembali" ucap Xin Lan menyusul Chu Tian sambil menarik Li Huan.
Sesampainya di istana Chu Tian disambut dengan pukulan keras dari yan Sha karena energinya belum pulih pukulan Yan Sha benar benar menyakitkan untuknya.
"akrhh kenapa kau memukulku aww " ucap Chu Tian
"An'er apa kau baik baik saja" ucap Xiao Feng langsung membantu Chu Tian berdiri.
"Apakah itu sakit maafkan aku ,aku lupa jika energimu belum pulih" ucap Yan Sha.
"Tidak a"
"Awas saja jika tuan kenapa kenapa tidak akan kubiarkan kau dekat dengannya" ucap Lao Hei memotong perkataan Chu Tian.
__ADS_1
"Sudah sudah kembalilah kekediaman kalian aku akan mengantar Chu Tian kembali ke kediamannya" ucap Xiao Feng
Semua kembali ke kediamannya dan Xiao Feng saat ini sedang berada di kediaman Chu Tian dan memarahi Chu Tian habis habisan.
"Paman kumohon aku sudah dimarahi guru begitu lama kenapa kau begitu banyak bicara sekarang" ucap Chu Tian sambil menutup kupingnya.
"Apa kau fikir aku ini berbicara omong kosong saja, jika aku tidak menotokmu hari itu kau bisa saja kehilangan energi spiritualmu" ucap Xiao Feng dengan marah.
"Aku tau paman kau bahkan sudah mengatakannya lewat dari lima kali aku sudah bosan mendengarnya" ucap Chu Tian.
"Jika begitu maka jangan lakukan hal yang membahayakan nyawamu " ucap Xiao Feng.
"Iya paman aku tau sekarang biarkan aku istirahat, kupingku sudah cukup penuh dengan kata katamu dan juga guru" ucap Chu tian
"Huh baiklah beristirahatlah dengan baik aku akan memasuki dimensi nanti untuk berbicara pada Cang He tentang sesuatu" ucap Xiao Feng.
"Iya terserah paman saja" ucap Chu Tian lalu merebahkan tubuhnya dan berpura pura tertidur.
Xiao Feng melangkah keluar Kediaman Chu Tian.
"Huh jalanmu masih panjang jika kau mati hari ini siapa yang akan menjadi harapan dunia ini, kuharap kau tidak lagi ceroboh" Batin Xiao Feng.
Didalam kamar Chu Tian bangkit dari tidurnya.
"Apakah paman sudah pergi, huh akhirnya aku keluar dari penyiksaan kuping dan kepala ini" ucap Chu Tian.
Dia lalu mengeluarkan Batu kristal berwarna Hijau , yah Itulah batu kristal sembilan warna.
"Aku harus mengetahui isi dari permata kedua " ucap Chu Tian lalu memejamkan mata siap melihat siapa dewa yang mencipta batu kristal kedua ini.
Batu kristal berwarna Hijau itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan dan seoarang pria muncul dengan pakaian serba hitam dan pupil matanya juga berwarna hijau.
.
.
.
__ADS_1