
Chu Tian kembali kekediamannya dan melihat Ling Yue dan Ji Gia sedang duduk mengobrol diruang tamu.
"Kau sudah kembali, bagaimana" tanya Ling Yue.
"Aku belum puas tapi sudahlah kita juga harus segera pergi, sebelum itu apa kau ingin memberinya hukuman juga" tanya Chu Tian karena mereka masih menunggu kereta datang.
"Emm kurasa tidak perlu, lalu dimana Shi Long Dan Zaein" tanya Ling Yue.
"Mereka akan segera datang, oh ya ji Gia terimakasih karena telah membantu Ling Yue, kulihat kau adalah ahli belati yang hebat, ini hadiah untukmu belajarlah dengan giat agar kau bisa menjadi pendekar hebat" ucap Chu Tian dengan memberikan sepasang belati dengan Warna yang indah.
"Tuan muda tidak perlu melakukan ini, lagi pula aku senang bisa membantu nona Ling yue" ucap Ji Gia.
"Ji Gia kau terima saja, benda yang diberikan oleh dia pasti bukan benda seperti biasa" ucap Ling Yue sambil memandang Chu Tian.
"Haha tentu saja, belati itu bisa mengandakan diri jika kau melemparnya, tentu jumplahnya tergantung kemampuanmu" ucap Chu Tian.
"Sungguh...? tapii.. aku tidak pantas menadapatkan senjata sehebat ini" ucap Ji Gia sambil menyerahkan kembali belati yang diberikan Chu Tian.
"Itu adalah milikmu kau tentu berhak memilikinya, lagi pula kau sudah banyak membantuku" ucap Ling Yue dan diangguki oleh Chu Tian.
"Tapii.."
"Jika kau tidak menerimanya aku angga kau tidak menghormatiku" ucap Ling Yue
"Tidak bukan begitu, baiklah aku akan terima hadiah ini dan aku berjanji akan menjaganya, terimakasih nonadan Tuan Muda" ucap Ji Gia dan dianghuki oleh Chu Tian dan Ling Yue.
"Kalau begitu aku permisi" ucap Ji Gia setelah beberapa saat mengobrol dengan Chu Tian dan Ling Yue.
Setelah Ji Gia keluar, Shi Long dan Zaein datang.
"Pangeran, kereta yang kau pesan sudah ada didepan gerbang sekte" ucap Shi Long.
"Baiklah kita harus berpamitan dengan semua orang" ucap Chu Tian.
"Jangan lupakan janjimu" ucap Ling Yue sambil menunjuk Chu Tian.
"Iya iya aku mengingatnya, kau sangup berjalan sampai gerbang" tanya Chu Tian.
__ADS_1
"Tentu saja, lagi pula aku ingin tau keadaan Rin La" ucap Ling Yue.
"Baiklah ayo pergi, kau sudah pastikan tidak ada barang yang tertinggal" ucap Chu Tian.
"Tidak, bagaimana dengan kalian" tanya Ling Yue.
"Tentu saja tidak" ucap Zaein.
"Memang kau membawa apa" tanya Shi Long dengan nada mengejek
"Aku membawa pedang pemberian Tuan" ucap Zaein dengan wajah sombongnya.
"Sudahlah kalian itu, kita akan kehabisan waktu jika terus disini
mereka akhirnya berjalan kegerbang sekte dimana semua orang telah menunggu disana termasuk Rin La yang di pegang oleh dua orang murid elit dari sekte harimau suci.
Ling Yue berjalan dengan agak kaku dia memegang tangan Chu Tian agar dia bisa berjalan dengan benar.
"Kau membuatku tersiksa" ucap Ling Yue.
"kau bilang kau sudah memaafkanku" ucap Chu Tian.
"Aku akan mengobatinya nanti" ucap Chu Tian.
"Jangan cob..."
" berbentuk minuman bukan salep" ucap Chu tian.
Melihat Chu Tian datang Tan Si dan Huang Ta langsung menghampirinya.
"Apakah anda tidak ingin menginap sehari lagi Saudaraku" tanya Tan Si.
"Benar, sementara nona ling yue memulihkan diri lebih baik saudara Tian menginap disini untuk sementara" ucap Huang Ta membenarkan perkataan Tan Si.
"Kami sudah banyak merepotkan kalian, lagi pula kami memiliki banyak urusan yang harus kami kerjakan" ucap Chu Tian dengan tersenyum.
Sementara Ling Yue sedari tadi menatap Rin La dengan santai, dia tidak menatapnya dengan kebencian namun masih dengan santai seakan tidak terjadi apapun diantara mereka.
__ADS_1
Beda halnya semua orang saat menatap Rin La mereka merasa jijik dengan wajah buruk rupanya, bahkan para muridnya merasa malu dengan sikap Pemimpin mereka ditambah dengan wajah mengerikan dari Rin La membuat para murid sekte kabut salju semakin merasa malu.
Ling yue mendekati Rin La dengan jalan tertatih tatih, melihat Ling Yue datang Rin La menunjukkan wajah kebenciannya.
"Kau jangan pernah mencoba bermain denganku, kalaupun kau mencintai Jhin Tian kau tidak seharusnya melakukan hal busuk seperti itu" ucap Ling Yue sambil menampar keras Rin La.
"Lalu apa bedanyaaku denganmu, kau menghabiskan malam bersama pria yang belum menjadi suamimu pakah itu bukan kesalahan" tanya Rin La dengan tersenyum sinis, darah disudut bibirnya menambah kengerian dalam senyumannya.
"Rin La....!" teriak marah Shi Long dia sangat kesal dengan perkataan Rin La karena perkataannya nuga termasuk menyinggung pangerannya
"tenanglah Shi Long.. Rin La kau mengatakan apa tadi suami, tentu saja dia bukan suamiku namun dia adalah calon suamiku, dan ingat Rin La aku melakukan ini semua juga karena perbuatan kejimu itu...!" ucap Ling yue dengan menunjuk wajah Rin La.
"Hengh apa kau yakin kau mencintainya, aku mendengar kau memanggil nama kay, cih bisa bisanya kau memanggil nama lelaki lain saat bersamanya dasar tak tau maluu...!" teriak Rin La.
"pemimpin aku mohon jangan permalukan lagi sekte kita" ucap salah seorang murid.
"Kau diamm..! ini adalah urusanku dengan ****** ini" teriak marah Rin La.
"Kalian mundurlah, orang sepertinya tidak pantas menjadi pemimpin kalian, dan Kau Rin La aku mengatakan nama siap apakah yang kusebut adalah kay yah aku memang mencintai kay dan kay itu adalah dia" ucap Ling Yue sambil menunjuk kearah Chu Tian.
"Tidak tidak mungkin kan dia adalah Jhin Tian." kekeh Rin La.
"Aku beri tau kau sesuatu..... Dia adalah Chu Tian anak dari raja Chu Kai, putra terakhir dari garis keturunan kerajaan Chu dan dia memiliki lebih dari sekedar gelar pangeran" bisik Ling yue ditelinga Rin la lalu setelah membisikkan itu Ling yue berbalik dan menghampiri Chu Tian.
Sementara Rin La begitu terkejut, dia mencari maslaah pada orang yang salah, dia tau bahwa sekarang kerajaan Chu sudah menjadi kerajaan besar dan termasuk dalam deretan kerajaan Terkuat.
Rin La merasa sangat panik bagaimana mungkin dia ingin menjatuhkan harga diri seorang pangeran, jika saja malam itu dia berhasil mungkin saat ini dia tidak lagi bernafas.
Rin La yang Frustasi mengacak acak rambut pendeknya dan menagis hiateris, kali ini dia benar benar bersyukur karena tidak dibunuh oleh Chu tian
karena dia juga pernah mendengar cerita tentang pangeran Chu Tian yang menyelamatkan kerajaan Xin dari serangan hewan iblis. Dia bahakan mendengar bagaimana pangeran Tian mengahabisi begitu banyak nyawa dengan begitu santainya, tentu dia mendapatkan informasi itu di pusat informasi kota .
.
.
.
__ADS_1
.