
"Woaahh tempat seindah ini ayah balu membelitauku" kesal Xuan yang juga masih terpesona dengan keindahan hutan pancawarna.
"Kata katanya.." jhin Tian sedikit berfikir.
"Ayah jika aku bellatih ditempat ini apakah boleh" tanya Xian.
"Xuan juga ingin" ucap Xuan.
"Kenapa ditempat ini ayah bisa menyediakan tempat latihan untuk kaian berdua" ucap Jhin Tian sambil berjalan menuju pondok kecil tempat dia dan Ling Yue bersama dulu.
"Aku melasa nyaman disini, ayah aku mohon aku janji tidak akan melusak apapun" ucap Xian.
"Tapi kalian tetap kembali keistana kan" tanya Jhin Tian pada putranya.
"Emm Xian ingin disini saja, bolehkan ayah " tanya Xian.
"Tidak, ayah tidak ingin sesuatu terjadi pada kalian, kalian masih terlalu kecil untuk ini" ucap jhin tian dengan nada tegas.
"Tapi ayah Xian dan Xuan bisa menjaga dili" ucap Xian.
"Xiann ayah bilang tidak ya tidak..! Jika kalian ingin berlatih disini maka tetap kembali ke istana ayah tidak ingin mendengar alasan apapun" ucap Jhin Tian.
"Huft baik ayah" ucap Xian pasrah dia tentu tidak ingin membuat ayahnya marah.
"Dimana Xuan" Tanya Jhin Tian.
"Tadi tadi Xuan ada disini ayah" ucap Xian dengan wajah panik, dia melihat sekeliling begitupun dengan Jhin Tian.
"Xuaan, kau dimana " teriak Jhin Tian.
"Xuann" teriak Xian.
"Ayahh itu Xuan" ucap Xian sambil menunjuk kearah Xuan.
"Diman..."Jhin Tian menghentikan kata katanya saat melihat Xuan terduduk diatas pohon tumbang dengan wajah sedihnya.
Jhin Tian lalu menghampirinya.
"Xuan apa yang kau lakukan disini" tanya Jhin Tian.
"Eh ayah.. xuan hanya melihat pemandangan" ucap Xuan sambil menghapus air matanya dan memalingkan wajah.
Jhin Tian duduk disamping Xuan dan diikuti Xian yang juga ikut duduk jadi Jhin tian berada diantara kedua anaknya.
"Xuaann...?" panggil jhin tian dengan lembut dia tau anak perempuannya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Ayah maaf, xuan hanya melindukan ibu, kapan ibu akan kembali" tanya Xuan dengan mata sembabnya.
"xuann.. kenapa kau belkata sepelti itu pada ayah" marah Xian dia tentu tau setiap ada orang yang membahas ibunya pasti jhin tian akan bersedih.
__ADS_1
"Kakak maaf" ucap Xuan sambil menangis.
"Tch" xian hanya berdecih tak bisa dipungkiri dia juga ingin tau apa yang ingin diketahui oleh Xuan.
"Kalian belajarlah dengan baik dan selalu jadi orang baik, ayah berjanji akan membawa ibu kalian kembali apapun caranya" ucap Jhin Tian dengan senyum tipis dan terlihat ada kekhawatiran di mata nya dan itu membuat xuan merasa bersalah.
"Xuan minta maaf ayah, ada ayah disisi Xuan xuan sudah senang maafkan Xuan" ucap Xuan.
"Sudah tidak apa apa, ayah tau apa yang xuan rasakan, sudsh berhenti menangis dan kita nikmati hari ini" ucap Jhin Tian sementara Xian masih menunduk tanpa bersuara.
"Aku akan tumbuh kuat dan membantu ayah, ayah selalu sendili dan jika aku kuat nanti aku pasti bisa belsama ayah" itu yang dipikirkan anak laki laki itu.
hari itu Jhin Tian menemani anak anaknya bermain entah kjar kejaran dan bermain banyak hall.
"Hahaha ayah ayo tangkap Xuan" teriak Xuan sambil berlari.
"Haha Xuan jangan lupakan kakak" teriak Xian sambil mengejar Xuan.
jhin tian mengikuti kedua anaknya lalu menangkap nereka berdua dan mengelitikinya.
"Ayah hahaha Xian menyerah hahaha" ucap Xian yang tidak bisa menahan tawanya karena geli.
"hahaha baiklah baiklah ayah berhenti" ucap Jhin Tian sambil merebahkan tubuhnya diatas rumput bersama kedua anaknya.
"Ayah" panggil Xian.
"ya" jawab Jhin Tian.
"Emm tentu, kau boleh melakukan apapun kali ini" ucap Jhin Tian sambil bangun dari tidurnya.
"Tapi ayah jika dia bukan orang jahat bagaimana" tanya Xuan sambil mendekat kearah jhin tian.
"Sedikit bermain main, ayah juga ingin tau bagaimana perkembangan latihan kalian" ucap Jhin atian dengan senyum.
Xian dan xuan langsung saling pandang dan mengangguk, mereka berdua mulai melesat
"Kuharap kau baik baik saja adik" ucap Jhin Tian dengan senyumannya dia lalu duduk diatas pohon sambil melihat pertarungan kedua anaknya dengan seorang pria bertopeng yang umurnya sedikit lebih muda dari Jhin tian..
"Hei kalian berdua apa apaan" ucap Orang itu.
Xian dan Xuan tidak menjawab mereka terus menyerang dengan serangan kombinasi yang baru mereka latih, mereka sungguh ingin menunjukkan hasil latihan mereka pada Jhin Tian.
Jhin Tian tersenyum melihat semangat anaknya, dia juga tidak menyangka mereka bisa sehebat itu diusia semuda itu..
pertandingan terus berlanjut pada awalanya Xian dan Xuan merasa kesulitan dan pria bertopeng itu masih terlihat sangat santai, tapi lama kelamaan pria bertopeng itu menyadari bahwa kekuatan xian dan Xuan terus meningkat.
"Sial dua bocah ini ternyata membuatku lengah, cih" pria itu lalu melompat kebelakang menghindari xian dan Xuan, dia lalu melihat Jhin Tian Diatas pohon dan dia berfikir untuk menyusulnya.
baru beberapa langkah Xian sudah menghadangnya.
__ADS_1
"Jangan Belpikil bisa pelgi dali kami" ucap Xian.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua, aku ingin menemui orang itu" ucap Orang bertopeng sambil menunjuk jhin tian yang tersenyum kearah mereka.
"Hiakkkk....... duakkkhhh...... jangan coba coba menyentuh ayah Xuan" teriak marah Xuan setelah menendang bagian kepala Pria bertopeng itu.
"Arrkkhhh... Anak sekecil itu tendangannya kuat juga" ucap pelan Pria itu sambil memegang kepalanya yang terasa pusing dan nyeri.
"aku juga tidak akan membialkan kau menyentuh ayahku" ucap Xian, Xian langsung memusatkan tenaganya pada tinjunya dan langsung meninju perut pria bertopeng itu hingga terpentall kebelakang.
bughh.... bommmmmmm.....
Xian dan Xuan kembali bersiap untuk menyerang pria bertopeng itu.
"Xian xuan sudah" ucap jhin Tian langsung menghampiri kedua anaknya untuk menghentikan mereka.
"Tapi ayah dia itu ingin..."
"Ayah tau" jgin Tian memotong perkataan Xian dan langsung menghampiri Pria bertopeng itu dan membantunya berdiri, itu sungguh membuat xian dan Xuan merasa heran.
"Kakak kenapa ayah membantu olang itu" bisik Xuan.
"aku juga tidak tau, tapi aku merasa tidak asing dengan aula olang itu" ucap Xian.
"Sebaiknya kita tanya ayah" ucap Xuan lalu berjalan menuju Jhin Tian.
"Kakak kau tega sekali membuatku menjadi kelinci percobaan, anak anakmu itu bukan anak biasa aku tak sanggup mereka masih sekecil ini dan bisa mereka bisa mengalahkan aku yang sudah berumur ini, aku merasa pengetahuanku selama ini hanya sebagai dongeng anak kecil" ucap Pria bertopeng itu dengan lemas.
"salahmu sendiri mengintai kami, kau tau anak anakku juga hebat dalam merasakan hawa keberadaan dan salah satu keahlian mereka adalah mebcari titik lemah lawan dengan cepat" ucap Jhin Tian dengan senyum bangganya.
"Jika begitu kenapa kau tidak menolongku sedari tadi kak...!" kesal pria bertopeng itu.
"Kakk...?" ucap Xian dan Xuan bersamaan.
"tidak tidak aku sudah menyerah jangan menghajarku lagi " ucap Pria bertopeng itu dan langsung membuka topengnya memperlihatkan wajah tampan disana.
"Dia itukann..." Xian sejenak berfikir.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.