Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH 213. Karena dia adalah hidupku


__ADS_3

Jhin Tian berbalik dari dua jasad itu, jhin Tian lalu menemui ibunya,


"Ka kau jhin Tian kah, benarkan itu kau nak" tanya Ling Zhu.


"Ibu maaf " ucapan singkat dari Jhin Tian mampu membuat Ling Zhu meneteskan air matanya.


"Sekian tahun aku menunggu kata kata itu, ibu sangat senang" ucap Ling zhu sambil memeluk Jhin Tian yang masih tertunduk.


"Maaf maafkan ibu, sudah membuatmu begitu jauh dari kami, maafkan ibu tidak bisa melindungimu, aku aku aku..."


"Sudah cukup ibu, aku sudah memaafkannya, dan maafkan aku baru bisa menjemputmu pulang maafkan aku" ucap Jhin Tian membalas pelukan ibunya.


"Aku sangat merindukan ibu, hari hariku selallu berharap ibu ada disampingku,aku bahagia sekarang bisa menemukan ibu" ucap Jhin Tian dengan air matanya


"Ingin sekali aku segera pergi dari tempat ini dan kau tau Shi Qyu dan pria itu selalu mengbentikanku bagaimana pun carany, mereka selalu membuat penyiksaan" ucap Ling Zhu.


"Yang terpenting sekarang ibu sudah baik baik saja" ucap Jhin Tian.


mereka berdua melepas pelukan.


"Mari pulang" ucap Jhin Tian, tapi


"Arkh.."


"Ibu baik baik saja" tanya jhin tian dengan khawatir


"Ibu agh.." tiba tiba Ling zhu Pingsan.


"Gawat" jhin Tian memberikan sisa Energinya untuk membuat portal ke istana Es.


"Buka gerbangnya" teriak Jhin Tian sambil mengendong ibunya ala bridal style.


"Ba baik Pangeran" ucap Para prajurit dan langsung membuka gerbang.


"Panggil Huang Tei" tetiak Jhin Tian sambil membawa Ibunya berlari menuju istana.


"Jhin Apa yang terjadi nak" tanya Jhin Suo dengan nada binggung.


"Tidaka ada waktu untuk menjelaskan, aku harus membawa ibu kedalam" ucap Jhij Tian langsung menerobos masuk dengan tergesa gesa.


"Apa maksudnya ibu, dan wanita tadi siapa" batin Jhin Suo karena tadi wajah Ling zhu tertutup rambutnya.


Setelah beberapa saat Huang tei masuk bersama yang lainnya.


Jhin Suo masih terlihat binggung sampai akhirnya dia mendekati ranjang yang disana ada seorang wanita yang terkulai lemas, Jhin Suo memandang putranya yang terlihat begitu khawatir dia lalu mengalihkan pandangannya kearah Wanita itu.


"Li ling Zhu ling Zhuu...!!!!!" wajah Jhin Suo bergetar dia lalu terduduk disamping ranjang dengan airmata yang berurai dia memegang tangan Ling Yue dengan erat seaakan tidak mau melepaskannya lagi.


Jhin Tian seakan tidak ingin melihat kekhawatiran ayahnya saat melihat kondisi ibunya yang penuh luka, Jhin Tian keluar dari Ruangan itu dan menunu ruangan putra putrinya, dia merasa gagal membawa ibunya dengan selamat.


*Flash back off


"Hah Jhin Tian bisa akah kau kembali seperyi dulu" ucap Jhin Cha dengan wajah sendu.


"Tidak" jawab Jhin Tian singkat.

__ADS_1


"Kenapa, kenapa... selama ini kami menunggumu bukan untuk mendapatkan ini semua " ucap Jhin Cha.


"Bawa Ling Yue kembali maka aku juga akan kembali" ucap Dingin Jhin Tian sambil mengelus surai lembut jhin Xua.


"Selalu saja seperti itu, kenapa?" tanya Jhin Cha dengan air mata nya.


"Karena dia adalah hidupku" jawab Jhin Tian dengan Singkat, dia lalu menoleh kearah sang rembulan.


"Setidaknya pikirkan Xuan Dan Xian" ucap Jhin Cha.


"Aku akan membuat mereka berdua bahagia bagaimanapun caranya ingat itu putri Cha" nada dingin nan tegas dari Jhin Tian membuat Jhin Cha tak habis pikir.


"Kau bukan Jhin Tian yang kukenal" ucap Jhin Cha langsung pergi dari kediaman Jhin Tian.


"jhin Tian telah pergi" ucap Jhin Tian pelan sambil memandang kedua anaknya yang kini menjadi mentari nya.


Pagi Harinya, Sang Surya menyambut hangat dengan menampakkan sinarnya menyinari Ayah dan anak yang sedang tidur bersama.


Jhin Tian membuka matanya badannya terasa sangat pegal karena anak anaknya.


"Xian Xuan bangun, mandi dan bersiap" ucap Jhin Tian dengan lembut.


"Egh... ayah selamat pagi" ucap Xuan.


"Selamat pagi Putri kecil ayah" ucap Jhin Tian.


"Sekarang pergi mandi, bibi sudah menunggumu" ucap Jhin Tian yang dia maksud bibi adalah Jhin Cha karena memang biasanya Jhin Xuan bersiap bersama Jhin Cha.


"Baik ayah" ucap Putri kecil itu, dia melompat dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


"Emm" Jhin Xian masih tertidur.


"Bukankah kau ingin menjadi pendekar hebat, pendekar hebat tidak boleh pemalas hmm" jhin Tian menvubil pelan hidung Xian.


"iya iya iya aku banggun" jhin Xian bangun sambil mengelus hidungnya, dan itu membuat Jhin Tian tertawa kecil.


"Nah Sekarang pergi mandi mengerti" ucap Jhin Tian.


"Aku akan pelgi mandi, tapi nanti ayah berikan aku latihan" ucap Xian.


"Tidak Hari ini Xian, kita akan ketempat paman Lizheng siang ini juga" ucap Jhin Tian.


"Hah..? tapi kata ayah kita.."


"Ayah tau, tapi ditempat paman Lizheng sedanga da masalah jadi kita harus bergegas apa kau mengerti" tanya Jhin Tian.


"Emm aku mengelti" ucap Jhin Xian lalu pergi kekamar mandi.


"Terimakasih telah memberikan dua malaikat kecil yang sangat manis... ling Yue" batin Jhin Tian.


Setelah beberapa Saat Seorang putri kecil yang cantik dan amnis dan Seorang pangeran mungil nan tampan menghampiri Jhin Tian yang sedang meminum teh di depan kediamannya.


"Ayah " Panggil Xian Dan Xuan.


"Emm" jhin Tian menoleh kearah suara.

__ADS_1


"putri Ayah sangat cantik dan Putra ayah sangat tampan, emm kalian begitu wangi mau kemana" tanya Jhin Tian menggoda.


"Ayahhhh" mereka berdua memasang wajah cemberut yang membuat jhin Tian gemas.


"Hahaha baikalh ayah tidak akan mengoda lagi, baiklah ayo ketempat Kakek" ucap Jhin Tian sambil mengendong Xuan dan Mengandeng tangan mungil Xian.


mereka berjalan dengan penuh canda tawa.


"Ayah ayah, kemalin kakak Menangis" ucap Xuan.


"hei xuan jangan memberitau ayah" ucap Xian dengan wajah memerah karena malu.


"Sungguh mengapa Xian menangis" tanya Jhin Tian.


"Emm kemalin kakak belmain lumpul, lalu bajunya terkena lumpul, kakak takut kalo ayah malah jadi dia menangis di dekat pohon sakula disana" cerita Xuan.


"Sungguh Xian, mengapa kau bermain lumpur" tanya Jhin Tian dengan senyum.


"Iya ayah itu benal, aku diajak teman teman jadi aku ikut, emm ayah tidak malah kan" tanya Xian dengan menundukkan kepalanya.


"tentu saja tidak, untuk apa ayah marah kepada Xian, ayah senang Xian bermain bersama teman teman" ucap Jhin Tian.


"Jika ayah tau wajah kakak kemalin pasti ayah akan teltawa" ucap Xuan sambil Menahan tawa.


"Xuan Kumohon jangan celitakan, ayolah kumohonn" ucap Xian.


"Baiklah tapi sebelumbelangkat kakak harus memberiku banyak permen" ucap Xuan.


"Baiklah aku setuju tapi janji jangan belitau ayah" ucap Xian.


"Baiklah aku janji" ucap Xuan.


"Hei kalian merahasiakan apa dari ayah" tanya Jhin Tian.


"Ayah angap balusan aku tidak mengatakan apapun" ucap Jhin Xuan.


"Bagaimana bisa begitu Xuan, ayah kan mendengarnya" tanya Jhin Tian dengan tertawa kecil.


"Ayah beljanjilah kau pula pula tidak mendengal" ucap Xuan dengan berbisik.


"Baiklah tapi ayah harus dapat jatah permennya kan" ucap Jhin Tian dengan ikut berbisik.


"Itu mudah, ayah selahkan semuanya pada Xuan " ucap Xuan dengan bangga.


mereka bertiga langsung tertawa.


Semua orang yang melihat itu ikut tersenyum, mereka hanya bisa melihat senyum dan tawa pangeran mereka saat berada didekat anak anaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2