Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH 218. tidak dihargai..!


__ADS_3

Digerbang istana.


"Ayah kau sangat lama" ucap Xuan.


"Baiklah maafkan ayah, kali ini Xuan boleh menghukup ayah sungguh" ucap Jhin Tian sambil memegang telinganya.


"Akan kupikilkan Hukuman untuk ayah nanti" ucap Xuan dengan wajah seperti berfikir.


"Hahaha baiklah putri ayah yang cantik" ucap Jhin Tian.


"Jadi aku tidak " ucap Xian Dengan nada kesal.


"Tentu saja kau anak ayah yang paling tampan hmm" ucap Jhin Tian sambil mengusap rambut anak lelakinya itu.


Semua angota istana merasa senang dengan senyum pangeran mereka yang selama ini hilang, tapi anehnya senyum itu hanya muncul jika sang pangeran berada didepan anak kecil, mungkin benar adanya pepatah Seganas ganasnya harimau tidak mungkin memakan anaknya sendiri.


Setelah itu Jhin Tian, Jhin Xian Jhin Xuan, Chu Lizheng, Chu Liyan dan Han Ying memasuki kereta mereka masing masing, tentu Jhin Tian bersama para anak anak lalu raja dan ratu itu berada dikereta yang berbeda.


"Aku sudah lama sekali tidak menaiki keleta kuda" ucap Xuan.


"Sungguh lalu diistana Es kau menaiki apa" tanya Chu Liyan.


"Tentu saja kami menaiki paman Singa" ucap Xian dengan bangga


"Ka kalian naik Singa, apakah meleka tidak belbahaya" ucap Chu Liyan dengan bergridik ngeri.


"Tentu saja tidak, paman Singa sangat baik Bahkan paman singa selalu mengajakku berjalan jalan, kadang paman singa membawaku ketempat Bibi Sie, ketempat paman Tei, atau kadang sampai ditempat Paman Se, Aku sangat senang disana banyak sekali teman temanku" ucap Xuan bercerita dengan cerewet.


"Wahhh aku jadi ingin menaiki paman Singa" ucap Liyan dengan mata berbinar.


"Ayah" panggil Xian.


"Ya Xian " ucap Jhin Tian sambil menutup buku yang baru saja dia baca.


"Apakah bisa paman Singa kemali, aku ingin menunjukkannya pada liyan" ucap Xian dengan nada memohon.


"Sayang sekali tidak Liyan, paman Singa tidak bisa ketempat ini, mungkin suatu hari Xian dan xuan bisa membawa Liyan pergi ketempat kakek dan Mengajaknya berkeliling" ucap Jhin Tian sambil tertawa kecil.


"Huahh benalkan itu boleh ayah" tanya Xian.


"Tentu, maka lebih rajinlah Belajar" ucap Jhin atiqn yang membuat Semangat Xian kembali berapi api.


"Xian pasti akan belajal dengan sungguh sungguh dan membawa Liyan ketempat kakek" ucap Xian dengan penuh Percaya diri.

__ADS_1


"Ayah pasti akan selalu mendukung kalian" ucap Jhin Tian.


Setelah cukup lama perjalanan mereka sampai disebuah disa yang paling ramai selain diibukota, menurut informasi desa itu juga memiliki banyak info yang cukup penting.


Raja Lizheng Turun dari keretanya bersama istrinya, disusul Jhin Tian yang turun diiringi tiga anak kecil.


Semua orang menyambut gembira Kedatangan Chu Lizheng namun menatap sinis Jhin Tian.


"Hei bukankah itu orang yang meninggalkan kita disaat krisis"


"Ya kau benar dia yang pergi begitu saja padahal Hewan iblis masih menyerang"


"Dia sungguh orang yang tidak berguna, bagaimana bisa ia melarikan diri bersama istrinya sementara kita tersiksa disini."


"Sungguh aku tidak menyangka orang yang dulu kukagumi ternyata seorang pengecut" cemoohan dari para rakyat terus terdengar.


Chu Lizheng merasa kesal dengan rakyatnya, dia ingin angkat bicara namun Ditahan oleh Jhin Tian.


"Cih" Chu Lizheng berjalan kesal melewati para rakyat.


Jhin Tian mengekor dibelakang Chu Lizheng sambil mengandeng kedua anaknya dan Liyan bergandengan Dengan Han Ying.


Mereka Masuk kedalam sebuah restoran yang mengunakan bilik penyekat, agar mereka bisa leluasa berbicara tanpa ada yang tau siapa mereka.


"Sebotol anggur dan..." Chu Lizheng tidak melanjutkan Kata katanya karena mendapat lirikan tajam dari Jhin Tian, Dia lalu tersadar bahwa mereka membawa anak anak.


Han Ying memutar bola matanya malas, suaminya itu memang tidak pernah tau kondisi,


"Yang tadi tidak jadi.. kami pesan Teh Hijau dan Teh mawar, dan Kalian semua mau apa" tanya Han Ying dengan lembut.


Mereka bertiga saling berpandangan dan mengangguk


"Kami mau kuee..." teriak mereka dengan serempak.


"Wah kalian sangat ingin makan kue, jadi berikan kue dan beberapa camilan" ucap Han Ying.


"Baiklah. mohon ditunggu pesanananya" ucap Pelayan langsung pergi.


"Aku benar benar tak habis pikir bagaimana, warga disini mengatakan hal itu, padahal jelas jelas adikku telah mempertaruhkan nyawanya untuk mereka, bahkan Jhin Tian mengunakan jiwanya sendiri untuk melindungi mereka, tapi Cih aku benar benar kesal" keluh Chu Lizheng.


Han Ying mengelus punggung Chu Lizheng berharap bisa menenangkannya.


"Aku juga baru mendengar tentang rumor ini, sepertinya keluarga istana dibuat untuk tidak mendengar informasi apapun tentang ini" jelas Han Ying.

__ADS_1


"Biarkan saja" ucap Jhin Tian dengan Santai.


"Tap.."


"Ayah tidak boleh begitu, ayah adalah Pahlawan yang menyelamatkan meleka semua, ayah sehalusnya dipuja bukan dihina, Xian tidak akan telima ini, xian akan memberi meleka semua hal yang pantas" ucap Xian Dengan emosi.


Mereka semua kecuali jhin Tian menatap Xian dengan melongo bagaimana anak sekecil itu bisa bicara sedewasa itu.


"Xian dengarkan ayah dengan baik, tidak semua orang itu hatus dibalas dengan tindakan, kadang kita juga hanya perlu membuktikan bahwa kita tidak seperti itu, seorang pendekar harus bisa mengatur emosinya, apa Xian Mengerti" ucap Jhin Tian dengan lembut.


"Tapi ayah Xian kesal melihat ayah terus diejek, padahal paman Le dan paman Ye mengatakan padaku bahwa ayah telah menyelamatkan daratan tengah dari kehanculan tapi yang kudengal saat ini membuatku merasa muak" Xian masih saja merasa kesal.


"Kakak Xian benal Ayah, aku juga tidak telima ayah dipellakukan sepelti itu, Ayah telah mengolbankan semuanya tapi..."


"Xian Xuan sudah cukup ayah minta Xian dan Xuan untuk tidak melakukan hal seperti itu ayah tidak suka" ucap Jhin Tian dia tentu tidak ingin anaknya terlibat terlalu jauh.


"Tapi Ayah juga telah mengolbankan ibu demi meleka semua" ucap Pelan Xuan dengan menundukkan kepalanya.


Degh... Seketika janyung Jhin Tian serasa berhenti berdetak kata kata putrinya sungguh membuat rasa sakit yang selama ini di pendamnya kembali muncul.


Xuan Menangis dalam Diamnya, sementara Xian berusaha menenangkan Adiknya itu dengan memeluknya.


Chu Lizheng dan HanYing menatap mereka bertiga dengan sendu, sementara Liyan masih belum terlalu mengerti tentang pembicaraan tadi.


kreppp...


Jhin Tian memeluk putra dan putrinya itu.


"Maafkan ayah, ayah hanya tidaka ingin kalian terluka, ayah tidak ingin kehilangan orang yang ayah sayangi untuk kesekian kalinya" ucap Jhin Tian setetes air matanya jatuh ketangan Xuan.


Xuan Langsung mendongak melihat air mata yang mengalir dipipi ayahnya, Xuan Langsung mengelap air matanya sendiri dengan cepat.


"Ayah maafkan Xuan sudah membuat Ayah sedih, Xuan janji akan menjadi anak yang penurut, Xuan tidak ingin ayah sedih" ucap Xuan dengan mengelengkan kepalanya dan menghapus airmata Jhin Tian dengan tangan mungilnya, Jhin Tian tersenyum lembut.


"Kalian tau, hanya kalian yang bisa membuat ayah bertahan selama ini, jadi ayah mohon kalian jangan membahayakan diri kalian demi ayah mengerti" ucap Jhin Tian dan Diangguki oleh Xian Dan Xuan.


"Aku tidak akan membiarkan seoarang pun merenghut mereka dariku, sudah cukup untuk kehilangan ini" batin jhin Tian dengan aura dinginnya.


.


.


...

__ADS_1


__ADS_2