
mereka akhirnya sampai ketempat dimana salju memenuhi tempat itu.
"Bukankah tempat ini hampir sama dengan kota bunga salju" ucap Qing Se.
"Bukan hanya hampir sama ini sama persis dengan kota Bunga salju hanya saja tempat ini sangat sepi" ucap jhin Le.
"Ayo kita coba memasuki istana siapa tau kita menemukan sebuh petunjuk" ucap jhin Tian.
mereka semua memasuki istana besar itu namun mereka hanya menemukan kesunyian.
mereka terus menyusuri setiap bagian istana sebelum Akhirnya mereka melihat sembilan orang pencipta kristal sembilan warna.
" mengapa ayahku ada disana" tanya Huang Tei.
"Ayahku juga ada disana" ucap Qing Se.
"Sebaiknya kita kesana" ucap Jhin Le dengan senyumnya.
"Tapi, hei tunggu dulu" ucap Jhin Tian.
"Ayolah mungkin kita bisa menanyakan petunjuk pada mereka " ucap Jhin Le.
"Huft baiklah" ucap Jhin Tian pasrah.
"Ayah apa yang Aa... Aaaaaaaaaa" huang Tei melihat wajah para pembuat kristal sembilan warna itu sangat mengerikan, dia berlari dengan ketakutan dan menuju belakang Jhin Tian.
"I Itu bukan ayahku di diaa adalah monster...!" ucap Huang Tei sambil menyembunyikan Wajahnya.
"Apa kita harus melawan mereka" ucap Jhin Le.
"Apa lagi yang akan kita lakukan kecuai melawan mereka, ayo lakukan" ucap jhin Tian lalu menyerang sosok yang mirip kakek leluhurnya itu, dan yang lainnya juga mendapatkan bagiannya masing masing.
"Kekuatan mereka tidak jauh berbeda dengan aslinya ini sama sekali tidak menguntungkan" batin Jhin Tian.
Jhin Tian lalu mengeluarkan pedang Roh dewanya, dia lalu menatap lawannya dengan wajah yakin.
"Apa kau akan membunuh kakekmu sendiri cucuku" tanya Sosok itu.
"Tentu saja tidak, tapi karena kau bukan kakekku jadi jawabannya iya" ucap Jhin Tian.
Jhin Tian mengeluarkan Jurus tarian Phoenix nya dan itu dapat ditangkis dengan mudah oleh sosok itu, Jhin Tian terus menyerang tanpa mengenal lelah, begitupun dengan yang lainnya, mereka telah fiyakinkan untuk meneguhkan hati mereka menghadapi orang orang dari negeri mereka sendiri.
__ADS_1
Jhin Tian beberapa kali juga terhempas karena bagaimanapun yang dia lawan kekuatannya setara dengan Kakek Leluhurnya.
Cukup lama mereka semua melawan hingga akhirnya Jhin Tian berhasil menusukkan pedangnya kedada Sosok itu, Sosok itu berteriak memanggil nam Jhin Tian membuat Keyakinan Jhin Tian sedikit goyah, namun meski begitu dia tetap berusaha berfikir yang dia lawan adalah orang lain dan bukan kakeknya.
Jhin Tian memejamkan matanya disaat sosok itu berubah menjadi abu dan menghilang bersama suaranya yang mulai menghilang, disamping itu Jhin Le dan yang lainnya juga telah selesai dengan musuh mereka, entah apa pertarungan ini membuat mereka merasa terguncang bagaimana tidak membunuh orang yang mereka sayang bukanlah suatu hal yang mudah.
"Bagaimana sekaran" tanya Jhin Le dia membunuh dewa kegelapan dsn itu tentu tidak terlalu membuatnya syok.
"Tunggu sebentar, aku aku baru saja melakukan dosa, selama hidupku aku tidak pernah melawan ayahku dan hari ini..."
"Kuatkan dirimu Qing Se kau tidak benar benar membunuhnya ayahmu masih baik baik saja di istana es, mereka semua berharap pada kita apa kau ingat" ucap Jhin Le mencoba mendnangkan Qing Se.
Jhin Tian yang mendengar perkataan Saudaranya itu mulai kembali bangkit.
"Kita sudah sampai disini dan kita tidak boleh menyerah sampai disini, banyak orang yang berharap pada kita sekarang ini" ucap Jhin Tian.
perlahan mereka semua mendapatkan semangatnya.
Disaat semangat itu kembali seorang pria tampan muncul dihadapan mereka , jhin tian yang melihat itu langsung mempersiapkan pedang Roh dewanya.
"ai ai ai tenang dulu pangeran, aku bukanlah musuhmu, aku fun pi, aku adalah penjaga pintu digunung harapan ini, kalian telah melewati ujian nya kalian boleh mengambil ini dan letakkan disana" ucap Fun Pi.
Jhin Tian menerima bola kecil itu dan berterimakaaih pada Fun Pi, Fu kai lalu berjalan menuju Cawan yang sama seperti saat ditebing, bedanya kali ini dia tidak harus mempertaruhkan nyawa.
Kini Mereka semua berada dipadang rumput luas.
" tempat apa ini, dan apa yang harus kita lakukan" tanya Qi Val.
"Sebaiknya kita jelajahi tempat ini aku yakin pasti ada sesuatu" ucap Jhin tian.
mereka berjalan menyusuri padang Rumput itu namun yang ada mereka hanya berputar putar saja.
"Kurasa kita sidah melewati tempat ini" ucap Yan sha.
"Benar aku beberapa kali melihat batu itu" ucap Yu Nan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan" tanya Qi Val.
" yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah tenang dan mencari solusi, sebaiknya kita juga beristirahat sejenak" ucap Qing se.
"Aku setuju dengan Qing Se, aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa pergi dari sini" ucap Jhin Tian.
__ADS_1
mereka memutuskan untuk beristirahat dan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana meski begitu Jhin Tian juga terus berfikir aapa yang menghalangi jalan mereka.
mereka makan dan minum sambi berfikir apa yang terjadi, sebelum Gi Kung mengejutkan mereka.
"Aku tau..!" ucapnya dengan keras.
"Astaga Gi Kung bisa tidak kau pelan pelan, kau Membuatku terkejut" ucap Yan Sha Dengan kesal.
" maafkan aku putri Aku habya terlalu bersemangat" ucap Gi Kung sambil mengaruk tengkuk belakangnya.
Jhin Tian mengelengkan kepalanya.
"Apa yang membuatmu begitu bersemangat Gi Kung" tanya Jhin Le.
"Pangeran, aku mengetahaui akar dari masalah kita" ucqp Gi Kung.
"Sungguh, memang apa masalahnya" tanya Jhin Tian.
"Pikiran kita" ucap Gi Kung .
"Pikiran, bagaimana bisa" tanya Jhin Le.
"Ah aku mengerti sekarang, yang ingin Gi Kung Jelaskan adaalh, kita tidak berfikir kedepan namun kita semua masih memikirkan tentang kematian orang oramg itu dan itu membuat kita hanya berputar putar saja, kita seharuanya memikirkan masa depan dan menjadikan masalalu adalah sebuah pelajaran" ucap Qing Se.
"Jadi seperti itu pemecahannya, memang benar aku masih memikirkan kejadian Yang baru saja kita alami hingga tidak bisa memikirkan yang kita alami saat ini, dan jujur saja aku hanya mengikuti jalan yang ada bukan apa yang harus kita lakukan" ucwp Jhin Le.
"Baiklah Sepertinya kita harus mengabaikan sejenak masalalu itu, kita harus memulai perjalanan ini kan" ucap qi Val.
"Tentu saja, sekarang ayo kita lanjutkan" ucap Jhin Tian.
"Entah mengapa aku merasa malas" ucap Muo Sie.
"Kau tidak boleh malas seperti itu, sekarang berdiri dan ayo kita cari kunci selanjutnya" ucap Yan Sha sambil membantu Muo sie berdiri.
"Iya baiklah, jika bukan karena perintah ayahku aku tidak akan terlibat semua masalah ini" kesal Muo Sie.
"Tapi jika kau tidak ikut kau tidak akan mendapat teman seperti kami lagi" ucap Yan Sha.
...
..
__ADS_1
.
.