Pendekar Phoenix Suci

Pendekar Phoenix Suci
CH 204. jika kau boleh kenapa kami tidak


__ADS_3

" bgaimana caranya pangeran" tanya Qing Se dengan wajah penasaran.


"Aku tidak yakin tapi, jika tadi kita satukan bola bola ini memberikan reaksi, apakah mungkin jika kita satukan bola bola itu di dalam cawan mungkin..."


"Aku mengerti " ucap Qing Se dan diangguki oleh Jhin Tian dengan tatapan Serius.


"Mari mulai" ucap Jhin Tian.


"Baiklahh" ucap Mereka semua.


mereka Lalu meletakkan sembilan bola yang menjadi sembilan kunci kedalam cawan yang ada ditengah ruangan itu.


Dan benar saja Cahaya Terang kembali bersinar membuat mereka semua menutup mata, hingga akhirnya mereka mulai membuka mata dan.


"Aaaaaaaaaaaa..........." Mereka semua berteriak karena saat ini mereka seperti berada di jurang tanpa dasar.


Tak ada yang bisa mereka lakukan energi spiritual mereka seakan semua energi mereka hilang dan mereka seperti manusia biasa yang tak mempunyai apapun selain harapan.


Jhin Tian melihat kebawah Jurang gelap, dia menutup matanya.


"Bagaimana kita bisa keluar dari sini" teriak Yan Sha.


"Aku juga tidak tau, energiku tidak bisa digunakan sama sekali" teriak Jhin Le mereka semua harus berteriak karena jarak yang cukup jauh.


"aku tidak mengerti ini apa kita hanya bisa berharap pada takdir" ucap Qing se.


mendengar itu Jhin Tian langsung membuka matanya.


"Gunung harapan, tujuh harapan..?" ucap Nya pelan.


Jhin Tian lalu kembali menutup matanya.


"Jika aku bisa berharap kali ini aku mohon selamatkanlah kami, jika harapanku terlalu tinggi maka selamatkanlah kawan kawanku, hari ini selama di gunung harapan aku telah mengurungkan niatku untuk berharap dan memilih untuk mengunakan kemampuanku sendiri, maka hari ini dari tuju harapan ku harap Semua temanku selamat" batin Jhin Tian lalu membuka matanya.


Tak Lama setelah itu dari bawah mereka melihat cahaya.


"Apa itu dasarnya" tanya Yu Nan.


"Dari ketinggian ini dan kecepatan ini aku yakin kita tidak akan selamat" ucap Huang Tei.


Jhin Tian lalu menvoba mendekatkan diri pada mereka semua dan mengandeng tangan yan Sha dan Jhin Le.


"Percayalah padaku kita akan selamat" ucap Jhin Tian agak kurang jelas karena tekanan angin.


mereka saling pandang dan tersenyum kemudian mulai mendekatkan diri masing masing dan saling ememgang tangan.


Cahaya itu mulai semakin terang dan semakin terang, Jhin Tian dan yang lainnya menutup matanya.


"Jika aku harus mati hari ini maka tolong selamatkanlah pangeran kami Jhin Tian, dia telah mengorbankan banyak hal untuk ku" batin Mereka semua kecuali Jhin Tian.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi tekanan disana semakin berat oksigen mulai berkurang, mereka semua masih terus menutup matanya dan terus berharap didalam hati.


"Ak aku kesulitan ber na fas" ucap Yan Sha dengan terbata bata.


"Bertahanlah sebentar lagi Yan Sha" ucap Jhin Tian yang semakin mengeratkan pegangannya ketangan Yan Sha.


Tanpa sadar sebuah bola cahaya keluar dari dahi masing masing dari mereka dan seketika itu pula mereka merasa menginjak sesuatu.


Satu per satu dari mereka mulai membuka mata melihan hamparan Pasir yang sangat luas.


"Hah apa aku sudah mati" ucap Qi Val.


"Ayah ibu maafkan akuu " ucap huang tei sambil menangis.


"Aku tidak menyangka kita mati semudah ini" ucap Gi Kung.


"kita belum mati" Ucap jhin Tian.


"Hah" ucap Huang Tei dan Qi Val bersamaan.


"Bodoh, jika kita mati apa mungkin kita masih menginjak tanah" ucap Qing Se.


"Berhentilah berdebat dan ayo pergi" ucap Jhin Le.


mereka mulai melangkah namun baru beberapa langkah mereka menghentikan langkahnya.


Brukkkk....


"Yu Nan hei jangan bercanda bangun lah" ucap Huang tei.


"Muo sie, hoii kalian bertiga ini kenapa" kesal Qi Val.


"sha yan Sha bangun.. sepeetinya mereka ketakutan saat tadi" ucap Jhin Tian.


"Aku juga takut tapi ... ehh kenapa kalian melihat ku" ucap Huang tei dengan binggung.


"Barusan kau mengakui kau takut...?" tanya Qi Val memastikan.


"Hah benarkan, tidak tidak aku tidak mengatakannya, kalian salah dengar" elak Huang tei dengan gugup.


"Yah sebenarnya kau memakluminya, siapa yang tidak takut Berjam jam Melewati jurang yang gelap tanpa tau hidup dan mati, jujur saja kakiku gemetar saat merngingat kejadian itu" ucap Qing Se.


"Apapun itu kita beruntung bisa selamat, sebaiknya kita cari tempat istirahat, disini terlalu panas untuk mereka" ucap Jhin Tian.


mereka mulai mencari tempat, tapi dipadang pasir seluas itu didak ada satupun pohon yang berdiri membuat mereka cukup kesulitan.


"Tunggu dulu, diarah utara aku melihat Sebuah gua, " ucap Qi Val sambil membopong Tubuh Muo Sie ala bridal style.


"Aku merasakan aura aneh dari sana" ucap Jhin Le.

__ADS_1


"Kita tidak bisa memikirkan itu sekarang, lebih baik kita pikirkan Tentang , Yan Sha, Yu Nan dan Muo Sie" jelas Jhin Tian.


"Yang dikatakan pangeran memang benar, disini juga terlalu panas, kita tidak mungkin mempertaruhkan keselamatan mereka" ucap Qing Se.


"Baiklah Sudah diputuskan, ayo kesana" ucap Jhin Tian.


mereka mulai melesat kearah Gua, Meski Gua itu cukup jauh mereka tidak berhenti begitu saja.


Cuaca yang sangat panas membuat stamina mereka menurun dengan cepat namun tidak dengan semangat.


Teman adalah segalanya, itulah yang dipikirkan mereka saat ini, bukan yang lainnya.


"Hah hah hah.. akhirnya" mereka semua terengah engah karena berlari, yah meski energi spiritualmereka telah kembali namun Tetap saja itu tidak bisa berguna disaat seperti ini.


mereka memasuki Gua itu, Pintu masuknya cukup tertutup pasir namun segera dibersihkan oleh Gi Kung Hingga akhirnya mereka bisa masuk.


Jhin Tian melepas Jubahnya yang akan digunakan sebagai alas mereka bertiga, karean Jhin Tian tidak bisa mengakses masuk Ruang dimensi.


Yan Sha dan yang lainnya nuga tak kunjung bangun padahal hari mulai malam dan Huang Tei sudah emmberikan mereka obat seadanya, karena dia juga tidak bisa membuka ruang Obatnya.


Malam itu Jhin Tian duduk di mulut Gua memandang hamparan pasir luas.


meski disiang hari sangat panas namun saat malam udara disana sangat dingin.


"Apa yang kau fikirkan pangeran" tanya Qing Se yang baru saja menghampiri Jhin Tian, dan yang lainnya masih didalam.


"Entahlah Qing se, meski terlihat kita hanya selangkah lagi namun ini terasa berat bagiku.... hampir saja nyawa kalian menjadi taruhannya" ucap Jhin Tian.


"Jika pun itu terjadi bahkan kami siap untuk itu" ucap Qing se dengan senyum khasnya.


Jhin Tian menatap Qing Se dengan serius.


" mengapa seperti itu" tanya Jhin Tian.


"Aku tidak perduli berapa banyak aku bicara tapi, kau adalah seorang pahlawan bagi kami, jika kau saja siap mati untuk kami kenapa kami tidak" ucap Qing se yang membuat Jhin Tian tersenyum hangat.


Senyum yang selama ini menjadi ciri Khas dari pangeran Suku Es itu benar benar membuat hati orang yang melihatnya menjadi damai.


.


.


.


.


.mon maaf baru up, tadi ketempat shabat autor lagi, trus pulangnya mau ngetik sih niatnya eh malah ketiduran mon maaf semuanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2