
Dihari berikutnya mereka berkumpul untuk berangkat, ling yue terus menempel pada Jhin Tian seakan tidak ingin terpisah.
"Aku akan pergi sekarang kau jaga dirimu baik baik, dan anak ayah jaga ibumu ya kau jangan membuatnya kesulitan" ucap Jhin Tian sambil.berlutut dihadapan Ling yue dan mengelus perut Ling Yue.
"Ling Yue aku akan memastikan suamimu tidak bisa berbuat macam macam" ucap Yan Sha.
" memang aku akan melakukan apa" tanya Jhin Tian.
"Jangan kira aku tidak tau kau itu selalu menebar pesona" ucap Yan Sha.
"Aku tidak melakukannya mereka saja yang terpesona" elak Jhin Tian.
"Sudah lah jangan bertengkar lagi, ayo kita berangkat " ucap Qing Se
Ling Yue masih tidak bisa menahan air matanya.
"Kumohon jangan membuatku merasa bersalah dengan menangis, aku akan berangkat" ucap Jhin Tian sambil mengusap air mata Ling Yue.
Ling Yue tersenyum dan mengangguk, jhin tian juga membalasnya dengan senyuman.
"Ayah aku akan pergi, tolong jaga Istri dan juga anakku juga ayah harus selalu menjaga kesehatan" ucap Jhin Tian.
" berjayalah putraku, aku pasti akan memastikan menantu dan cucuku baik baik saja, kali ini ayah bergantung padamu" ucap Jhin Suo dan dingguki oleh Jhin Tian.
setelah memberikan hormat mereka melesat kearah perbatasan suku api karena Muo Sie sudah menunggu mereka disana.
"Cih lamban" ucap Muo Yi dengan wajah Arogannya.
"Kauu...."
"Tenanglah Yan Sha, maaf putri sudah membuatmu menunggu lama, ayo kita berangkat sekarang" ucap Jhin Tian sambil menahan Yan Sha yang sudah emosi.
mereka berjalan menuju Gunung Tujuh Harapan.
Disebut sebagai gunung Tujuh Harapan karena selama disana mereka hanya bisa berharap dan berusaha, disana juga ada tujuh Rintangan Yang sangat sulit berbagai ilusi terbentuk digunung itu.
Perjalanan menuju Gunung Tujuh Harapan membutuhkan waktu sekitar Satu Bulan dan selama itu mereka semua selalu bercanda bersama, mereka hanya melewati hutan tak ada kehiduoan disekitar gunung itu.
Saat ini mereka sedang beristirahat ditengah hutan karena hari sudah menjelang malam. Seperti biasa Gi Kung selalu mencari binatang buruan bersama Qi Val sementara Huang Tei dan Jhin Tian pergi mencari air, Qing Se dan Jhin Le membangun tenda, sementara Yan Sha dan Yu Nan menyiapkan bahan makanan, dan terakhir Muo Sie hanya bersantai dan melihat tanpa membantu membuat Yab Sha dan Yu Nan geram tapi Jhin Tian selalu melarang mereka bertengkar dengan Muo Sie.
"Muo Sie bisakah kau membantu kami jangan hanya melihat" ucap Yu Nan yang sudah tak tahan.
"Ck kau pikir aku mau melakukan hal seperti itu cih" ucap Muo Sie sambil memutar Bola matanya jengah.
"jika begitu kau jangan makan" ucap Yan Sha sementara Qing se dan Jhin Le tidak peduli dengan para wanita itu mereka sibuk membangun tenda.
__ADS_1
"Aku tidak..... ' kruuukkkk' ahh sial baiklah aku akan membantu" ucap Muo Sie dia ingin menolak namun perutnya berkata lain.
Yan Sha dan Yu Nan tertawa kecil melihat itu.
"Kemarilah dan Duduk disini" ucap Yu Nan.
"Jangan mememrintahku" ucap muo Sie.
"Ayolah Muo Sie duduk dan potong itu jangan membantah" ucap Yan Sha.
Yan Sha dan Yu Nan melakukan tugasnya sembari bercanda, bahkan lama kelamaan Muo Sie juga ikut bercanda bersama mereka, hal itu tidak lepas dari pengamatan Qing Se dan Jhin Le mereka berdua tersenyum senang.
"Bulankah itu hal baik pangeran dalam waktu kurang dari sebulan Yu Nan dan Yan Sha berhasil meruntuhkan kesombongan Muo Sie" ucap Qing Se.
"Itu benar setidaknya nanti dia tidak akan merasa terpaksa saat membantu kita" ucap Jhin Le.
"Itu memang benar, tapi ini dimana pangeran Tian dan Huang tei tak biasanya mereka mengambil air begitu lama" tanya Qing Se.
"Ditempat ini sangat jauh dari sungai mungkin mereka masih mencarinya, sebaiknya kita tunggu mungkin sebentar lagi" ucap Jhin Le.
mereka berdua lalu mengobrol bersama setelah tenda telah selesai dibuat.
Tak lama setelah itu Jhin Tian dan Huang Tei datang
"Kami datang..." teriak Huang Tei.
"Aku berkata pada pangeran Le bukan Denganmu" ucap huang Tei sambil menjulurkan lidahnya.
"Kauu..." Yu Nan kehabisan kata katanya.
"Tumben sekali kalian lama" tanya Jhin Le setelah Jhin Tian meletakkan air yang ia bawa.
"Sungai disekitar sini sangat bau jadi kami harus mencari danau" ucap Huang Tei.
"Kenapa bisa bau" sahut Yu Nan.
"Aku tidak tau, jika kau penasaran pergi dan lihatlah sendiri" ucap Huang Tei.
"kali ini aku serius apakah warna air itu agak kehitaman atau Coklat pekat mungkin" tanya Yu Nan Dengan wajah serius.
"Iya warna nya memang sedikit kehitaman, aku tidak mengerti mengapa bisa seperti itu, apa kau tau sesuatu" tanya Jhin Tian.
"Sepertinya iya, huang Tei bawa aku kesungai itu" ucap Yu Nan.
"Kenapa harus aku... ehhhh " Yu Nan langsung menarik Huang tei.
__ADS_1
"Mereka itu kenapa" tanya Qing Se.
"Yu Nan itu hanya ingin berdua dengan huan Tei" ucap Yan Sha.
"Bagus jika mereka menikah bukan" ucap Jhin Le.
" mereka berdua masih sama sama sombong tidak ingin mengakui rasa masing masih" ucap Jhin Tian.
"Memang tidak salah mereka berdua itu memang sangat aneh" ucap Yan Sha.
"Oh ya dimana Gi Kung dan Qi Val mereka belum selesai" tanya Jhin Tian.
"Seperti yang kau lihat mereka belum kembali" ucap Jhin Le.
"Biar aku yang menyusul mereka" ucap Qing Se.
Baru beberapa langkah Qing Se berjalan Gi Kung danQi Val telah sampai dengam membawa banyak buah buah an dan juga hewan buruan.
"Kau mau pergi kemana pangeran Se" tanya Qi val.
" tadinya mau menyusul kalian tapi kalian malah sudah disini" ucap Qing Se
"hahaha baik sekali kau mau menyusul kami" ucap Gi Kung.
"Sudahlah biarkan Yan Sha dan Muo Sie memasak hewan itu dan aku akan mencuci semua buah buahan" ucap Jhin Tian.
mereka membagi Tugas, cukup lama mereka menunggu masakan yang dibuat Yan Sha Dan Muo Sie. akhirnya matang
"Kurasa Yu Nan hanya ingin mengelak dari tugasnya" kesal Yan Sha.
" tau begini aku tadi juga pergi" ucap muo Sie.
"aku akan menghajarmu jika kau melakukan itu" ucap Yan Sha.
Kini mereka hanya menunggu Huang Tei dan Yu Nan sambil bercanda dan tertawa, Bahkan muo Yi merasa sangat nyaman sekarang, memiliki teman untuk bercanda dia biasanya hanya akan berlatih persenjataan , bahkan sekedar berbicara dengan saudara saudaranya dia tidak sempat ayahnya akan memaksanya untuk terus berlarih, muo Xi tidak ingin mempunyai anak perempuan yang lemah jadi dia memaksa Muo Sie untuk terus berlatih.
.
.
.
Muo Sie
__ADS_1
.