Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Terbongkar


__ADS_3

Andin dan kawan-kawannya pergi ke sebuah perusahaan yang memang sudah membuat janji dengan mereka. Sebenarnya hari sudah sore, namun karena sang CEO sedang melaksanakan meeting di luar. Andin dan teman-temannya pun diminta untuk menemuinya di restoran hotel Bintang.


Tepat pukul 5 sore, Andin dan kawan-kawan tiba di restoran tersebut.


"Maaf tuan, kami terlambat !" ujar Andin sambil membungkukkan badannya.


"Ah, tidak apa-apa. Kebetulan saya baru selesai meeting. Ayo, silakan duduk !" perintah CEO perusahaan itu.


Andin dan kawan-kawannya pun duduk.


"Jadi, apa motivasi kalian untuk magang di perusahaan saya ?" tanya CEO itu, langsung.


"Ehm...ehm..., Sebenarnya kami tertarik dengan perusahaan yang tuan pimpin. Di samping kami melihat omset perusahaan tuan yang terus meningkat, kami juga tertarik dengan cara kinerja karyawan tuan yang begitu disiplin. Mudah-mudahan, dengan kami bisa magang di sana, kami bisa menyerap ilmu yang tuan ajarkan kepada para bawahan tuan." ujar Andin, lugas.


"Hmm..., menarik...!" gumam CEO itu, sambil mengusap dagunya. "Apa kau membawa proposal dan surat rekomendasi dari kampusnya ?" tanyanya.


Andin mengangguk, kemudian memberikan berkas-berkas yang sudah disiapkannya untuk kebutuhan magangnya.


Sang CEO menerima berkas-berkas itu. Dia kemudian membolak-balik berkas-berkas itu. Cukup lama dia mempelajari berkasnya. Kemudian dia menuliskan sesuatu di dalam berkas itu.


Andin dan kawan-kawannya menunggu keputusan CEO dengan harap-harap cemas.


"Baiklah, besok kalian temui bagian HRD kami, namanya bu Gina. Bilang padanya, jika aku sudah bertemu kalian. Besok kalian hanya tinggal memberikan semua berkas ini. Aku sudah memberinya note di salah satu berkas ini. Kalian tunjukkan saja padanya..!" perintah CEO itu


"Baiklah, tuan !" seru Andin gembira.


"Oke, saya rasa sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Selamat bergabung di perusahaan kami. Saya permisi dulu, nikmati saja makanannya !" ujar sang CEO tersebut sambil menjabat tangan para karyawan magangnya.


"Terima kasih, tuan..!" ujar Andin dan kawan-kawannya seraya membungkukkan badan mereka.


Setelah CEO itu pergi, mereka pun mulai asyik menikmati hidangannya seraya berbincang-bincang.


"Eh, gue nggak nyangka, ternyata CEO-nya baik banget." ujar Laura.


"Iya nih, beda banget ya, sama yang diberitakan di media-media sosial..!" Mita ikut menimpali.


"Makanan kita jangan hanya bisa mendengarkan omongan orang saja ! Tapi harus dibuktikan dengan jelas, supaya kita nggak salah menilai orang." ujar Andin penuh ketegasan.


" Deuh...lo nyindir gue, Ndin ?" tanya Laura.


"Ish, kamu ini..! Jangan ge'er yaa..! Gue nggak pernah nyindir lo, gue cuma ngerasa, gue belum bisa percaya jika gue belum memergokinya sendiri." ujar Andin.


Laura menggedikkan bahunya. "Terserah lo, deh..!" ujar Laura, pasrah.


Mereka pun melanjutkan makannya sambil sesekali bercanda dan membicarakan magang yang akan mereka jalankan mulai esok hari.


"Pulang yuk !" ajak Andin pada kedua temannya.

__ADS_1


"Cepet banget Ndin, baru juga jam segini !" ujar Mita.


"Ish, besok kan hari pertama kita magang, jadi kita nggak boleh telat. Emang lo mau kita punya image buruk di hadapan para senior ?" tegur Laura.


"Iya, Laura bener, yuk ah...!" ajak Andin seraya menarik tangan Mita.


"Iya...iya...!" jawab Mita sambil mengerucutkan bibirnya.


Andin dan Laura pun sedikit tergelak melihat perbuatan Mita.


Mereka berjalan beriringan menuju lobi hotel. Namun...


"Eh, Ndin...! Itu Cecilia kan...?" tunjuk Laura pada seorang gadis yang tengah duduk di sofa lobi sambil membaca majalah.


"Iya, lo bener Ra !" Mita membenarkan penglihatan Laura.


Ngapain dia di hotel ?" tanya Laura lagi.


"Jangan-jangan, dia mau uenak-uenak, Ra..!" ujar Mita asal bicara.


"Ish..., kalian ini..., suudzon terus !" seru Andin. "Udah ah, samperin yuk...!" ajak Andin.


"Eeh...tunggu Ndin, ada Ajay noh...!" gumam Laura sambil menarik tangan Andin.


Andin melirik ke arah yang ditunjukkan Laura. Memang benar, tampak Ajay di meja resepsionis sedang mengobrol dengan salah satu bellboy sambil memegang kunci kamar. Setelah itu Ajay menghampiri gadis yang tengah duduk di sofa itu.


Andin tercengang melihatnya, saat Ajay mencium pucuk kepala gadis itu. Dadanya mulai bergemuruh menahan kemarahan. Rasanya Andin ingin segera menghampiri mereka, namun ini bukan waktu yang tepat.


"Maaf, sudah membuatmu lama menunggu !" ujar Ajay seraya mencium pucuk kepala Cecilia.


Cecilia mendongak, kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa kok, sayang..!" jawabnya seraya mengusap pipi Ajay.


Ajay meraih tangan itu, menariknya kemudian mengecupnya. "Ayo...!" ajaknya.


Cecilia mengangguk, dia pun bangun dan mengikuti ajakan Ajay.


Mereka berjalan beriringan saling menautkan jari jemarinya dan saling melempar senyum penuh arti.


"Eh..., awas..., mereka mendekat. Ayo sembunyi..!" ujar Laura menarik tangan Andin dan Mita untuk bersembunyi di balik pintu yang menghubungkan restoran dan lobi hotel.


Ajay menekan tombol lift, menunggu sejenak. Selang beberapa detik, pintu lift pun terbuka.


Andin segera berlari ke arah lift setelah melihat pintunya tertutup. Lantai 9....! gumam Andin dalam hati. Diam beberapa menit sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menuju meja resepsionis.


Beruntungnya, di meja resepsionis itu berdiri salah satu karyawan yang memang sangat mengenal Andin sebagai kekasihnya Ajay.


"Selamat malam, mbak...!" sapa Andin, berusaha bersikap seperti biasanya.

__ADS_1


"Eh, mbak Andin..! Malam juga, mbak !" jawab resepsionis.


"Mbak, aku boleh pinjam kunci duplikat kamar Ajay, nggak..? Hari ini aku ada janji dengan Ajay. Tapi kebetulan Ajay lagi meeting dulu sama rekan kerja papihnya, dan dia membawa kunci kamarnya. Boleh kan..?" ujar Andin memasang puppy eyes.


"Iya mbak, tuan Ajay pernah berpesan pada saya untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda. Karena anda wanita yang sangat berarti baginya. He..he...., sebentar ya mbak, saya ambilkan dulu."


Sang resepsionis pun pergi ke belakang untuk mengambilkan kuncinya. Sepersekian detik kemudian dia kembali lagi ke mejanya.


"Ini, silakan mbak !" ujarnya seraya menyerahkan kunci tersebut.


Andin menerima kunci itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun kembali ke tempat di mana para sahabatnya menunggu.


"Bagaimana, Ndin ? Apa yang kamu bicarakan dengan mbak itu ?" tanya Mita.


Andin memperlihatkan kunci kamar Ajay. Laura yang IQ-nya lebih tinggi daripada Mita, langsung bisa mencerna apa yang akan dilakukan sahabatnya.


"Apa kamu yakin, Ndin ?" tanya Laura penuh keraguan.


Andin hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Laura.


"Jangan memaksakan diri, Ndin. Aku takut kamu terluka nantinya." ujar Laura.


"Terluka sekarang ataupun nanti, itu tidak akan ada bedanya. Aku hanya ingin melihat kenyataannya. Aku sudah memergoki kebersamaan dia hari ini, dan aku harus tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di sini. Aku bisa mati penasaran Ra, jika aku sampai mengabaikan kejadian hari ini." jawab Andin mencoba menguatkan hatinya.


"Baiklah, kita akan selalu mendukungmu, Ndin. Aku yakin kamu pasti kuat." ujar Laura menggenggam erat tangan sahabatnya.


Andin mengangguk. Mereka pun berjalan menuju lift. Menekan tombol angka 9. Lift terbuka, dan mereka pun masuk. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya lift berhenti di lantai 9.


Dengan langkah terburu-buru Andin menuju kamar 304. Kamar yang selalu menjadi tempatnya menghabiskan malam panjang penuh gairah bersama Ajay.


Tangan Andin bergetar saat memasukkan kunci itu ke lubangnya.


Trek


Kunci berhasil dia buka. Perlahan, Andin menguak pintu kamar itu. Berjalan mengendap menuju ruang kamar yang terpisah oleh sekatan dinding kaca. Terdengar suara desahan dari ruang kamar. Hati Andin semakin terasa sesak membayangkan sesuatu yang tengah terjadi di dalam kamar.


Sreekkk...


Secepat kilat tangan Andin menggeser pintu kaca yang menjadi perantara ruang tamu dan kamar. Dirinya diam mematung melihat pemandangan di hadapannya.


Sepasang insan saling berpeluk mesra di atas ranjang tanpa sehelai pun busana. Keduanya menoleh bersamaan saat terdengar pintu kamar bergeser terbuka.


Sang pria diam terkesima melihat tatapan nanar dari seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Sedangkan sang wanita langsung mendorong tubuh sang pria yang berada di atasnya, kemudian segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Beraninya kau....!!"


Bersambung....

__ADS_1


Semoga masih suka ceritanya...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2