Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Berita Kematian


__ADS_3

"Kak Bagas, pih ! Suaminya kak Kyara, dia adalah kak Bagas !"


Ternyata Bima sudah berdiri di ambang pintu. Bima memutuskan untuk pulang ketika mendapatkan kabar jika kakaknya akan segera dipindahkan ke klinik dokter Nita yang berada di kota J.


"Jadi, kabar itu benar adanya." gumam nyonya Diana, perlahan.


Semua orang langsung menatap nyonya Diana.


"Maksud mamih ?" tanya tuan Ali.


"Hhh....!"


Sejenak, nyonya Diana menghela napasnya. Kemudian...


"Pada saat mamih meminta Kyara untuk kembali kepada Ajay, Kyara menolaknya. Dia mengatakan jika dia sudah menikah. Mamih pikir itu hanya akal-akalan Kyara karena masih membenci Ajay, karena itu mamih mengancamnya dan mengatakan kalau mamih akan berusaha untuk memisahkan mereka. Bahkan mamih juga meminta bantuan dokter Yosef untuk menekan Nita supaya selalu mengajak Kyara dalam proses penyembuhan Ajay." ucap Diana lirih.


"Astaghfirullah mamih...! Kenapa mamih tega melakukan itu ? Apa masih belum cukup penderitaan kak Kyara karena keegoisan keluarga kita ?" ujar Bima geram.


"Maafkan mamih Bim ! Pikiran mamih memang sempit. Melihat kakakmu dengan kondisi seperti itu, membuat mamih merasa tertekan. Mamih rasa, setiap ibu akan melakukan usaha apa pun demi kesembuhan anaknya !" nyonya Diana mencoba membela diri.


"Tapi bukan berarti mengorbankan kebahagiaan orang, mih ? Cukup mih, jangan diteruskan lagi ! Apalagi sekarang kita sudah tahu siapa suaminya Kyara. Bagas sudah seperti anak kita sendiri, jadi Kyara masih menantu kita. Papih mohon, jangan ganggu mereka lagi, mih !" pinta tuan Ali.


"I...iya pih...! Mamih menyesal..! Tapi bagaimana jika Ajay sampai tahu semua ini ? Mamih takut dia akan kembali depresi." nyonya Diana merasa cemas memikirkan nasib anaknya ke depannya.


Dokter Nita memegang tangan nyonya Diana.


"Tenanglah tante, kita akan memberitahukannya secara perlahan. Yang terpenting saat ini, kita harus memberikan dukungan kepada Ajay untuk sembuh. Nita yakin, depresi Ajay bukan karena dia masih menginginkan Kyara, tapi karena penyesalan dia yang telah menyia-nyiakan gadis seperti Kyara. Seiring berjalannya waktu, Nita yakin, Ajay pasti bisa memupus cintanya kepada Kyara." ujar dokter Nita mencoba menenangkan nyonya Diana.


"Semoga saja...!" jawab nyonya Diana.


"Jadi, kapan kak Ajay akan dipindahkan dok ?" tanya Bima.


"Kemungkinan besok, dek !" jawab Nita.


"Panggil saja saya Bima, dok !" pinta Bima.


"Ah, ya...! Kalau begitu, Bima juga tidak usah memanggilku dokter, panggil saja kak Nita, seperti Bima memanggil kakak pada kak Kyara."


Bima tersenyum.


***


Ciiiiiitttt....


Braaakkk....


Srreeeeekkkk....


Brugghh....


Dum....


Dum...


Blug....


Bumm...


Duaaarrrr......


Si pengendara yang sedang ugal-ugalan merasa kaget ketika melihat mobil keluar dari hutan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sebisa mungkin dia menginjak rem nya untuk menghindari tabrakan. Namun sayangnya, karena kedua kendaraan itu sama-sama melaju di atas kecepatan maksimal, akhirnya tabrakan pun tak bisa dihindari.


Mobil yang dikendarai Jeremy dan Bagas terseret hingga ke tepi jurang. Setelah itu kedua mobil kembali saling berbenturan dan mengakibatkan terhempas ke dalam jurang. Kedua mobil itu berguling di sekitar tebing dan akhirnya jatuh ke dasar jurang. Percikan api mulai terlihat di kap mobil bagian depan. Tak lama kemudian, sebuah ledakan yang sangat besar pun terjadi. Secepat kilat, kobaran api menyambar dan menghanguskan kedua mobil itu.


Mobil kedua yang sedang berbalapan segera berhenti. Sang pengendara tersentak kaget melihat ledakan dan kepulan asap yang membumbung tinggi.


"Bro ! Bagaimana ini ?" tanya si pengendara kepada temannya.


"Kita harus lapor polisi, man !" jawab temannya.


"Lo gila ! Kita bisa ketangkap polisi nanti, terus kita ditanyai sebagai saksi !"


"Tapi kita tidak punya pilihan lain ! Lo tau keadaan di sini sangat sepi. Jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang di sekitar sini. Ayolah man ! Setidaknya kita bisa sedikit punya rasa kemanusiaan, lo nggak kasian apa sama temen kita ! Kalo kita lapor polisi, mungkin mereka bisa menemukan jasad teman kita !"


"Lo yakin, si Anwar udah mati !"

__ADS_1


"Lo nggak lihat jurangnya sedalam apa ? Noh, apinya sudah sangat besar ! Cepat lapor, sebelum apinya merembet ke perkebunan sawit yang ada di bawah !"


Si pengendara mobil pun segera menghubungi polisi. Ah, meskipun berandalan, tapi mereka masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Mereka sadar, jika semuanya dibiarkan begitu saja, bukan hanya kedua mobil itu yang akan habis terbakar, namun lahan-lahan di sekitarnya pun akan terkena imbasnya.


Satu jam kemudian, 3 unit mobil pemadam kebakaran dan 2 unit mobil lakalantas beserta 2 unit ambulance tiba di sana. Satuan para penyelamat itu bergerak cepat, sedangkan pengendara mobil dan temannya yang melaporkan tadi di giring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Hari sudah menjelang magrib, namun kobaran api itu belum juga padam, bahkan sesekali terdengar bunyi ledakan-ledakan kecil dari arah kedua mobil yang sedang terbakar itu. Curam dan terjalnya tebing jurang, membuat tim penyelamat kesulitan untuk mencapai titik akhir jatuhnya kedua mobil itu.


Api mulai merembet ke lahan perkebunan yang ada di sekitar dasar jurang. Satuan damkar pun menelpon kantor pusat untuk meminta pengiriman beberapa unit mobil damkar. Setengah jam kemudian, 3 unit damkar tiba di lokasi kejadian, dan 3 unit lagi dikerahkan melalui jalan kecil menuju perkebunan sawit di dasar jurang.


Pukul 23.20, api mulai bisa dipadamkan. Tim penyelamat sepakat untuk mencari korban keesokan harinya, mengingat waktu sudah sangat malam dan juga rasa lelah yang mereka rasakan. Kesepuluh anggota tim penyelamat akhirnya mendirikan dua buah tenda, sejauh 5 km dari titik kecelakaan. Mereka khawatir akan terjadi ledakan kembali.


***


Sepanjang malam, Kyara tidak bisa tidur. Entah kenapa hatinya begitu gelisah. Ada rasa sesak yang menghimpit dalam dadanya. Ini malam ketiga suaminya tidak pulang. Kyara benar-benar menyesal dengan tindakannya tempo hari.


Seharusnya aku tidak menemui Ajay..., Ya Tuhan, kenapa aku benar-benar bodoh ? Aku telah melepaskan kepercayaan suamiku demi orang yang telah bertubi-tubi melukaiku. Kakang..., maafin Kya ? Kya mohon, cepat pulang kang...! Kya nggak sanggup...! Kya nggak mau hidup tanpa kakang...! Kya butuh kakang...! Anak kita juga sangat membutuhkan abapnya...! Kakang pernah berjanji, jika Kya hamil, kakanglah yang akan selalu menemani Kya kontrol. Sekarang Kya sudah hamil, kang ? Kya sedang mengandung anak kita, Kya mohon kembalilah kang...!


Tanpa terasa, air mata jatuh berderai di kedua pipi Kyara. Tak sanggup lagi menahan beban di dadanya, Kyara pun mulai mendekap kedua lututnya di dadanya. Dia pun menelungkupkan wajahnya, kedua bahunya mulai naik turun karena menangis.


Puas menumpahkan bebannya melalui tangisan, Kyara pun merebahkan dirinya. Kedua kakinya masih menekuk. Dia pun mulai tertidur dengan tubuh yang meringkuk, berharap malam akan segera berlalu.


***


Menjelang pagi, tim SAR mulai mendekati lokasi kejadian. Tiba di sana, tampak dua kerangka mobil yang berjarak sekitar 4 meter. Sisa-sisa kepulan asap masih terlihat di bagian kerangka mobil yang telah hangus terbakar itu.


Tim SAR segera mendekati mobil pertama yang jaraknya lebih dekat dari arah mereka datang. Tiba di sana, mereka melihat korban-korban tergeletak tak jauh dari kerangka-kerangka mobil itu. Mereka sudah tidak bisa dikenali wajahnya akibat hangus terbakar.


"Sisir wilayah sekitarnya, barangkali ada korban yang lain !" ujar komandan tim SAR.


"Siap, dan !" ucap serempak anak buahnya.


Komandan tim dan 3 orang anak buahnya segera mengevakuasi kedua korban yang jasadnya telah hangus terbakar. Mereka pun memasukkan kedua jenazah itu ke dalam kantong jenazah. Sementara anak buahnya mulai mendekati mobil kedua dan kembali menyisir wilayah sekitarnya.


"Sepertinya sudah tidak ada korban lagi, ndan !" teriak anggota pertama.


"Apa kau yakin ?" tanya sang komandan.


"Siap ndan ! Saya yakin sekali, karena saya sudah berulang kali menyisir lahan di sekitarnya. Bahkan saya menyusuri nya hingga beberapa ratus meter." jawab sang anggota.


"Baiklah ! Kalau begitu, kita kembali sekarang ! Kita harus segera mengidentifikasi korban dan segera memberitahukan keluarganya." perintah sang komandan.


Baru saja mereka hendak meninggalkan lokasi kejadian, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam sisa-sisa semak belukar yang telah hangus terbakar.


"Ndan ! Sepertinya di sini ada seorang korban lagi !" teriak anak buah kedua.


Sang komandan beserta anak buah yang lainnya segera mendekati sumber suara. Dan ternyata, di sana pun telah tergeletak seorang korban lagi yang sama-sama tidak bisa dikenali kondisinya.


"Angkat dia !" perintah sang komandan.


Ketiga anak buahnya segera mengevakuasi korban tersebut dan kembali memasukkannya ke dalam kantong jenazah.


"Sudah 3 korban yang kita temukan. Sebaiknya kita sisir kembali daerah sekitar, karena mungkin saja terdapat korban yang lainnya. Oke, saya minta semuanya berpencar ke setiap sudut arah mata angin, tepat pukul 12.00 kita kumpul lagi di sini. Bisa di mengerti !" perintah sang komandan.


"Siap ! Bisa, komandan !"


"Bagus ! Berpencar !"


Semua anggota tim pun mulai berpencar untuk mencari korban yang lainnya. Sesekali mereka pun menyemprotkan APAR atau fire extinguisher atau semacam alat yang digunakan untuk memadamkan api kecil, ke sisa-sisa bara yang masih terlihat merah.


Setelah hampir 3 jam mereka menyisir lahan sekitar, akhirnya tepat pukul 12 siang mereka berkumpul di tikum (titik kumpul) yang telah disepakati. Merasa sudah mendapatkan kepastian tak ada lagi korban, mereka akhirnya menyudahi pencarian dan segera membawa korban-korban tersebut ke rumah sakit kota untuk diidentifikasi.


***


Di kantor BA Group


Doni semakin gelisah karena tak kunjung mendapatkan kabar dari bosnya. Doni pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini dia memutuskan untuk pergi ke Samarinda.


Awalnya Doni ingin mengambil penerbangan pagi, namun karena ada 2 meeting yang tidak bisa di cancel, Doni pun memutuskan untuk berangkat setelah pulang kerja.


Doni segera membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja kerjanya. Setelah itu, dia pun meraih jas yang tersampir di sandaran kursinya dan juga tas kantornya. Dia keluar dan segera mengunci ruangan bosnya. Namun saat Doni melintasi meja sekretaris, tiba-tiba telpon yang berada di atas meja itu berbunyi.


"Hallo ! Selamat sore ! Dengan Perusahaan BA Group di sini, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Doni.


"Ah, ya ! Selamat sore pak ! Kami dari kepolisian kota Samarinda, hendak memastikan apakah benar saudara Bagas Anggara merupakan CEO di Perusahaan BA Group ?" tanya seseorang di ujung telpon.

__ADS_1


"Ya..., benar ! Beliau memang CEO kami di sini." jawab Doni.


"Maaf, kalau boleh tahu, saya berbicara dengan siapa ?" lanjut si penelpon.


"Sa.... saya Do.. Doni, pak ! Asisten pribadi tuan Bagas." jawab Doni.


"Ah syukurlah kalau begitu, apa saya bisa meminta nomor keluarga pak Bagas ?" tanyanya lagi.


"Me... memangnya ada apa dengan atasan saya, pak ?" tanya Doni semakin cemas.


"Begini, pak ! Pak Bagas mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai beliau bertabrakan dan jatuh ke jurang. Jenazah beliau sekarang berada di rumah sakit kota Samarinda. Kami berharap, keluarganya bisa segera membawanya untuk bisa dikebumikan secepatnya."


Pluk....


Tangan Doni bergetar hebat hingga gagang telpon pun jatuh di atas meja. Wajahnya seketika pucat pasi mendengar berita kematian bosnya.


Ti.... tidak mungkin....! gumam Doni dalam hati. Doni kembali meraih gagang telpon yang tadi terjatuh.


"A... apa bapak yakin jika jenazah itu tuan Bagas Anggara ?" tanya Doni dengan suara bergetar.


"Untuk itulah kami meminta keluarganya untuk segera datang dan melihatnya agar jenazah bisa teridentifikasi dengan jelas. Karena terus terang, kami mengalami kendala untuk bisa mengenali wajahnya. Tuan Bagas mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Baiklah pak, saya akhiri pembicaraan ini ! Tolong sampaikan kepada pihak keluarga. Kami tunggu kedatangannya ! Selamat sore !"


Seketika kedua kaki Doni seakan tak bertulang. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak mungkin mengabari nona Kyara. Dia pasti shock mendengar berita ini...!


Doni segera berlari menuju lift. Tujuannya saat ini adalah menemui tuan Gunawan di kantornya. Tiba di parkiran, Doni segera menaiki mobilnya dan melajukannya menuju kantor Gun's coorp.


Di tengah jalan, Doni mencoba menghubungi tuan Gunawan.


"Hallo ! Assalamualaikum, tuan ! Apa tuan masih berada di kantor ?" tanya Doni.


.........


"Baiklah ! 20 menit lagi, saya sampai ! Mohon tuan jangan dulu pulang, ada berita penting yang harus saya sampaikan !" ujar Doni.


Doni segera menutup telponnya. Dia pun semakin kencang melajukan kendaraannya. 20 menit kemudian, Doni tiba di depan gedung Perusahaan Gun's coorp.


Doni segera memarkirkan mobilnya. Setelah dia keluar dari mobil, dia segera melangkahkan kakinya lebar-lebar agar bisa segera sampai di ruangan Gunawan.


BRAKK...!


Tanpa mengucap salam, Doni segera membuka pintu ruangan Gunawan dengan kasar.


"Astaghfirullah, Don ! Kamu kenapa ? Kenapa berlarian seperti itu ?" tanya Gunawan heran.


"Ma...heh...heh... maaf...heh..tu... tuan !" jawab Doni terengah-engah.


Gunawan segera mengambil air mineral dari dalam kulkas mininya.


"Santai, Don ! atur napas dulu ! Setelah itu, minumlah !" ujar Gunawan seraya menyerahkan botol air mineral itu kepada Doni.


Doni menerima botol itu, dia kemudian mereguknya hingga tersisa seperempatnya.


"Te... terima kasih, tuan !" ujar Doni seraya mengatur napasnya.


"Sama-sama ! Apa kau sudah merasa tenang ?" tanya Gunawan.


Doni mengangguk.


Gunawan tersenyum, "Baiklah, berita apa yang akan kamu sampaikan hingga membuatmu jauh-jauh mengunjungi kantorku ? Apa tidak bisa disampaikan melalui telpon ?" tanya Gunawan.


"Ma... maaf tuan ! Saya tidak bisa menyampaikannya melalui telpon ! Ini..., ini benar-benar berita yang harus saya sampaikan sendiri kepada tuan !" jawab Doni.


"Baiklah, berita apa Don ?"


"Ki... kita harus segera ke Samarinda detik ini juga tuan !"


Gunawan mengernyitkan dahinya.


"Tapi kenapa ? Ada apa ?"


"Ba... barusan saya mendapatkan telpon dari kepolisian kota Samarinda. Di... dia mengatakan ji... jika tuan Bagas me... mengalami kecelakaan hebat. Pi... pihak kepolisian meminta keluarga tuan Bagas untuk membantu mengidentifikasi korban, karena... wajah tu... tuan Bagas sudah tidak bisa dikenali akibat luka bakar di sekujur tubuhnya..."


"Ti... tidak...! Tidak...! Tidak mungkin...!"


Bersambung....

__ADS_1


Mohon maaf telat up, othor baru selesai melaksanakan ujian daring..


Mohon dukungannya ya...! Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2