Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
When Sisil Meet Aaron


__ADS_3

Batas waktu pendaftaran lomba telah berakhir. Dari ratusan design yang masuk, hanya sekitar 80 design yang berhasil lolos ke babak berikutnya. Termasuk design milik Bagas.


Para peserta yang berhasil lolos diberikan waktu selama sepekan untuk menyiapkan bahan presentasi. Mereka akan mengenalkan design buatannya di hadapan para pemilik saham Adinata Group.


Bagas terlihat sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Dia berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk presentasi nanti. Dia percaya jika proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Karena itu Bagas berusaha keras untuk bisa menghasilkan yang terbaik.


***


"Eh...! Stop...!! Don't run...! Give back my wallet...!" teriak seorang gadis.


Gadis itu terus mengejar laki-laki yang telah mencuri dompetnya. Namun sialnya, dia tidak bisa mengimbangi kecepatan laki-laki itu, hingga pada akhirnya dia pun kehilangan jejak laki-laki yang telah mencuri dompetnya.


Gadis itu hendak kembali ke bandara untuk mengambil kopernya.


"Hufs...! Untung saja gue masih simpan uang di saku jaket ! Haiss...! Tapi bagaimana ke depannya nanti ? Ini kan negara orang ! Gimana gue harus ngehubungi bos, ponsel gue kan gue taruh di dompet itu ! Ah seandainya tadi gue nggak ceroboh ! Shitt !"


wanita itu menendang kaleng bekas minuman yang menghalangi jalannya.


"Ouchh !" tiba-tiba seseorang berteriak dari arah depan.


"Ups ! Sorry sir ! I'm so sorry, i...!"


Belum selesai wanita itu berbicara,


"Lo !"


"Lo !"


Teriak gadis dan pria itu bersamaan.


"Lo ! Bagaimana bisa lo berada di negara ini ?" teriak sang pria.


"Hei, apa maksud lo ngomong kayak gitu !"


"Ngapain lo di sini ? Lo jadi TKW ?"


"Hiss...! Sembarangan lo ngomong ! Gue ke sini untuk urusan kerja !"


"Tuh, bener kan ? Kerja jadi TKW kan ? Udah ngaku aja deh lo !"


"Ish..., sialan ! Dasar cowok rese !"


Wanita itu mendengus kesal dengan tuduhan sang laki-laki. Dia pun akhirnya pergi meninggalkan laki-laki yang tidak pernah akur dengannya sejak awal bertemu.


Dalam perjalanan menuju bandara, tiba-tiba dia ingat tentang sesuatu hal yang sedari dulu ingin ditanyakan kepada laki-laki itu. Dia pun akhirnya kembali mengejar laki-laki yang sudah hampir menjauh dari tempat tadi mereka bertemu.


"Hei tunggu !" teriaknya.


Laki-laki itu menoleh ke belakang. Dia melihat gadis yang dibencinya, berlari kecil mendekatinya. Rambut ikalnya yang terkuncir satu ke belakang, tampak bergerak lincah ke kiri dan ke kanan. Tanpa sadar, seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Hosh... hosh...! Adah...hosh...yang mau gue tanyain sama lo...hosh.. hosh...!"


Gadis itu berbicara dengan napas yang tersengal. Membuat sang lelaki semakin tersenyum lebar melihatnya.


"Ada apa ?" tanyanya ketus.


"Apa kau pernah bertemu dengan Kyara ?"


Deg...!!


Seketika raut wajah laki-laki itu langsung berubah begitu nama orang yang pernah mengisi hatinya kembali terdengar di telinganya.

__ADS_1


Ya ! Laki-laki itu adalah Aaron yang selama 2 tahun lebih mulai mengubur nama Kyara di hatinya. Namun hanya dalam hitungan detik, kuburan nama itu kembali terbongkar. Aaron mendengus kesal mendapati pertanyaan yang membuat hatinya kembali terluka. Tanpa permisi, dia pun membalikkan badannya dan menjauhi wanita itu.


"Tunggu !"


Wanita itu masih terus berteriak. Semakin dia berteriak, semakin cepat Aaron melangkahkan kakinya. Hingga wanita itu berlari mengejarnya. Namun...


"Aaahhhh....!"


Teriakan panjang terdengar melengking di belakang Aaron. Dia pun segera membalikkan badannya. Tampak wanita itu sedang terduduk di jalan sambil memegangi lututnya. Wajahnya terlihat meringis kesakitan.


Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan sekali jika Aaron mengabaikan pemandangan yang berada di depannya.


Ish..., kenapa selalu saja menyusahkan...! batin Aaron. Dia pun segera menghampiri wanita itu.


"Kau tidak apa-apa !"


"Pertanyaan macam apa itu ! Lo nggak lihat lutut gue berdarah !" seru gadis itu.


"Hei , gue nanya lo baik-baik, terus kenapa lo sewot !"


"Wajar gue sewot, pertanyaan lo tuh nggak masuk akal ! Udah tahu lutut gue berdarah, masih ditanya nggak apa-apa ! Lo bisa bedain ngggak mana orang yang baik-baik saja sama yang nggak !"


"Hiss, cerewet sekali ! Ayo gue bantu !"


Laki-laki itu memegang tangan gadis itu untuk berdiri. Tapi, saat wanita itu mulai menapakkan kakinya, tiba-tiba.


"Aww...awww...aww...!" gadis itu malah berteriak keras.


"Ssttt....! Jangan berteriak ! Apa lo tidak lihat orang-orang mulai memperhatikan kita ! Diamlah ! Nanti mereka kira, gue jahatin lo !" ujar Aaron sedikit membentak.


"Ish, apa lo nggak bisa ngomong baik-baik ? Jangan bantak-bentak gue ! Lo nggak lihat heels gue patah ! Kaki gue pasti terkilir, karena itu terasa sakit waktu gue berdiri."


"Aargghh...! Nyusahin aja ! Ayo !"


"Lo mau ngapain !"


"Makan lo !" ujar Aaron kesal. "Naiklah ! Biar gue gendong, emang lo mau kemana !"


"Antar gue ke bandara ! Koper gue ada di sana !"


"What ! Lo gila, ya ! Bandara kan lumayan jauh dari sini !" protes Aaron seraya berdiri dan kembali membalikkan badannya.


"Ya udah, kalau nggak niat nolong, nggak usah sok jadi pahlawan deh !" gerutu gadis itu kesal karena merasa dipermainkan.


"Haiss..., dasar bawel ! Ayo cepat naiklah !" perintah Aaron kembali berjongkok.


Gadis itu mulai naik ke punggung Aaron. Aaron pun berdiri dan segera berjalan menuju bandara.


Tiba di bandara, Aaron segera mendudukkan gadis itu di kursi tunggu.


"Alhamdulillah, kopernya masih ada !" seru gadis itu.


Aaron tergelitik hatinya untuk bertanya, setelah melihat koper besar yang tergeletak di pinggir kursi tunggu.


Hmm, apa yang dia lakukan di negara ini dengan koper yang sebesar itu ? batin Aaron.


"Hei, ngapain lo masih di sini ?" tanya gadis itu.


"Gue nungguin lo di jemput dulu, setelah itu baru gue balik." jawab Aaron.


"Hhhh...!"

__ADS_1


Gadis itu malah menghela napasnya. Tiba-tiba wajahnya berubah sendu, membuat Aaron menjadi bingung di buatnya.


"Pulanglah ! Gue nggak di jemput !" perintah gadis itu.


"Lo nungguin taksi ?" lanjut Aaron.


Kembali gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Terus lo mau kemana ?"


"Gue nggak tahu !"


"Haiss, lo nggak jelas banget sih ! Jangan-jangan, lo mau jadi TKW ilegal ya ?" tuduh Aaron tanpa ampun.


"Enak aja ! Gue lupa lagi nama hotelnya ! Hp gue..!


"Hotel ? Lo jual diri !"


PLakk....!


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi Aaron.


Gadis itu terlihat geram. "Jaga mulut lo ! Gue masih punya iman, ya !"


Aaron melihat gadis itu dengan perasaan bersalah. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa mengontrol ucapannya.


"Sorry !" ucapnya lemah.


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. "Pergilah, gumamnya lirih."


Aaron semakin merasa bersalah melihat air mata gadis itu mulai meleleh di pipinya.


"Maaf !" ujarnya seraya berjongkok di hadapan gadis itu.


"Pergilah !"


"Kau mau kemana, biar ku antar !" tawar Aaron pada gadis itu.


"Sudah aku bilang, aku tidak tahu nama hotelnya. Aku belum sempat mencatat nama dan alamat hotel itu di buku agendaku. Tadi pagi, bos menyuruhku kemari untuk urusan bisnis. Karena tergesa-gesa, aku belum sempat memindahkan alamat hotel itu dari ponselku. Tadi, saat aku mengeluarkan dompetku untuk mengambil ponsel, tiba-tiba seorang laki-laki mengambil dompetku. Aku berlari untuk mengejarnya. Tapi sayangnya, aku tidak bisa mengejarnya.


"Ya Tuhan...! Sikap cerobohmu masih tidak berubah !" gerutu Aaron.


"Dengar tuan, jika kau berada di sini hanya untuk mengejekku, sebaiknya kau segera enyah dari sini ! Sebelum aku meneriakimu maling !" ujar gadis itu.


Tanpa menunggu persetujuan sang gadis. Aaron mengangkat tubuh gadis itu seolah-olah dia sedang mengangkat karung beras. Tangan kanannya dia gunakan untuk memegang gadis itu di pundaknya, sedangkan tangan kirinya, meraih dan menarik kopernya sang gadis.


"Hei, lepaskan gue ! Lo udah gila, ya ! Ayo lepasin gue !" teriak sang gadis.


Aaron tak menghiraukan teriakan gadis itu, dia terus berjalan, kembali ke tempat pertama mereka bertemu tadi. Tiba di sana, Aaron membuka pintu mobilnya dan segera mendudukkan gadis itu di kursi sebelah kursi kemudi.


"Lo mau bawa gue kemana ? Lo mau culik gue ?"


"Sst, diamlah ! Lo nggak cape apa dari tadi teriak-teriak mulu ! Dasar gadis ceroboh !"


"Sisil, nama gue Sisil ! Bukan gadis ceroboh !" sungutnya kesal.


Ya ! Gadis yang kurang beruntung karena harus kecopetan begitu tiba di Singapore, dia adalah Sisil Agustin yang hendak menjalankan tugasnya untuk menemani bos nya meninjau proyek yang sedang dibangunnya di negara ini.


Semenjak Kyara pergi, Sisil keluar dari tempat kerjanya. Baru setahun ini, dia kembali bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak dalam pembangunan mall-mall.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏


__ADS_2