Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Menolak


__ADS_3

Kesepakatan...? Kesepakatan lagi...! Jerit Kyara dalam hati....


"Aku rasa itu harga yang cukup fantastis untuk membeli virginitas mu...!" seringai Ajay.


Sialan....! umpat Bagas dalam hati.


Kyara masih tetap terdiam. Hatinya benar-benar hancur mendengar semua ini. Dia tidak menyangka jika Ajay, orang yang selama ini dicintainya, mampu berkata demikian.


Apa dia sedang bernegosiasi untuk membeli keperawananku yang telah direnggutnya dulu...? Baiklah..! Jika itu maumu, akan aku layani...! Kau anggap aku seorang pelacur, dan aku akan memasang tarif yang pantas untuk harga diriku...!! batin Kyara.


Kyara menengadahkan wajahnya, mencoba menahan air matanya agar tidak turun di pipinya. Dia menghela napasnya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.


Kyara membalikkan badannya. Dia kemudian menghampiri Ajay.


"Baiklah...! 100 persen...!!" ujar Kyara, lantang, seraya mengulurkan tangan kanannya. "Bagaimana, tuan Ajay..? Deal..!!"


"Shitt...!! Gila...! Kamu benar-benar gila...!" teriak Ajay. "100 persen...!! Itu bukan tawaran kesepakatan, tapi perampokan..!!" lanjut Ajay.


"Ya...! Kau benar tuan Ajay !" ujar Kyara seraya berjalan mengelilingi Ajay.


"Aku akan merampok semua kekayaanmu melalui kesepakatan yang kau buat dengan eyangmu...!" ujar Kyara tersenyum sinis. "Kau dapatkan kebebasanmu, dan aku dapatkan warisanmu...! Bukankah itu adil ?!" lanjut Kyara.


"Gila...!! Dasar gadis gila..! Seorang pelacur pun masih punya batasan dalam menentukan harganya..!" teriak Ajay kembali.


Bagas mengepalkan tangannya mendengar semua kata-kata tak pantas yang keluar dari mulut sahabatnya. Wajahnya mulai memerah menahan amarah.


"Aahh....ya...! Pelacur...! Kau benar tuan, harus ada harga untuk tubuh seorang pelacur...!" ujar Kyara berusaha untuk kuat, meskipun hatinya sudah sangat tersayat mendengar penghinaan Ajay.


"Tapi sayangnya...., aku bukan pelacur rendahan..! Aku pelacur elegan...! ujar Kyara seraya lebih mendekat ke hadapan Ajay. "Apa kau lupa....?" lanjutnya.


PRANG....!!


Kyara menjatuhkan gelas kosong yang dipegangnya sedari tadi. Gelas itu pecah seketika. Pecahan belingnya berserakan di bebatuan.


"Kau lihat itu, tuan...!" tunjuk Kyara pada pecahan beling yang berserakan itu.


"Apa kau bisa menggabungkan pecahan itu menjadi sebuah gelas yang utuh seperti semula ?" tanyanya lagi.


"Cobalah...!" perintah Kyara, sinis. "Aku rasa, kau tak akan mampu melakukannya, tuan..! Bahkan..., sekalipun kau mampu..., tidak akan pernah sempurna seperti sebelumnya..! Pecahan beling yang kau sambung dan kau rekatkan, retakannya masih akan terlihat. Begitu juga TUBUHKU..., tuan...!" ujar Kyara menekankan kata tubuh dalam nada ucapannya, dia marah.., dia emosi.., namun dia terlalu lemah untuk melampiaskan semua kemarahannya.

__ADS_1


"Gelas itu ibarat keperawananku. Meskipun aku menutupinya, tapi bekasnya akan tetap tampak.." ujar Kyara lirih menahan sesak di dadanya.


"Kau...!" telunjuk Kyara menunjuk tepat di hidungnya Ajay. "Kau yang telah merenggut keperawananku, dan sekarang..., kau anggap aku seorang pelacur..! Baiklah, tuan...! Sekarang aku minta bayaranku...! Aku inginkan semua kekayaanmu untuk harga kesucianku...!!" teriak Kyara. "Bagaimana...? Apa kau berani...? Apa kau sanggup..?" Kyara tersenyum, sinis.


"Kau...!!"


Ajay tak mampu lagi berkata-kata. Dia pun pergi meninggalkan Kyara sendirian di halaman belakang. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar teriakkan Kyara.


"Aku tunggu jawabanmu, tuan Ajay Sanjaya..! Jika dalam 1 x 24 jam, kau tidak memberikan keputusan, maka aku akan menolak semua tawaranmu ! Baik tawaran hari ini, ataupun tawaran yang akan datang !!" teriak Kyara.


Ajay mendengus, kesal. Wajahnya memerah bak kepiting rebus, karena merasa kesal dan marah atas perkataan Kyara. Ajay tidak pernah menyangka, jika gadis lugu yang ditemuinya dulu, sekarang berubah menjadi seorang monster yang mengerikan dalam hidup Ajay. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Ajay saat ini. Tak lama kemudian, Ajay pergi memasuki rumahnya kembali.


Brugh...!


Kyara jatuh terduduk di atas bebatuan. Kakinya yang sedari tadi ditahannya untuk tetap berdiri, tiba-tiba ambruk juga.


Kyara menekuk kedua lututnya. Mendekapnya erat dan mulai menggoyang-goyangkan badannya. Hatinya benar-benar sakit dengan semua ucapan Ajay. Dia pun menyadari, kalau harga dirinya sudah hancur berkeping-keping.


"Aku kotor...! Aku hina...! Aku...hiks...aku benar-benar gadis... hiks yang tidak tahu malu....! A...aku...pe... pelacur....hiks...hiks...aku..aku benci tubuhku...aku benci...aargghh..." Kyara mulai terisak sambil menggosok-gosokkan tangannya di sekujur tubuhnya.


Bagas yang pernah melihat Kyara dalam keadaan yang terburuk, segera menghambur ke arah Kyara. Dia takut jika Kyara akan mengalami depresi lagi. Dia pun segera memeluk Kyara.


"Dia... dia menyebutku...pe... pelacur...! A...aku...bu..kan.. pelacur...kak..!" ujar Kyara terbata-bata dalam isak tangisnya.


"Aku tahu...! Tenanglah...!" Bagas masih memeluknya dan mengusap-usap punggung Kyara untuk menenangkannya.


Kyara meronta. Bagas pun melepaskan pelukannya. Kyara mendongak, menatap ke arah Bagas dengan tatapan matanya yang sayu.


"A...aku tidak... pernah..menjual tubuhku...! Tidak pernah, kak..." ujar Kyara seraya menggelengkan kepalanya.


Bagas mengangguk. "Aku tahu..!" ujarnya. Bagas memegang kedua pundak Kyara. "Dan aku percaya padamu...!" lanjutnya seraya menyeka air mata Kyara.


"Ayo...!"


Bagas meraih tangan Kyara dan mengajak Kyara untuk berdiri. Dia kemudian memapah Kyara ke tepi kolam. Mereka pun duduk di sana.


"Apa semua ucapanmu benar...?" tanya Bagas hati-hati. "Maksudku..emh...aku...aku minta maaf, karena tadi aku mendengar pembicaraan kalian. Apa benar kau akan melepaskan Ajay...?"


"Entahlah..., tadi aku hanya asal bicara. Aku merasa emosi saat Ajay menawarkan sebuah kesepakatan. Aku benar-benar sakit hati karena telah menjadi tumbal kesepakatan dia dan eyangnya. Jadi, saat aku dengar dia menawarkan sebuah kesepakatan lagi, aku benar-benar marah. Terlebih lagi saat dia mengungkit kembali masa lalu. Aku merasa dia sedang melakukan negosiasi atas kesucianku. Aku benar-benar merasa terhina...aku..." Kyara tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Bagas kembali mengusap punggung Kyara.


"Boleh aku tanya sesuatu...?" ujar Bagas.


Kyara mengangguk.


"Sebenarnya, untuk siapa kau mempertahankan semua ini ? Mungkin tawaran Ajay ada baiknya juga. Kau tidak harus selalu tersakiti oleh sikap dan kata-katanya."


Kyara menatap Bagas tajam. "Aku tidak akan menjual tubuhku...! Jika aku menerima tawarannya, lalu apa bedanya aku dengan seorang pelacur yang dia katakan..! Aku mempertahankan semua ini bukan untuk diriku. Asal kakak tahu, aku sudah tidak peduli dengan semua rasa sakit hatiku. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah kehormatan orang tuaku. Aku tidak akan pernah menghancurkan harapan mereka lagi. Aku tidak akan membuat mereka kembali kecewa, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku." jawab Kyara.


"Tapi kamu berhak bahagia, nona...! Lihatlah sikap dia yang tidak bisa menghargaimu..! Belum nikah saja, dia sudah berani bersikap seperti itu ! Apalagi jika kalian sudah menikah...! Aku takut dia akan semakin semena-mena memperlakukanmu...!" ujar Bagas, kesal.


Kyara tersenyum kecut. "Semuanya, tidak akan ada bedanya, kak...! Bagiku..., kebahagiaan itu telah pergi di saat aku telah kehilangan anakku...!" ujar Kyara, datar.


Lukanya kembali terkuak tat kala harus mengingat kepergian anaknya secara tragis. Ya...! Anaknya yang malang, yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat dunia karena kekejian sikap ayahnya.


"Nona..., apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu ? Kenapa kamu bisa mengalami pendarahan...?"


Tiba-tiba Bagas teringat peristiwa itu. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan. Dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengorek semua keterangan dari Kyara atas peristiwa yang menimpa dirinya waktu itu.


Kyara menatap lembut wajah Bagas. "Semuanya telah berlalu. Lupakan saja, kak...!" jawabnya. "Sudah malam, aku mau istirahat..!" pamit Kyara. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Bagas.


"Aku menemukan jam tangan Ajay di kamar kost mu...!" teriak Bagas yang berhasil membuat Kyara menghentikan langkahnya.


Bagas mendekati Kyara. Dia menatap tajam ke arah Kyara. "Apa dia pelakunya...?"


Kyara menundukkan wajahnya.


"Tatap aku, nona...! Katakan jika bukan Ajay pelakunya...!" ujar Bagas.


Kyara semakin menundukkan kepalanya.


"Astaghfirullah...." gumam Bagas. Dia pun kembali meraih Kyara ke dalam pelukannya...


Maafkan aku...! Maafkan aku yang kembali tak bisa melindungimu....!!


Bersambung...


Terima kasih masih tetap setia mengikuti kelanjutan ceritanya...

__ADS_1


Mohon like, vote n komen...🙏🙏


__ADS_2