
"Duduklah...!"
Andin mempersilakan Kyara duduk. Kyara melirik ke arah Bagas. Hatinya benar-benar cemas dengan sikap Andin yang menurutnya aneh. Kyara melihat Bagas menganggukkan kepalanya, dia pun duduk mengikuti perintah Andin.
Setelah Kyara duduk, Andin menatap Bagas yang sedang berdiri di samping Kyara.
"Gas, bolehkah saya bicara empat mata dengan Kyara ?" pinta Andin.
Bagas menatap tajam ke arah Andin, mencoba mencari sesuatu yang disembunyikan oleh Andin. Tapi hanya tatapan ketulusan yang Bagas dapatkan dari sorot mata Andin. Pada akhirnya dia mengangguk untuk menjawab permintaan Andin.
Kyara menengadah, menatap Bagas, dia menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat agar Bagas tidak meninggalkannya.
Bagas tersenyum. Dia berjongkok di samping Kyara. Mata mereka beradu pandang. Bagas menggenggam tangan Kyara.
"Tidak usah khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu. Lihatlah..!" tunjuk Bagas ke arah kursi yang berada beberapa meter di sebelah kursi yang Kyara tempati. "Aku akan duduk di sana untuk mengawasi kalian !" lanjutnya.
"Tidak apa-apa Kya, aku tidak akan mencelakaimu..!" ujar Andin seraya memegang bahu Kyara.
Akhirnya Kyara menyerah. Dia mengangguk sebagai tanda menyetujui permintaan Andin.
Bagas segera berlalu dari hadapan kedua gadis itu. Dia memberikan ruang dan waktu kepada mereka untuk saling bicara. Bagas yakin jika kini Andin telah berubah. Dia hanya bisa duduk mengawasi percakapan mereka dari kejauhan.
"A...aku minta ma.. maaf...!" ujar Andin membuka pembicaraan.
Kyara hanya bisa diam. Dia sama sekali tidak mengerti arah tujuan pembicaraan Andin.
"Kya, kau marah padaku ?" tanya Andin lagi.
Kyara menghela napasnya.
"Jujur aku tidak mengerti apa yang mbak bicarakan. Jika mbak meminta maaf untuk semua kejadian dari pertemuan kita, mbak tidak usah khawatir. Aku sudah memaafkan mbak." jawab Kyara.
Andin tersenyum, "Terima kasih, Kya. Bagas benar, kamu memang berhati mulia."
"Jangan terlalu berlebihan mbak, aku juga sama, hanya manusia biasa."
"Tapi, kesalahanku terlalu besar Kya ! Aku tidak yakin kau bisa memaafkan aku jika kau tahu kejadian yang sebenarnya." ujar Andin lirih.
"Jika Tuhan saja Maha Pemaaf, lalu kenapa aku yang hanya makhluk-Nya tidak bisa memaafkan seseorang ?"
Tiba-tiba Andin berlutut di hadapan Kyara. Kyara terkejut dengan sikap Andin. Dia pun segera memegang kedua bahu Andin, mencoba menariknya untuk berdiri.
"Jangan seperti ini, mbak ! Malu dilihat orang...!" tegur Kyara merasa risih.
"A...aku tidak peduli..., aku...aku minta maaf Kya.., aku..aku bersalah padamu...!" jawab Andin.
"Sudahlah, mbak ! Aku sudah memaafkanmu, sekarang berdirilah...!" ujar Kyara
"Apa kau juga akan memaafkan aku jika kau tahu aku adalah otak di balik meninggalnya bayimu...!" tanya Andin.
__ADS_1
Deg...
Kyara terkejut mendengar pengakuan Andin. Tanpa sadar dia segera mendorong tubuh Andin hingga terjengkang ke belakang. Dia lalu berdiri, melangkah ke belakang dengan kaki gemetar. Kyara menatap Andin dengan tatapan tak percaya.
Melihat reaksi Kyara, Andin terkejut. Dia segera berdiri mencoba menenangkan Kyara. Andin melangkah mendekati Kyara.
"Stop...!" Kyara berteriak. "Jangan dekati aku..!" lanjutnya
"Aku mohon Kya, dengarkan aku dulu...! Aku..aku benar-benar khilaf...! Waktu itu aku kalut saat Ajay bercerita tentang kehamilanmu. Aku juga melihat Ajay merasa frustasi, kar... karena itu aku...aku menyarankan Ajay untuk menggugurkan kandunganmu...! Aku... akulah yang memberikan o..obat itu...aku mohon ma... maafkan aku...!" ujar Andin pilu saat mengingat kembali kejahatannya.
"Tidak...! Tidak...!"
Kyara berteriak sambil menutup telinganya.
"Anakku...., di mana anakku...? Kembalikan anakku..!! teriaknya histeris.
Bagas yang sedari tadi mengawasi keberadaan Andin dan Kyara, tiba-tiba terkejut melihat Andin berjongkok di hadapan Kyara. Keterkejutannya semakin bertambah saat dia melihat Kyara mendorong tubuh Andin. Bagas segera berdiri, namun dia masih bertahan untuk melihat kejadian selanjutnya.
Pertahanannya runtuh ketika dia melihat Kyara kembali berteriak seraya menutup telinganya. Bagas takut Kyara kembali histeris, karena itu dia mulai mendekatinya.
Bagas terhenyak mendengar pengakuan Andin. Sejenak dia diam karena merasa tidak percaya dengan apa yang pernah Andin lakukan. Namun kesadarannya kembali datang saat dia mendengar teriakkan histeris Kyara. Segera Bagas memeluk Kyara dari belakang.
"Sstt....Tenanglah Kya...! Tenanglah...!" bisik Bagas di telinga Kyara.
Namun memori Kyara sudah terlanjur kembali ke masa lalunya. Dia terus berteriak meminta anaknya.
Kyara terus memberontak, namun Bagas semakin erat memeluknya. Andin pun mendekatinya dan bersimpuh di kaki Kyara.
"Aku mohon, ampuni aku Kya..! Aku menyesal, aku minta maaf...!" ujar Andin lirih.
"Lepaskan aku...! Aku harus mencari anakku, lepaskan aku...!"
Kyara terus meronta, membuat Bagas semakin kewalahan.
"Pergilah Andin !" perintah Bagas.
"Ta... tapi Gas, Kyara belum memaafkanku...!" tolak Andin.
"Apa kamu pikir dia akan memaafkanmu dalam keadaan histeris seperti ini..!" teriak Bagas.
Kesabaran Bagas mulai habis melihat sikap Andin yang bersikukuh menuntut Kyara memaafkannya. Sementara kondisi Kyara semakin tidak terkendali. Dia semakin histeris memanggil anaknya.
Andin mulai menjauh, dia benar-benar tidak menyangka jika Kyara akan bersikap histeris seperti ini.
"Nona, tenanglah...!"
Tiba-tiba saja, Bagas merasakan perlawanan Kyara mulai melemah. Dia pun terkejut saat melihat tubuh Kyara terkulai tak berdaya. Sepertinya Kyara tidak sadarkan diri. Bagas segera memangkunya.
"Mau kau bawa kemana Kyara ?" tanya Andin terkejut melihat kondisi Kyara.
__ADS_1
"Aku akan membawanya ke bengkelku !" jawab Bagas.
Hanya bengkel Bagas yang letaknya lebih dekat dari danau ini. Segera Bagas membawa Kyara ke mobilnya. Setelah memasang safety belt nya, dia pun melajukan mobilnya.
Tiba di bengkel, Bagas segera membawa Kyara ke kamarnya. Dia membaringkan Kyara dan segera menghubungi dr Risa. Selesai menghubungi dr Risa, Bagas kembali menghampiri Kyara. Dia menatapnya sendu. Tampak Kyara terbaring dengan wajahnya yang menggambarkan kesedihan yang mendalam.
"Tidak kusangka, aku harus kembali melihat wajah kesakitanmu lagi, nona !" gumam Bagas
"Apa maksudmu ?"
Tiba-tiba, Andin telah berdiri di ambang pintu kamar Bagas. Bagas menoleh, dia tersenyum sinis kepada Andin.
"Apa ini maksud dari pertemuan yang kau minta ?" tanya Bagas geram seraya berjalan menghampiri Andin.
"Aku sudah bilang, jangan pernah menyakitinya lagi, tapi kenapa kau lakukan semua ini, Andin ?" tanya Bagas mencengkeram kedua bahu Andin.
"Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku benar-benar hanya ingin meminta maaf padanya." bela Andin.
Bagas melepaskan cengkeramannya.
"Pergilah...!" ujar Bagas.
"Tidak..., aku tidak akan pergi sebelum kau menceritakan maksud dari ucapanmu tadi..! Wajah kesakitanmu.., apa.. apa maksudnya...?" tanya Andin
"Kau tahu jika aku tidak suka mengulang perintahku, Ndin !" ujar Bagas penuh penekanan.
"Dan kau juga tahu jika aku tidak suka diperintah !" Andin malah membalas penekanan Bagas dengan tegas.
"Hhhhh...."
Bagas menghela napasnya, berat. Hatinya merasa sakit mengingat masa-masa yang dilalui Kyara saat kehilangan anaknya dulu. Bagas kembali duduk di tepi ranjang. Dia menatap nanar wajah Kyara yang terlihat pucat.
Andin mendekati Bagas, menyentuh tangan Bagas.
"Aku mohon, ceritakan Gas...!" pinta Andin.
Saat Bagas hendak bercerita, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja ke dalam kamar Bagas..
"Apa yang terjadi padanya, Gas ?"
Bersambung....
Masih coba up di sela-sela kesibukan bersilaturahmi...
Semoga masih suka ceritanya yaa..
Jangan lupa tinggalkan jejaknya di karya ini...
Makasih...
__ADS_1