
"Apa yang terjadi padanya, Gas ?"
Tiba-tiba seorang wanita cantik berhijab masuk ke kamar Bagas.
"Tadi dia kembali histeris, mbak." jawab Bagas.
"Risa ?" tanya Andin heran.
Dokter Risa menatap intens ke arah Andin. Dia merasa heran dengan keberadaan Andin di tempat Bagas. Tapi dia tidak punya waktu untuk bertanya. Segera dia menghampiri Kyara dan mulai memeriksanya.
Selang beberapa menit, dokter Risa pun menghentikan pemeriksaannya.
"Bagaimana keadaannya, mbak ?" tanya Bagas khawatir.
"Denyut nadinya normal, Gas. Hanya saja, detak jantungnya terlalu cepat. Sebenarnya, apa yang terjadi, Gas ? Dan darimana kamu menemukan Kyara ?" tanya dokter Risa.
"Ceritanya panjang mbak. Yang jelas, tadi Kyara kembali berteriak histeris." jawab Bagas.
"Pemicunya ?" tanya dokter Risa penuh selidik.
Bagas menatap Andin. Tatapan Bagas mengingatkan dokter Risa atas rasa penasarannya kenapa Andin berada di kamar Bagas.
"Oh iya, Ndin. Apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya dokter Risa.
"Aku..., aku mencemaskan keadaan Kyara, karena itu aku mengikuti Bagas kemari." jawab Andin.
"Kau mengenalnya ?" tanya dokter Risa.
"I...iya.., aku mengenalnya. Di...dia temanku...!" jawab Andin.
"Oh..!" hanya itu yang keluar dari mulut dokter Risa.
"Kapan dia akan kembali sadar, mbak ?" tanya Bagas cemas.
"Sementara ini, aku telah memberikannya suntikan penenang, untuk menstabilkan ritme jantungnya. Jangan khawatir, dalam waktu satu jam, mungkin dia akan kembali sadar. Sebaiknya kita bicara di luar, supaya dia dapat beristirahat !" saran dokter Risa.
"Iya, kita bicara di ruanganku saja, mbak. Ayo !" Bagas mengajak dokter Risa dan Andin keluar.
"Apa yang terjadi padanya, Gas ? Kenapa Kyara bisa kembali histeris ? Bukankah dokter Alex pernah bilang jika kita harus menjaganya dan tidak memberikan beban yang akan mengingatkan dia pada kejadian itu. Apa ada hal yang membuat dia mengingat kembali traumanya ?" tanya dokter Risa.
"Trauma..?" gumam Andin.
Bagas hanya menatap tajam ke arah Andin.
"Ke... kenapa kau menatapku seperti itu, Gas ?" tanya Andin.
Kembali Bagas menghela napasnya.
"Sepertinya, seseorang telah mengungkit masa lalunya mbak, sehingga Kyara kembali mengingat traumanya." jawab Bagas masih menatap tajam ke arah Andin.
"Hei, Gas...! Aku hanya meminta maaf padanya, apa itu salah ?" tanya Andin mencoba membela diri.
"Tapi bukan berarti kau harus kembali membuka luka lamanya ? Kenapa kau ungkit soal bayinya ? Apa kau tahu jika dia hampir gila karena kehilangan bayinya ?" teriak Bagas.
Bagas benar-benar merasa kesal dengan sikap Andin yang tidak merasa bersalah karena telah menyebabkan Kyara seperti ini.
"A...apa...!" Andin terlonjak kaget. "Ti... tidak mungkin..!" gumamnya.
"Kenapa ? Kamu tidak percaya ? Kamu bisa tanya dokter Risa, beliau yang menangani Kyara waktu itu." jawab Bagas.
Andin melirik ke arah dokter Risa. Tampak dokter Risa menganggukkan kepalanya.
"Kyara adalah pasienku. Aku masih mengingat jelas saat dia berkonsultasi tentang kehamilannya. Meski aku merasa geram karena lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggungjawab, tapi Kyara tidak pernah mengeluh. Sepertinya kehadiran janinnya, cukup memberikan dia kekuatan untuk melupakan laki-laki brengsek itu."
Dokter Risa tersenyum mengingat keceriaan Kyara saat kontrol kehamilannya dulu. Sejenak kemudian, wajahnya berubah sendu tat kala teringat kembali wajah muram Kyara yang mengalami depresi.
"Tapi, musibah kembali terjadi. Kamu sendiri lebih tahu yang terjadi, Gas..! Oh iya, apa dia bercerita, kenapa dulu dia bisa mengalami pendarahan, Gas ?" tanya dokter Risa.
__ADS_1
Kembali Bagas menatap tajam ke arah Andin.
"Sepertinya, seseorang memang sengaja memberikan obat itu untuk menggugurkan kandungan Kyara." jawab Bagas. Matanya tak pernah lepas menatap Andin.
Andin menundukkan wajahnya mendengar ucapan Bagas.
"Hhhh...! Sudah kuduga ! Aku tahu, Kyara tidak sekejam itu, hingga dia dengan sengaja menggugurkan kandungannya. Apa benar dugaan kita, Gas ? Jika memang mantan pacarnya yang melakukan semua itu ?" tanya dokter Risa menyelidik.
"Sepertinya begitu, mbak !" Bagas menjawab pertanyaan dokter Risa tanpa menoleh sedikit pun dari Andin.
Andin semakin merasa gelisah mendapati tatapan Bagas yang seolah ingin menelanjanginya.
"Tapi mbak heran Gas. Sebenarnya, botol-botol yang kamu tunjukkan pada mbak, itu adalah ramuan yang mbak racik bersama Alex untuk pasien khusus mbak."
Seketika Bagas mengalihkan pandangannya kepada dokter Risa.
"Benarkah.. ?" tanya Bagas.
Dokter Risa mengangguk. "Karena itulah Alex marah pada mbak. Dia mengira mbak memberikan ramuan itu pada Kyara. Terlebih lagi saat dia tahu jika Kyara adalah pasien mbak, dia semakin yakin jika mbak memberikan ramuan itu. Tapi mbak bersumpah, mbak nggak pernah memberikannya. Mbak sendiri heran, darimana dia mendapatkan ramuan itu, padahal sudah jelas-jelas ramuan itu tidak pernah dijual di apotek manapun."
Saat Bagas Dan dokter Risa sedang asyik dengan pemikirannya masing-masing, tiba-tiba saja...
"Aku yang memberikannya..." ucap Andin lirih.
Bagas dan dokter Risa terkejut.
"Apa maksud kamu, Ndin ?" tanya Bagas.
"Apa kau masih ingat saat aku datang ke rumahmu untuk meminta obat penggugur kandungan ?" tanya Andin menatap dokter Risa yang tak lain adalah sepupunya.
Dokter Risa mengangguk.
"Sa...saat itu aku berbohong padamu. Se.. sebenarnya, aku....emm..., aku meminta obat itu bukan untuk temanku. Ta... tapi untuk mantan dari kekasihku. Karena..., kau tidak memberikan obat itu, akhirnya aku...aku mengambil beberapa botol ramuan yang sedang kau racik saat itu...." ujar Andin, lirih.
"Kau...!!"
"Jangan bilang kalau Ajay, pacarmu yang sering kau ceritakan itu adalah kekasihnya Kyara...!!" ucap dokter Risa.
Andin mengangguk.
"Iya Ris..., dia...dia adalah kekasihnya Kyara. Dan aku.., aku yang telah merebutnya." jawab Andin semakin menundukkan kepalanya.
"Kau benar-benar kejam Andin, lalu kenapa kau malah membantu laki-laki biadab itu untuk melenyapkan janin Kyara ? Dimana hati nuranimu sebagai seorang perempuan ?" teriak Risa.
"Aku...aku minta maaf, Ris ! Aku..aku sangat mencintainya, saat itu, aku melihat dia sangat kacau ketika mendengar mantan pacarnya hamil. Dia merasa frustasi karena dia belum siap untuk menjadi seorang ayah. Karena itu, aku membantunya untuk menggugurkan kandungan mantan pacarnya. Karena dia tahu, jika Kyara tidak akan pernah mau melakukan itu, jadi aku pun menyarankan, jika Kyara tidak mau bertindak, maka dialah yang harus bertindak..! Kau tahu aku sangat mencintainya, Ris. Dan aku benar-benar di butakan oleh rasa cintaku. Ja...jadi aku membantunya untuk melenyapkan janin itu...! Aku mohon maafkan aku..." Andin mulai meneteskan air matanya.
"Gila...! Dasar wanita gila...!" seru Bagas.
"Ya...! Aku memang gila...! Saat itu aku sangat tergila-gila padanya, aku terlalu takut ditinggalkan olehnya, Gas ! Karena itu, aku gelap mata..! Tapi sekarang aku menyesal, Gas..! Aku benar-benar menyesal...!"
"Kau menyesal karena laki-laki itu meninggalkanmu dan memilih sahabatmu, bukan ? Lalu apa dengan menyesal, kau bisa mengembalikan anak Kyara yang telah meninggal ? Apa dengan menyesal, kau bisa menyembuhkan traumanya ? Kau tahu...? Karena perbuatan kalian, gadis itu hampir gila...! Dua minggu Andin...? Dua minggu dia mengalami depresi akibat kehilangan anaknya..! Dua minggu, dia berteriak-teriak memanggil anaknya..! Dua minggu dia tidak mampu mengingat orang-orang di sekitarnya..! Selama dua minggu aku melihatnya seperti mayat hidup...! Apa kau tahu itu, Andin..!!" teriak Bagas penuh emosi.
Tiba-tiba...
"Ke... kenapa kau lakukan semua itu padaku ?" tanya Kyara lirih.
Saat itu, Kyara telah sadar. Dia mulai memperhatikan sekeliling kamar ini.
Di mana aku...? batinnya.
Samar-samar dia mendengar percakapan dari luar kamar. Dia pun bangun dan berjalan menghampiri pintu kamar. Namun, saat dia hendak membuka pintu, dia mendengar pengakuan Andin tentang dibalik perlakuan Ajay yang telah melenyapkan nyawa anaknya. Dia pun mendengar perkataan Bagas yang penuh emosi saat dia mengalami depresi. Karena ingin mengetahui alasan Andin lebih lanjut, dia pun membuka pintunya.
"Kya...!!"
Ujar dokter Risa, Bagas dan Andin berbarengan. Bagas segera berdiri menghampiri Kyara.
"Kamu masih lemah, istirahatlah..!" bujuk Bagas.
__ADS_1
"Aku... tidak apa-apa.., tolong bantu aku duduk, kak !"
Bagas memapah Kyara menuju sofa. Kyara duduk berhadapan dengan Andin.
"Kenapa mbak Andin tega melakukan semua itu padaku ? Jika mbak Andin sangat mencintai Ajay, aku ikhlas. Aku telah merelakan Ajay untuk mbak Andin, karena waktu itu aku sadar, mungkin memang Ajay bukan jodohku. Ta.. tapi, ke... kenapa kalian tega bersekongkol untuk melenyapkan anakku...? Apa dengan merebut Ajay saja belum cukup, mbak ? Sehingga mbak harus merebut kehidupan anakku juga ?" tanya Kyara lirih. Hatinya benar-benar sakit melihat kenyataan yang ada.
Andin kembali bersimpuh di hadapan Kyara.
"Aku mohon maafkan aku, Kya..!! Kau..kau boleh menghukumku, kau boleh melaporkan aku ke polisi, kau boleh menuntutku, asal kau mau memaafkanku..!" ujar Andin pasrah.
"Apa dengan menghukummu bisa mengembalikan anakku..?" tanya Kyara pedih.
"Aku..., aku...!" Andin tak sanggup lagi berkata.
"Pergilah dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi !" ujar Kyara.
"Ta... tapi...!"
"Pergi...!!"
Sejurus kemudian Kyara kembali tak sadarkan diri.
"Bawa dia ke kamar, Gas !" perintah dokter Risa.
Bagas segera mengangkat tubuh Kyara dan membawanya kembali ke kamarnya.
Dokter Risa mendekati Andin. Dia berjongkok di sisi Andin.
"Pulanglah, Ndin. Saat ini, kondisi Kyara sedang shock. Beri dia waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya !" saran dokter Risa.
"Tapi, Ris...??"
"Aku kenal siapa Kyara. Dia bukan orang yang pendendam. Dia hanya butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Sekarang, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Ini sudah hampir magrib."
"Ba.. baiklah..!"
"Kalau begitu, aku masuk dulu untuk memeriksanya !"
Andin mengangguk. Setelah dokter Risa masuk ke kamar Bagas, Andin pun pergi.
Di kamar...
"Bagaimana keadaannya, mbak ?" tanya Bagas setelah melihat dokter Risa selesai memeriksa Kyara.
"Tidak apa-apa, dia hanya terlalu banyak pikiran dan kelelahan saja."
Dokter Risa mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, kemudian dia menuliskan sesuatu di kertas itu. Setelah selesai mencatat, dokter Risa menyerahkan kertas itu kepada Bagas.
"Ini resep obat dan vitamin untuk Kyara. Kau tebuslah di apotek !"
"Baik, mbak !" jawab Bagas seraya mengambil resep tersebut.
"Kalau begitu, mbak pamit dulu ya Gas ! Jaga dia, dan segera beri minum jika dia sudah sadar, agar tidak dehidrasi." perintah dokter Risa.
"Siap mbak ! Ayo Bagas antar !" tawar Bagas.
"Tidak usah ! Kamu di sini saja, jagain dia ! Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam.. !"
Setelah kepergian dokter Risa. Bagas keluar mencari Wawan dan memintanya untuk menebus semua obat di apotek terdekat. Setelah itu dia kembali lagi ke kamar.
Bagas mendekati Kyara, menyibakkan rambut Kyara yang menghalangi sebagian wajahnya. Wajah ayu yang terlihat pucat, membuat Bagas semakin merasa iba padanya.
"Ah nona..., akhirnya terjawab sudah misteri tentang kejadian yang membuatmu sampai kehilangan bayimu. Aku harap kau bisa tabah menerima semua kenyataan ini. Aku berjanji akan selalu menjagamu nona." gumam Bagas seraya meraih tangan mungil Kyara.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗