
"Bagaimana hubunganmu dengan suamimu ?" ujar Nita pada sahabatnya.
Saat itu mereka sedang makan siang bareng di salah satu kafe dekat sekolah Kyara.
"Alhamdulillah baik, Nit ! Terima kasih karena sudah membantuku mengatasi traumaku !" ujar Kyara.
"Alhamdulillah..., aku senang mendengarnya." jawab Nita. "Tidak seperti itu Kya, ini bukan sepenuhnya karena ku. Kau sembuh juga berkat dirimu sendiri. Berkat semua usaha dan perjuanganmu untuk bisa memberikan yang terbaik dalam rumah tangga kalian." lanjutnya.
Tiba-tiba..
"Sayang, maaf aku terlambat !" ucap seorang lelaki yang langsung mencium pucuk kepala Kyara. Siapa lagi kalau bukan Bagas.
Kyara mendongak saat merasakan seseorang menyentuh kepalanya. Dia pun segera berdiri dan mencium tangan suaminya.
"Tidak apa-apa, kami juga baru sampai !" ujar Kyara. "Duduk yuk, kang !" ajaknya.
"Kenalkan, dia dokter Nita, sahabatku sejak jaman kuliah. Dia psikiater yang pernah aku ceritakan tempo hari."
Ya ! Beberapa hari yang lalu, Kyara pernah mengatakan jika selama ini dia menjalani terapi untuk bisa keluar dari rasa trauma di masa lalunya. Bagas benar-benar terkejut jika perlakuan yang Kyara terima di masa lalu, membuat Kyara trauma berkepanjangan. Bagas pun semakin menyesali ketidakbecusannya dalam menjaga Kyara dulu. Padahal dia sudah berjanji pada Aaron, sahabatnya, untuk selalu menjaga Kyara. Namun di balik semua itu, Bagas bersyukur karena Kyara juga mau berusaha sembuh demi mempertahankan rumah tangga mereka. Ke depannya Bagas berjanji, tidak akan pernah ada air mata lagi dalam kehidupan mereka.
"Ah ya...! Saya Bagas, suaminya Kyara. Terima kasih karena dokter sudah membantu istri saya untuk bisa sembuh dari apa yang pernah dialaminya."
Bagas sengaja tidak menyebutkan kata trauma karena takut menyinggung kembali perasaan istrinya.
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, tuan ! Istri anda sembuh juga atas kemauannya sendiri. Saya hanya mengarahkan saja." jawab dokter Nita merendah.
Setelah saling mengenalkan diri, mereka pun makan siang bersama.
"Biar suamiku yang akan mengantarmu pulang !" ujar Kyara saat mereka menyudahi acara makan siangnya.
"Tidak perlu Kya, aku bawa mobil sendiri ! Kebetulan hari ini aku harus pergi ke kota B." jawab Nita.
Deg....deg... deg...
Jantung Kyara berdegup kencang saat sahabatnya menyebutkan kota B. Tidak bisa dipungkiri jika Kyara masih menyimpan semua rasa takutnya tentang kota itu.
Bagas yang melihat perubahan raut wajah istrinya saat mendengar nama kota B, segera menggenggam tangan Kyara. Wajahnya mulai mendekati wajah Kyara.
"Jangan khawatir, aku bersamamu sayang." bisik Bagas di telinga istrinya.
Kyara menatap suaminya, sejurus kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Nita, dengan diantar Bagas, Kyara pun kembali ke sekolah.
"Sayang, aku akan sedikit terlambat pulang. Nanti aku kirimkan sopir untuk menjemputmu ?" ujar Bagas.
"Tidak perlu sayang, aku bisa pulang naik taksi online." jawab Kyara.
"Tapi, yang...!"
"Kakang, aku bukan Arumi ya...!"
"Baiklah, aku mengerti. Nanti, hati-hati di jalan ya ! Kabari aku jika sudah sampai di apartemen."
"Baiklah."
Bagas mendaratkan ciumannya di kening Kyara saat Kyara hendak turun dari mobilnya untuk kembali mengajar.
"I love you...!" ujar Bagas menatap lembut Kyara.
"I love you too !" jawab Kyara seraya mencium punggung tangan suaminya.
***
Pukul 16.15, dokter Nita tiba di rumah sakit Insan Medika. Setelah bertanya kepada resepsionis tentang ruangan temannya, dia pun segera menuju ruangan dokter Firman.
Tok...tok...tok...
Dokter Nita mengetuk pintu ruangan dokter Firman.
"Masuk !"
Ceklek....!
"Assalamualaikum, dok ! Apa aku mengganggu ?" tanya dokter Nita begitu dia membuka pintunya.
"Waalaikumsalam...! Ah dokter Nita..., anda sudah datang ! Masuklah ! Silakan duduk !" jawab dokter Firman. Seulas senyum terpancar di bibirnya begitu dokter yang ditemuinya saat mengikuti pelatihan di kota J, telah tiba di ruangannya.
"Bagaimana perjalananmu !" tanya Firman.
"Alhamdulillah, lancar !" jawab dokter Nita.
"Kopi ?" tawar dokter Firman.
"Boleh...!" ujar dokter Nita seraya tersenyum ke arah lawan bicaranya.
Melalui panggilan intercom, dokter Firman pun meminta OB untuk membawakan 2 cangkir kopi hitam ke ruangannya.
__ADS_1
"So..., what can i do for you ?" tanya dokter Nita seraya merubah cara duduknya menjadi tegak
Dokter Firman mengambil sebuah berkas, kemudian menyerahkannya kepada dokter Nita.
"Apa ini ?" tanya dokter Nita heran.
"Rekam medis pasienku." jawab dokter Firman.
"Kenapa kau berikan padaku ?"
"Bacalah...!"
Dokter Nita mulai membuka jejak medis pasien temannya. Matanya terbelalak sempurna saat dia melihat tulisan percobaan bunuh diri.
"Bunuh diri ?" tanya dokter Nita.
Dokter Firman menganggukkan kepalanya.
"Tiga kali ! Dia melakukan percobaan bunuh diri sebanyak 3 kali."
"Apa ? Bagaimana bisa ?"
"Hhhh....! Aku sendiri tidak tahu...!"
Dokter Firman menarik napasnya panjang.
"Kau tahu jika selama ini aku selalu berjuang keras demi mengupayakan kesembuhan pasien-pasienku. Tapi untuk kasus kali ini, aku benar-benar frustasi. Aku tidak akan pernah bisa menyembuhkan fisiknya jika psikisnya masih terganggu. Dan sialnya, ibunya tidak pernah mengizinkan aku untuk membawanya ke psikiater. Dia selalu beranggapan jika psikiater itu hanya untuk membantu orang gila !"
"Ya..., begitulah tanggapan orang awam terhadap kami !"
"Ah, maaf dok ! Aku tidak bermaksud menyinggungmu."
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa mendapatkan image buruk tentang profesi ku. Ngomong-ngomong, apa boleh aku melihatnya ?"
"Tentu saja, mari aku antar !"
Dokter Firman pun mengajak dokter Nita untuk menemui Ajay di ruang VVIP no 02. Tiba di sana, mereka melihat Ajay tengah tertidur karena telah meminum obatnya.
Dokter Nita menghampirinya. Dia terhenyak begitu melihat banyaknya luka sayatan di kedua pergelangan tangan pasien.
"Kya...., maafkan aku...., aku mohon...., maafkan aku...!"
Rupanya Ajay tengah kembali mengigau menyebutkan nama Kyara.
"Siapa Kya ?"
"Aku sendiri tidak tahu, keluarganya tak pernah menceritakan tentang dia."
Dokter Firman mengangguk.
"Lalu ?"
"Ibunya bilang, dia hanya masa lalu yang tak pernah penting untuk diingat !"
"Ish, kenapa aku merasa jika ibunya memiliki sifat yang egois ?"
"Banget...!"
"Haisss..., kenapa kau seperti membencinya ?"
"Aku tidak membencinya, aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang tidak pernah mengizinkan aku bekerja sama dengan ahli jiwa untuk bisa menyembuhkan anaknya. Dia itu terlalu sombong, dia tidak mau mengakui jika anaknya sudah mengalami gejala depresi."
"Kau tahu ? Sebenarnya ini bukan hanya sekedar gejala depresi, tapi sudah menjadi depresi dengan level yang sangat tinggi. Kau lihat saja sayatan di pergelangan tangannya yang begitu banyak. Aku rasa sepertinya dia sudah lebih dari 3 kali melakukan percobaan bunuh diri. Terlebih lagi tentang igauannya mengenai gadis yang bernama Kya itu. Aku rasa, sumber masalahnya terletak di sana. Mengingat kata yang dia ucapkan hanya menyebutkan nama Kya dan kata maaf, mungkin aku bisa menyimpulkan jika dia memiliki kesalahan yang fatal terhadap gadis itu."
"Aku sependapat denganmu. Tapi sebenarnya, ada sesuatu hal yang belum kamu ketahui."
"Maksudmu ?"
"Kau lihat boneka baby yang terletak di sampingnya ?"
Dokter Nita melirik ke arah boneka yang terletak di samping Ajay. Dia kembali menatap dokter Firman seraya mengernyitkan dahinya.
Dokter Firman mengerti arti tatapan temannya.
"Dia selalu menganggap boneka itu sebagai anaknya. Terkadang dia meninabobokan boneka itu, terkadang dia menangis dan meminta maaf pada boneka itu. Dan kata yang paling mengejutkan ku, dia selalu bilang jika dia yang telah membunuh anaknya."
"Apa...? Jadi dia sudah berkeluarga dan memiliki anak ?"
"Ya, setahuku dia telah menikah dan memiliki seorang putri. Namun karena mengalami kecelakaan, putrinya meninggal karena tidak bisa mendapatkan donor darah."
"Ish, bagaimana bisa tidak mendapatkan pendonor ? Istrinya masih hidup kan ?"
"Putrinya tidak bisa mendapatkan darah dari ibunya, karena golongan darah mereka tak sama. Sedangkan Ajay, dia sendiri tidak bisa mendonorkan darahnya karena ternyata setelah dilakukan pemeriksaan, darah Ajay pun tidak cocok dengan putrinya. Ajay bukan ayah biologisnya, karena itu Ajay merasa terkhianati. Dia pun pergi dalam keadaan kacau dan terjadilah tabrakan itu. Dia mengalami koma setelah melakukan operasi. Dan setelah sadar, hanya kata-kata itu yang selalu di gumamkan."
Dokter Nita tersenyum, sepertinya dia sudah bisa menarik benang merah atas kasus yang dialami pasien temannya itu.
"Jujur, aku tidak yakin aku bisa membantumu. Masalahnya untuk kasus yang dialami pasienmu, dia harus menjalani terapi yang konsisten. Minimal 3 sampai 4 pertemuan dalam satu minggu. Dan kau tahu, jadwal profesi kita ini seperti apa. Aku tidak mungkin harus bolak-balik kota J ke kota B hanya untuk merawatnya. Terkecuali jika dia bisa tinggal di sana."
__ADS_1
"Itulah masalahnya, dok..! Jangankan untuk dirawat di luar kota, aku sarankan untuk mengunjungi psikiater di kota ini pun, ibunya tidak mengizinkan. Aku sendiri bingung harus berbuat apa, sementara semakin hari kondisi badannya semakin melemah. Dia seolah tidak memiliki lagi keinginan untuk hidup."
"Sebenarnya, aku bisa saja melakukan hypnotheraphy untuknya. Tapi jika dilakukan dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa menjamin itu akan berhasil. Aku lihat, sepertinya dia sudah asyik dengan dunianya sendiri. Satu-satunya jalan, kita harus menghadirkan wanita itu untuk bisa menarik dia dari dunianya sekarang."
"Maksudmu ?"
"Kamu harus mempertemukan pasienmu dengan orang yang selama ini hadir dalam dunia khayalnya."
"Kya.. ? Jadi kita harus mempertemukan Ajay dengan Kya ?"
"Iya, dengan begitu dia akan kembali pada dunia nyatanya. Setelah dia sadar, baru kita bisa mendekatinya untuk memulihkan psikisnya yang terganggu."
"Aku mengerti maksudmu. Baiklah, nanti aku akan menghubungi keluarganya untuk membicarakan hal ini. Terima kasih, dokter Nita."
"Sama-sama ! Ngomong-ngomong aku harus segera pergi, dok ! Lain kali aku akan mampir lagi kemari."
"Loh, kamu tidak jadi menginap ?"
"Maaf dok, tadi waktu dalam perjalanan ke sini, asisten rumah tanggaku bilang, jika ibuku datang berkunjung ke rumahku. Aku tidak enak jika harus meninggalkannya. Kau tahu kan, jarang-jarang ibu main ke rumahku.."
"Ah ya, aku mengerti ! Mari, aku antar kamu sampai depan lobi."
***
Dua hari kemudian.
"Tidak ada jalan lain, kita harus menemukan Kyara, pih !"
"Tapi mau cari dimana Bim ? Ini sudah 6 tahun sejak kejadian itu. Dan kamu sendiri bilang jika Kyara tidak ada di kampungnya dulu !"
Brakk...
"Tidak...! Mamih tidak sudi Ajay bertemu lagi dengan gadis kampung itu !"
Saat itu nyonya Diana hendak mengantarkan kopi ke ruang kerja suaminya. Namun sebelum dia mengetuk pintu ruangan, dia mendengar perdebatan kecil antara suami dan anak bungsunya.
"Mamih, ayolah...! Kita membutuhkan kak Kyara untuk bisa menyembuhkan Ajay. Apa mamih tidak dengar apa yang dikatakan dokter Firman kemarin. Kita membutuhkan kak Kyara supaya Ajay bisa segera sadar."
ujar Bima.
Namun nyonya Diana masih tetap tak bergeming. Dia merasa harga dirinya akan jatuh jika harus menemui Kyara apalagi membawanya kembali ke rumahnya.
"Mamih yakin, pasti ada cara lain untuk bisa menyembuhkan kakak mu, Bim !"
"Cara seperti apalagi, mih ? Apa mamih tidak pernah sadar jika kak Ajay sudah semakin parah kondisinya. Sekarang dia sudah menolak kita untuk menemuinya. Satu-satunya orang yang bisa dia ingat hanya kak Kyara. Apa mamih tidak sadar itu !" teriak Bima yang sudah merasa frustasi dengan keegoisan ibunya.
Memang benar apa yang dikatakan Bima. Saat ini ingatan kakaknya sedang berada di titik yang paling rendah. Dia menolak untuk bertemu dengan siapa pun. Satu-satunya orang yang diizinkan masuk ke ruang perawatannya adalah seorang perawat paruh baya yang senantiasa dengan telaten memenuhi kebutuhan Ajay. Ya, perawat itu adalah mbok Nah yang sudah dianggap ibunya karena telah merawat Ajay sedari kecil.
"Apa yang dikatakan Bima benar, mih ! Kita harus segera mencari dan menemukan Kyara. Bagaimanapun juga, Ajay hanya mampu mengingatnya, mih ! Mungkin jika kita mempertemukan mereka, Ajay bisa kembali mengingat kita sebagai orang tuanya."
Nyonya Diana menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Dia sudah tidak kuat lagi mendengar tentang putranya yang tak mampu mengingat siapapun. Mungkin apa yang dikatakan suaminya benar. Ajay membutuhkan Kyara. Mereka membutuhkan Kyara untuk bisa membawa Ajay kepada dunia yang sebenarnya.
Tuan Ali menghampiri istrinya yang tengah melamun. Dia kemudian berjongkok di depan istrinya. Tuan Ali menggenggam tangan istrinya, mengecupnya dengan lembut.
"Papih mohon, mih ! Turunkan sedikit ego mu. Saat ini kesembuhan Ajay tergantung pada gadis itu. Papih tahu, mungkin jauh di lubuk hatinya, Ajay sangat menyesali perbuatannya, karena itu dia hanya mampu mengucapkan kata maaf untuk Kyara dalam setiap tidurnya. Apa mamih tega melihat Ajay harus merasakan kesakitan seperti itu ?" bujuk tuan Ali.
Tubuh nyonya Diana mulai berguncang karena menangis. Dia sangat menyayangi putranya. Hatinya terasa sakit melihat kondisi putranya yang semakin menurun drastis. Terlebih lagi saat teringat penolakan Ajay terhadap dirinya beberapa hari yang lalu.
"Ajay..., lihat sayang, apa yang mamih bawa untukmu ? Mamih membawakan makanan kesukaanmu nak ! Cumi saus tiram, dimakan ya sayang ! Mamih tahu, makanan di rumah sakit pasti tidak enak !" ujar nyonya Diana pada saat menjenguk anaknya.
Ajay hanya menatap tajam ke arah nyonya Diana. Dia tiba-tiba melempar buah apel yang sedang berada di tangannya ke arah ibunya.
"Pergi kau dari sini ! Aku membencimu ! Pergi !" teriak Ajay.
"Den, sadarlah ! Dia ibu aden ! Jangan seperti itu !
"Justru karena dia ibuku, aku membencinya ! Tolong usir dia dari sini, bik...! Usir dia...! Aku tidak mau bertemu dengannya !"
"Mih...!" tuan Ali menyentuh pipi istrinya yang sudah basah dengan air mata.
"Baiklah...! Cari dan temukan dia !" ujar nyonya Diana lirih.
***
Keesokan harinya....
Bima tengah lari terburu-buru setelah menerima telpon dari mbok Nah dan mengatakan kakaknya mengamuk kembali di ruang VVIP.
Brugh....!!
"Maaf......!"
"Tidak apa-apa...! Kau....!"
Bersambung....
Apa yang bisa menebak kira" siapa yang bertabrakan dengan Bima ? 🤭
__ADS_1
Terima kasih atas kunjungannya ke novel recehan ini...
Semoga bisa menghibur waktu senggangnya..., dan jangan lupa untuk like vote n komen cerita ini 🙏🤗