Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Barang Bukti


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, hampir sepekan Kyara dirawat di rumah sakit. Kondisinya masih tetap sama. Dia tidak mau makan ataupun minum, sehingga dokter masih terus memasang infus untuk mengganti nutrisi makanannya.


Semakin hari, tubuhnya semakin terlihat kurus. Wajahnya mulai tampak tirus, tulang pipinya pun semakin terlihat. Terkadang dia diam dengan tatapannya yang kosong. Terkadang dia menekuk kedua lututnya sambil terus meracau. Terkadang dia pun berteriak histeris. Bagas semakin merasa khawatir dibuatnya.


Di Singapore, operasi tuan Damian terpaksa ditunda untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Karena kondisi tuan Damian terus memburuk, akhirnya Aaron belum bisa kembali ke Indonesia. Jika ada waktu luang, Aaron menyempatkan dirinya menghubungi Bagas. Hanya untuk menanyakan kabar Kyara.


Setiap kali Aaron menelponnya, Bagas terpaksa berbohong. Setiap kali Aaron menanyakan keadaan Kyara, Bagas terpaksa berkata, "she's fine", atau "she's oke" terkadang dia bilang, "Kyara baik-baik saja, sebentar lagi dia pulih..", padahal kenyataannya, TIDAK !


Bagas takut konsentrasi Aaron akan terpecah jika mengetahui kondisi Kyara yang sebenarnya. Sungguh, sedikit pun Bagas tidak punya niat mempermainkan keadaan, hanya saja keadaan yang justru mempermainkannya.


****


Minggu pagi. Sisil membuka pintu kamar kost Kyara. Ya ! Hari ini dia hendak membereskan kamar kost Kyara. Melunasi hutang janjinya pada cowok si minim kosa kata.


"Oke tuan minim kosa kata, hari ini gue akan lunasi hutang janji gue pada lo ! Akan gue bikin kamar kost Kyara menjadi kinclong. Setelah itu, gue foto dan gue kasih lihat ke elo nanti. Biar lo tahu, kalau gue bisa diandalkan ! Sisil...! Si Wonder Woman...! Ayo, semangat !" gumamnya sambil mengepalkan tangannya dan meninjukan ke udara.


"Hoekk...! Ish..., bau apa nih...?! Busuk banget...!" Sisil menutup hidungnya saat mencium aroma bau busuk, begitu pintu dibuka.


Sisil terus mengendus, mencari sumber bau itu. "Ah..., sepertinya dari bungkusan ini.." gumam Sisil, begitu mendapati sumber bau yang menyengat. "Apaan nih..?" perlahan Sisil membuka plastik hitam tersebut.


"Iyy...! Hyak...! Huff..., bau banget...! Ih... Kyara kok jorok amat sih...! Sisil pun membuang bungkusan plastik itu.


Setelah selesai membersihkan ruang tamu, Sisil berjalan menuju kamar Kyara. "Ups...! Berantakan sekali ranjangnya...! Kyara tidurnya gimana sih, sprei sampai nggak jelas begini bentuknya ! Apa aku ganti aja ya...? Aku ganti deh...! Biar nanti kalau Kyara pulang, semuanya kelihatan fresh !"


Sisil membuka lemari pakaian Kyara, mengambil satu set sprei berwarna pink. Sisil meletakkan sprei di atas meja rias. "Eh..., jam tangan siapa nih ? Gede banget..., he...he...! Ini kan jam tangan cowok, masak iya, Kyara pakai jam tangan cowok, hi...hi...hi.." gumam Sisil tertawa kecil, membayangkan Kyara memakai jam tangan sebesar itu.


Hmm..., lucu banget ya, kalau Kyara pakai jam tangan ini, tangan dia kan kecil...! Ah, jangan-jangan, ini hadiah buat cowok Kyara... batin Sisil. Tapi..., siapa cowok Kyara sekarang...? Sama Ajay kan sudah lama putus...! Hmm, pasti cowok songong itu ! Ya, pasti dia ! Dia kan kelihatan panik banget waktu Kyara sakit...


Sisil meletakkan kembali jam tangan itu. Dia kemudian menarik sprei yang akan digantinya. "Ting...ting..ting..! beberapa buah botol berjatuhan, tepat di bawah kaki Sisil. Botol-botol tersebut terbuat dari kaca berbahan tebal, sehingga tidak pecah saat jatuh.


Sisil memungut ketiga botol itu. Yang satu tampak masih utuh. "Botol apaan ini ! Kayak botol tempat pakan ikan hias, ya...he...he...he.... Tapi, Kyara kan nggak punya ikan hias... !" gumam Sisil. "Eh, yang ini masih utuh ! Ish, cairan apaan ini...? Pekat banget...!" Sisil kembali menaruh ketiga botol itu di atas meja rias Kyara. Setelah itu, dia kembali membereskan tempat tidur Kyara.


Sisil masih asyik dengan pekerjaannya. Hingga tanpa disadarinya, azan dzuhur pun mulai berkumandang bersamaan dengan beresnya kegiatan Sisil membersihkan kamar kost Kyara.

__ADS_1


"Ahh..., akhirnya..., beres juga pekerjaanku...! Aku foto dulu ah, buat bukti ke cowok si minim kosa kata itu !"


Jepret... jepret... jepret...! Sisil asyik mengambil beberapa gambar dengan kamera ponselnya. Dia melihat hasil jepretannya, dan tersenyum puas. Setelah itu, Sisil mengumpulkan barang-barang Kyara untuk dibawanya ke rumah sakit. Tak lupa dengan botol-botol tadi. Siapa tahu, Kyara memerlukannya... batin Sisil.


Jarum jam terus berputar. Lepas magrib, Sisil menjenguk Kyara ke rumah sakit. Tak lupa membawa barang-barang Kyara yang dianggap penting.


"Assalamualaikum...! Hay Ra...! Gue udah datang nih...! Lo pasti kangen ya sama gue..!" Sisil nyelonong masuk tanpa dipersilakan.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sisil.


"Lo udah makan Ra...? Ini...! Gue bawain soto ayam, kesukaan lo..! Kita makan yuk Ra...! Lapar banget nih...!" Sisil terus nyerocos, tapi orang yang diajak bicara, masih tetap tak meresponnya.


Sisil menarik napasnya, panjang. "Ra, sudah sepekan lo diemin gue. Lo nggak sayang gue lagi Ra...!" ujar Sisil seraya meraih tangan Kyara. Tapi Kyara masih tetap diam. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.


Sisil tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Tanpa terasa, buliran air hangat mulai menetes dari matanya.


"Makanlah !" perintah Bagas.


Sisil mengeluarkan ponselnya,"Lihatlah ini tuan ! Aku sudah berhasil melaksanakan perintah tuan. Ini...! Lihatlah..! Sudah bersih kan..." Sisil menyerahkan ponselnya ke arah Bagas.


Bagas menerimanya, isyarat matanya seakan bertanya, apa ini...?


"Ah..., dasar tuan minim kosa kata ! Lihatlah ! Ini foto-foto ruangan kamar kost Kyara yang sudah aku bersihkan. Gimana...? Kinclong kan...?!" ujar Sisil sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Bagas meliriknya sepintas, "Hmm..." hanya itu yang lolos keluar dari mulutnya.


"Apa ! Cuma hmm saja...! Ish, tuan..., bilang makasih kek ! Thankyu kek ! Muji kek...! Ahh..., dasar tuan si minim kosa kata !" gerutu Sisil, kesal.


"Oh iya, Ra...!" Sisil menghampiri Kyara kembali, "Ini, gue bawain barang-barang lo ! Ada tas, dompet lo, perhiasan, ponsel, jam tangan, sama make up lo...! Tapi ngomong-ngomong Ra, sejak kapan lo pakai obat ini ya...? Kok gue nggak tahu..! Ini obat apaan Ra...? Obat diet ya...? Gue bagi dong...!" Sisil terus berbicara sambil meletakkan barang Kyara satu persatu di atas nakas. Berharap dengan cara seperti ini, Kyara akan kembali sadar. Namun usaha Sisil sia-sia.


Bagas memperhatikan barang-barang yang dikeluarkan oleh Sisil. Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada sebuah jam tangan yang tergeletak di atas nakas. Sepertinya gue kenal jam tangan itu...


Bagas menghampiri Sisil. Dia mengamati jam tangan itu lebih dekat. "Jam tangan siapa ?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Semua ini aku bawa dari kamar Kyara, ya pasti punya Kyara lah...!" jawab Sisil, enteng.


"Kenapa ada jam tangan pria di kamar seorang wanita ?" tanya Bagas, curiga.


"Ish, tuan...! Mungkin saja jam tangan ini hadiah buat cowoknya Kyara !" jawab Sisil. "Tapi ngomong-ngomong, siapa ya pacar Kyara sekarang ? Yang lama kan sudah putus ! Ah, pasti cowok songong itu ya, tuan ? Mungkin jam tangan itu hadiah buat si cowok songong ! Teman kamu...!" ujar Sisil.


Ya Tuhan..., kenapa Engkau ciptakan gadis secerewet dia...? gumam Bagas dalam hati. Bagas merasa kesal dengan tingkah Sisil yang selalu banyak bicara. Bagas masih terus memperhatikan jam tangan itu. Ya..! Tidak salah lagi, itu jam tangan milik Ajay...


Darimana kamu temukan jam tangan ini ?" kembali Bagas bertanya.


"Ish, tuan...., aku kan sudah bilang, ini semua dari kamarnya Kyara." kembali Sisil mengulang jawabannya.


"Tepatnya ?" tanya Bagas penuh penekanan.


"Di atas meja rias, puas...!!" jawab Sisil, kesal.


Bagas kembali duduk di sofa. Namun pikirannya terus berkelana tentang sebuah pertanyaan. Kenapa jam tangan Ajay bisa berada di kamar Kyara ?


Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kyara sudah terlelap, dan Sisil pun sudah pamit pulang, karena esok hari dia harus bekerja.


Bagas kembali menghampiri benda-benda yang berada di atas nakas. Kembali pandangan Bagas terkunci pada sebuah benda yang dianggapnya janggal. Ya ! Botol-botol itu !


Tunggu ! Tadi gadis itu bilang, ini obatnya Kyara ? Obat diet ? Apa iya, ibu hamil boleh mengkonsumsi obat diet ? Ah, lebih baik besok aku tanyakan ke mbak Risa. Mungkin saja ini bisa jadi barang bukti atas apa yang memimpa Kyara waktu itu.


Bagas pun memasukkan ketiga botol itu ke dalam saku celananya....


Bersambung....


Mohon maaf jika author telat banget up..., dikarenakan ada musibah yang sedang menimpa author. Tapi sekarang, jika tidak ada kendala,insyaallah author akan mulai up kembali tiap hari...


Terima kasih untuk readers yang sudah mendukung author...


Jangan lupa like, vote n komennya...🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2