Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Depresi


__ADS_3

Assalamualaikum readers...


Semoga masih suka dengan ceritanya...


Jadikan favorit yaaa...supaya dapat notif up nya...πŸ™


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Malam semakin larut, namun Bagas masih terus berada di samping Kyara. Dia masih menggenggam tangan mungil Kyara. Bagas enggan kembali ke sofa, karena takut Kyara akan kembali bermimpi buruk. Bagas masih setia menggenggam tangan Kyara, hingga rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya Bagas pun terlelap menunduk di dekat tangan Kyara.


****


Sayup-sayup suara azan subuh terdengar. Bagas membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah pucatnya Kyara. Ya...! Wajah itu masih terlihat pucat, tapi tidak menghilangkan kecantikannya.


Bagas segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu, dia menunaikan solat subuhnya di kamar. Di salam yang terakhir, dia mendengar suara lirih Kyara.


"Air.... air...., haus..." gumam Kyara, lirih. Namun matanya masih tetap terpejam.


Selesai solat, Bagas segera menghampiri Kyara, "Ada apa, nona...? Kau membutuhkan sesuatu...?" tanya Bagas.


"Air...air..." Kyara kembali bergumam lirih.


Bagas segera mengambil gelas yang ada di atas nakas. Dia mengangkat kepala Kyara sedikit, menyangganya dengan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya mendekatkan gelas ke mulut Kyara. Kyara menenggak minumannya sedikit. setelah itu, Bagas membaringkannya kembali.


Bagas merasa aneh, Kyara meminta air, Kyara meminumnya, tapi kenapa mata Kyara masih terpejam. Apa yang terjadi, nona...? Bagas masih tetap memegang tangan Kyara, hingga kembali dia terlelap.


***


Pagi pun mulai datang. Pukul 7 pagi, seorang perawat memasuki kamar Kyara.


"Pak...! Bangun, pak..!" perawat itu mengguncang pelan bahu Bagas untuk membangunkannya.


Merasa ada guncangan di sebagian tubuhnya, Bagas pun segera bangun. Berharap bahwa Kyaralah yang mengguncangkan bahunya. Namun saat membuka mata, harapan itu pun sirna. Kyara masih tetap terlelap, hanya seorang perawat yang sedang berdiri di sampingnya.


"Maaf, pak ! Saya akan memeriksa ibu." kata perawat itu.


Bagas menarik kursinya, memberikan ruang kepada perawat itu, agar lebih leluasa saat memeriksa Kyara.


"Bagaimana keadaannya, sus...?" tanya Bagas, ketika melihat perawat itu telah selesai memeriksa Kyara.


"Kondisi ibu baik-baik saja, pak." jawab perawat itu.

__ADS_1


"Baiklah..! Terima kasih, sus..!" ucap Bagas.


"Sama-sama, pak. Saya permisi dulu, pak !" perawat itu pun pamit, kembali meninggalkan Bagas sendirian di ruangan itu.


Bagas kembali termenung di samping Kyara. Ada apa nona...? Perawat tadi bilang, nona baik-baik saja, tapi kenapa nona belum mau membuka mata...? batin Bagas.


"kruuk...kruuk..." Bagas memegang perutnya. Aah... ternyata sudah waktunya sarapan. Pantas saja nih perut sudah minta jatah..., uuh... lapar banget..! Apalagi semalam gue nggak makan, apa gue cari makan dulu ya...! Visit dokter kan nanti, jam 9.... Bagas berdiri, hendak melangkahkan kakinya. Baru beberapa langka, tiba-tiba dia berhenti. Kalau gue keluar, siapa yang bakalan jaga dia...? Bagas berpikir sejenak. Ah..., gue pesan makanan online saja deh...! Bagas pun mengetikkan sesuatu di ponselnya.


15 menit kemudian, makanan yang dipesannya sudah sampai. Bagas sengaja mencari food court yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Bagas membuka kotak makannya, tercium aroma yang sangat menggugah selera, membuat Bagas semakin tak sabar untuk menikmati makanannya.


Saat Bagas sedang asyik makan, tiba-tiba Kyara sadar. Dia membuka matanya, menatap langit-langit kamar. Namun anehnya, tatapan matanya terlihat kosong. Bagas tak menyadari jika Kyara telah sadar. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka...


"Assalamualaikum...!" sapa dokter Risa, tampak rapi dengan pakaian dinasnya.


"Waalaikumsalam..., eh.., dok..!" Bagas meletakkan makanannya, kemudian berdiri hendak menghampiri dokter Risa.


"Santai saja, Gas...! Panggil mbak aja ! Ayo, lanjutkan makannya, saya hanya ingin melihat..." dokter Risa melirik ke arah Kyara, "Masya Allah....! Kamu sudah sadar, Kya...?!"


Bagas kaget, dia pun segera mengalihkan pandangannya. Ya...! Terlihat Kyara sudah membuka matanya, namun dia sepertinya tidak terganggu dengan percakapan antara Bagas dan dokter Risa tadi.


Bagas dan dokter Risa segera menghampiri Kyara.


"Bagaimana keadaanmu, Kya ?" tanya dokter Risa.


"Mbak, apa yang terjadi padanya ? Kenapa dia tak merespon pertanyaan mbak ?" tanya Bagas.


"Aku sendiri tidak tahu, sebentar..." dokter Risa meraih tangan Kyara, memeriksa denyut nadinya. Dengan menggunakan stetoskop, dokter Risa memeriksa detak jantung Kyara. "Normal." gumamnya. "Kya..., apa kau mendengarku...? Kya...?!" dokter Risa memegang bahu Kyara. Namun Kyara tetap tak bergeming.


"Permisi...! Ini, saya bawa sarapan untuk ibu, pak !" seorang perawat perempuan paruh baya, tiba-tiba muncul di depan pintu.


Bagas menghampirinya untuk mengambil baki nampan yang berisi sarapan untuk Kyara. Setelah itu, Bagas meletakkannya di atas nakas.


"Aku ke ruanganku dulu, Gas ! Kamu suapi dia dulu !" ujar dokter Risa.


"Baiklah mbak..." jawab Bagas.


Setelah dokter Risa pergi, Bagas membuka tutup baki nampan yang isinya ternyata bubur ayam. Asap masih terlihat mengepul dari bubur ayam tersebut. Bagas membiarkannya terbuka, agar sedikit lebih dingin.


Bagas membenahi bantal di belakang Kyara. Kemudian menekan tombol yang ada di samping ranjang, supaya terangkat sedikit di bagian atas. Sehingga Kyara akan merasa lebih nyaman ketika makan. Namun setiap pergerakan Bagas, masih tak mengundang perhatian Kyara.


"Ayo, nona..., kita sarapan dulu ! Sepertinya, buburnya sudah agak dingin sekarang..!" Bagas mengambil bubur ayam tersebut. "A..., dibuka mulutnya ya, nona...a...a..." gaya Bagas sudah seperti seorang ibu yang hendak menyuapi anaknya.

__ADS_1


Sayangnya, hal itupun masih membuat Kyara tak bereaksi. Lama Bagas menunggu, tapi Kyara tetap diam. Matanya menatap lurus ke depan, namun tatapan matanya masih terlihat kosong.


Tiba-tiba, Kyara menarik kedua kakinya, seperti biasa, dia menekuk kedua lututnya hingga ke dadanya. Kedua tangannya mendekap erat kedua kakinya, dia menumpukan dagunya di atas kedua lututnya dan mulai menggoyangkan badannya.


"Anakku... kembalikan anakku... Jangan ambil anakku... kembalikan...aku mohon..." gumamnya lirih.


"Nona, apa kau baik-baik saja ?" Bagas menyentuh bahu Kyara, mencoba menyadarkannya. Tapi Kyara masih tetap tak merespon ucapan Bagas.


Ya Tuhan..., apa yang terjadi padanya...? batin Bagas. Baru saja Bagas hendak beranjak untuk menaruh bubur ayam di atas nakas, tiba-tiba Kyara berteriak histeris. Dia menyingkapkan selimutnya, dan segera turun dari ranjang. Dia kembali mencabut jarum infus yang ada di tangannya.


"Nona, mau kemana ?" tanya Bagas, kaget.


Kyara tak menghiraukan Bagas. Dia terus berlari, berteriak histeris memanggil anaknya. Kegaduhan pun kembali terjadi. Kyara berhasil menerobos pintu, namun Bagas berhasil juga menarik tangannya. Bagas mendekapnya erat, Kyara terus meronta. Sampai akhirnya, perawat kembali memberikan suntikan penenang kepadanya.


Kyara mulai terlihat lemas, Bagas kembali menggendongnya dan membaringkannya di atas ranjang.


Dokter Risa yang terlebih dulu berada di kamar rawat Kyara, hanya bisa menatap sendu ke arah Kyara. Ya...! Tadi seorang perawat menghubunginya, karena terjadi kegaduhan di kamar Kyara. Saat dokter Risa tiba, tampak Kyara sedang meronta dan berteriak histeris memanggil anaknya. Hingga akhirnya perawat tiba untuk memberikan Kyara suntikan penenang. Dokter Risa pun terlihat syok melihat kejadian itu. Dia masuk ke kamar Kyara untuk menenangkan dirinya.


"Mbak...?!" panggil Bagas yang mendapati dokter Risa tengah duduk di sofa.


Dokter Risa terhenyak mendengar panggilan Bagas. Dia pun berdiri dan menghampiri Bagas. "Apa kemarin, Kyara bersikap seperti ini juga ?" tanya dokter Risa.


"Iya, mbak...! Ini sudah yang ketiga kalinya." jawab Bagas.


Dokter Risa menatap Kyara, "Sepertinya...., dia...mm..., dia..." dokter Risa tak melanjutkan kata-katanya. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk berkata. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Tanpa sadar, dia memegang perutnya, Ya Tuhan... tolong jaga kandunganku...! batinnya. Dia membayangkan, jika dia berada di posisi Kyara, dia pun pasti tak akan sanggup menerimanya.


"Dia kenapa, mbak...?" tanya Bagas penasaran, karena dokter Risa menggantung kalimatnya.


"Dia..., dia mungkin..., depresi, Gas..." jawab dokter Risa, lirih.


Bagas diam, berusaha mencerna perkataan dokter Risa. Ya Tuhan, mungkinkah dia depresi karena kehilangan janinnya...??


Bersambung....


Hai readers....


Author ucapkan terima kasih karena sudah bersedia mampir di karya pertama author ini...


Jika berkenan, tolong tinggalkan jejak jempolnya ya...


Saran dan kritik, author tunggu, untuk bisa lebih baik lagi dalam berkarya.

__ADS_1


Jangan lupa, like, vote n komennya... makasih...


__ADS_2