
"Uncle....!" teriak Arumi yang baru saja tiba diantar sopirnya.
"Ah hai....baby Arum..., ponakan uncle, apa kabar ?" ujar Bagas seraya menggendong dan menciumi pipi gembulnya Arumi.
"Lepas uncle ! Arum sudah besar, jangan gendong Arum lagi !" bentak Arumi.
"Ah ya...! Uncle lupa, sorry !" ujar Bagas.
"Satu lagi ! Jangan cium-cium pipi Arum lagi !" Arumi merenggut.
"Iya-iya sayang...! Uh..., ponakan uncle udah punya pacar yaaa, ampe nggak mau dicium lagi ma uncle !" goda Bagas seraya membelai lembut rambut ponakannya.
"Enak aja ! Arumi masih kecil, belum boleh pacaran ! Uncle tuh yang harusnya udah punya pacar ! Udah gede tapi jomblo akut...!" gerutu Arumi.
"He...he...he..."
Kyara terkekeh kecil mendengar Arumi mengatai suaminya jomblo akut. Sedangkan Bagas, mulutnya sampai ternganga karena tidak pernah menyangka dengan ucapan Arumi yang tidak pantas untuk ukuran seusianya.
"Ah..., bu guru syantik...!! Arum kangen...!"
Arumi menghambur ke arah Kyara dan ikut memeluk Kyara seperti murid-murid yang lainnya. Meskipun Arumi bukanlah anak didiknya Kyara, namun dia benar-benar merindukan guru yang sudah disayanginya itu.
"Ibu juga kangen sama kamu, nak !" ujar Kyara membelai lembut pipi Arumi.
"Ya sudah, sekarang kalian masuk kelas dulu ya ! Nanti ibu menyusul !" perintah Kyara pada anak didiknya.
"Baik bu...!!" ujar serempak dari murid-muridnya. Mereka pun berlarian menuju kelasnya, begitu juga dengan Arumi.
"Baby Arum, tunggu !" ujar Bagas mencegah kepergian Arumi.
"Hei ! Darimana kamu tahu kata jomblo akut ?" tanya Bagas menghampiri Arumi dan istrinya.
"Sudahlah, tuan ! Arumi masih kecil, jangan terlalu diambil hati omongannya !" ujar lembut Kyara.
Bagas mengernyitkan dahinya.
"Tidak bisa seperti itu, dia harus menjelaskan semuanya. Kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh anak seusia dia. Dan kamu ? Sejak kapan kamu memanggilku tuan ?" Bagas mulai geram. Kedua tangannya mencekal tangan istri dan keponakannya.
"Ikut aku ! Ada yang harus kita luruskan dari permasalahan ini !" ujarnya seraya menyeret mereka ke taman belakang.
Kyara dan Arumi hanya bisa saling pandang dan mengikuti langkah Bagas.
"Kau akan membawa kami kemana ?" tanya Kyara.
"Taman belakang." jawab Bagas datar.
"Untuk apa ?" Arumi ikut bertanya.
"Uncle punya kejutan untukmu." masih dengan nada datar.
"Ish tuan, kau bisa terlambat pergi ke kantor. Lihatlah, ini sudah hampir jam setengah 8 !" Kyara mencoba bernegosiasi dengan suaminya.
"Aku bos nya. Tidak akan ada yang berani menegurku !" ujar Bagas sombong, tentunya kesombongannya itu hanya dalam taraf menggoda istrinya.
"Tapi itu akan berpengaruh buruk pada reputasimu ! Bagaimana bisa seorang atasan memberi contoh yang tidak baik pada bawahannya." ujar Kyara kesal.
"Sudahlah nona, aku hanya bercanda ! Duduklah !" perintah Bagas begitu mereka tiba di bangku yang sering mereka duduki saat istirahat sekolah.
Kyara dan Arumi duduk berdampingan.
"Baby Arum, dengarkan uncle ya ! Mulai sekarang, baby Arum harus awasi bu guru syantik ya ! Jangan biarkan bu guru syantik ngobrol dengan guru-guru pria di sekolah baby Arum, ya ! Kalau baby Arum lihat itu, baby Arum langsung lapor uncle, ya !" ujar Bagas sambil tersenyum ke arah istrinya.
"Kau...! Pergilah...! Jangan bawa-bawa Arumi dalam urusan kita !" ujar Kyara segera mendorong tubuh suaminya.
__ADS_1
"Tunggu ! Memangnya kenapa uncle !" Arumi malah penasaran dengan omongan pamannya.
"Karena mulai hari ini, bu guru syantik adalah onty nya baby Arum...!" ujar Bagas.
"Onty...! Maksud uncle, bu guru syantik istrinya uncle ?" tanya Arumi.
Bagas mengangguk. "Iya, bu guru syantik adalah istrinya uncle, dan uncle suaminya bu guru syantik. Arumi ngerti kan...?" ujar Bagas
"Yeayyyy....! Bu guru syantik onty nya Arum... yeayyy...!" teriak Arumi kegirangan sambil berlari mengelilingi Bagas dan istrinya.
Arumi memang baru kelas 2 SD, tapi dia sudah cukup mengerti apa maknanya istri dan suami. Karena Arumi sering diajak kedua orang tuanya pergi ke acara pesta pernikahan rekan bisnis ayahnya.
"Sudahlah, berangkatlah ke kantor !! Nanti kamu terlambat ! Aku dan Arumi hendak masuk, sebentar lagi bel berbunyi !" ujar Kyara.
Bagas mengangguk. Setelah kedua orang yang sangat dicintainya hilang dari pandangan matanya. Bagas segera kembali ke parkiran dan melajukan mobilnya menuju kantornya.
"Pagi bos !" sapa para karyawan Bagas begitu dia tiba di lobi kantor.
Bagas tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Begitulah kharisma Bagas yang membuat para karyawan wanita berdecak kagum.
Bagas segera menuju lift khusus CEO. Dia menekan lantai paling atas. Setelah menunggu beberapa menit,
Ting....!
Pintu lift terbuka. Bagas segera keluar dan menuju ruangannya. Saat dia hendak membuka handle pintu ruangannya, tiba-tiba.
"Selamat pagi calon imam...!" sapa seorang gadis.
Bagas segera membalikkan badannya.
"Kau...!"
Bagas terkejut melihat gadis berambut panjang yang memgenakan pakaian kekurangan bahan berdiri tak jauh dari hadapannya. Gadis itu berdiri seraya mendekap beberapa berkas di tangannya. Rambutnya yang tergulung ke atas dan di tata sedemikian rupa, menampakkan jenjang mulus lehernya. Baju berbahan kaos spandek melekat di tubuh bagian atasnya, sehingga menampilkan silhout gunung kembarnya dengan sempurna. Rok span berwarna maroon, terbelah di kedua sisi kiri kanannya kira-kira sepanjang 10 cm, sehingga jika dia melangkahkan kakinya, akan terekspos sempurna paha putih nan mulusnya.
"Ish..., kenapa gadis itu bisa berada di sini !" ujar Bagas kesal.
Tok...tok...tok...
"Masuk...!"
Ceklek....!
Pintu terbuka. Dengan gayanya bak model, gadis itu berjalan menghampiri Bagas.
"Permisi pak ! Ini berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani !" ujarnya mengulurkan berkas itu.
Tanpa diperintahkan Bagas, gadis itu duduk di hadapan Bagas seraya menyilangkan kaki kanannya, membuat paha mulusnya terlihat semakin sempurna.
"Ck...!"
Bagas berdecak kesal. Keterkejutannya saat mendapati gadis itu di kantornya saja belum hilang, sekarang dia dibuat semakin terkejut oleh sikap sang gadis yang penuh ketidaksopanan.
Bagas segera menekan dial telpon di hadapannya.
"Ya bos !" suara di ujung telpon.
"Datang ke ruanganku, sekarang !" perintah Bagas.
Doni yang mendapatkan perintah dari bos nya, segera berdiri dari kursinya. Dia pun pergi ke ruangan bos nya.
Kenapa pagi-pagi si bos nyuruh gue ke ruangannya. Terus nada bicaranya pun terkesan sangat dingin. Hmm, apa gue punya salah...?? batin Doni.
Doni mengetuk pintu ruangan Bagas.
__ADS_1
"Masuk !" terdengar suara berat Bagas dari dalam ruangan.
Doni segera membuka pintunya. Dia senang Bagas sudah mulai kembali bekerja. Namun dia sedikit terkejut melihat gadis itu duduk di hadapan Bagas.
"Kau, keluarlah !" perintah Bagas.
"Tapi, calon imam...!" tolak gadis itu.
"Keluarlah !" bentak Bagas.
Doni benar-benar dibuat terkejut oleh sikap Bagas. Selama ini, Bagas memang orang yang dingin, tidak pernah banyak bicara. Namun dia juga bukan orang yang penuh emosi. Baru kali ini Doni melihat kemarahan di raut wajah atasannya. Doni mulai gemetar.
"Bisa kau jelaskan apa artinya semua ini ?" ujar Bagas merasa geram dengan kejutan demi kejutan yang menghampirinya.
"Ma...maaf bos...! Di...dia Rachella, sekretaris baru bos !" ujar Doni tergagap.
"Lalu sekretaris lamaku ?" ujar Bagas heran.
"Bertepatan dengan kepergian bos, sekretaris lama bos mengundurkan diri karena akan segera menikah. Maaf, saya tidak memberitahukan hal ini kepada bos, karena saat itu bos dan istri bos sedang berduka. Jadi saya tidak ingin menambah beban pikiran bos." ujar Doni.
"Lalu kenapa wanita itu yang harus menggantikannya ?" ujar Bagas.
"Sebenarnya, semua ini atas permintaan kakak perempuan bos." ujar Doni.
"Kak Indah ?" tanya Bagas tak percaya.
Doni mengangguk.
Bagas pun semakin terkejut mendengar penuturan Doni. Dia merasa heran kenapa kak Indah harus melakukan semua ini. Apa ada maksud tertentu dibalik pengangkatan gadis itu sebagai sekretarisnya ? Bagas menyugar kasar rambutnya.
"Katakan !" ujarnya tegas.
"Semenjak kepergian bos, ada beberapa perusahaan yang menolak menunda pertemuan. Saya sampai dibuat kewalahan oleh permintaannya. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan tuan Gunawan dalam mencarikan seorang sekretaris yang sudah berkompeten. Awalnya, tuan Gunawan hendak meminjamkan nona Riska, sekretarisnya tuan Alvaro. Karena menurut tuan Gun, nona Riska sudah banyak pengalaman menjadi seorang sekretaris perusahaan otomotif. Tapi tiba-tiba saja, nyonya Indah meminta tuan Gun untuk menempatkan nona Rachella di perusahaan ini. Untuk alasannya sendiri, mohon maaf saya tidak mengetahuinya bos !" ujar Doni panjang lebar.
Bagas menghela napasnya. Dia sudah bisa menebak alasan kak Indah berbuat seperti itu. Bagas beranjak dari kursinya.
"Mau kemana bos ?" tanya Doni.
"Menemui kak Indah !" jawab Bagas.
"Mohon maaf bos, sepertinya bos harus menunda niat bos sampai pulang kerja !" ujar Doni membungkukkan badannya dengan sopan.
"Maksudmu ?"
"Hari ini bos memiliki agenda 3 meeting sekaligus. Dua di antaranya akan dilaksanakan di kantor ini mulai pukul 09.00, dan 1 lagi pertemuan diadakan di restoran Lexi pukul 16.00." ujar Doni.
Kembali Bagas terkejut dengan semua jadwalnya.
"Puas kamu Don ! Benar-benar kejutan sempurna di pagi hariku !" dengus Bagas kesal
"Maaf bos !" sekali lagi Doni membungkukkan badannya.
"Pergilah ! Beri aku waktu setengah jam untuk menenangkan pikiranku !" ujar Bagas.
"Baik bos ! Permisi...!"
Setelah kepergian Doni, Bagas segera pergi ke kamar yang ada di ruangannya. Dia pun menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Kejutan yang sempurna...! Huh....!" gumam Bagas seraya membuang napasnya kasar.
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya ya gaiss....
__ADS_1