
Bagas kembali ke rumah kakaknya dengan perasaan kesal yang tiada tara. Sapaan sang kakak pun tak dihiraukannya. Bagas terus saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah mandi dan membersihkan wajahnya dari sentuhan tak senonohnya gadis kurang ajar itu.
***
Waktu terus berjalan. Jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Tanpa terasa hari kelahiran anaknya Cecilia yang telah diketahui jenis kelaminnya melalui USG, sudah semakin dekat.
Mengetahui jenis kelamin anaknya adalah perempuan, Ajay semakin antusias menyambut kelahirannya. Bahkan dia sendiri yang menyiapkan semua keperluan putrinya kelak
"Akan kau beri nama apa bayi ini, mas ?" tanya Cecilia yang telah mengubah nama panggilannya kepada Ajay suaminya.
Sore itu, seperti biasa mereka sedang duduk di taman belakang untuk menikmati matahari senja yang mulai turun di ufuk barat.
Cecilia menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya. Belaian lembut tangan Ajay di perutnya selalu membuat Cecilia merasa nyaman.
Nama....?? Dulu aku pernah mencari sebuah nama bayi perempuan bersama Kyara. Salsabila.., Kyara pernah menyebutkan nama Salsabila, mata air di surga. Dan aku..., saat itu aku menyebutkan nama Danisa yang artinya kegembiraan...
"Mas....!!" rajuk Cecilia.
Ajay terkejut mendengar rajukan Cecilia yang terdengar cukup keras bagi Ajay yang sedang tenggelam dalam lamunannya.
"Eh, iya...! Kenapa ?" tanya Ajay.
"Mas kok malah ngelamun !" rajuknya lagi.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah di kantor. Jadi mas kurang fokus. Tadi kamu nanya apa ?"
"Aku tanya, bayinya mau diberi nama siapa ?" tanya Cecilia lagi
"Karena bayinya perempuan, jadi akan aku beri nama Danisa ! Apa kau suka ?"
"Kenapa Danisa ! Kenapa tidak Angelica, Jeniper atau Abigail..., kan bagus tuh mas...!" protes Cecilia.
"Hei..., nama Danisa juga bagus. Ada makna yang tersembunyi di balik nama itu. Ingat, nama itu adalah do'a !" ujar Ajay.
"Iya..., iya...! Terserah kamu saja, kamu ayahnya, jadi kamu yang lebih berhak memberikan apa pun kepada anak ini...!" ujar Cecilia merengut.
"Nah gitu dong...! Selalu nurut apa kata suami ! Ya sudah, kita masuk yu...! Sudah terlalu sore ! Anginnya sudah tidak baik untuk kesehatanmu !" ajak Ajay.
Cecilia mengangguk. Namun saat dia berdiri, tiba-tiba.
Tuk....!
Cecilia dan Ajay seperti mendengar sebuah benda terjatuh. Tiba-tiba, Cecilia merasakan sakit yang hebat di perutnya.
Serrr....
Sesuatu mengalir cukup deras dari area sensitif Cecilia. Cecilia menunduk, dia mendapati celananya telah basah.
"Mas...! Sepertinya bayinya sudah mau keluar !" ujar Cecilia meremas tangan Ajay karena merasa kesakitan.
"Aduh..., gimana ini...! Tahan sebentar sayang ! Aku cari bantuan dulu !"
Ajay mengeluarkan ponselnya, dia segera menghubungi ibunya.
"Hallo, Jay !" (nyonya Diana)
"Mih, kayaknya Cecil mau melahirkan !" (Ajay)
"Benarkah ? Apa sudah waktunya ?" (nyonya Diana)
"HPL-nya sih seminggu lagi mih !" (Ajay)
"Ya, sudah..! Kalian di mana ? Mamih ke sana sekarang ?" (nyonya Diana)
"Di rumah. Di taman belakang. Mamih cepat datang ya !" (Ajay)
Ajay segera menutup panggilannya.
__ADS_1
10 menit kemudian, nyonya Diana tiba di halaman belakang. Dia segera menghampiri Cecilia yang tengah merintih kesakitan.
"Bagaimana keadaanmu, sayang ?"
"Aww...., sakit mih...!"
"Sabar ya sayang...! Ish..., ngapain kamu masih di sini...! Ayo cepat ambil mobil, kita harus segera membawa Cecil ke rumah sakit !" perintah nyonya Diana kepada Ajay.
"Iya mih...!"
Ajay berlari menuju garasi. Dia mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi, setelah itu dia kembali ke halaman belakang. Tiba di sana, Ajay segera menggendong Cecilia dan membawanya ke mobil.
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, mobil sport berwarna putih itu melaju membelah jalanan ibukota yang cukup ramai.
Setengah jam kemudian, Ajay tiba di rumah sakit. Di depan lobi rumah sakit, Ajay menurunkan Cecilia dan memapahnya ke dalam. Dia menyerahkan kunci mobilnya kepada keamanan untuk diparkirkan.
"A...aku tidak kuat lagi, mas...!"
"Sebentar sayang ! suster tolong, istri saya mau melahirkan !"
"Baringkan dia di sini, pak !"
Dua orang perawat menghampiri Ajay dengan membawa brankar. Ajay pun membantu istrinya untuk berbaring di atas brankar tersebut. Setelah itu mereka mendorong brankar itu ke ruang bersalin.
"Jika bapak mau, bapak bisa ikut kami ke dalam !" ujar salah seorang perawat itu.
Ajay mengangguk. Dia pun mengikuti mereka masuk ke dalam ruang bersalin.
"Sebentar ya bu, biar saya periksa dulu ! Sus, tolong buka celananya !" titah sang dokter berhijab yang tak lain adalah dokter Risa.
"Apa istri saya akan baik-baik saja, dok ?" tanya Ajay cemas.
Dokter Risa melirik ke arah laki-laki itu. Sejenak dia nampak tertegun melihat laki-laki itu.
Kenapa wajahnya seperti tak asing lagi...? batin dokter Risa.
Kembali Ajay bertanya dan membuat dokter Risa segera sadar dari lamunannya.
"Bersabarlah pak ! Biar kami tangani dulu !" jawab dokter Risa seraya memakai sarung tangannya.
"Bapak bisa berdiri di dekat kepala istri bapak ! Peganglah tangannya untuk memberikan kekuatan secara lahir agar istri bapak bisa tenang menjalani persalinan ini." titah dokter Risa.
Ajay mengangguk, kemudian dia mendekati istrinya untuk mengikuti nasihat dokter Risa.
"Sabar ya sayang...! Berjuanglah, demi anak kita !" ujar Bagas.
Cecilia merasa terharu dengan perhatian Ajay. Dia kemudian menitikkan air matanya.
"Bagaimana tekanan darahnya, sus ?"
"Normal, dok !"
"Denyut nadinya ?"
"Normal juga, dok !"
Dokter Risa tersenyum, dia pun mulai berjongkok.
"Ibu ikuti perintah saya ya ! Tolong jangan ngeden dulu jika saya belum bilang ya ! Mengerti !"
"I...iya...dok..!"
"Tarik napas...!"
Cecilia mengikuti arahan dari dokter cantik berhijab itu.
"Lepas perlahan....!"
__ADS_1
Cecilia membuang napasnya secara perlahan, sesuai dengan arahan dokter.
"Ya !"
"Heee......hheeeee....!"
"Ya..., sekalikan bu...! Jangan disendat-sendat...! Kasihan dedeknya...!" teriak sang dokter.
"Sa... saya tidak kuat dok...! Sa...sakit sekali...! Hu...hu..hu...!" Cecilia mulai menangis merasakan kesakitannya.
"Hupsss...!"
Dokter Risa menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia kemudian berdiri.
"Dengar bu, ibu harus bertahan ! Ibu harus kuat ! Ibu harus berjuang, demi kelangsungan hidup bayi ibu ! Jika ibu ngedennya seperti itu, ibu akan kehabisan tenaga, dan pada akhirnya ibu bisa kelelahan dan menyebabkan bayi ibu meninggal di dalam. Apa ibu mau melakukan sc ?" tanya dokter Risa.
"Tidak dok ! Saya ingin melahirkan secara normal !" teriak Cecilia.
"Kalau begitu, ibu harus semangat ! Ayo sekali lagi !"
Dokter Risa kembali berjongkok di depan area sensitif pasiennya.
"Siap bu...!"
"Tarik napas...!"
"Buang perlahan...!"
"Ya....!"
"Hheeeeeee..........! Aaaarrrgghhhh........!"
"Oeeeekkk.....oeeeekkkk....oeeekkkkk.....!"
"Alhamdulillah....!"
Seketika terdengar suara tangisan bayi yang segera diikuti ucapan hamdalah dari dokter dan para perawat di sana.
Dokter Risa memberikan bayi mungil itu kepada perawat untuk dibersihkan. Dia kemudian segera menindaklanjuti pasien yang berada di hadapannya.
Cecilia mendapatkan beberapa jahitan di bagian luar dalam area sensitifnya. Karena pada saat melahirkan, Cecilia terlalu banyak bergerak, sehingga menimbulkan kerobekan di bagian selaput area pribadinya.
"Silakan diazani dulu pak !" ujar sang perawat setelah bayi mungil itu dibersihkan.
Ajay menerima putrinya dan menggendongnya, dia pun mulai mengazani putrinya.
Setelah semua proses persalinan selesai, Cecilia dipindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya. Bayi Cecilia terlihat sangat sehat, karena itu dia tidak perlu di rawat terpisah dengan ibunya. Ruangan yang digunakan Cecilia termasuk kelas VVIP, jadi aman dan steril karena tidak sembarangan orang yang bisa masuk.
Selang beberapa jam, orang tua Ajay pun tiba di ruangan itu. Kebahagiaan atas kelahiran cucu pertamanya, terpancar jelas di wajah kedua orang tua itu.
"Aah...cucu oma...! Cantik sekali...!" ujar nyonya Diana seraya mendekati box baby.
Begitu juga tuan Ali yang segera mengikuti istrinya untuk melihat cucunya.
"Siapa namanya, Jay ?" tanya tuan Ali.
"Danisa Salsabila....! Seorang gadis cilik yang selalu membawa kegembiraan bagi orang tuanya seperti mata air dari surga..."
"Nama yang bagus sayang...! Aku suka..." ucap lirih Cecilia menatap Ajay penuh cinta.
Bersambung....
Mohon maaf jika author telat up...🙏🙏
Semoga masih suka dengan ceritanya..
Jangan lupa like vote n komennya....🙏🤭
__ADS_1