Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pernikahan


__ADS_3

Tanpa terasa, hari pernikahan Ajay dan Cecilia sudah semakin dekat. Ribuan undangan telah tersebar ke para kolega kedua belah pihak. Pernikahan pewaris tahta dua perusahaan akan menjadi berita viral untuk tahun ini.


Semakin hari nyonya Diana tampak semakin sibuk. Meskipun sudah ada WO yang mengurusi pernikahan putranya, namun nyonya Diana merasa belum puas jika tidak turun tangan secara langsung dalam mempersiapkan pernikahan putra sulungnya.


Akhirnya hari yang dinantikan Cecilia pun tiba. Sore ini dia tampak anggun mengenakan kebaya putih. Akad dan resepsi dilakukan di tempat yang sama. Di ballroom hotel Bintang, hotel termegah di kota B.


"Saya terima, nikah dan kawinnya Cecilia Maharani binti Guna Wirawan dengan maskawin seperangkat alat salat beserta set perhiasan emas seberat 100 gram, dibayar tunai !" ujar Ajay lantang.


"Bagaimana para saksi, sah ?" tanya penghulu.


"Sah...!"


"Sah...!"


"Sah...!"


"Alhamdulillah...."


Semua orang tampak senang dengan pernikahan tersebut. Berbeda dengan Bima yang kembali pulang setelah menyaksikan akad nikah kakaknya.


Kak Kya..., maafkan Bima yang tidak pernah bisa membela kak Kya. Bima kangen sama kakak, apa kakak juga kangen Bima ? gumamnya dalam hati.


Bima kembali memandangi foto dirinya bersama Kyara yang di jadikan wallpaper di ponselnya.


Bima tidak tahu kak, apa nanti Bima bisa sedekat ini dengan kak Cecil. Yang Bima tahu, Bima sangat menyayangi kakak. Bagi Bima, kak Kya lah kakak iparnya Bima. Bima kangen kak...!


Tok...tok... tok...!


Suara pintu kamar, membuyarkan lamunan Bima.


"Iya..., masuk !" teriak Bima.


"Permisi den, saya disuruh nyonya Diana menjemput aden, karena sebentar lagi acara resepsinya akan segera dimulai !"


"Baiklah, kau pergilah dulu ! Nanti aku menyusulmu !" perintah Bima.


"Tapi, den !"


"Sudahlah, bukankah acara resepsinya selepas magrib ? Aku mau salat magrib dulu di rumah, setelah itu baru berangkat. Sekarang, kau pergilah !" bentak Bima.


"Ba.. baiklah, den !"


Setelah kepergian sang supir, Bima kembali menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Pikirannya kembali mengembara mengenang Kyara. Pada saat kejadian, Bima memang sedang tidak ada di rumah. Namun mendengar cerita dari eyang uti, Bima dapat merasakan kepedihan Kyara waktu itu.


Berulang kali Bima menelpon Kyara, namun tidak pernah diangkatnya. Setiap hari Bima terus mencobanya, hingga di hari kelima, nomor ponsel Kyara pun sudah tidak bisa dihubungi.


Apa yang sebenarnya terjadi padamu, kak...?? Kembali Bima bergumam dalam hatinya.


Di ballroom hotel. Suasana resepsi pernikahan Ajay dan Cecilia tampak sangat megah dan meriah. Satu persatu para tamu undangan mulai berdatangan. Entah tamu tuan Ali ataupun tuan Guna, namun pada kenyataannya, tamu-tamu mereka saling kenal. Banyak para kolega tuan Ali dan tuan Guna yang sudah saling mengenal satu sama lain. Tentunya itu terjadi, karena sang pemilik pesta adalah 2 perusahaan yang menguasai bisnis di negara ini.


Semua orang sangat menikmati pestanya. Begitu juga dengan nyonya Diana. Meskipun dia agak sedikit kecewa dengan tingkah putra bungsunya, namun semua itu tidak membuat senyum di wajahnya sirna.

__ADS_1


Nyonya Diana mendekati suaminya.


"Ish..., dasar putra yang nggak bisa diandalkan !" gerutunya di samping suaminya.


"Kamu kenapa sih, mih ? Kok kayak kesel banget !" ujar tuan Ali, sambil sesekali tersenyum nenyalami tamunya.


"Itu Bima, pih..! Sudah jam segini, tapi tidak kelihatan batang hidungnya ! Kemana dia ?"


"Tadi Bima telpon papih, katanya dia nggak enak badan. Ya sudah, biarkan dia istirahat ! Yang penting kan tadi dia sudah menyaksikan akad nikah kakaknya."


"Ish.., emang nggak pernah bisa diandalkan tuh anak ! Padahal kan ini kesempatan dia untuk mengenal putri para pengusaha yang datang, siapa tahu ada yang cocok."


"Eits mamih...! Bima itu masih kecil, masih kelas 2 SMA, masak iya, mamih hendak menjodohkan dia..!


"Ish, papih ini...! Kalau ada yang cocok kan....!"


"Sudah-sudah...! Ayo berdiri ! Itu komisaris Arjun sedang berjalan ke arah kita !"


Belum selesai nyonya Diana berbicara, tuan Ali sudah menyelaknya. Tuan Ali tersenyum, kedatangan komisaris Arjun, menyelamatkan dia dari ocehan tak berguna istrinya.


Sementara, di perumahan elite.


Bagas yang sedang menyaksikan siaran langsung acara pernikahan sahabatnya, terkejut mendengar ketukan di pintu depan rumahnya. Segera Bagas pergi ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


Setelah pintu terbuka, Bima segera menghambur ke dalam pelukan Bagas.


"Loh, Bim ! Kamu nggak ikut resepsi kakakmu ?" tanya Bagas heran.


"Kak Bagas, apa kakak punya makanan ? Bima lapar ?" ujar Bima dengan polosnya.


Bagas tersenyum mendengar perkataan Bima.


"Ada di dalam. Yuk masuk !" ajak Bagas.


Bima pun masuk. Dia duduk di ruang keluarga sambil menunggu Bagas membawa makanan untuknya. Tak lama kemudian, Bagas datang membawa nampan yang berisi makanan dan berbagai cemilan.


Dengan mata berbinar, Bima segera meraih nampan itu, dan mulai memakannya dengan lahapnya.


"Kamu ini Bim, di hotel pasti banyak makanan, kenapa kamu bisa sampai kelaparan begini ? Dan ngomong-ngomong, kenapa kamu nggak hadir di acara resepsinya Ajay ?"


"Udah deh kak, jangan merusak selera makan Bima ! Bima nggak mau bahas kak Ajay !"


"Ck..., kamu itu...! Ya sudah, makan yang banyak ! Jika masih kurang, di meja makan masih ada kok..! Kayaknya kamu bener-bener kelaparan...! He..he...!


Bima hanya membulatkan matanya mendengar gurauan Bagas. Sementara Bagas mulai fokus melihat acara resepsi Ajay yang tengah ditayangkan langsung di salah satu televisi swasta.


Klik...!


Tiba-tiba televisi di depannya mati. Bagas melirik ke arah Bima yang sedang memegang remote control TV.


"Kok dimatiin sih, Bim ! Kakak lagi nonton nih !" protes Bagas.

__ADS_1


"Kalau kakak mau nonton yang lain, Bima nyalain lagi nih TV-nya, tapi kalau kakak masih mau nonton acara resepsi kak Ajay yang norak itu, Bima nggak bakalan kasih remotenya." jawab Bima santai.


Haisss..., ada apa dengan anak ini...!! Batin Bagas seraya menggelengkan kepalanya.


***


Di panti.


Anti yang tengah menonton televisi di kamarnya, segera memutus kabel TV begitu melihat tayangan resepsi pernikahan Ajay. Tak lama berselang, Kyara datang setelah membereskan ruangan bermain anak-anak.


"Aah..., akhirnya beres juga pekerjaan hari ini !" ujar Kyara sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kok, TV-nya mati, mbak ?" lanjutnya ketika jarinya menekan remote control untuk menyalakan TV-nya.


Anti hanya menggedikkan bahunya kemudian kembali asyik dengan majalahnya.


Kyara berdiri, mencoba memeriksa televisinya.


"Oh pantas...! kabelnya putus, mbak !" ujar Kyara seraya memeriksa kabel yang sudah terpotong menjadi dua.


"Benarkah ? Digigit tikus mungkin..?" ujar Anti.


Kyara menelisik potongan kabelnya.


Masak sih...! Sepertinya bukan tikus deh.., kok potongannya rapi banget ya...! Gumamnya.


"Sudah, tidurlah Kya ! Besok kita minta pak Dul untuk memperbaikinya !" ujar Anti menghampiri Kyara dan memaksanya berjalan ke arah ranjangnya.


"Tunggu dulu, mbak ! Kya baru ingat, air minum kita sudah habis. Kya ambil dulu ya ke dapur !"


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya...!"


Kyara mengangguk, dia pun segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Namun saat melintas di ruang tengah.


"Pemirsa, dapat kita lihat betapa megah dan meriahnya acara resepsi pernikahan antara putra dan putri pewaris 2 perusahaan terbesar dalam dunia bisnis Indonesia. Dan tentunya, pernikahan ini menjadi salah satu pernikahan fenomenal di tahun ini. Mari kita sambut sang raja dan ratu sehari kita, Tuan Ajay Sanjaya pewaris utama Mahesa Sanjaya Group dan nona Cecilia Maharani pewaris tunggal dari Wirawan Group, sebuah perusahaan yang memiliki kontribusi penting bagi kemajuan perusahaan pemerintahan di bidang industri pangan Indonesia... Inilah mereka, Ajay.. daaannn... Cecilia.....


Breng....


Teko yang dipegang Kyara terjatuh begitu saja, pada saat Kyara melihat acara televisi yang sedang ditonton bu Nining.


***


Di kediaman Kyara.


Bu Ratna hanya mampu mengelus dadanya menyaksikan acara resepsi Ajay di televisi. Hatinya benar-benar sakit, memikirkan kembali nasib Kyara. Terlebih lagi, saat ini saudara dan kerabatnya mulai menjauhi mereka setelah tahu gagalnya pertunangan putrinya. Cibiran pun datang dari para tetangganya, membuat bu Ratna semakin enggan berinteraksi dengan tetangga-tetangganya.


Aku harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan derajat Kyara. Aku tidak mau jika Kyara terus-terusan menjadi olokan para tetangga. Kyara harus menjadi orang sukses, agar tidak ada lagi orang yang akan merendahkannya...., batin bu Ratna.


Bersambung...


Terima kasih untuk semua yang telah mendukung karya ini.

__ADS_1


Jangan lupa untuk terus like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2