Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Melanjutkan Hidup


__ADS_3

Menjelang sore, Anti mengajak Kyara untuk pergi ke tepi pantai Sindangkerta. Tiba di sana, mereka duduk di kursi panjang sambil menikmati minumannya. Perlahan namun pasti, matahari mulai tenggelam. Pancaran sinar kejinggaan tampak di sekitar pantai. Kyara benar-benar menikmati suasana pantai.


Setelah azan magrib berkumandang. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke losmen. Tiba di sana, mereka segera membersihkan dirinya, kemudian melaksanakan kewajibannya yaitu solat magrib bersama.


Keesokan harinya.


Lepas solat subuh, Anti mengajak Kyara berjalan-jalan di tepi pantai. Udara segar dan hangatnya mentari pagi yang mulai muncul dari ufuk timur, memberikan energi tersendiri bagi kedua gadis itu.


Puas berjalan menyusuri pantai tanpa mengenakan alas kaki, mereka pun memutuskan singgah di kedai bubur ayam untuk sarapan. Tak ada percakapan yang terjadi antara mereka hingga bubur yang mereka nikmati, habis.


Setelah mengisi perut, Anti mengajak Kyara berjalan untuk kembali menyusuri pantai. Mereka akhirnya tiba di taman laut. Di taman itu, terdapat karang yang cukup luas, yang menjorong ke arah laut. Anti kemudian mengajak Kyara berfoto-foto di karang itu. Kyara tampak senang. Terlebih lagi di karang itu, dia bisa melihat berbagai jenis fauna laut yang sedang berenang di celah-celah batu karang.


"Eh, mbak...! Aku dengar, di pantai ini ada penangkaran penyu, ya ?" tanya Kyara.


Anti mengangguk. "Apa kau mau ke sana ?" tawar Anti.


"Bolehkah ?" tanya Kyara bersemangat.


"Tentu saja boleh. Apa kau tahu ? Dulu, suaminya bu Hana juga bekerja di sana."


"Benarkah ?"


"Iya...! Ayo, aku ajak kau ke sana !"


Mereka pun kembali berjalan beriringan menyusuri bibir pantai.


***


Di kota B. Kesibukan tampak di rumah kediaman tuan Ali. Nyonya Diana sangat bersemangat sekali untuk mempersiapkan pernikahan putra sulungnya yang akan dilaksanakan 3 minggu lagi. Terlebih lagi, saat nyonya Diana mengetahui jati diri Cecilia, dia pun semakin yakin jika Cecilia adalah jodoh yang tepat untuk putranya.


Berbeda dengan Ajay. Dia lebih memilih menyibukkan diri dengan skripsinya di bandingkan mengurusi rencana pernikahannya. Dia benar-benar sudah pasrah dengan keadaan. Hanya calon anak yang sedang dikandung Cecilia lah, yang menjadi semangat hidupnya saat ini.


Demikian pula dengan Bagas. Tugas skripsinya benar-benar menyita perhatiannya. Jangankan untuk mengingat Kyara, pekerjaan bengkelnya pun terbengkalai saking fokusnya mengurus tugas akhir.


Bagas sadar, dia satu-satunya lelaki di keluarganya. Kehilangan kedua orang tuanya, telah memaksa dia untuk bersikap dewasa sebelum waktunya. Statusnya sebagai anak bungsu, tidak membuat Bagas hidup bermanja-manja. Karena dia memiliki tanggungjawab sebagai adik laki-laki terhadap kakak perempuannya. Meskipun sang kakak telah berumahtangga.


"Selamat, Bagas...! Bapak benar-benar puas dengan tugas skripsimu." ujar pak Bekti pada saat Bagas menyerahkan revisi terakhir tugasnya.


"Benarkah ? Apa tidak perlu ada perbaikan lagi, pak ?" tanya Bagas, masih merasa cemas.


"Tidak..! Saya rasa ini sudah sangat bagus. Sekarang kau hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk sidang." jawabnya.

__ADS_1


"Jadi, itu artinya, saya bisa mengikuti sidang sesi pertama, pak ?" tanya Bagas gembira.


"Ya.., tentu saja. Bukankah semuanya telah selesai ?"


Bagas mengangguk. "Kira-kira jadwal sidangnya kapan ya, pak ?"


"Saya dengar, 2 minggu lagi akan dilaksanakan sidang sesi pertama. Tapi untuk waktunya, saya belum tahu. Nanti setelah ada keputusan hasil rapat kedua, saya pasti beritahukan jadwal sidangnya. Insyaallah saya akan bantu kamu untuk menjadi peserta pertama dalam sidang sesi pertama. Saya lihat, kamu sangat bersemangat sekali untuk bisa segera lulus." ujar pak Bekti.


"Bapak benar ! Saya memang ingin segera lulus untuk bisa mengambil alih perusahaan almarhum ayah saya." jawab Bagas polos.


Pak Bekti yang memang pada dasarnya mengetahui latar belakang Bagas, hanya bisa tersenyum memberikan semangat.


"Berusahalah, nak ! Bapak yakin, kamu pasti bisa !"


Bagas tersenyum, "Insyaallah...! Kalau begitu saya permisi dulu, pak !"


"Oh iya, silakan ! Pergunakan waktumu sebaik mungkin, agar tahap sidang berjalan lancar !"


Bagas mengangguk. Setelah mengucap salam, dia pun keluar dari ruang dosen.


Bagas berjalan hendak pergi ke kantin. Dia baru ingat jika dia telah melewatkan jam makan siangnya. Saat dia tengah berjalan melewati koridor fakultas desain interior, tiba-tiba dia mendengar seorang gadis memanggilnya. Bagas menoleh, ternyata Andin yang tengah memanggilnya dari dalam kelas.


Bagas menghentikan langkahnya saat dia melihat Andin menghampirinya.


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres. Tinggal menunggu panggilan sidang saja." jawab Bagas.


"Syukurlah...! Gue bangga sama lo, Gas ! Lo hebat !" ujar Andin seraya menonyor pelan bahu Bagas.


"Apaan sih lo, Ndin..!" jawab Bagas tersipu malu.


"Oh ya..., ngomong-ngomong, Kyara apa kabar ? Semenjak pertunangannya putus, gue nggak pernah denger kabar dia lagi ? Apa dia baik-baik saja ? Sebenarnya gue pengen telpon dia, tapi gue takut dia salah paham." ujar Andin.


Bagas mengernyitkan dahinya. "Salah paham gimana maksud lo ?"


"Ya, gue takut aja Kyara punya pikiran jika gue senang dengan putusnya hubungan mereka. Lo kan tahu, sejarah gue kenal sama Kyara tuh gimana ?"


"Kya bener, lo emang baperan jadi orang, Ndin ! Gue kenal dia, Ndin. Dia nggak mungkin punya pikiran buruk, emangnya elo, yang selalu negatif thinking sama semua orang !" gurau Bagas.


"Ih Bagas mah, gitu...!" jawab Andin manja.


"Ya sudah, gue coba telpon dia dulu, ya ! Sekalian mau kasih tahu soal skripsi gue yang udah beres." ujar Bagas bersemangat.

__ADS_1


Bagas mengeluarkan ponselnya, dia kemudian menghubungi Kyara.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi !"


Bagas mengulang kembali menghubungi Kyara. Namun jawabannya masih tetap sama.


"Nggak aktif, Ndin !"


Andin tampak cemas. "Apa sesuatu terjadi pada Kyara ?"


"Maksud lo ?"


"Ya, mungkin Kyara sakit hati, sehingga dia berbuat nekad ?"


Bagas semakin mengernyitkan dahinya.


"Bunuh diri, Gas..! Gue takut, Kyara nekad bunuh diri ! Aduh, gimana ini...!"


Andin terlihat panik sendiri melihat kenyataan nomor ponsel Kyara susah untuk dihubungi. Sedangkan Bagas hanya tergelak mendengar pemikiran Andin yang dianggapnya konyol.


"Kyara tidak selemah itu ya, Ndin ! Dia bukan gadis yang tipis imannya. Aku yakin dia bisa mengatasi masalahnya. Ya, mungkin saja saat ini dia sedang sibuk ! Ya, sudah ! Aku ke kantin dulu, ya ! Assalamualaikum..!"


"Waalaikumsalam...!" jawab Andin yang masih merasa cemas.


Sepanjang perjalanannya ke kantin, Bagas tampak berpikir.


Kenapa nomor ponselnya tidak aktif. Apa dia telah memblokir nomorku ? Bukankah dia pernah bilang, bahwa dia akan melanjutkan hidupnya dengan melupakan seluruh kenangannya di kota ini ? Apa ini artinya, dia pun telah benar-benar melupakan kenangan kami ? Ah kenapa dadaku terasa sesak memikirkan semua ini ? Di mana kamu nona ? Apa kamu baik-baik saja ? Apa kita masih bisa bertemu ? Apa kamu telah melupakan semua kepedihanmu ? Apa kamu melanjutkan hidupmu dengan baik-baik saja ? Aku harap kau bisa melanjutkan hidupmu dengan baik. Aahh...,kenapa sekarang aku merasa merindukan kehadirannya....


***


Liburan yang Anti dan Kyara jalani telah usai. Selepas liburan itu, Kyara memutuskan untuk kembali bekerja dan melupakan masa lalunya. Dia bertekad untuk tidak pernah jatuh cinta lagi, dan mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk ibunya dan panti tempat dia bekerja.


Aku harus kuat ! Aku harus bisa melanjutkan hidupku ! Demi ibu dan anak-anak panti yang membutuhkanku. Ayo, semangat Kya...! Kamu pasti bisa !


Tekad Kyara sambil mengepalkan tangan kanannya, dan meninjukannya ke udara.


Bersambung...


Selamat pagi ! Selamat menjalankan aktivitas !


Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan untuk sisa usia kita...aamiin...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2