Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Harus Diakhiri...


__ADS_3

"Dek, apa kau tahu mall di sini ?" tanya Bagas pada saat mengantar Mia ke pasar.


"Wah, di sini mah nggak ada mall, a ! Yang ada cuma pasar biasa. Memangnya aa mau beli apa ke mall ?" Mia malah balik bertanya.


"Baju aa, bau !" Bagas tersenyum sendiri saat mengatakan aa untuk dirinya sendiri. Rasanya aneh gimana gitu...🤭


"Emang aa nggak bawa baju ganti ?" tanya Mia.


Bagas menggelengkan kepalanya.


"Mmm..., sebenarnya ada sih toko baju yang besar, tapi nggak sebesar mall, terus lokasinya jauh dari sini."


"Seberapa jauh ?"


"Mungkin sekitar 10 km."


Bagas tersenyum, "Jangan khawatir, mobil ini bisa berlari secepat bayangan, he...he...! Nanti pulang dari pasar, kita mampir dulu ke sana ya dek !"


"Oke ! Mobil aa hebat ya...! Keren euy....! Kayak mobil yang terkenal dari Jerman itu...! Apa ya nama perusahaannya..." Mia mengetuk-ngetukan jemarinya di ujung pelipisnya, seperti sedang memikirkan sesuatu. "BA Group....! Ah ya..., BA Group, salah satu perusahaan terbesar di Jerman." ujar Mia.


Bagas tersenyum. "Wah, adek hebat ya, tahu perusahaan terbesar luar negeri ?" tanya Bagas memancing pengetahuan Mia.


"Iya dong ! Soalnya Mia pernah disuruh ibu guru IPS buat bikin makalah tentang Perusahaan Industri, a."


"Oh gitu ya...! Belajar yang rajin ya, biar Mia bisa jadi pengusaha sukses !" ujar Bagas seraya mengusap pucuk kepala adek sepupunya itu.


***


Sudah hampir tengah hari. Namun belum ada tanda-tanda jika Ajay akan segera sadar setelah melewati operasinya.


"Bagaimana ini, pih ?" kembali nyonya Diana bertanya pada suaminya.


"Sabar mih ! Kita tunggu saja kabar dari dokter. Sekarang mamih solat dzuhur ya, berdo'a sama yang Maha Kuasa, semoga Ajay bisa segera sadar. Ingat mih, do'a seorang ibu itu mustajab !" ujar tuan Ali.


Nyonya Diana mengangguk. Dia pun mengajak Bima untuk mengantarnya ke mesjid rumah sakit.


Di rumah sakit Insan Medika. Kedukaan sedang merundung keluarga besar tuan Guna Wirawan. Karena terlambat mendapatkan pendonor, akhirnya cucu tunggalnya meninggal dunia.


Tuan Guna benar-benar marah kepada anaknya yang tidak mau juga mengungkapkan siapa ayah kandung cucunya demi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami.

__ADS_1


"Papah benar-benar kecewa sama kamu Cecil ! Sekarang juga, kemasi barang-barangmu dan cepat pergi dari hadapan papah!" teriak tuan Guna.


Selepas pemakaman cucunya, tuan Guna mengusir anaknya yang dianggapnya telah mengabaikan nyawa cucunya.


"Aku mohon, jangan seperti ini pah ! Kasian Cecil, dia baru saja kehilangan anaknya !" ujar istrinya.


"Cukup mah ! Jangan pernah membela anak itu lagi ! Ibu macam apa yang tega mengabaikan nyawa anaknya demi laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya ! Cepat kemasi barangmu dan pergilah ! Papah sudah pesankan tiket untuk ke Belanda. Tinggallah di sana ! Lupakan laki-laki itu ! Instrospeksi dirilah dan hiduplah dengan baik !" ujar tuan Guna.


Cecilia hanya bisa pasrah menerima keputusan ayahnya.


***


Bagas kembali ke rumah Kyara dengan setumpuk barang belanjaan. Dia membeli beberapa kaos dan celana untuk dirinya sendiri juga paman dan Marwan. Sedangkan Mia, hmm dia seperti mau membuka toko baju saja. Berbagai model dia beli, mulai dari t-shirt, skinny jeans, kemeja, overall sampai baju gamis remaja dia borong. Membuat sang ibu tercengang dengan semua barang belanjaannya.


"Ish, kamu dek ! Kenapa barang belanjaannya banyak sekali ? Mau jualan baju ?" tegur bi Irah yang merasa tak enak dengan Bagas. "Maaf ya cep Bagas, sudah merepotkan !"


"Tidak apa-apa, bik ! Bagas seneng kok bisa belanjain Mia ! Kapan-kapan kita shopping lagi ya dek !"


"Siap a !" ujar Mia seraya memberi hormat layaknya prajurit yang sedang melapor pada atasan.


"Haiss.. , kamu ini !" bi Irah memukul pelan tangan anaknya.


Mia mengangguk, dia pun segera membereskan pakaian barunya.


Bagas kembali ke kamarnya Kyara. Tiba di sana, dia melihat Kyara tengah tertidur lelap. Bagas pun segera mengeluarkan handuk yang tadi dibelinya. Setelah itu dia keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Bagas lupa jika dia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. Kebiasaan Bagas memang seperti itu, mungkin dia merasa jika dirinya sedang berada di apartemennya. Akhirnya dengan terpaksa Bagas pun hanya bertelanjang dada keluar dari kamar mandi. Untungnya saat itu, tak ada seorangpun yang berada di dapur dan ruang tengah.


Setengah berlari, Bagas segera membuka pintu kamar Kyara, namun...


Bugh...!


"Aww....!" jerit Kyara


"Eh awas...!" ujar Bagas seraya menarik tangan Kyara.


Bugh...!


Tarikan di tangannya membuat wajah Kyara menyentuh dada bidangnya Bagas yang polos. Wangi maskulin seorang lelaki sejati bisa Kyara cium dari tubuh suaminya. Untuk beberapa detik Kyara membenamkan wajahnya di dada sixpack suaminya.

__ADS_1


"Apa kau sedang menikmati aroma tubuhku, nona ?"


Bisik Bagas halus di telinga Kyara yang seketika membuat Kyara tersadar dengan apa yang telah dilakukannya.


Kyara mendorong tubuh Bagas.


"Jangan ge er..!" ucapnya pergi seraya membanting pintu kamar.


Namun tidak bisa dipungkiri jika wajah Kyara berubah macam apel merah yang telah matang. Bagas pun tersenyum melihat hal itu.


Lepas magrib, acara tahlilan hari pertama mendiang ibunya di mulai. Kyara tampak duduk di sudut ruangan bersama bibinya dan juga tetangga sekitar. Acara tahlilan dipimpin oleh seorang ustadz yang berada di kampung halamannya. Banyak do'a-do'a dan kalimat tahmid, takbir dan tasbih yang beliau lantunkan di acara tahlilan ini.


Ini merupakan pengalaman pertama bagi Bagas, karena di tempat dia tinggal dulu, semua orang sangat individualis. Jarang terjadi interaksi satu sama lain jika bukan hanya sekedar saling sapa, itupun kalau kebetulan berpapasan di jalan. Ah, dunia orang kota sangat berbeda sekali dengan pedesaan. Bagas pun berdecak kagum melihat kebersamaan warga kampung halamannya Kyara.


Tepat menjelang isya, acara tahlil yang penuh kekhidmatan itu berakhir. Satu persatu, warga pun pamit pulang. Kyara membantu bibinya membereskan piring-piring bekas jamuan. Sedangkan Bagas dan mang Jajang segera pergi ke masjid untuk solat isya berjamaah.


Selepas melaksanakan solat isya, Kyara tampak termenung di depan cermin meja riasnya. Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu.


Ibu telah tiada. Lalu apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan ini ? Aku tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan kak Bagas berada di sampingku. Dia orang baik, dan dia pantas mendapatkan yang terbaik. Termasuk seorang istri yang masih perawan. Bukan gadis seperti aku, yang telah kehilangan harga diri...


"Hufs...!!'


Kyara menarik napasnya panjang, dan mengeluarkannya secara kasar.


"Aku harus bicara padanya ! Harus ! Semua ini harus diakhiri !" gumam Kyara.


"Apa yang ingin kau akhiri ?"


DEG....!!


Bersambung....


Hai readers ku tersayang...! Othor balik lagi ya...


Semoga ceritanya masih bisa dinikmati..


Lanjut...!


Jangan lupa untuk like vote n komen cerita ini 🙏

__ADS_1


__ADS_2