
Kaki kak Indah bergetar hebat mendengar Bagas mengucapkan kata istri. Dia pun segera berjongkok dan memegang kedua bahu adiknya.
"A... apa maksudmu ? Apa kau telah menikah ? Kapan ?" tanya kak Indah tak percaya.
Bagas menundukkan kepalanya.
"Maaf...!"
Kak Indah meraih dagu adiknya.
"Apa yang terjadi ? Katakan ! Apa dia memaksamu menikah, sampai kau berani menikahinya tanpa memberiku kabar ? Apa kau menghamilinya ? Sampai kamu menikah tanpa sepengetahuanku. Apa aku bukan kakakmu lagi ? Apa kau tidak pernah menganggapku ada ?" teriak kak Indah penuh emosi.
"Ada apa ini ?"
Tiba-tiba Gunawan sudah berdiri di hadapan mereka. Gunawan merasa heran dengan kedua adik kakak yang tengah duduk saling berhadapan di lantai.
"Coba kau lihat adik iparmu ini !" ujar kak Indah seraya berdiri. Dia kemudian menghampiri suaminya. "Dia... dia sudah merasa hebat...! Tentu saja..., dia seorang CEO, jadi dia sudah tidak membutuhkan aku lagi...!" teriak kak Indah penuh emosi.
Bagas segera berdiri dan menghampiri kakaknya.
"Tidak seperti itu, kak.. ! Aku mohon dengarlah dulu penjelasanku !" bujuk Bagas.
"Aku tidak butuh penjelasan dari seorang adik yang sudah tidak menganggapku sebagai kakaknya ! Mulai sekarang, kau bukan adikku lagi ! Pergi kau dari sini ! Pergi ! Mas aku mohon, suruh dia pergi ! Aku membencinya, aku....hmmmnppp...!"
Gunawan mencium bibir istrinya. Dia mulai mengulumnya perlahan. Untuk sejenak mata kak Indah terpejam. Setelah di rasa emosi istrinya mulai mereda, Gunawan pun melepaskan ciumannya.
"Mas...!" ujar kak Indah lirih. Matanya mulai terlihat sembab karena menangis.
Gunawan mengangguk.
"Aku mengerti perasaanmu ya Khumaira ! Kita dengarkan dulu penjelasan Bagas ! Aku yakin Bagas punya alasan yang kuat kenapa dia melakukan semua ini. Kau lebih mengenal Bagas daripada aku. Aku yakin dia tidak bermaksud menyakiti perasaanmu." ujar Gunawan penuh kelembutan.
Ya ! Gunawan memang seorang suami yang tahu bagaimana cara menenangkan kegundahan hati istrinya. Bagas merasa kagum atas sikap kakak iparnya. Bagas pun berjanji akan memperlakukan istrinya seperti Gunawan memperlakukan kak Indah.
Kak Indah mengangguk. Dia kemudian menghampiri adiknya. Kak Indah memeluk erat adiknya.
"Maafkan kakak !" ujarnya.
Bagas semakin terisak dalam pelukan hangat kakaknya.
"Ba... Bagas yang ha... harusnya minta maaf, kak..!" ujar Bagas tersedu.
"Sstt...! Sudahlah, ceritakan pada kakak, kenapa kau menikah tanpa sepengetahuan kakak ? Apa kau menghamilinya ?"
"Ish, kakak ! Bagas tidak sebejad itu !"
"He...he...he.. ! Kakak tahu kamu tidak selemah itu. Kita ke ruang kerja kakak, biar ngobrolnya lebih nyaman." ujar kakak iparnya.
Bagas dan kak Indah mengangguk. Mereka pun mengikuti Gunawan ke ruang kerjanya. Tiba di sana, Gunawan segera duduk berdampingan dengan istrinya. Mereka duduk berhadapan dengan Bagas.
"Dulu aku pernah mencintai seorang gadis. Namun sayangnya takdir tak berpihak pada kami. Kisahnya terlalu panjang dan rumit untuk diceritakan. Tapi intinya, aku masih sangat mencintainya, meski kami terpisah jarak dan waktu. Ku pikir, saat aku memutuskan untuk tinggal di Jerman, aku bisa melupakannya. Tapi ternyata tidak ! Sesibuk apa pun, tapi aku masih bisa memikirkannya. Aku tidak pernah sanggup untuk melupakannya. Hingga baby Arum menjadi jembatan takdirku."
"Arumi...??"
Ujar kak Indah dan suaminya berbarengan.
__ADS_1
Bagas mengangguk.
"Kakak masih ingat tentang kepulanganku yang tiba-tiba ?" tanya Bagas.
"Ya.. ! Apa hubungannya ?" tanya kak Indah.
"Malam sebelum aku pulang, aku mendapatkan telpon dari sekolah baby Arum tentang masalahnya yang terjadi di sekolah. Kakak tahu jika baby Arum segalanya bagiku. Begitu aku mendengar kabar baby Arum terlibat masalah, aku pun memutuskan untuk kembali ke negara ini. Dan siapa sangka jika permasalahan baby Arum justru mempertemukan kami setelah 6 tahun berpisah. Gadis itu, gadis impianku, cinta pertamaku sedang berdiri di hadapanku sebagai guru konselingnya baby Arum. Ternyata guru yang menghubungiku waktu itu, dia adalah gadis yang selama 6 tahun ini aku cari. Aku, aku sangat senang sekali. Tapi kesenanganku tak bertahan lama." ujar Bagas sendu kala teringat kembali sikap Kyara yang sulit untuk didekati.
"Maksudmu ?" kali ini kak Gun yang ikut bertanya.
"Aku mengenal gadis itu jauh sebelum aku mengalami kesuksesan. Se... sebenarnya, dia mantan tunangannya Ajay."
"Astaghfirullah...! Tunangannya yang dia tinggalkan demi istrinya yang sekarang itu ?" ujar kak Indah.
Bagas mengangguk.
"Aku sudah melihat semua penderitaannya kak, karena itu, dulu, saat aku mengajaknya menikah, dia menolakku. Dia menganggap jika aku hanya merasa kasihan pada dirinya. Tapi aku berani bersumpah kalau aku sangat mencintainya kak !"
"Lalu apa karena sekarang dia sudah menerimamu, lalu kau menikahinya secara diam-diam ?" tanya kak Indah.
Bagas menggelengkan kepalanya.
"Dia belum sepenuhnya mencintaiku !" ujar Bagas.
"Terus, kenapa kalian menikah ?"
"Seminggu yang lalu, saat aku sedang makan siang bersama baby Arum di sekolah, aku melihat dia berjalan terburu-buru sambil menangis. Ternyata ibunya masuk rumah sakit. Aku pun mengantarkan dia pulang. Tiba di rumah sakit, aku terkejut, ternyata dulu aku pernah bertemu dengan ibunya. Dulu pada saat aku mencari Kyara di pasar wisata, aku bertemu dengan ibu itu. Namun sayangnya, dia tidak pernah bilang jika dia ibunya Kyara.
"Jadi nama gadis itu Kyara ?" ujar kak Indah kembali menyelak pembicaraan Bagas.
Bagas mengangguk.
Air mata Bagas mulai mengalir saat mengenang detik-detik terakhir bersama ibu mertuanya.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un...!" ujar kak Indah dan suaminya.
"Kamu yang sabar ya, Gas ! Ibunya telah meninggal, tanggungjawab kamu semakin besar. Jaga dia dengan baik, sekalipun dia belum mencintaimu sepenuhnya. Jangan pernah sakiti dia, jika kamu hendak menyakitinya, ingatlah kamu masih punya kakak yang nasibnya sama seperti istrimu, tak berayah dan tak beribu. Kamu sudah dewasa, jadi bersikaplah bijaksana !" kak Indah mulai menasihati adiknya.
"Iya kak ! Bagas janji, Bagas akan menjaganya seperti kak Gun menjaga kak Indah !"
"Sudahlah, semuanya sudah jelas. Sebaiknya kita makan sekarang !" ujar Gunawan.
"Maaf kak, Bagas makan di rumah saja. Takut Kyara menunggu, soalnya tadi Bagas lupa memberitahu Kyara jika Bagas akan terlambat pulang."
"Ish, kamu ini ! Jangan diulangi lagi ! Selalu kabari istrimu kemana pun kau akan pergi ! Dan mulai sekarang, Jang pernah lembur lagi ! Kasihan jika istrimu harus tinggal di apartemen sendirian. Atau kamu dan istrimu tinggal di sini saja. Rumah ini cukup besar untuk kita tinggali bersama.
"Terima kasih atas tawarannya kak ! Tapi Bagas ingin mandiri." jawabnya.
"Ya sudah, kakak tidak akan memaksamu ! Kapan-kapan ajaklah istrimu kemari !" ujar kak Indah.
"Soal Rachella ?" tanya Bagas.
"Tidak usah khawatir, kakak akan mengurusnya !" ujar Gunawan.
"Makasih kak !"
__ADS_1
***
Ceklek....
Bagas membuka pintu apartemennya. Waktu menunjukkan pukul 21.57. Bagas melihat lampu ruangan telah padam.
Apa mungkin dia sudah tidur ?
Bagas pergi ke dapur, perutnya sudah mulai keroncongan karena jam makan malamnya telah terlewati. Saat dia membuka tudung saji, tampak makanan masih utuh. Bagas terhenyak, mungkinkah dia juga belum makan ? pikirnya.
Bagas segera menghangatkan makanannya. Setelah itu dia mulai menyiapkan makanan itu di atas piring, kemudian membawanya ke kamar Kyara.
Trek...!!
Bagas menyalakan lampu kamar yang telah padam. Kyara tampak mengerjap karena merasa silau.
Bagas mendekati ranjang, dia pun meletakkan piringnya di atas nakas.
"Nona, bangunlah ! Kita makan !" ujar Bagas mengguncang pelan bahu Kyara.
Kyara membuka matanya. Seketika bola matanya membulat melihat pria yang tengah duduk di hadapannya. Kyara pun segera bangkit.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"Kau kemana saja ? Kau bilang kau tidak akan pernah pulang terlambat lagi setelah ada aku ! Kenapa kau berbohong padaku ! Kenapa kau tega sekali meninggalkan aku sendirian di tempat ini ! Apa kau tidak tahu aku harus bolak balik berselancar di internet hanya karena ingin menggunakan barang-barang yang ada di sini ! Bahkan untuk menonton TV pun aku tidak tahu bagaimana cara menyalakannya ! Apa kau tahu aku harus rela kedinginan selama satu jam terkunci di kamar mandimu karena pintu kamar mandi yang bodoh itu ! Apa kau tahu aku harus menahan laparku karena tidak tahu bagaimana cara menggunakan barang-barang mewahmu yang berada di dapur ? Apa kau tidak tahu tanganku melepuh karena salah menekan tombol kran air ! Kau benar-benar kejam ! Kenapa kau membiarkan upik abu sepertiku memasuki istanamu ! Kenapa kau meninggalkanku tanpa memberitahuku bagaimana cara menggunakan barang-barang di rumahmu ! Kau benar-benar keterlaluan, kau tidak punya hati, aku benci padamu...aku ben....huummpppp.....
satu detik....
Dua detik...
Tiga detik...
Sepertinya Bagas mempraktikkan apa yang dilihatnya tadi di rumah kakaknya. Bagas mulai mengulum bibir bawah Kyara, menghisapnya penuh kelembutan.
Kyara memejamkan matanya, merasakan kehangatan menjalar di tubuhnya. Ciuman hangat yang penuh kelembutan telah meredakan amarahnya. Entah kenapa, Kyara mulai membuka mulutnya sedikit saat merasakan lidah Bagas menyusuri bibir mungilnya. Akhirnya, ciuman pertama penuh gairah terjadi di malam itu.
Bagas mulai melepaskan ciumannya saat dia merasa jika istrinya mulai kehabisan napasnya.
Bagas menangkup kedua pipi Kyara.
"Kau salah paham nona, aku tidak meninggalkanmu ! Aku akui, aku salah karena tidak memberimu kabar, tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, percaya padaku !"
Kyara masih tetap diam.
"Baiklah, nanti aku jelaskan ! Sekarang kita makan dulu, ya ! Aku yakin kau juga belum makan !" ujar Bagas seraya mengambil piringnya.
Kyara mengangguk. Malam itu pun menjadi saksi jika perlahan Kyara mulai menyadari arti keberadaan Bagas, meski belum sepenuhnya.
Bersambung
Lanjut nanti malam ya gaiss...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🙏