Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pulang


__ADS_3

"Non Arum, apa sudah siap ?"


Tiba-tiba seorang pemuda menyapa Arumi di pintu kelasnya.


Kyara segera melepaskan pelukannya.


"Siapa dia ?" tanya Kyara.


"Dia om Fazar, sopirnya umi." jawab Arumi.


"Ah ya...! Sekarang Arum pulanglah ! Tidak usah cemas, semuanya akan baik-baik saja. Satu hal yang harus Arumi ingat, tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya ! Arumi harus tahu, mungkin saat itu pikiran umi sedang kalut karena nyawa adikmu sedang terancam. Ibu sangat yakin jika umi Arum sangat mencintai Arum. Umi bukannya tidak sayang sama Arumi, tapi umi punya dedek bayi yang belum bisa main sendiri, makan sendiri, mandi sendiri. Jadi ibu memberikan perhatian lebih karena memang dedek bayi sangat butuh itu. Berbeda dengan Arumi yang sudah mampu melakukan semuanya sendirian. Arumi ngerti maksud ibu ?"


Perlahan Arumi mengangguk.


"ya sudah, pulanglah !"


"Baiklah bu, Arum pulang dulu. Assalamualaikum...!" ujarnya seraya mencium punggung tangan Kyara.


"Waalaikumsalam." jawab Kyara.


***


Bagas masih termenung di balkon apartemennya. Dia masih asyik dengan gitarnya. Bagas mulai memainkan gitarnya.


🎵🎵🎵


Aku mengeri


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar kumenemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namanu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka

__ADS_1


Hingga kau bahagia, haa-haa


Haa-haa


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


🎵🎵🎵


Pikiran Bagas kembali mengembara ke masa lalunya. Namun ketika sedang asyik melamun. Getaran ponsel di atas meja menghentikan pengembaraan Bagas di dunia khayal.


"Assalamualaikum, kak !" (Bagas)


"Apa kamu mau menunggu nama kakak tertulis di batu nisan, baru kamu mau pulang ?" (kak Indah)


Bagas menjauhkan telponnya saat mendengar suara kakaknya yang cempreng berteriak.


"Ish..., kakak ngomong apa sih ?" (Bagas)


"Mau sampai kapan kamu berada di sana ? Kamu nggak kangen sama kita di rumah ?" (kak Indah)


"Ish kakak...! Bukankah kita masih bisa video call ?" (Bagas)


"Tapi mau sampai kapan, Gas ? Kakak udah kangen banget. Kamu nggak pernah pulang, sampai-sampai kelahiran Nata pun kamu tak tahu !" (kak Indah)


"Iya, nanti Bagas pulang !" (Bagas)


"Tapi kapan ? Pokoknya kakak ngggak mau tahu. Akhir bulan ini kamu pulang ! Kalau tidak...." (kak Indah)


"Kalau tidak, kakak akan meminta kakak iparmu untuk menerima perjodohanmu dengan anaknya paman Danu !" (kak Indah)


Tut...tut.... tut....


Kak Indah memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.


Ish, apa-apaan ini...! Kenapa kak Indah pakai acara mengancam segala...


Bagas segera kembali ke kamarnya. Dia menyimpan telpon di atas nakas. Bagas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia pun mulai terlelap merangkai mimpinya.


***


"Adi...Adi...Adi....!"


"Hajar terus...!"


"Lawan...! Ayo Rum...!"


Teriakan riuh terdengar dari arah taman belakang di sekolah Mutiara Bangsa. Kyara yang sedang melewati koridor untuk menuju kantor kepala sekolah, seketika langsung menoleh ke arah kerumunan anak-anak.


Segera Kyara berlari. Tiba di sana, terlihat seorang gadis kecil tengah bergumul dengan seorang anak lelaki. Dia mencakar kemudian menjambak rambut anak lelaki itu.


"Hei, Hentikan !" teriak Kyara.


Pergumulan berhenti.


"Bu syantik !" gumam Arumi begitu menoleh ke arah orang yang tadi berteriak.


"Anak lelaki itu berdiri, dia meringis meraba pipinya yang terdapat cakaran tangan Arum.


"Bubar semuanya !" teriak Kyara tegas.


"Dan kalian ! Ikut ke ruangan ibu !" perintah Kyara.


Kyara kembali membalikkan badannya menuju ruangan konseling nya. Rencana dia untuk bertemu kepala sekolah, dia urungkan.


"Duduk !" perintah Kyara begitu kedua bocah itu datang.


Arumi dan Adi duduk di hadapan gurunya.


"Apa yang kalian lakukan ? Masih kecil sudah pandai berkelahi, mau jadi apa kalian ? Mau jadi preman ?" tanya Kyara.

__ADS_1


"Semua ini salah Arum bu, dia yang pertama kali memukulku." bela Adi.


"Aku tidak akan memukulmu jika kau tidak memulai duluan." bela Arumi.


"Tapi, dasar kamunya aja yang gampang kesinggung, aku kan cuma becanda !"


"Tapi candaanmu keterlaluan !"


"Cukup ! Diam semuanya ! Apa pun masalah kalian, ibu tidak suka ada perkelahian di sekolah ini. Sekarang, berikan nomor orang tua kalian ! Ibu akan menghubungi orang tua kalian, agar mereka tahu kelakuan kalian yang seperti preman di sekolah ini."


"Jangan bu !"


Arumi dan Adi berteriak berbarengan.


"Terus ?"


"Arum janji ini pertama dan yang terakhir kalinya Arum berkelahi bu, Arum mohon jangan laporkan sama abi !" Arumi sudah terlihat panik.


"Iya bu, Adi juga. Adi janji, Adi ngggak bakalan ganggu Arum lagi. Jangan laporkan ya bu, please ! Adi mengatupkan kedua tangannya.


Kyara melihat catatan pribadinya. Mereka memang tidak pernah masuk ke dalam daftaran hitam. Itu artinya, mereka bukan anak yang bermasalah. Dan ini keributan mereka yang pertama. Apa pun alasannya, Kyara tidak peduli yang penting mereka sudah saling berjabat tangan. Tapi Kyara akan tetap mengawasi mereka.


"Baiklah, Adi, kau boleh pergi dan kau duduk dulu di sini !" perintah Kyara pada kedua siswanya.


Setelah Adi pergi, Kyara mendekati Arumi.


"Arum sayang, ibu minta no telpon orang tuamu !" pinta Kyara.


Arumi menatap Kyara penuh tanya.


Kenapa bu syantik meminta no abi ? Apa dia akan melaporkan kejadian ini ke abi ? Tapi kan bu syantik udah janji tidak akan melapor ke abi. Apa yang harus aku lakukan ?


"Arumi ?"


Kyara menyentuh lembut bahu Arumi. Arumi pun mengangguk, dia kemudian menuliskan no telpon di buku kunjungan milik Kyara.


Kyara tersenyum


"Baiklah, sekarang Arumi boleh kembali ke kelas.


***


Jam sekolah telah usai. Kyara melirik jam di meja kerjanya.


"Sebaiknya, lepas solat ashar aku menelpon abinya Arumi. Semoga saja dia sudah pulang kantor, sehingga aku lebih leluasa untuk berbicara tentang Arumi." gumam Kyara. Dia pun segera pergi ke mesjid sekolah untuk menunaikan solat ashar.


Sementara itu di Jerman. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Bagas masih belum bisa memejamkan matanya. Terlebih lagi, siang tadi Gerald menghubunginya untuk meminta Bagas pulang ke Indonesia agar bisa segera menandatangani kontrak terkait tender mobil dinas.


"Aahhh...., kenapa serumit ini ? Padahal hanya tinggal tanda tangan saja !" gumam Bagas.


Drrtt... drrt... drrtt...


Ponsel Bagas bergetar di atas nakas. Bagas segera meraih ponselnya


"Unknown calling ! Siapa ?"


Bagas mengabaikannya dan menyimpan kembali ponsel itu di atas nakas. Namun ternyata ponsel itu tak pernah ingin berhenti bergetar. Kembali Bagas meraihnya.


"Hallo !" (Bagas)


"Hallo...! Dengan bapak....., ish, aku lupa menanyakan abinya Arumi... Maaf, ini dengan walinya Arumi ? Begini pak, ada hal penting yang harus saya bicarakan, apa bapak bisa datang ke sekolah ?" (Kyara)


Baby Arum...? Ini dari sekolahnya baby Arum ? Kenapa sekolahnya baby Arum menghubungi nomor ku ? Sesuatu mungkin terjadi pada baby Arum. Sebaiknya aku dengarkan saja dulu...


"Iya, ada apa ya bu ? Apa anak saya membuat kesalahan ?" (Bagas)


"Tidak, kesalahan Arumi belum cukup fatal. Namun jika dibiarkan, maka akan sangat fatal untuk masa depan Arumi. Besok saya tunggu bapak jam 10 di sekolah." (Kyara)


"Maaf bu, tapi saya sedang ada perjalanan bisnis. Apa tidak bisa diundur seminggu lagi ?" (Bagas)


"Saya mengerti, anda bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga anda. Tapi meskipun begitu, anda juga harus bisa menyempatkan diri untuk memperhatikan perkembangan putri anda di sekolah. Asal anda tahu, ada banyak beban yang Arumi pendam tentang keluarganya. Dan tadi siang dia sampai memukul dan mencakar murid laki-laki hanya karena sebuah gurauan. Anda tidak mau kan putri anda tumbuh menjadi seorang gadis pembangkang. Jadi saya sarankan anda bisa segera ke sekolah dan bicara ! Assalamualaikum !" (Kyara)


"Huh..., ayah macam apa yang lebih mementingkan bisnisnya dibanding putrinya !" dengus Kyara kesal.


Sementara, Bagas sangat terkejut mendengar kenyataan tentang Arumi.


"Beban ? Beban apa ? Apa kak Indah dan kak Gunawan tahu tentang semua ini ?" gumam Bagas.


Bagas berpikir keras. Dia segera memesan tiket untuk penerbangan pertama ke Indonesia.


Aku harus pulang, sesuatu sedang terjadi pada diri Arumi ! Aku tidak bisa membiarkan Arumi tumbuh menjadi gadis pembangkang seperti yang diucapkan gurunya tadi


Batin Bagas sambil mengemasi barang-barangnya.


Bersambung...


Lanjut ya...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏


__ADS_2