Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Dear Diary... ( Part 1 )


__ADS_3

Sudah hampir sepekan, namun suasana duka masih menyelimuti keluarga Sanjaya. Terutama Kyara. Meskipun Kyara baru mengenal tuan Mahesa kurang dari setahun, namun kedekatan mereka sudah seperti eyang dan cucu kandungnya sendiri.


Sepekan ini, tak banyak kegiatan yang dilakukan oleh Kyara. Terkadang setelah membereskan pekerjaan rumahnya, dia kembali ke kamarnya dan mengurung diri di sana.


Hal itu membuat nyonya Aini dan tuan Ali merasa cemas. Mereka berpikir jika Kyara masih bersedih atas kepergian tuan Mahesa. Padahal, alasan sebenarnya tidak seperti itu. Mungkin memang benar, Kyara merasa sangat kehilangan tuan Mahesa, namun alasan dia mengurung diri, juga karena Kyara tidak ingin berinteraksi langsung dengan Ajay. Kenangan terakhir bersama Ajay membuat Kyara trauma dan enggan untuk bertemu dengannya.


Tok....tok...tok...


Terdengar ketukan di pintu kamar Kyara.


"Sebentar...!"


Ceklek...


Kyara membuka pintu kamarnya. Tampak nyonya Aini berdiri di hadapannya.


"Eyang...!" sapa Kyara.


"Boleh eyang masuk, nak ?" tanya nyonya Aini.


Kyara mengangguk dan mempersilakan nyonya Aini masuk ke kamarnya. Mereka pun duduk berdampingan di atas ranjang Kyara.


"Katakan ! Ada apa denganmu, nak ! Kenapa kamu mengurung diri terus di kamar ini ? Apa kamu tidak merasa bosan nak ?" tanya nyonya Aini seraya menggenggam tangan Kyara.


Kyara menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa eyang, Kyara baik-baik saja." jawabnya.


"Apa kamu masih bersedih dengan kepergian eyang akungmu ?" kembali nyonya Aini bertanya.


Kyara hanya menundukkan kepalanya. Kembali tubuhnya berguncang karena menangis.


"Ssst...., sudahlah nak...! Jangan terus ditangisi kepergian eyang akung. Kasian...! Biarkan beliau beristirahat dengan tenang !" bujuk nyonya Aini.


Kyara memeluk nyonya Aini untuk menumpahkan semua kesedihannya. Nyonya Aini membalas pelukan Kyara seraya mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan Kyara.


"Sudahlah sayang..! Dengarkan uti, daripada kamu terus-terusan mengurung diri, kenapa kamu tidak meminta Ajay untuk mengajakmu jalan-jalan ke mall ?" saran nyonya Aini.


"Tidak...!" jawab Kyara cepat.


Nyonya Aini mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Kyara yang cepat dan seolah keberatan dengan sarannya.


"Kenapa ? Ada apa, nak ? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kalian ?" tanya nyonya Aini menyelidik.

__ADS_1


"Ti... tidak eyang...! Ky... Kya hanya tidak mau mengganggu Ajay. Bukankah Ajay sibuk dengan bimbingan skripsinya ?" jawab Kyara mencari alasan yang cukup masuk akal.


"Ah ya..., Kau benar ! Bagas juga pasti sedang sibuk, karena itu dia jarang bermain kemari."


Sejenak nyonya Aini diam. Lalu...


"Bagaimana kalau kamu membereskan rumahmu ? Bukankah semenjak ada di sini, kamu belum pernah melihat rumahmu lagi ? Ya..., barangkali ada sesuatu yang ingin kamu ubah tata letak perabotannya...!" usul nyonya Aini.


Kyara tersenyum. Memang benar, sudah hampir sepekan dia tinggal di sini. Namun sama sekali belum menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.


"Baiklah eyang, besok pagi Kyara pergi ke sana sekalian mau bersih-bersih." jawab Kyara.


"Baguslah ! Sudah malam, sebaiknya sekarang kamu tidur ! Siapkan tenagamu untuk membersihkan rumah, besok !" ujar nyonya Aini.


Kyara mengangguk.


Nyonya Aini kemudian bangkit dari duduknya. Dia mengecup kening Kyara sebelum pergi meninggalkan kamar Kyara.


"Selamat malam sayang, mimpi yang indah...!" ucapnya.


Kyara tersenyum. "Selamat malam eyang..!" balasnya.


Keesokan harinya, selepas mengerjakan pekerjaan rumah, Kyara pun pergi untuk membersihkan rumahnya.


Ceklek...


Kyara membuka pintu rumahnya. Namun seketika dia langsung menutup hidungnya.


"Ish..., bau apa ini ?" gumamnya saat dia mencium bau sesuatu yang menyengat.


Segera Kyara menyusuri dari mana bau itu berasal. Tiba di ruang keluarga, Kyara melihat berbagai macam bungkus snack kosong berserakan di meja. Beberapa botol kosong bekas minuman pun tergeletak di samping bawah meja.


Kyara hanya menggelengkan kepalanya.


Ini pasti kerjaan Ajay. Benar-benar tidak berubah kelakuannya. Jika sedang belajar, pasti ditemani cemilan. Buruknya, sampahnya selalu tidak pernah dibuang. Aah..., dasar tuan besar...! Batin Kyara.


Kyara pergi ke belakang untuk mengambil peralatan kebersihan. Setelah itu, dia mulai membersihkan beberapa ruangan yang dianggapnya kotor.


Lantai 1 telah bersih. Segera dia naik ke lantai 2 untuk membersihkan kamarnya.


Tiba di kamarnya, Kyara segera mengganti sprei dan merapikan kasurnya. Setelah itu dia mulai menata semua pakaian di lemarinya.

__ADS_1


Dasar tuan besar, selalu saja seenaknya kalau mengambil pakaian. Sampai berantakan begini..., batinnya.


Kyara mengambil kursi meja rias, kemudian menaikinya. Dia membersihkan bagian atas lemarinya.


BUK....


Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari atas lemari pakaiannya. Kyara segera turun untuk mengambilnya.


"Apa ini ?" gumamnya sambil membolak-balikkan benda yang ternyata sebuah buku.


"Hmm..., mungkin buku catatannya Ajay..." kembali Kyara bergumam.


Namun ketika dia hendak menyimpan buku tersebut di atas nakas, tiba-tiba beberapa kertas berjatuhan dan berserakan di lantai. Kyara segera memungutnya. Dia kemudian membuka lembaran-lembaran kertas tersebut.


Dear Diary...


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, pada hatiku, juga pada perasaanku. Akhir-akhir ini, bayangan Kyara selalu menghampiriku. Senyumnya selalu menari di mataku. Gelak tawanya selalu bernyanyi di telingaku. Namun aku terlalu egois untuk mengakui semuanya. Perasaan bersalahku menutupi semua keinginanku meraihnya kembali. Terlebih lagi jika kuingat panasnya hubunganku bersama Andin, semua rasa yang kumiliki untuknya seakan menguap.


Kyara menghela napasnya, kemudian kembali membuka lembaran berikutnya.


Dear Diary...


Malam ini aku bermimpi tentangnya. Seorang gadis cilik yang menghampiriku dengan tatapan kesedihan. 'Papa' hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya. Aku mencoba meraihnya, tapi dia malah menepis tanganku. Dia berkata, "Kenapa papa membunuhku...?"


Seketika aku terbangun. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku. Perasaan bersalahku semakin menjadi. Apalagi jika kuingat tatapan dingin Kyara yang penuh kebencian saat itu. Aku benar-benar menyesal, tapi sekali lagi, egoku menutupi perasaanku. Hingga aku mengabaikan mimpiku dan tak pernah mencari tahu apa yang terjadi padanya setelah malam itu. Terlebih lagi saat Andin berkata, jika mimpiku itu hanyalah bunga tidur saja. Aku pun mengabaikannya.


Kyara merasa sesak membaca lembaran kedua. Air matanya mulai menggenang saat mengenang kembali kejadian malam itu. Tanpa sadar, dia pun meremas lembaran kertas kedua yang dibacanya.


Sejenak dia diam,menimbang kembali antara melanjutkan membaca atau tidak. Namun karena rasa penasarannya, dia pun mulai mengambil lembaran ketiga.


Dear Diary....


Hari ini adalah hari sialku. Hari dimana semua rahasiaku terbongkar, hingga eyang marah. Untuk pertama kalinya, eyang menamparku, dan semua itu gara-gara Kyara. Aku membencinya, aku sangat membencinya. Dia telah benar-benar membongkar semua perbuatanku di masa lalu.


Aku kesal, aku marah. Seandainya dia mau sedikit bersabar, aku pasti mencarinya dan meminta maaf kepadanya. Tapi dia benar-benar kejam, dia malah datang bersama orang tuanya dan menghancurkan semua harapanku. Aku benar-benar marah padanya. Aku sangat membencinya dan aku tidak akan pernah memaafkannya.


Kali ini, tulisan Ajay menggunakan tinta merah, pertanda dia benar-benar marah atas kejadian yang menimpanya di hari itu. Kembali Kyara menghela napasnya. Kamu benar-benar egois, Han....! Batin Kyara.


Bersambung....


Andai tangan ini tidak sempat berjabat, andai raga ini tidak dapat bertatap. Namun seiring tabuhan beduk yang menggema dan juga seruan takbir yang berkumandang. Saya haturkan salam untuk menyambut hari Raya Idul Fitri 1442 H. Taqobalallohu minna waminkum, minal'aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2