
"Jadi gimana ? Reuneuh Mundingeun nya jadi nggak ?" tanya bik Mar.
"NO....!!"
Jawab Bagas dan Kyara serempak. Mereka pun saling berpandangan. Bagas tidak akan pernah mengizinkan istrinya memasuki kandang kerbau. Begitu juga dengan Kyara yang menganggap hal itu sebagai mitos belaka.
"Sudah-sudah, tidak usah berdebat lagi !" ujar nek Mae. "Mar, tolong siapkan kamar buat persalinannya !" perintah nek Mae.
"Gimana aden ? Mau di atas atawa di bawah ? Kalau di atas, kasihan nek Mae ! Beliau sudah tua, pasti tidak kuat menaiki tangga." ujar bik Mar.
"Ya sudah, siapkan kamar tamu yang utama saja, bik ! Biar lebih luas." perintah Bagas.
Bik Mar pun mengangguk, dia pergi ke kamar tamu yang memiliki ruangan lebih besar dari kamar tamu lainnya yang berada di lantai bawah.
"Neng, perlaknya di mana ?" tanya bik Mar.
"Di kamar Kya, ambu !" jawab Kyara.
"Peralatan bayi sama pakaiannya ?" bik Mar kembali bertanya.
"Iya, sama ! Di lemari pakaian Kya, di pintu kedua, di tempat paling bawah." Kyara memberi arahan.
Bik Mar segera berlari kecil menuju kamar Kyara. Beberapa menit kemudian, dia telah kembali ke kamar tamu dan menggelar perlaknya di sana. Setelah itu, bik Mar kembali ke ruang keluarga.
"Kasurnya sudah siap, nek !" lapor bik Mar.
"Ya sudah, sok punten atuh, diangkat istrinya den ! Bawa dia ke kamar !" perintah nek Mae kepada Bagas.
Perlahan Bagas meletakkan kepala Kyara di atas sofa. Dia mulai berdiri dan menunduk. Kedua tangannya dia ulurkan ke celah-celah antara tubuh istrinya dan sofa.
Hup....!
Bagas mulai mengangkat istrinya dan membawanya ke kamar yang telah dipersiapkan untuk persalinan Kyara. Nek Mae mengikutinya dari belakang seraya mengambil dan membawa teh rumput Fatimah yang tadi telah di seduh bik Mar. Sedangkan bik Mar sendiri pergi ke dapur untuk menyiapkan air hangat.
Tiba di kamar, Bagas segera membaringkan Kyara di atas perlak yang sudah diberi kain samping atau istilah sundanya adalah babasah.
"Sok dibuka atuh celananya !" perintah nek Mae seraya membentangkan kain sarung.
Kyara mengikuti perintah nek Mae, sedangkan Bagas membantu memakaikan kain sarung tersebut di tubuh bagian bawah istrinya.
"Diminum neng, teh rumput Fatimah nya !" ujar nek Mae.
Meskipun ragu, tapi tetap saja Kyara meminum teh itu. Kyara tahu jika dalam teh tersebut ada sebuah zat yang bisa merangsang terjadinya kontraksi. Meskipun secara medis itu dikatakan berbahaya, tapi Kyara hanya bisa pasrah dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Bagaimanapun juga itu warisan tradisi leluhurnya yang harus dia hormati.
Nek Mae segera naik ke atas ranjang. Dia duduk di samping Kyara. Kedua tangannya sibuk mengelus dan memberikan urutan kecil di perut Kyara, untuk membantu posisi sang jabang bayi sehingga bisa menemukan jalan keluarnya. Kalau istilah sundanya di gedog. Dengan telaten, nek Mae terus mengurut perut Kyara.
Beberapa menit kemudian
Wajah Kyara kembali berubah seperti sedang menahan kesakitan. Kyara menggigit bibir bawahnya hingga sedikit berdarah.
Bagas yang melihat itu, tampak terkejut.
Hummpphh....
Bagas mulai mengulum lembut bibir Kyara. Berusaha memberikan kenyamanan agar Kyara bisa melupakan rasa sakitnya. Setelah melihat Kyara mulai kehabisan napas, Bagas melepaskan ciumannya.
Bagas membelai lembut rambut Kyara. "Jangan sakiti dirimu lagi, sayang ! Kau boleh menggigit bagian tubuhku di mana saja kau mau, tapi aku mohon jangan sakiti dirimu." ujar Bagas lirih.
"Sa...sakit kakang...!" ucap Kyara pelan.
Bagas mengangguk. "Bertahanlah, sayang...! Kalau saja bisa, biar kakang saja yang merasakan sakitmu. Tapi ini sudah kodrat dari yang Maha Kuasa. Kakang hanya bisa selalu berada di sampingmu untuk memberikan kamu kekuatan." ujar Bagas seraya memegang tangan Kyara.
Nek Mae yang baru kali ini melihat kelakuan suami yang cukup berani mencium istrinya di depannya hanya untuk memberikan ketenangan, akhirnya cuma bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aaargghhh...!"
Kyara kembali berteriak. Kali ini dia merasakan rasa sakitnya yang begitu hebat.
Nek Mae pun segera membetulkan posisi duduk. Kini dia duduk di depan kedua kaki Kyara yang telah ditekuk. Nek Mae mulai sedikit menyingkapkan kain sarung yang menutupi bagian bawah Kyara. Senyumnya tampak mengembang setelah melihat posisi jalan lahir Kyara.
"Coba tarik napas dalam-dalam ya neng ! Setelah itu neng ngeden dalam sekali hentakan ya...! Jangan disendat-sendat ! Alhamdulillah kepala orok na sudah sedikit kelihatan." ujar nek Mae memberikan arahan.
Kyara mengangguk. Bagas semakin menggenggam erat tangan Kyara. Hatinya merasa sakit melihat kesakitan yang dirasakan istrinya. Sesekali Bagas memberikan kecupan di kening Kyara. Matanya mulai berkaca-kaca melihat raut wajah Kyara yang tampak menahan rasa sakitnya.
"Berjuanglah sayang..! Kakang mencintaimu ! Kakang akan selalu berada di sisimu !" ujarnya seraya terus memberikan kecupan di kening istrinya.
"Tarik napas neng !" perintah nek Mae.
Kyara mengikuti perintah nek Mae. Dia menarik napasnya sedalam mungkin.
"Ya !"
"Heeeeuuu.....!"
"Oaakk....oaakkk.... oaaakkk ...
"Alhamdulillah....!
Dalam sekali hentakan, akhirnya bayi dalam kandungan Kyara keluar dengan selamat. Tiba-tiba,
"Assalamualaikum....!"
Beberapa menit yang lalu, mobil yang dikendarai Anton dan istrinya tiba di pintu gerbang rumah Bagas. Pak Usman segera menghampiri mobil itu.
"Selamat pagi ! Maaf, cari siapa ya ?" tanya pak Usman dengan sopan.
"Apa benar ini rumahnya Kyara ?" tanya Anton.
__ADS_1
"Ah ya benar ! Tapi mohon maaf, saat ini majikan kami tidak bisa menerima tamu."
"Kenapa pak ? Apa sesuatu sedang terjadi padanya ?" Anton kembali bertanya.
"Itu, anu tuan, nona Kyara saat ini hendak melahirkan. Kebetulan di dalam sudah ada paraji yang sedang membantunya." jawab pak Usman.
"Oh, ini istri saya temannya Kyara. Dia juga dokter kandungan yang menangani Kyara sejak hamil." ujar Anton.
"Oh, kalau begitu, mari silakan masuk !" perintah pak Usman.
Pak Usman segera membuka pintu gerbangnya agar mobil yang dikendarai Anton bisa masuk.
Setelah terparkir di depan rumah Kyara, dokter Risa segera berlari ke dalam rumah. Tanpa mengucapkan salam dia membuka pintu rumah yang memang tidak terkunci. Tiba di dalam dia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang membawa baskom berisi air hangat.
"Di mana Kyara...?" tanyanya.
Belum sempat bik Mar menjawab. Tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari arah kamar utama.
Bik Mar dan dokter Risa pun segera berlari menuju kamar utama.
"Mbak Risa ?" panggil Kyara lirih seraya menatap sahabatnya.
Tampak peluh bercucuran di sekitar kening dan pelipis Kyara. Bagas segera menyekanya menggunakan tangannya.
Pergerakan Bagas membuat dokter Risa sedikit terkesima. Kenapa ada Bagas di sini ? Dan bukankah Bagas sudah meninggal ?" batin dokter Risa.
"Mar, sok kemarikan baskomnya !" perintah nek Mae yang seketika membuyarkan lamunan dokter Risa tentang Bagas.
"Maaf, bu ! Biar saya bantu !" tawar dokter Risa.
"Punten, ari eneng teh siapa ?" nek Mae balik bertanya.
"Saya Risa bu, dokter kandungannya Kyara." jawab dokter Risa.
"Alhamdulillah...! Sok atuh mangga neng, kadieu ! Biar nenek yang membersihkan si ujang dulu !" ujar nek Mae seraya beranjak dari tempat duduknya, kemudian membawa bayi Kyara untuk dibersihkan.
"Ujang ?" ujar Bagas.
"Iya kakang, itu panggilan sunda untuk anak laki-laki." ujar Kyara lirih.
"Jadi anak saya laki-laki. Boleh saya menggendongnya nek !" pinta Bagas.
"Sakedap atuh kasep, biar nenek bersihkan dulu ! Ayo Mar, sediakan pakaiannya !"
Nek Mae menyuruh bik Mar menyiapkan pakaian lengkap beserta kain bedongnya untuk putranya Kyara. Setelah itu dibantu oleh bik Mar, nek Mae pun membawa bayi Kyara ke kamar sebelah untuk dibersihkan.
Karena tak bisa langsung menggendong anaknya, Bagas pun kembali mendekati istrinya.
"Terima kasih sayang...! Terima kasih karena sudah melahirkan pewaris di keluarga kakang !" ujar Bagas seraya kembali mengulum bibir mungil istrinya.
Melihat sikap Bagas terhadap Kyara, dokter Risa pun sudah bisa menarik kesimpulan jika Bagas adalah suami dari pasiennya itu.
Dehaman seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu menghentikan kegiatan Bagas. Dia kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Loh, Bagas ?" pekik Anton kaget. "Bu... bukankah kamu sudah meninggal ? Terus ngapain kamu cium-cium Kyara ? Apa kamu..." Anton menggantungkan kalimatnya.
"Sepertinya kita kecolongan, mas !" ujar dokter Risa. "Ah kalian ini, aku benar-benar tidak menyangka dengan perbuatan kalian !" kembali dokter Risa berbicara seraya membersihkan sisa-sisa melahirkan Kyara.
Bagas hanya tersenyum, dia kembali menciumi wajah istrinya tanpa menghiraukan tatapan heran sepasang suami istri tersebut.
Dokter Risa yang merasa jengah atas perbuatan Bagas, segera meminta suaminya untuk mengajak Bagas keluar.
"Mas, tolong ajak keluar suami mesum ini ! Bisa-bisa pekerjaanku tidak beres-beres melihat ulah mesumnya terhadap istrinya ! Gak tahu apa kelelahan yang harus dirasakan seorang istri karena habis melahirkan ?" ujar dokter Risa sinis.
"He ..he..., justru itu mbak, aku mengembalikan energi Kyara dengan ciuman, benar kan sayang ?" elak Bagas tak mau kalah.
"Sudah-sudah ! Pergilah ! Temani mas Anton !" ujar Kyara seraya mendorong wajah suaminya yang hendak kembali menciuminya.
Dengan wajah yang sedikit kesal, Bagas pun keluar dan mengajak Anton duduk di ruang keluarga. Tiba di sana, mereka pun mulai bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang pernikahan Bagas dan juga kabar berita tentang kematian Bagas.
Di kamar utama.
"Jadi, Bagas suamimu ?" tanya dokter Risa.
"Iya mbak !" jawab Kyara lirih.
"Kenapa kau tidak pernah cerita, Kya ?" tanya dokter Risa lagi.
"Hhhh...., ceritanya sangat panjang mbak !" jawab Kyara seraya menghela napasnya.
"Ya sudah, jangan ceritakan jika memang tidak pernah ingin bercerita. Yang terpenting, sekarang dia sudah ada di tengah-tengah kalian lagi. Mbak senang mengetahui jika suamimu ternyata Bagas. Apa kau tahu Kya, sedari dulu mbak berharap jika kalian bisa menjadi sepasang kekasih. Mbak bisa lihat jika Bagas sangat perhatian padamu. Dia selalu menjadi orang yang pertama dalam menjagamu. Mbak senang akhirnya kalian menikah." ucap dokter Risa panjang lebar.
"Iya mbak, kang Bagas orang yang sangat baik. Kya merasa beruntung menjadi istrinya." jawab Kyara.
"Eh ngomong-ngomong, itu dukun beranak yang menanganimu, sepertinya dia sangat telaten sekali. Mbak lihat, sedikit pun tidak ada robekan di area kewanitaanmu." dokter Risa mengalihkan pembicaraannya.
"Benarkah ?" tanya Kyara cukup terkejut juga.
"Iya.. ! Kalau begini, mbak yakin, dalam beberapa hari kamu pasti bisa berjalan normal lagi, he...he..." gurau dokter Risa.
"Aamiin...!" jawab Kyara.
"Apa sakit ?" tanya dokter Risa lagi.
"Apanya ?" Kyara malah balik bertanya.
"Melahirkan ?" jawab dokter Risa.
__ADS_1
"Nggak tahu mbak, Kya nggak merasakan sakit apa pun saat dedek bayinya keluar. Tapi yang bikin Kya nggak tahan rasa mulasnya itu mbak..." ujar Kyara yang kembali terbayang saat kesakitan merasakan mulas di perutnya.
"He ..he..., itu memang sudah kodrat kita sebagai wanita. Ngomong-ngomong, selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu." ucap dokter Risa.
"Iya, makasih mbak ! Makasih juga mbak mau capek-capek datang ke sini buat bantu Kya melahirkan." ujar Kyara.
"Sudahlah, lagipula aku hanya tinggal meneruskan pekerjaan nenek itu, siapa namanya ?" tanya dokter Risa lagi.
"Nek Mae.." jawab Kyara.
"Ah, dia pasti sudah sangat berpengalaman."
"Iya mbak ! Dia memang sudah sangat terkenal di kampung ini.
Tiba-tiba...
"Assalamualaikum..., nah sekarang teh si Ujang sudah kasep." ujar nek Mae yang datang dengan membawa bayi Kyara yang sudah rapi di bedong.
"Aeh...., kemana cenah bapaknya ?" tanya nek Mae.
"Ambu, tolong panggilkan kang Bagas di ruang keluarga !" pinta Kyara.
Bik Mar segera keluar untuk memanggil Bagas. Tak lama kemudian Bagas dan Anton masuk ke kamar.
"Sok aden, diazani dulu, nu kasepna !" ujar nek Mae seraya menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan ayahnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Bagas menggendong putranya. Dia segera mengumandangkan azan dan iqomah di telinga kanan dan kiri putranya. Tampak sang bayi tertidur dalam buaian lembut suara sang ayah.
Anton mendekati Bagas untuk melihat dari dekat wajah sang pewaris BA Group.
"Akan kau beri nama siapa anakmu, Gas ?" tanya Anton.
"KIAN PRABU ERLANGGA ." ucap Bagas penuh ketegasan. "Aku berharap dengan namanya itu, kelak dia bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan setia." lanjutnya.
"Aamiin...!" jawab semua orang.
"Bagaimana sayang, apa kau menyukainya ?" tanya Bagas seraya berjongkok di samping istrinya dan memperlihatkan wajah tampan anaknya.
Kyara tersenyum. "Kya suka, kakang. Nama yang bagus." ujar Kyara menyentuh pipi gembul anaknya.
Bagas kembali mengecup lembut kening Kyara.
"Terima kasih sayang...! Aku janji, aku akan selalu bersama kalian, hingga maut memisahkan kita." ujar Bagas kembali mengecup kening istri dan anaknya secara bergantian.
"Alhamdulillah...., semoga keluarga kita selalu diberikan keberkahan dunia dan akhirat." ujar Kyara.
"Aamiin...!" jawab semua orang.
"Apa sudah selesai, yang ?" tanya Anton kepada istrinya yang mulai mengemasi peralatannya."
"Sudah, mas !" jawab dokter Risa.
"Kya, apa kau bisa duduk menyandar ?" tanya Anton.
"Mas, ish mau ngapain ? Kyara baru saja melahirkan." ujar dokter Risa.
"Sebentar saja sayang...! Gimana Kya, bisa kan ?" tanya Anton lagi.
"Iya, bisa mas !" jawab Kyara.
Akhirnya dengan dibantu dokter Risa dan bik Mar, Kyara pun berhasil duduk menyandarkan punggungnya di tepi ranjang.
"Ayo Bagas, sekarang kamu duduk di samping istrimu. Tataplah istrimu penuh cinta, dan Kya, gendonglah anakmu !" kembali Anton memberikan perintah yang membuat istrinya geleng-geleng kepala.
Kyara mengambil putranya dari tangan Bagas. Mereka pun melakukan pose yang diarahkan fotografer kondang itu.
Cekrek....
Cekrek....
Anton pun mengambil gambar keluarga yang sedang dipenuhi kebahagiaan itu. Setelah itu, Anton mempostingnya di akun media sosial miliknya dengan men-tag beberapa sahabatnya yang tak lain adalah Gunawan dan Alvaro.
"Welcome the baby boy. Kian Prabu Erlangga. The next generation of BA Group."
T A M A T
Alhamdulillah, akhirnya author bisa juga menyelesaikan karya pertama ini meskipun dipenuhi dengan drama pekerjaan dan ujian-ujian author.
Terima kasih untuk para readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca karya recehan author ini.
Terima kasih untuk para author hebat yang telah mendukung karya ini.
Terima kasih untuk suami dan sahabat-sahabat sekalian yang selalu memberikan author support dalam berkarya.
Terima kasih untuk like, vote, rate 5, komen, dan krisan kalian yang selalu menjadi vitamin bagi author dalam memperbaiki karya ini...
Terima kasih karena sudah menerima karya ini.
Love...love...love...all of you...pokokna mah...
Insyaallah masih ada beberapa extra part yang akan menceritakan kehebohan Bagas yang telah berubah peran menjadi seorang ayah.
Insyaallah, jika ada kesempatan, othor juga berniat untuk melanjutkan musim keduanya yang akan mengangkat cerita tentang kehidupan anaknya Bagas dan Kyara. Tapi author belum bisa memberikan kepastian tentang waktunya, karena author ingin fokus dulu menyelesaikan novel othor yang kedua.
Sekali lagi, makasih....makasih....dan makasih...🙏🙏🙏
Jika berkenan, yuk kunjungi karya recehan othor yang kedua, dengan judul Takdir Gintani
__ADS_1